Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 230 Affection


__ADS_3

“Mas Arya kalau marah galak banget sih. Dinginnya tuh mengalahkan kutub utara. Memang mirip banget sama papa. Untung aja aku mewarisi mama, lebih hidup, lebih ceria, Tapi herannya, kenapa para wanita malah lebih suka dengan tipe seperti mas Arya sih.”, Ibas melampiaskan berbicara sendiri di dalam mobilnya.


Dia sedikit kecewa karena Arya menyuruhnya pulang. Akhirnya Ibas benar - benar menginap di hotel. Sudah terlalu larut untuk pulang. Dia takut telat sampai di rumah dan malah ditanyai oleh papa dan mama. Padahal, dia sudah mengatakan ingin menginap di apartemen Arya. Jaraknya jauh lebih dekat ke kantor ketimbang dari rumah.


“Kasihan banget Dinda. Padahal, kalau saja tadi aku tinggal disitu, kemarahan mas Arya pasti bisa sedikit menurun levelnya. Hm.. kira - kira Dinda bisa mengatasi beruang dingin itu tidak, ya.”, Ibas memilih sebuah hotel yang terletak dekat dengan kantornya.


“Tunggu. Bukannya aku bisa meminta password apartemen mas Arya, kenapa aku harus bayar mahal untuk menginap di hotel.”, ujar Ibas baru tersadar, namun dia sebenarnya sudah terlanjur berada di dalam lobi hotel.


“Hm? Ibas melihat seseorang di lobi hotel. Bukankah itu mba Sarah? Hm? Yang benar mataku?”, tanya Ibas memastikan kembali dengan cara mendekat namun bersembunyi di balik tiang agar tidak terlihat.


“Ini benar- benar posisi yang aneh. Kenapa aku malah bersembunyi, memangnya aku yang melakukan kesalahan?”, pikir Ibas melihat posisinya berdiri yang terlihat seperti orang yang mengendap- endap.


“Padahal jelas - jelas seharusnya Mba Sarah yang malu bertemu denganku. Tunggu, tapi dia ngapain di hotel sendirian? Oh.. Oh Oh.. dia ternyata tidak sendirian. Siapa itu?”, tanya Ibas berbicara dengan dirinya sendiri.


Awalnya, Ibas hanya melihat Sarah keluar dari lift yang berada di arah jam 1 dari tempat dia berdiri saat ini. Untungnya, ada sebuah pohon hias yang bisa menutupi keberadaannya sehingga Sarah tidak menyadarinya.


Ternyata, setelah Sarah berjalan beberapa langkah, seseorang datang dari lift yang satunya lagi. Tadinya Ibas mengira mereka tidak saling mengenal, namun kemudian pria itu berbicara dengan Sarah.


Entah mengapa, Ibas ada feeling untuk memotret pemandangan yang dia lihat saat itu. Entahlah, dia juga bingung. Dia merasa penasaran.


Ibas mengurungkan niatnya untuk menginap di hotel ini. Dia akhirnya keluar dan menghubungi Arya.


“Mas, Aku boleh menginap di apartemen mas Arya aja ga? Terlalu larut kalau pulang jam segini. Mas Arya mau terjadi sesuatu denganku.”, bujuk Ibas.


Ibas bisa meminta uang pada Arya dengan mudah atau meminjam barang - barangnya. Tapi, Ibas jarang sekali boleh dan diizinkan untuk menginap di apartemen Arya. Tempat privasi katanya.


“Memangnya kamu diapain? Orang juga mikir - mikir mau culik kamu.”, biasanya inilah kata - kata yang akan dikatakan oleh Arya jika Ibas mengatakan kalimat seperti tadi.


“****12”\, Namun\, Arya justru menjawab langsung dengan menyebutkan password apartemennya dan kemudian menutup ponselnya.


Ibas yang terheran hanya bisa memandangi ponselnya.


“Tumben sekali dia begini. Hah.. sepertinya Dinda dalam masalah besar. Fix, mas Arya sedang marah.”, ujar Ibas.


********

__ADS_1


Dinda berusaha mengunyah makanan yang ada. Dia tidak menyentuh nasi sama sekali. Dia hanya mengambil sedikit demi sedikit sup yang ada di sebuah mangkok. Dinda kembali memandangi Arya yang terduduk di atas sofa. Matanya tertutup. Entah benar - benar tertidur atau justru pura - pura tidur.


Dinda menggigit bibir bawahnya. Dia memperhatikan makanan yang ada di atas meja. Tidak ada yang membuatnya nafsu makan. Dinda melihat lagi ke arah buah.


‘Mungkin aku bisa coba makan ini.’, ujar Dinda dalam hati.


Ia lantas mencobanya beberapa potong.


‘Tidak, aku tidak bisa menelan semua ini.’, pikir Dinda dalam hati.


Uak uak…Dinda memijat pelipisnya. Uak uak… uhuk uhuk.


Arya bangun dari duduknya.


“Kamu kenapa?”,tanya Arya terkejut.


Dinda menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak bisa makan.”, kata Dinda. Suaranya seperti tertahan.


Dia tidak kuat.


“Tapi aku tidak bisa.”, kata Dinda meletakkan sendoknya di atas meja.


“Bagaimana aku bisa menelan semua ini kalau mas Arya saja bersikap dingin padaku.”, air matanya turun lagi. Matanya sudah bengkak.


Arya tahu dia salah. Beberapa jam yang lalu dia mengkhawatirkan gadis itu. Tapi, hanya karena rasa egoisnya, rasa emosinya, dia bersikap seperti ini.


“Ya sudah kalau tidak mau makan.”, ujar Arya hendak membersihkan meja.


Dinda menarik lengan Arya. Dia tidak memiliki tenaga tetapi masih tetap berusaha menarik Arya mendekat padanya. Arya tahu. Tanpa adanya dorongan tenaga Dinda, Arya hanya berusaha mengikuti kemana tarikan itu.


Dia mendekat.


Dinda langsung memeluk Arya. Perbedaan tinggi karena Dinda juga sedang berada di atas kasur membuat gadis itu hanya berhasil memeluk sebagian tubuh Arya. Dia mendekapnya erat dan menangis sejadi - jadinya disana. Mendekap dan menangis.

__ADS_1


Dinda belum mengatakan apapun.


“Mas Arya, aku mohon, jangan seperti ini. Aku mohon. Aku tidak bisa. Kalau mas Arya mau marah. Marahi saja. Kalau mas Arya kecewa, bilang saja. Jangan memperlakukan aku dengan sikap dingin seperti ini. Aku tidak bisa. Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti. Aku ingin mas Arya sekarang. Tapi mas Arya tak sedikitpun memelukku. Hm?”, Dinda mengangkat wajahnya berusaha menangkap wajah suaminya.


Dinda tahu, ada saatnya dia harus meminta maaf. Dan ada pula saatnya dia harus mengeluarkan pendapatnya. Tapi kali ini, dia tahu, diatas semua ego yang ada, ada saatnya juga dia mengalah karena Arya juga begitu.


Dinda mencurahkan segala perasaannya saat ini lewat tatapan penuh arti itu pada Arya, suaminya.


“Mas…”, Dinda kembali memanggil Arya dengan lirih.


Arya memejamkan matanya. Dia tak tega. Dia khawatir. Dia marah. Dia juga kecewa. Tapi, dia mencintainya.


Arya menangkup wajah Dinda yang ingin kembali menunduk. Pria itu menurunkan tubuhnya agar bisa sejajar dengannya. Arya mencium bibir itu lembut. Lama. Ciuman di bawah sinar bulan terang di luar yang masuk melalui celah ventilasi dari lampu kamar yang tadi kembali diredupkan.


Dinda menjatuhkan semua air matanya sambil merasakan lembutnya sentuhan Arya yang menggenggam tangannya.


“Please, don’t make me ever lose my heart again. Kamu tahu betapa khawatirnya saya Din. Kaki ini lemas menunggu bagaimana keadaan kamu di dalam berjam - jam. Tangan ini mengepal menahan emosi untuk tidak menghajar pria itu. Pikiran ini terus menyesali kenapa saya tidak bersikeras untuk kita mengatakan saja hubungan kita yang sebenarnya.”, ujar Arya.


“Bisa gak sih kamu gak terus - terusan bikin saya khawatir. Bisa gak sih kamu untuk lebih tegas pada setiap hal, setiap keputusan, dan setiap kesempatan dimana kamu memang harus melakukannya.”, lanjut Arya lagi.


“Hn..”, Dinda mengangguk sambil menangis.


Arya menelusupkan jari - jarinya di rambut Dinda dan mengelus kepala belakangnya.


“Kita bahas lagi besok. Sekarang kamu istirahat. Minum? Kamu mual tidak bisa makan?”, tanya Arya.


Dinda mengangguk.


“Geser sedikit.”, kataArya.


“Hn?”, Dinda bingung.


Arya kemudian merapikan meja, menurunkan makan yang masih ada disana dan melipatnya kembali. Arya kemudian melipat pegangan pada salah satu pinggir kasur dan naik ke atasnya. Dia merebahkan tubuhnya dan menarik Dinda masuk dalam pelukannya.


“Maaf kalau seperti itu cara saya marah.”, ujar Arya mengecup kening Dinda lekat.

__ADS_1


“Saya tidak punya hubungan apa - apa dengan Pak Dika. Saya hanya tidak bisa menolak….”, perkataan Dinda belum selesai dan Arya sudah memotongnya.


“Hn.. aku tahu kamu tidak seperti itu.”, ujar Arya.


__ADS_2