
“Arya, aku tahu aku jahat. Aku tahu kamu marah banget sama aku. Aku minta maaf. Arya..”, Sarah menangis di depan pintu flat Arya. Sudah 15 menit dia berdiri disana, namun sang pemilik flat belum juga membukakan pintu.
“Excuse me, I know you have a problem with your so-called boyfriend but I need to study. I’ve failed the test 6 times and If I fail again this time, they will expel me. Can you lower your voice, please?”, seorang wanita keluar dari flat terdekat dari flat milik Arya.
Ia menunjukkan wajah yang murka karena Sarah terus saja meracau di depan flatnya dan mengganggu belajarnya.
Sarah hanya mengangguk sambil menahan tangisnya. Tak lama, Arya keluar dari flatnya dan menarik Sarah pergi dari sana. Ia menarik lengan wanita itu kuat menuruni tangga. Meski merasa kesakitan, Sarah menahannya dan mengikuti Arya.
Arya membawa Sarah keluar dari flat ke sebuah taman di sekitar sana. Suansana malam masih ramai tapi di taman tersebut sudah sepi.
“Kamu mau apa dari aku? Maaf? Okee. I forgive you. But It doesn’t mean we can go back together.” teriak Arya emosi.
“Aku minta maaf…”, ujar Sarah sesenggukan. Wajahnya sudah tidak karuan. Rambutnya basah karena di perjalanan menuju flat, dia kehujanan.
Hati Arya sangat sakit ketika dia tahu bahwa Sarah memiliki hubungan lain bersama sahabatnya Dimas, di belakangnya selama setahun atau bahkan mungkin lebih. Arya tidak tahu benar. Tapi, hati Arya juga sakit saat melihat wanita ini menangis lirih dengan kondisi tubuh yang basah karena hujan.
“Kamu tidak dengar? Aku maafin kamu, but that’s it. Silahkan kamu kembali pada pria itu. Aku bahkan tidak ingin menyebut namanya.”, kata Arya dengan nada yang tegas. Namun, hatinya saat ini terluka.
‘Sarah, please. Pergi. Aku tidak bisa bertahan jika kamu menangis seperti ini.’
“Aku harap ini terakhir kalinya kita bicara.”, Arya berlalu meninggalkan Sarah yang masih sesenggukan di tempatnya.
Namun, belum sampai Arya melangkahkan kaki lebih jauh, dia mendengar sesuatu.
Brukkk.. Ternyata wanita itu ambruk. Sarah terjatuh dan pingsan. Arya yang kaget dan panik segera menghampiri Sarah dan menghubungi 911.
*****
Rintik hujan menemani setengah perjalanan Arya dan Dinda. Suara musik dari radio yang baru saja diputar oleh Dinda membuat suasana sedikit hidup di mobil itu sejak Dinda mencoba membahas tentang Sarah.
“Mas Arya mau kemana?”, tanya Dinda saat Arya memberhentikan mobilnya meski mereka belum sampai di tujuan.
“Walaupun kita sampai jam 12, saya berpikir untuk membelikan cake untuk orang rumah. Kita bisa masukin kulkas dulu. Bunda suka cake, kan?”, Tanya Arya.
Ekspresinya perlahan sudah kembali seperti semula.
“Bunda pasti suka apapun yang kita bawa. Aku mau es cream cake yang itu juga, boleh?”, tanya Dinda berusaha bersikap semanis mungkin agar Arya mau membelikan itu untuknya. Beberapa hari ini, Dinda sangat menginginkan es cream cake dan belum pernah kesampaian untuk membelinya.
“Mau yang blueberry, atau peach? Ah.. kamu sudah Blueberry, kan?”, ujar Arya memastikan.
Dinda tersenyum karena Arya mengingat buah yang dia suka. Terima kasih Pillow Talk session yang membuat Arya lebih mengenal Dinda. Begitu pikir gadis itu.
“Wah.. ternyata ada ya.. Toko kue yang buka sampai malam begini.”, Dinda melihat ke sekeliling sambil menunggu Arya membayar pesanan mereka di kasir.
“Yuk..”, ajak Arya setelah dia selesai melakukan pembayaran.
Arya segera meletakkan kue itu di bangku tengah mobil sebelum melanjutkan perjalanan mereka. Tinggal 15 menit lagi dan mereka akan segera tiba. Dinda sudah tidak sabar untuk merebahkan tubuhnya di kamarnya yang dulu.
“Sudah sampai mana proyeksi karir kamu? Ingat loh, deadlinenya minggu depan.”, Arya kembali ke mode seriusnya.
“Ya ampun mas Arya, kita kan baru kemarin membicarakan itu, kenapa sudah ditagih?”
“Ingat ya, nama kamu langsung saya coret dari daftar tim building ke Lombok kalo kamu belum selesai membuat rencana karir.”, ancam Arya. Meski matanya fokus menyetir, tetapi Dinda masih bisa merasakan auranya yang kuat.
“Iyaa…”, jawab Dinda lesu.
“Berapa tahun jarak kamu dengan Arga?”
“Hm… sekitar lima tahunan? Iya.. 5 tahun.”, jawab Dinda.
“Hm… saya harus ngobrol apa ya dengan dia. Sepertinya dia masih sangat muda.”, Arya membahas topik yang sangat random. Dinda tertawa kecil mendengarnya.
“Kenapa kamu ketawa? Saya serius, loh.”, Arya merasa tidak terima.
“Habis, tadi bahas proyeksi karir, sekarang langsung bahas Arya. Bridging nya dimana? Kenapa gak nyambung.”
“Lah, sama - sama membicarakan karir, kan? Saya tahu sekarang. Saya harus tanya bagaimana rencana karir dia ke depan. Apakah dia seperti kamu juga yang tidak tahu mau ngapain, atau justru dia lebih baik.”
“Ih.. yang ada Arga akan kabur sebelum mas Arya bertanya. Sudah, karena baru pertama kali bertemu, bicara yang santai saja, mas.”, usul Dinda.
__ADS_1
“Justru dari awal dia harus dibimbing supaya tidak menyasar.”
“Iya… iyaa.. Hm.. di depan belok kiri aja mas. Lebih cepat lewat situ.”, ujar Dinda pada Arya.
“Hm.. nanti kita parkir di pekarangan Masjid saja. Soalnya di dekat rumah aku gak muat buat parkir mobil.”, lanjut Dinda sambil tersenyum.
Arya mengikuti usulan Dinda dengan patuh. Begitu melihat masjid yang dimaksud, dia langsung membelokkan setirnya masuk ke dalam dan memarkirkan mobilnya. Arya dengan sigap keluar dari mobil, mengambil tas, dan cake yang sudah mereka beli.
“Biar aku aja mas yang bawa.”
“Ya sudah, kamu bawa cake yang ini.”, Arya menyodorkan ice cream cake yang diminta Dinda tadi.
Dinda tersenyum. Arya mengunci mobilnya dan meminta Dinda mengarahkannya. Malam sudah sangat larut, sehingga sudah tidak ada lagi orang yang berkeliaran di luar. Rumah Dinda berada di perumahan yang sedikit ramai penduduk. Meski tidak sampai berdekatan, tetapi jarak dari satu rumah ke rumah yang lain juga tidak terlalu jauh.
“Assalamu’alaikum. Bunda. Arga.”, Dinda mengetuk pintu sambil memanggil - manggil Bunda dan adiknya.
“Iya, sebentar..”, tak lama seseorang membalas panggilan Dinda dari dalam.
“Arga..”, Dinda yang sangat senang bertemu langsung memeluk sang adik.
“Ih apaan sih kak. Malu..”, Arga justru memberikan respon sebaliknya karena dia malu ada Arya disana.
“Ya sudah. Silahkan masuk, mas Arya”, ucap Dinda sambil mempersilahkan Arya masuk.
Berbeda dengan saat Dinda pertama kali datang ke rumah mereka, Arya terlihat lebih tenang dan santai. Memang sesuai dengan kepribadiannya yang cool dan tidak banyak komentar.
“Ooh sayang bunda.”, kata bunda Dinda yang muncul dari belakang. Ternyata mereka belum tidur dan sedang menyiapkan beberapa pesanan untuk diantar besok pagi.
“Apa kabar Bun?”, Arya ikut menyalami Ratna yang masih dipeluk oleh Dinda dari belakang.
“Alhamdulillah, baik. Aduh.. jadi repot - repot segala, padahal baru pulang kerja.”, balas Ratna saat menerima cake dan beberapa kantong hadiah lain yang ternyata juga disiapkan Arya beberapa hari sebelumnya.
“Nggak kok Bun. Maaf ya, Arya baru datang sekarang.”
“Gapapa. Nak Arya duduk dulu saja, atau mau beberes dulu? Din, kamu bawa suami kamu ke kamar dulu, ya. Bunda siapkan air panas.”, Ratna terlihat sedikit bingung apa yang dia ingin lakukan.
“Santai aja Bun. Gak perlu menyiapkan air panas segala.”, ucap Arya.
“Biar Dinda yang siapin. Mas Arya, tasnya ditaruh di kamar dulu. Yuk.”, Dinda menarik Arya menuju kamarnya. Dia juga sudah tidak sabar ingin memperlihatkan kamar miliknya.
“Eh?”, Dinda kaget begitu masuk ke kamar miliknya karena ada yang berbeda.
“Bun? Kok kasur nya diganti? Kasur aku yang lama mana?”
“Kasur mba yang lama kan single bed. Nanti, suami mas Arya mau tidur dimana?”, Arga menjawab meski masih terdengar canggung.
“Tapi kan kasur itu penuh kenangan, Ga.”
“Alaaah, kasur bau penuh ileran mba Dinda aja ditanyain.”, bukannya menjawab dengan baik, Arga justru mempermalukannya di depan Arya.
Arya tersenyum tipis.
"Ihhh enak aja aku ileran. Kamu tu... tanya aja mas Arya. Aku gak pernah kan ileran? Ngarang banget nih bocah satu ini.", protes Dinda.
“Mas Arya, aku bantu ibu dulu, ya. Ada yang harus aku ambil lagi barangnya?”, tanya Arga sopan. Ratna mungkin sudah pernah berbicara dengan Arya sebelumnya menjelang pernikahan, tapi ini pertama kali Arga berbicara dengan Arya.
Melihat perawakan pria itu dan mengetahui background karirnya, Arga benar - benar menantikan pertemuannya dengan Arya.
Dinda mungkin pernah mengetahui dan ingat bagaimana rupa papa mereka, tapi tidak dengan Arga. Sejak papanya pergi begitu saja, Arga sama sekali tidak mengenal ataupun berhadapan dengan figur papa atau pria yang lebih tua di rumahnya. Mau tidak mau dia harus menjadi lebih dewasa dari umurnya untuk menggantikan peran laki - laki di rumah mereka.
Meski dari luar Arga terlihat manja dan banyak tingkah dengan kakaknya. Tapi di dalam, dia sangat memikirkan mereka. Maka dari itu, dia sangat ingin mengenal Arya lebih jauh karena ini pertama kali dia memiliki figur yang lebih tua.
“Tidak. Thanks ya Arga. Ujian kamu sudah selesai, ya?”, tanya Arya sambil meletakkan tasnya di dalam kamar.
“Iya mas. Tinggal mengurus beberapa keperluan lagi dan seharusnya aku sudah bisa lulus.”, jawab Arga antusias.
“Hm.. baiklah. Besok kita mengobrol lagi, ya. Sudah terlalu malam. Saya mau bebersih dulu.”, ujar Arya.
“Kalau ada yang dibutuhkan, panggil aku aja ya mas Arya. Kamarku ada di sebelah sana.”
__ADS_1
“Oke. Thanks ya.”, balas Arya dengan senyuman.
Dia menutup pintu begitu Arga berlalu dari hadapannya. Arya melihat Dinda yang masih tidak terima kasurnya diganti. Pria itu menarik Dinda dan menggamit pinggangnya.
“Huuuuk.. Mas Arya.”, Dinda terkejut dengan perlakuan Arya.
Kalau Arya melakukannya di kamar Arya, Dinda tidak masalah. Jarak antara kamar Arya dan kamar lainnya jauh. Tapi ini di rumahnya.
“Mas Arya, maluu ahh.. Kedengaran dari luar.”
“Memangnya kenapa sayang? Kamu kayaknya ga terima banget kasurnya jadi queen size. Maunya single biar makin dekat?”
“Ihh apaan sih mas Arya.. lepasin gak?”
“Eh.. kamu di kantor panggil saya ‘Pak’ loh tadi. Padahal sisa kita berdua. Berarti dua ciuman.”, ujar Arya mencoba mencium Dinda dari belakang. Namun dia hanya mendapatkan pipi gadis itu.
“Mas Arya.. nanti kalo Bunda tiba - tiba masuk gimana?”
“Biarin.”, jawab Arya cuek dan membalikkan tubuh Dinda lalu mencium bibirnya.
Ceklek
“Din, itu airnya.. Oh maafin Bunda.”, ujar Ratna kaget saat membuka pintu dan mendapati Arya sedang mencium mesra putrinya.
Ratna lupa kalau sekarang Dinda sudah memiliki suami dan dia juga ada di kamar itu. Kadang Ratna masih mengira putrinya masih single dan masuk langsung ke kamarnya. Dengan cepat Ratna menutup pintunya kembali.
“Maaf Bunda cuma mau bilang, air panasnya sudah ada. Kalau mau mandi, langsung saja, ya.”, teriak Ratna lembut dari luar. Dia tersenyum simpul.
Puk Puk, Dinda memukul Arya lembut.
“Tuhkan mas Arya. Bener kan. Bunda jadi lihat, aku kan jadi malu.”
“Loh, kok malu. Ya biarin. Pasti Bunda kamu sekarang sedang senyum - senyum.”
“Jahil banget sih.”, Dinda kembali memukul dada bidang pria itu.
Dinda bergerak dari tempatnya dan membuka tas yang sudah Arya letakkan tadi.
“Mas Arya mandi duluan aja. Mau pakai piyama yang ini?”, Dinda meletakkan piyama itu diatas kasur.
“Kamar mandinya di rumah aku di luar. Jadi, aku mohon mas Arya gak berkeliaran tanpa baju, ya. Langsung pakai di dalam kamar mandi aja.”, lanjut Dinda.
Arya tersenyum mendengar penjelasan Dinda. Dia tahu benar bagaimana Arya selepas mandi kalau di kamarnya sendiri.
“Ga bareng aja, biar cepat?”, Ary kembali menggodanya.
“Tuh kan, mulai lagi. Kalau mau begitu di rumah aja nanti. Malu sama bunda.”
“Oh.. berarti nanti kalau pulang saya bisa melakukan apa saja?”, tanya Arya antusias.
Sebaliknya, Dinda merasa terjebak dengan kata - katanya. Dinda langsung salah tingkah.
“Jadi sama mama gak malu?”, tanya Arya lagi.
“Ya tapi kan mama jarang ke atas. Asal dikunci pintunya…..”, Dinda langsung menutup mulutnya. Dinda yang sangat polos selalu saja dengan mudah dijebak oleh Arya.
“Wahh.. saya gak tahu loh kamu berpikirnya seperti itu. Sudah mulai berani ya sekarang?”
“Ya kan beberapa kali mas Arya melakukannya…”, Dinda kembali menutup mulutnya. Percakapannya dengan Arya membuat dirinya terus terjebak dan melontarkan jawaban jujur.
“Udah sana mandi. Biar cepat tidur.”
“Oh.. mau cepat - cepat tidur di kasur queen size, nya? Gak malu sama Bunda.”
“Apaan sih.”, Dinda beranjak dari duduknya karena kesal dengan kejahilan Arya.
Dia ingin menyusul Bunda di dapur dan membantunya, sepertinya Bunda sedang mengerjakan sesuatu. Arya lagi - lagi menarik lengan Dinda. Pria itu mencium singkat lehernya, mengambil piyama yang sudah disiapkan Dinda dan berlalu.
Arya meninggalkan Dinda yang speechless dengan tingkah pria itu hari ini.
__ADS_1