
“Hai Din, apa kabar? Sudah lama tidak lihat kamu. Ada acara ya di kantor?”, tanya Dimas pada Dinda.
Erick meminta Dinda untuk memesan paket kue dan kopi dari Cafe milik Dimas untuk meeting perkenalan bersama dengan kepala divisi yang baru. Erick meminta pegawai Dimas untuk membawakannya langsung ke ruang meeting. Dinda akan memandu mereka untuk akses masuk karena mereka tentu saja tidak memilikinya.
“Iya, ada acara Team Building di kantor, jadi divisi kami tidak ke kantor selama beberapa hari.”, jawab Dinda singkat, padat, dan jelas. Tak ada nada basa - basi dalam kalimatnya.
“Hm.. aku juga tidak melihat Arya, apa dia ikut dalam acara itu juga?”, tanya Dimas.
“Iya. Pak Arya juga ikut team building.”, lagi - lagi Dinda menjawab dengan lugas.
“Apa kamu harus bersikap seperti ini?”, tanya Dimas merasa aneh dengan jawaban - jawaban Dinda yang dingin.
“Aku minta maaf waktu itu Pak Arya harus sampai menemuimu. Aku harap pertemuan seperti itu tidak terjadi lagi. Aku mohon kamu bisa membantuku untuk itu.”, ujar Dinda.
Wajah Dimas meredup.
“Penolakan yang benar - benar dingin.”, ujar Dimas.
“Aku tidak ingin berada dalam kesalahpahaman lagi. Di kantor aku bekerja dan di rumah aku adalah seorang istri. Aku harap kamu menghargai kedua peran itu.”
“Kita benar - benar tidak bisa berteman?”
Dinda menggeleng.
“Kenapa?”, tanya Dimas.
“Aku tidak mempercayai pertemanan antara pria dan wanita seperti ini.”
“Tapi, kamu terlihat sangat akrab dengan teman - teman pria di divisimu, yang sering datang bersama kesini.”
“Itu beda. Kami satu tim, mereka adalah kolega dan teman kerja. Bukan yang lain. Kami tidak pernah bertemu di luar konteks pekerjaan.”
“Apa kamu tidak bisa menganggapku seperti itu?”
“Tidak. Kamu sudah memulainya dengan salah. Selain itu, aku tidak berteman dengan pria yang memiliki masa lalu tidak baik dengan orang - orang terdekatku, termasuk suamiku. Jadi, aku minta maaf. Aku tidak ingin menjadi orang yang terus menolak. Jadi, aku mohon, jangan memulai lagi. Anggap saja, sebatas kenal karena berada di satu gedung yang sama.”, terang Dinda.
‘Hm. Aku tahu kenapa Arya begitu cemburu melihatmu denganku waktu itu.’
“Sepertinya pesanannya sudah siap.”, ujar Dinda saat melihat karyawan Dimas sudah membawa dua kantong plastik besar. Sedangkan di belakangnya terdapat satu kantong minuman yang sudah di segel.
“Berikan minuman itu padaku. Aku akan membantu membawanya ke atas.”, ujar Dimas pada karyawannya.
“Oh.. tidak perlu, Pak. Biarkan nanti saya saja yang turun lagi mengantarnya.”
“Aku tidak ingin karyawan ini turun dua kali bolak - balik untuk memberikan akses padamu. Kamu juga tidak bisa meminta bantuannya karena kita tetap harus melayani pelanggan di Cafe.”, ujar Dimas pada karyawannya yang melirik pada karyawan lain yang tinggal di Cafe.
“Ayo, jalan.”, ujar Dimas setelahnya.
Dinda memandu di depan dengan memberikan akses satu - satu. Sebagai salah satu tenant Cafe di gedung, Dimas dan semua karyawannya mendapatkan akses menuju area lift. Namun, mereka tidak memiliki akses untuk ke lantai - lantai tenant perusahaan yang ada di sana.
Mereka hanya memiliki akses ke kolam renang dan gym serta bar rooftop di atas yang sampai saat ini masih tutup. Oleh karena itu, Dinda harus mengantarkan mereka dan memberikan aksesnya.
Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah sampai di lantai dimana meeting akan berlangsung. Meeting akan berlangsung satu lantai diatas area divisi Dinda. Begitu masuk, mereka bertemu dengan Arya, Dika, Erick, dan beberapa karyawan HRD serta Siska yang baru saja keluar dari ruang meeting.
Tidak seperti Arya yang sangat ahli menyembunyikan wajah terkejutnya saat melihat Dimas, Dimas tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bukan karena dia melihat Arya, tetapi karena dia melihat Dika. Dimas tidak begitu mengenal Dika Sadewa, namun beberapa kali Sarah pernah menyebut namanya.
Dika juga tidak begitu mengenal bagaimana rupa Dimas karena hanya mengenalnya lewat cerita - cerita kecil Sarah. Saat mereka bersama, sejujurnya Sarah jarang sekali menyebut tentang Dimas. Tidak sebanyak saat dia menyebut Arya. Sehingga, sentimental Dika ke Dimas juga tidak ada.
“Din, nanti langsung minta bantuan orang Cafe untuk menata langsung di meja ya. Jangan lupa, Ini tipsnya.”, kata Erick memberikan beberapa lembar uang pada Dinda. Tentu saja dia mengatakannya sambil berbisik.
Selanjutnya Erick memandu Dika, dan Arya untuk turun. Dia berniat memperkenalkan area divisi mereka, sebelum mereka kembali ke ruang meeting untuk pertemuan pertama. Arya mengikuti di belakang karena dia juga harus kembali ke ruangannya.
Arya menoleh sebentar ke arah Dinda sebelum akhirnya berlalu dari balik pitnu. Dimas menyadari pandangan itu. Dinda, Dimas, dan karyawannya masuk ke ruang meeting setelah Dinda membukakan akses.
“Kamu tidak perlu ikut. Biar karyawanku saja yang menatanya. Ini akan selesai dengan cepat.”, ujar Dimas pada Dinda yang ikut sibuk mengambil minuman dari tempatnya dan menata di atas meja.
__ADS_1
“Baiklah.”, kata Dinda. Dia mengikuti perkataan Dimas karena tidak ingin berdebat.
Selain itu, dia juga ingin duduk karena sudah dari tadi berdiri.
“Kalau aku boleh bertanya, siapa pria yang di depan Arya tadi?”, tanya Dimas.
“Hm? Yang berbicara denganku atau?”, balas Dinda.
“Bukan, yang satunya lagi.”
“Oh.. aku juga tidak tahu. Pak Erick tidak mengatakan apa - apa padaku.”, jawab Dinda.
“Sepertinya dia orang baru. Aku tidak pernah melihatnya disini.”, ujar Dimas.
“Ya, aku juga tidak pernah melihat orang itu sebelumnya. Sepertinya semua sudah ditata. Pembayaran tadi sudah menggunakan kartu kredit Pak Erick. Dan ini tipsnya karena sudah bersedia mengantarkan ke atas.”, ujar Dinda sambil memberikan lembaran uang dari Pak Erick tadi kepada karyawan Dimas.
“Kamu tidak perlu melakukan itu. Kami memang menyediakan layanan untuk mengantarkan ke atas.”, kata Dimas.
“Bukan dariku, tapi dari Pak Erick. Beliau tidak suka kalau pemberiannya di kembalikan lagi.”, ujar Dinda sambil tersenyum.
“Baiklah, aku antarkan lagi ke bawah.”, lanjut Dinda.
“Tidak perlu. Cukup sampai pintu depan, selanjutnya kami sudah bisa kembali ke bawah.”, ucap Dimas.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih.”, ujar Dinda yang kemudian keluar lift lebih dulu satu lantai setelah lantai ruang meeting tadi.
*******
“Siapa yang tadi?”, tanya Dika pada Erick.
Arya juga berada di jarak yang bisa mendengar pertanyaan Dika pada Erick.
“Yang mana? Yang mengantarkan kopi?”, tanya Erick.
“Oh… iya betul Pak. Namanya Dinda, dia intern disini selama satu tahun. Sekarang sudah sekitar 9 bulan.”, jawab Erick sambil melirik sebentar ke arah Arya.
“Kalau begitu, saya kembali ke ruangan. Sekali lagi, selamat bergabung di perusahaan. Semoga bertahan.”, ucap Arya sembari menjabat tangan Dika lalu pergi.
‘Benar - benar profesional sekali dia. Padahal dia tahu aku adalah selingkuhan mantan istrinya, tetapi bisa - bisanya dia bersikap ini adalah kali pertama dia bertemu denganku.’, pikir Dika saat melihat Arya yang berlalu.
“Oke.. semuanya perhatian - perhatian.”, teriak Erick sambil menepuk - nepuk kedua tangannya untuk mengumpulkan karyawan di divisinya.
Dinda yang baru datang juga ikut nimbrung. Dia juga tak sengaja bersitatap dengan Dika yang kemudian memberikan kode padanya untuk bergabung. Dinda hanya bisa mengangguk dan kemudian berdiri di samping Delina.
Dinda bisa merasakan Delina menyikut - nyikut lengan Dinda yang berarti dia ingin bertanya. Tetapi saatnya kurang tepat karena sepertinya ada pengumuman penting.
“Perhatian semuanya, saya akan memperkenalkan kalian pada Kepala Divisi Digital and Development yang baru. Namanya adalah Dika Sadewa. Beliau akan aktif bergabung bersama kita per hari ini dan per pagi tadi secara resmi Pak Arya sudah serah terima jabatan yang dia pegang.”, kata Erick memberikan pengumuman.
Tiada angin tiada hujan, tiba - tiba semua karyawan disuguhkan dengan kepala divisi yang baru. HRD benar - benar bisa menyembunyikan kabar ini dengan sangat baik. Bahkan intel gosip seperti Andra saja menganga karena kaget dengan kabar ini. Dia sama sekali tidak menduga dan mendengar kabarnya.
“Gilaa… jadi per hari ini Pak Arya sudah tidak memegang divisi kita lagi? Wah aku sama sekli tidak tahu.”
“HRD benar - benar menyembunyikan kabar dengan baik.”
“Yang terpenting adalah apakah dia lebih baik dibandingkan Pak Arya. Kalau sama - sama killer mah sama saja.”
“Hem.. dia dulu kerja dimana, ya?”
“Setelah sekian lama divisi Digital and Development tidak memiliki kepala Divisi, sekarang akhirnyaa..”
“Sepertinya usia orang ini sedikit lebih tua dibandingkan dengan Pak Arya.”
Bisik - bisik antar karyawan dimulai bahkan sejak perkenalan pertama kali oleh Erick. Hal inilah salah satu yang membuat HRD menyimpan informasi ini. Setidaknya untuk proses rekrutmen, semua karyawan sudah mengetahuinya dari pergerakan Arya dan keadaan di lantai HRD. Namun, untuk siapa yang akhirnya dipilih, hanya HRD yang tahu. Bahkan Arya dan Erick baru mengetahuinya hari ini.
“Haloo, selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Dika Sadewa. Kalian bisa memanggil saya Dika. Sebagian kenalan saya ada yang pernah memanggil saya Dewa, namun saya lebih nyaman menggunakan nama depan. Jadi, mulai sekarang kalian bisa memanggil saya dengan Dika. Sebelumnya saya bekerja sebagai Kepala Divisi IT di Perusahaan XY yang tentunya untuk skala perusahaan lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan ini. Saya harap kedepannya kita bisa bekerja sama dengan baik. Terima kasih.”, begitulah sambutan singkat dari Dika kepada semua karyawan divisi DD yang nantinnya akan menjadi bawahannya.
__ADS_1
‘Mas Arya sama sekali tidak mengatakan hal ini padaku. Dia benar - benar memisahkan urusan rumah dan kantor. Apa artinya sekarang Pak Arya tidak ada hubungannya sama sekali dengan pengambilan keputusan di divisi DD?’, pikiran Dinda langsung mengarah kesana.
“Oke, guys. Selanjutnya kita akan pindah ke ruang meeting di lantai atas. Selain perkenalan lebih dalam dengan Pak Dika yang akan menjadi Kepala Divisi DD mulai sekarang, akan ada presentasi dari masing - masing manager untuk memberikan Pak Dika overview perkembangan divisi hingga saat ini. Saya usulkan semuanya ikut termasuk intern agar kalian mengetahui sampai dimana perkembangan dan apa target divisi yang harus kita kejar kedepannya, tentunya dibawah kepemimpinan Pak Dika.”
, kata Erick.
Semua langsung bergerak dengan cepat menuju ruang meeting yang dimaksud. Beberapa ada yang permisi ke toilet terlebih dahulu. Beberapa ada yang benign ke pantry membuat kopi namun Erick menghentikan mereka karena di ruang meeting mereka sudah menyiapkan snack pagi dan kopi.
Beberapa ada yang langsung mengambil pulpen dan catatan. Para manager juga tak lupa membawa laptop mereka karena harus bersiap - siap untuk presentasi.
“Menurut kalian, dia bagaimana?”, tanya Delina pada Suci, Andra, dan Bryan yang sudah berkumpul karena ingin bareng - bareng ke atas.
“Mana aku tahu. Kita baru bertemunya hari ini. Apa kalian ada yang pernah bertemu dengannya?”, tanya Suci.
Semua menggeleng termasuk Dinda.
“Satu hal yang pasti, perawakannya tidak setampan dan sekeren pak Arya. Aku tidak merasa bersemangat bekerja dengannya.”, ujar Suci terang - terangan.
“Apa kamu hanya ingin bekerja kalau bos nya tampan? Pindah saja sana ke divisi Business and Partners.”, ucap Andra.
“Kalau aku bisa pindah semauku juga aku sudah pindah. Aku tinggal 1x rotasi lagi. Jika nanti aku sudah bisa memilih divisi. Aku akan memilih divisi Business and Partners.”, jawab Suci dengan lantang.
“Bukannya waktu mabuk kamu bilang mau resign, tidak jadi?”, ujar Bryan sekenanya.
“Hah, kamu mau resign, Ci?”
“Kenapa kamu mau resign?”
“Ah sudahlah, kita ke atas. Kamu tidak bisa menjaga rahasia.”, ucapnya pada Bryan.
Suci bergerak menuju pintu keluar karena dia merasa Pak Erick dan Dika sepertinya sudah naik lebih dulu. Rini dan para manager lain juga sepertinya pergi bersama. Dia sedang malas untuk bersosialisasi karena moodnya yang sedang tidak baik. Suci terkesan menghindari para manager belakangan ini.
‘Tunggu, kalau Pak Arya sudah tidak menjabat sebagai kepala divisi Digital and Development lagi, apa berarti dia akan go public tentang pernikahannya dengan Dinda? Arghh aku pasti akan mendapatkan ledekan dari anak - anak.’, Suci menundukkan kepalanya karena stress memikirkan kemungkinan itu.
“Mba Suci kenapa? Kok sepertinya lesu sekali.”, tanya Dinda yang sudah datang menghampirinya bersama Delina dan yang lain.
‘Heh… anak ini. Kalau dia jahat, aku bisa dengan mudah melabraknya. Kenapa dia selalu saja bersikap pura - pura baik seperti ini. Membuat orang kesal saja. Apa sih yang dilihat Pak Arya dari dia.’, pikir Suci kesal. Alih - alih menjawab pertanyaan Dinda, dia langsung menyelonong ke dalam lift begitu pintunya terbuka.
Sementara itu disisi lain.
‘Kenapa HRD baru memberitahuku keputusannya hari ini? Hah.. sejak pergantian struktur, HRD semakin aneh saja cara berpikirnya.’, ucap Arya yang sudah mengomel di dalam ruangannya.
“Aku hanya berharap dia tidak punya maksud lain bergabung disini.”, ujar Arya sebelum Siska mengetuk pintu dan masuk ke ruangan.
“Pak Arya, maaf mau mengingatkan saja, kalau Pak Arya ada rapat dengan para Manager Business and Partners siang ini di ruang rapat atas, ya.”, ucap Siska sambil membuka agendanya.
Selain menyimpannya di ponsel, Siska juga mencatat beberapa memo penting di dalam agendanya agar saat dia tidak membawa ponsel, dia bisa dengan mudah mengetahui agenda bosnya selanjutnya.
“Kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Kalau begitu kan saya tidak perlu turun dan menunggu di atas saja.”, ujar Arya kesal.
“Saya juga tidak tahu kalau Pak Arya turun. Saya kira Pak Arya akan tetap di lantai atas.”, ucap Siska.
“Meetingnya di ruang meeting ASEAN, kan?”
“Iya Pak, tepat di sebelah ruangan tadi. Saya sudah booking ASEAN yang lebih besar karena yang akan hadir adalah semua manager.”, ucap Siska.
“Kenapa harus booking ruang meeting di lantai HRD? Tidak ada ruang meeting yang lain?”
“Betul Pak, beberapa ruang meeting sedang digunakan untuk audit internal dan beberapa oleh tim Finance. Selain itu, tim IT juga sekarang sering meeting di ruangan yang biasa kita booking.”, jawab Siska.
“Tim IT ada project apa? Jarang - jarang mereka meeting.”
“Migrasi ke sistem yang baru, Pak. Yang waktu itu ada di Town Hall Manajemen.”
“Ooh. Baiklah kalau begitu. Kamu tolong infokan ke OB untuk buatkan kopi saya yang biasa ya. Bilang langsung diantar ke atas. Tumblernya ada di tas saya. 10 menit lagi kan meetingnya? Saya jalan sekarang, para manager pasti sudah ada di atas.”, ucap Arya berlalu keluar ruangan.
__ADS_1