Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 238 Ratu Drama mulai Beraksi


__ADS_3

“Mas Arya sih, sudah tahu bucin dan mau nunggu istrinya di rumah sakit, kenapa tidak minta bawa baju lebih banyak. Kalau begini terus kapan aku nge-date.”, ujar Ibas protes sambil mencari - cari minuman di dalam kulkas.


“Oiya, Dinda apa kabar mas, sudah baikan?”, tanya Ibas akhirnya menemukan minuman yang dia cari.


Ibas menutup kulkas dan berbelok untuk kembali ke kamarnya.


“Astaghfirullah. MAMA…. Ngagetin aja. Kenapa pakai masker tengah malam begini sih? Hah.. bikin jantung copot. Hampir saja aku menjatuhkan minuman ini, ma. Mana sudah tinggal satu - satunya. Si mama.”, ujar Ibas yang sudah terkejut luar biasa. Tangannya dengan cepat menangkap botol minuman yang hampir terjatuh ke lantai dengan kedua tangan.


Ibas menggunakan wireless headset jadi dia tidak perlu memegang ponsel dan dengan aman menaruhnya di saku celana. Pilihan yang tepat karena jika saja ini terjadi saat dia memegang ponselnya, mungkin Ibas tak bisa menangkap minuman yang hampir terjatuh itu.


“Siapa yang di rumah sakit? Arya gak pulang karena di rumah sakit? Terus siapa yang sakit? Kenapa kamu tanya kabar Dinda? Dinda kenapa?”, belum lagi Ibas selesai mengatur nafasnya, Mama Inggit sudah menanyakan banyak hal padanya.


Belum selesai dengan satu pertanyaan, mama Inggit kembali melontarkan pertanyaan yang lain sampai - sampai Ibas kehilangan kata untuk bahkan mengerti pertanyaan mamanya.


“Heh.. kamu lagi sama mama. Kenapa gak bilang? Awas ya kamu kalau mama sampai tahu. Game Console yang di apartemen, gak jadi mas kasih ke kamu.”, di sisi lain, Arya yang sadar sepertinya mamanya mulai mencium kebohongan Arya langsung protes pada adiknya yang dengan mudah ketahuan.


“Yah mas Arya, masa begitu perjanjiannya kan tidak ada pernyataan kalau ketahuan.”, Ibas juga ikut protes.


“Ngapain ini? Kalian berdua sekongkol mau bohongin mama? Arya ngapain istrinya? Diapain sama dia sampai masuk rumah sakit. Sini Ibas, kamu cerita sama mama. Awas ya Arya kamu. Sampai kenapa - kenapa sama Dinda, kamu berhadapan sama mama.


Inggit melepaskan maskernya dan menarik Ibas untuk menjelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa sudah dua hari ini kakak dan kakak iparnya tidak pulang ke rumah.


“Hah…mama mulai deh dramanya.”, ujar Arya segera menutup teleponnya.


“Ma, ma.. Dengerin aku dulu. Memangnya mas Arya cowok apaan mama kira melakukan sesuatu pada istrinya. Sini - sini yang tenang dulu biar aku jelaskan ke mama sekarang.


“Iya, lebih baik kamu jelaskan sekarang sebelum mama tarik lagi mobil kamu.”, kata Inggit sudah tidak sabar.


“Ma, yang bisa tarik mobil Ibas kan cuma papa kenapa sekarang mama ikut - ikutan mau tarik mobil Ibas. Jangan gitu dong ma.”, ujar Ibas sambil membuka botol minumannya dan meneguknya.


“Memangnya mama tidak bisa. Atau sekarang kita ke rumah sakit aja. Pokoknya mama mau tahu, Dinda itu hamil lo, Ibas. Kalau terjadi sesuatu sama dia gimana? Terus bundanya sudah tahu belum? Kalian berdua ini….!”, ujar Inggit greget.

__ADS_1


Ingin rasanya dia berada di rumah sakit dan memastikan sekarang.


“Dinda gapapa kok, ma. Hanya kecelakaan kecil aja.”, kata Ibas mencoba memilih kata - kata yang tidak membuat mamanya bertambah panik.


“Hah? Kecelakaan? Kamu yang benar Ibas. Kenapa bisa begitu. Dinda baik - baik aja kan? Mama mau ke rumah sakit aja sekarang.”, ujar Inggit langsung hendak melangkah ke kamarnya untuk bersiap - siap.


“Ma, Ma tunggu. Dinda gapapa kok, ma. Dia sudah baik - baik saja. Lagian mas Arya disana 24 jam. Jadi mama gak usah khawatir.”, ujar Ibas.


“Anak itu kan tahunya cuma kerja, kerja, dan kerja. Jangan - jangan Dinda dianggurin dan dia tetap tongkrongin laptopnya.”, kata Inggit tidak percaya.


“Yah.. si mama. Makanya sering main ke lantai dua. Mas Arya mah sekarang bucin banget mamah. Gak bisa jarak pendek sama istrinya. Nempel terus kaya perangko. Ibas mau ajakin istrinya nonton aja gak boleh.”, ujar Ibas menenangkan dengan gayanya yang bercanda.


Inggit masih terlihat cemas, dia duduk tetapi ekspresinya mengatakan semuanya. Dia ingin ke rumah sakit sekarang juga.


“Lagian ini sudah tengah malam. Kasian papa sendirian. Besok deh ya. Besok kan weekend tuh. Tar Ibas akan mengantarkan mama ke rumah sakit. Bareng papa juga. Ya, ma. Sekarang kita tidur dulu.”, kata Ibas membujuk mamanya.


“Tapi mama khawatir loh Bas, sama Dinda. Kandungannya bagaimana? Makannya di rumah sakit gimana? Tidurnya? Sudah dua hari, kalian berdua bisa - bisanya gak mengabarkan ke mama.”, Inggit masih saja terus protes.


“Ya,, mama mau lihat aja kalau dia gak kenapa - kenapa. Baru abis itu mama bisa tenang.”, kata Inggit.


Akhirnya Ibas menghubungi Arya kembali dengan panggilan video. Awalnya Arya mereject telepon itu karena berpikir mungkin adiknya hanya ingin memastikan keselamatan transaksi game console mereka berdua.


Lalu Ibas berinisiatif untuk memberitahu maksud dan tujuannya menghubungi Arya via video. Dari situ, barulah Arya menerima panggilan telepon itu.


“Halo mas. Nih si mama mau tahu keadaan Dinda.”, ujar Ibas langsung to the point.


“Arya… kamu kenapa gak cerita kalau Dinda masuk rumah sakit? Kenapa istri kamu sayang. Kamu ga apa - apain dia kan? Kasihan lo istri kamu masih kecil begitu, lagi hamil. Kamu ga melakukan kekerasan atau semacamnya kan Arya?”, Inggit mulai berimajinasi yang tidak - tidak.


“Ya… kali ma. Ngapain coba.”, jawab Arya malas meladeni imajinasi mamanya.


“Mana coba istri kamu liatin sama mama. Pokoknya dia harus konfirmasi dia gapapa, kalau enggak mama cek kesana sekarang.”, ujar Inggit masih bersikeras untuk menyusul kesana.

__ADS_1


“Shuttttt…   lagi tidur ma. Kasihan kalau dibangunin.”, balas Arya meminta mamanya untuk lebih tenang.


“Mana pokoknya mama mau lihat. Kamu umpetin karna ada apa - apa nih jangan - jangan.”, ujar Inggit.


Akhirnya Arya mencoba memperlihatkan Dinda yang masih tertidur dengan kameranya.


“Tuh ma, menantu mama masih tidur. Kasihan kalau dibangunin.”, ujar Arya.


Itu selimutnya tipis banget Arya, gak kedinginan istri kamu? Besok mama bawain selimut yang lebih tebal. Kapan Dinda pulang?”, ujar Inggit sudah mulai tenang karena sudah memastikan tidak ada yang aneh dengan menantunya.


“Lusa sudah bisa pulang.”, jawab Arya.


“Hm.. udah kan ma. Udah ah, mas Arya juga dia mau istirahat. Mending mama masuk ke kamar. Besok kita ke rumah sakit bareng - bareng jenguk, ya.”, ujar Ibas mendorong tipis mamanya dari belakang agar segera melangkah ke kamar.


“Jangan dorong - dorong. Kamu mau mama jatuh.”, ujar Inggit.


“Hm…. drama queen satu ini…Iyaa mama baginda ratu… Udah ya dramanya, Ibas mau ke atas. Berkat mama game console mas Arya gagal untuk Ibas dapatkan.”, Ibas masih saja memikirkan game console yang dijanjikan Arya padanya.


“Jual saja mobil kamu terus beli game console. Mau berapa biji sih kamu punya itu game. Kamar kamu sudah seperti museum game.”, sindir Inggit sebelum masuk ke kamar dan menutup pintunya.


“Mama ngomongin aku, mama ga sadar di belakang sudah seperti taman bunga. 100 ada kali pot mama. Belum lagi rak piring di gudang. Kayanya si mama mau buka outlet perabotan dapur.”, kata Ibas ngedumel sambil naik ke lantai atas untuk kembali ke kamarnya.


‘Perkaran mengambil minuman favorit bisa panjang. Tahu gitu tadi gak ke bawah.’, ujar Ibas masih memikirkan game console yang hilang sudah harapannya. Padahal dia baru memainkannya sekali kemarin di apartemen Arya.


Kakaknya itu juga sedang error sehingga dengan mudahnya menyetujui untuk memberikannya dengan syarat Ibas mau mengambilkan perlengkapannya menginap di rumah sakit menunggu istrinya.


Sekarang sudah ketahuan, otomatis transaksi mereka sudah tidak valid lagi.


“Tunggu, kamar mas Arya dikunci ga ya? Mau lihat - lihat sepatu, sepertinya mas Arya kemarin beli sepatu lokal yang bagus banget itu. Hm… wihh ga dikunci.”, Ibas celingak - celinguk sebentar hanya dari pintu kamar Arya yang ternyata memang tidak dikunci.


“Ah.. enggak ah.. Gak sopan masuk kamar orang tanpa ada yang punya kamar. Walaupun kakak sendiri. Aku kan cowok sejati, masa begitu.”, ujar Ibas kembali menutup pintunya.

__ADS_1


Entah dari mana dia dapat kesadaran itu, padahal biasanya saat Arya masih single, kamar Arya menjadi lemari yang bebas dia datangi sepuasnya.


__ADS_2