
***Flashbak saat tim Digital and Development selesai lunch bersama. ***
Semua anggota nampak memiliki rencana sendiri sebelum kembali ke kantor karena belum jam 1 siang. Dika terang - terangan sudah memberikan informasi bahwa dia harus segera kembali ke kantor karena ada jadwal meeting online dengan regional jam 1.
Dika termasuk masih baru di kantor, sehingga dia juga tidak ingin memberikan kesan yang tidak bagus untuk citranya. Oleh karena itu, dia bergegas untuk bisa kembali segera. Namun, Dika juga membebaskan timnya yang lain jika ternyata mereka masih ingin singgah di tempat yang lain terlebih dahulu.
Suci dan Delina misalnya, mereka sudah meminta izin pada Erick untuk singgah sebentar membeli minuman yang sedang nge-hits dan jaraknya juga tidak terlalu jauh dari restoran, tempat mereka makan siang.
Erick secara estafet menginformasikan hal itu pada Dika. Karena yang lain sama sungkannya, Dika akhirnya langsung mengatakan dengan jelas, siapapun yang ingin singgah ke tempat lain dulu tidak masalah. Asalkan mereka bisa kembali ke kantor sekurang - kurangnya sebelum jam 2 siang.
Tim HRD sedang gencar - gencar nya mengevaluasi efektivitas kerja. Dia tidak mau acara yang diprakarsai justru malah menjadi bumerang untuk divisi mereka.
Sayangnya, karena format berangkat mereka sudah bercampur, sebagian yang lain yang sudah berada satu mobil dengan Dika juga merasa tidak enak kalau mereka harus pindah mobil. Mayoritas memilih untuk kembali menumpangi mobil yang sama.
Dinda yang sudah kebelet ingin ke toilet pun lebih memilih untuk segera kembali ke kantor. Dia melihat jalanan juga sudah sangat macet. Dinda tidak bisa menahannya terlalu lama.
Di mobil Bryan
“Kamu gak setia kawan sekali. Masa Dinda ditinggal begitu saja.”, ujar Bryan pada Delina.
Delina kini berpindah ke mobil Bryan. Dia malah menyerahkan kunci mobilnya kepada sekelompok rekan yang lain yang ingin kembali ke kantor dan tidak singgah. Sedangkan Delina malah nimbrung di mobil Bryan bersama dengan Suci.
Andra? Pria itu harusnya tadi akan segera kembali ke kantor. Namun, dia berhasil meracuni beberapa anggota lain termasuk Rini untuk mengikuti arah tujuan Delina. Dia juga ingin mencoba minuman hits terbaru itu.
“Tadi sudah aku tanya lagi kok ke Dinda. Katanya dia mau kembali ke kantor saja.”, jawabnya sambil memainkan ponsel mencoba mencari - cari varian minuman yang ingin dia beli.
Tempat minuman hits ini memiliki format drive-thru. Lebih baik memilih minuman lebih dulu sebelum memesan karena antrian cukup panjang. Lebih cepat lagi kalau mereka sudah melakukan pemesanan secara online. Sehingga saat datang, mereka hanya perlu mengambil pesanan mereka.
Sayangnya, aplikasi online sedang error. Mereka harus rela menunggu diantara antrian mobil yang lain. Salah satu penyebab kemacetan mungkin saja berasal dari sini. Tumben - tumbennya sudah 15 menit tetapi mereka masih belum gerak. Titik kemacetannya juga kecil dan hanya terletak di sekitaran tempat minuman hits yang baru buka itu.
“By the way, antara menyesal sama engga juga nih ikutan kamu. Ternyata ramai sekali.”, komentar Suci yang melihat - lihat isi ponselnya untuk memastikan tidak ada deadline yang dia lewatkan.
Dia juga masih intens berdiskusi dengan seseorang dari divisi lain.
“Jangan begitu dong. Kan sebentar lagi sampai nih.”, ujar Delina.
“Si Andra jadi ikutan?”, tanya Delina pada Bryan.
Kebetulan Delina duduk di kursi penumpang tepat di sebelah Bryan. Dia langsung menepuk bahu pria itu untuk bertanya. Bryan langsung refleks melihat ke arah kaca spion-nya untuk memperhatikan apakah ada mobil Andra di belakangnya.
Bryan juga harus fokus ke jalanan di depan sambil sesekali mengarahkan pandangannya pada kaca spion.
__ADS_1
“Oh itu dia. Ada tuh di belakang. Orang yang paling kamu nanti.”, candanya pada Delina.
“Enak aja. Mending aku jomblo daripada harus dengan Andra yang suka tebar pesona ke siapa aja.”, balas Delina.
“Jadi, sebenarnya kamu oke - oke saja dengan Andra, asalkan dia ga tebar pesona kemana - mana?”, Bryan langsung menarik kesimpulan.
“Ya.. gak gitu juga kali, Bry.”.
“Akhirnya… sudah mau sampai ini. Del, pesanannya sudah kamu siapkan?”, tanya Bryan memastikan agar orang - orang yang mengantri di belakangnya tidak mengklakson dirinya.
“Udah semua, pesanan kamu aku udah, Suci udah, kamu pesan dua kan? Buat siapa satu lagi? Maruk amat!”, komentar Delina.
“Dinda.. Kasian dia gak bisa ikut. Nanti kita pada bawa makanan ginian dianya ga kedapatan.”, jawab Bryan.
“Cieee… cieee… ciee… yang perhatiannya mengalahkan Andra si Kang Gombal. Tapi Dinda itu sudah punya pacar tahu, Bry. Kamu ga papa? Yakin bisa nikung?”, goda Delina.
Suci langsung melirik ke arah temannya itu.
“Sotoy amat. Udah tuh, giliran kita. Buruan di kasih pesanannya.”, ujar Suci yang melihat antrian mereka sudah tiba.
Dengan gerakan cepat, Delina langsung memberikan notes pesanannya pada staff kasir drive-through dengan menunjukkan ponselnya. Staff tersebut memastikan pesanan dan langsung memprosesnya. Begitu Delina mendapatkan struk dan melakukan pembayaran, mereka sudah bisa maju dan berjalan memutar untuk mengantri pesanan yang selesai dibuat.
Proses ini setidaknya memakan waktu lebih kurang 15-20 menit dari mulai melakukan pesanan, hingga selesai mengambilnya. Tadinya mereka memutuskan untuk mencari tempat nongkrong sebentar baru setelah itu balik ke kantor.
“Si Andra bener - bener. Dia duluan lagi. Ga bilang - bilang.”, ujar Delina saat melihat mobil Andra yang sudah melewati mobilnya.
“Dia ngapain buru - buru banget. Katanya mau sebat dulu tadi.”, kata Suci yang juga ikut heran saat melihat mobil Andra yang sudah melewati mobilnya.
“Tahu tuh.”
Flashback off
Rombongan Bryan, Delinda, dan Suci sudah sampai di area perkantoran mereka. Meski masih di bagian depan dan lagi melewati pemeriksaan untuk bisa masuk ke tempat parkiran.
“Eh, eh, guys.. Si Andra kirim apaan nih?”, tanya Delina yang sedang fokus pada ponselnya.
“Eh.. itu ramai - ramai di dalam ada apa sih?”, tanya Suci sambil membuka kaca mobilnya karena harus melewati pemeriksaan kendaraan.
“Eh, eh. Itu Pak Arya? Gendong siapa tuh? Bry, kita cabut disini aja ya. Asli aku penasaran.”, ujar Delina langsung membuka pintu mobil dan main keluar begitu saja.
“Apa - apaan sih si Delina.”, kali ini Suci ikut berkomentar, pandangannya beralih dari yang tadi melihat ke arah lobby, sekarang melihat ke arah Delina yang keluar dari mobil.
__ADS_1
“Itu kaya Dinda?”, ucap Bryan pelan karena dia masih mencoba memproses apa yang sedang dia lihat.
“Apaan Bry?”, tanya Suci.
“Itu, yang di gendong Pak Arya kaya Dinda? Dinda kenapa?”, Bryan pun ikut turun dari mobilnya.
Ternyata di depan Pak Arya sudah ada Dimas yang berlari lebih dulu menuju sebuah mobil yang kemungkinan adalah mobil miliknya. Kemudian di belakangnya adalah Arya yang terlihat menggendong Dinda dan masuk ke dalam mobil itu.
Tak menunggu lama, mobil itu langsung melesat. Meninggalkan Delina, Bryan, dan Suci yang masih speechless. Kemudian tak lama, Andra yang terlihat baru muncul dari lobby bagian dalam. Kemungkinan dia sudah sampai parkiran dan baru saja naik ke atas.
Ratna, bunda Dinda tengah menyiapkan pesanan dari pelanggan di rumahnya. Hari ini kebetulan ada pesanan nasi tumpeng untuk acara selamatan kelahiran sekaligus acara pemberian nama.
Paket nasi tumpeng itu sudah dipesan dari kemarin untuk jumlah 50 orang. Ratna tentu tidak bisa mengerjakannya sendiri. Dia sudah memanggil dua orang tetangga dekatnya yang biasa membantu dan dia akan membayar harian.
“Mbak, Dinda juga sedang hamil, kan mba? Wah sebentar lagi ada yang mau bikin acara tumpengan juga nih.”, ujar salah seorang tetangga yang membantunya di rumah.
Mendengar ucapan itu, Ratna jadi teringat pada putrinya yang sedang hamil. Benar juga, sebentar lagi Dinda juga akan segera memiliki bayi dan dia akan menjadi seorang nenek. Ratna tersenyum simpul memikirkannya.
Dia tidak menyangka, putri yang dia besarkan tanpa dampingan suami, akhirnya bisa mendapatkan keluarga yang menyayanginya. Setiap kali Ratna memikirkan betapa sudah besar putrinya tumbuh, betapa cantik paras putrinya yang semakin dewasa, betapa indah kehidupannya sekarang, Ratna terus saja dihantui oleh keputusan nekadnya dulu.
Keputusan yang entah setan mana yang merasukinya ataukah kebodohannya sendiri. Melihat bagaimana Arga dan Dinda tumbuh menjadi putera dan puteri yang sukses. Melihat bagaimana keduanya tumbuh dan memberikan kehidupan baru untuknya, Ratna tak henti - hentinya merasa bersalah pada keputusan paling bodoh yang pernah dia lakukan.
Bagaimana mungkin seorang ibu sepertinya tega untuk mencoba meracuni kedua anaknya dan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin saat itu dia memikirkan jalan itu hanya karena dia merasa kecewa pada suaminya. Mereka tidak salah apa - apa.
Bagaimanapun sulitnya hidup sebagai single parent, seharusnya dia terus berusaha dan terus berusaha. Rezeki takkan putus. Ikhtiar tak akan pernah sia - sia. Seharusnya dia berusaha dan bukan menyerah. Begitulah yang Ratna pikirkan setelah itu. Ratna tak pernah berhenti bersyukur, pertolongan yang hadir melalui Inggit menyadarkannya. Tapi Ratna takkan pernah sekalipun lupa saat itu. Seharusnya pikiran itupun tak boleh terbersit dalam dirinya.
Ia sudah menceritakannya pada Dinda dan meminta maaf pada apa yang pernah dia coba lakukan saat dia masih kecil. Ratna sedang menunggu Arga tumbuh lebih dewasa lagi agar bisa menceritakan hal buruk yang pernah ia coba lakukan dan meminta maaf pada puteranya itu.
“Loh, mba, kenapa nangis?”, tanya salah seoranng pekerja di rumahnya yang melihat Ratna mengeluarkan air mata.
Ratna tenggelam dalam lamunannya dan tanpa sadar meneteskan air mata.
“Ah.. enggak. Hanya teringat sesuatu.”, jawab Ratna.
“Kenapa? Terharu ya kalau sebentar lagi akan punya cucu?”
“Mba, aku pernah loh ketemu dengan suaminya Dinda waktu gak sengaja lewat depan masjid. Wes… ganteng sekali ya mba. Beruntung banget Dinda.”
“Halah - halah.. Salah mba. Justru suaminya yang beruntung. Orang Dindanya juga cantik begitu.”, ujar seorang lagi menimpali.
“Ha-ha.. Bisa saja.”, jawab Ratna ikut tertawa.
__ADS_1
“Jadi Dinda tinggal disana terus ya mba? Mba gak kesepian?”
“Iya, tapi pada sering main kesini kok. Kadang sekali sebulan atau sekali dua bulan, akhir pekan mereka menginap disini. Tergantung jadwal suaminya. Kemarin juga dua hari saya menginap disana menemani.”, jawab Ratna.