
Suasana pagi di rumah keluarga Inggit sepi beberapa hari ini. Arya meeting di luar dan memutuskan untuk menginap di apartemennya. Dinda pergi berlibur bersama teman - temannya. Andin sedang menghabiskan waktu di apartemennya selama dua minggu sebelum ditempati oleh pemilik barunya.
Andin memutuskan untuk menjual apartemen dan menggunakan uangnya untuk memulai bisnis baru. Ibas baru saja kembali setelah mengurus laporan magangnya.
“Pa, papa gak ngerasa ya, suasana rumah mendadak sepi.”, curhat Inggit pada Kuswan yang sedang menyeruput tehnya di pagi hari.
“Ya.. karena si kembar sedang tidak di rumah ma. Dinda kan baru pulang dari liburannya. Nanti juga pasti rame lagi.”, kata Kuswan.
“Ooh iya, mama sampai lupa. Mama kan mau buat satu petak area berkebun buat Dinda. Sudah lama loh, mama janjikan tapi belum jadi juga. Papa masih simpan nomor tukang yang bikin petakan tanaman kebun di belakang, ga?”
“Coba cari di hape papa.”
“Pagi ma, pa.”, baru saja Inggit ingin mengambil ponsel Kuswan, Arya tiba - tiba muncul di depan rumah.
“Kok, papa gak dengar suara mobil kamu Arya?”, kata Kuswan yang lalu menanyai putera pertamanya itu.
“Ada kok pa, di depan.”
“Harusnya kamu jemput Dinda, dia tadi baru saja pulang diantar ojek online. Masa istri kamu, kamu biarin pulang sendiri sih? Kemaren dia berangkat liburan, kamu gak antar. Sekarang pulangpun gak kamu jemput. Kamu ada masalah ya sama Dinda?”
Wajah Arya sedikit terkejut mendengar Dinda sudah pulang dan tiba di rumah. Dia sudah coba menghubungi gadis itu berkali - kali sejak tadi pagi tetapi Dinda tidak mengangkatnya. Lebih tepatnya, nomor Dinda tidak bisa dihubungi.
Meski kaget, Arya berusaha setenang mungkin di hadapan kedua orang tuanya. Jika tidak, yang ada dia akan kena masalah lagi.
“Arya tadi sudah coba telepon ponsel Dinda, ma. Tapi nomornya gak aktif. Mungkin batrenya abis. Baguslah kalau dia sudah pulang. Sekarang dia dimana?”
“Batre abis kok bisa pesan ojek online? Kamu yakin ga lagi marahan sama istri kamu?”, tanya Kuswan.
“Engga Pa. Kita baik- baik aja, kok. Mungkin yang pesan ojek, temennya, Pa. Dindanya mana?”
“Ada di atas, mungkin lagi bebersih. Sudah dari tadi kok pulangnya. Tapi belum turun - turun juga. Sekalian ditanyain, Dinda sudah sarapan atau belum.”, kata Inggit sambil memberikan kode pada Bi Rumi untuk membawakan buah untuk Kuswan.
“Oh.. ya udah. Arya ke atas dulu ya, ma, pa.”
“Eh… Tidur dimana kemarin?”, tanya Kuswan setelah memakan satu potong buah.
“Arya di apartemen, Pa. Lagian di rumah ga ada Dinda dan Arya pulangnya terlalu malam, malas membangunkan orang rumah. Jadi Arya tidur di sana dua hari.”
“Kamu ga ke club, mabuk - mabukan lagi kan?”, kata Kuswan sedikit khawatir.
“Ya ampun, ya nggak lah pa. Papa kan sudah lihat, aku udah ga pernah mabuk - mabukkan lagi.”
__ADS_1
“Awas kamu ya, kalo sempet mabuk - mabuk lagi. Papa coret kamu dari kartu keluarga.”
“Ya kan sekarang kita juga udah beda pa, kartu keluarganya.”
“Jawab aja kamu Arya. Kalau di keluarkan dari daftar warisan baru tahu kamu.”, kata Inggit sambil memukul punggung Arya.
“Arya udah ada simpanan sendiri. Harta papa, papa donasiin aja.”, Arya tertawa sambil berlari menuju lantai dua.
Perlahan dia membuka pintu kamar yang tidak dikunci. Arya mengarahkan pandangannya ke sekeliling tapi tidak menemukan siapa - siapa. Dia mengedarkan pandangannya lagi ke dalam dan mendapati ada suara air.
‘Sepertinya Dinda sedang bebersih. Aku ganti baju dulu saja.’
Arya masuk ke ruang pakaian dan mengganti bajunya dengan yang lebih casual. Kebetulan, dia sudah mandi tadi di apartemen setelah sebelumnya menghabiskan waktu pagi dengan nge-gym.
Drrrtttt Drrrrtttt Ponsel Arya berbunyi. Ternyata ada panggilan telepon dari partner di kantornya.
“Yes. Good Evening, Sir.”, Arya masuk ke ruang kerjanya setelah berganti pakaian.
Tak lama berselang, Dinda keluar kamar mandi dan bergerak ke meja rias disamping ruang pakaian untuk mengeringkan rambutnya. Dinda mengambil hair dryer dan mengeringkannya sambil menatap kosong ke arah balkon. Meski sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi Dinda masih tidak bisa melupakan apa yang dia lihat malam itu.
Sayangnya, Dinda juga tak ingin menanyakannya pada Arya karena di kepalanya sudah terpatri jelas kenyataan yang ada. Dinda seperti tak ingin membuang waktunya untuk itu. Sebenarnya dia tak ingin pulang ke rumah ini dan ingin ke rumah bundanya saja.
Tapi, Dinda sadar bahwa kini, dia punya orang - orang yang juga harus dia jaga perasaannya. Tanpa sadar, air mata Dinda kembali menetes. Dinda masih belum sadar bahwa Arya sudah pulang dari tadi dan sedang berada di ruang kerjanya.
Tak lama, ada yang memeluknya dari belakang. Ya, ternyata Arya pelan - pelan sudah ada di belakangnya dan berniat mengejutkannya. Arya memeluk Dinda dan mencium aroma rambutnya yang baru saja keramas. Aroma shampo yang Dinda pakai sangat khas.
Dinda tidak bergeming sesaat. Dinda lantas menurunkan tangan Arya yang sudah melingkar di lehernya, dan pergi ke arah kasur.
Sikap Dinda sukses membuat Arya bingung. Dinda merebahkan tubuhnya di kasur dan menarik selimut. Dia menutup matanya.
Arya yang masih terdiam di depan meja rias hanya bisa menoleh melihat Dinda bergerak ke tempat tidur. Arya lantas mengikutinya dan duduk di sebelah Dinda yang sedang tidur atau lebih tepatnya pura - pura tidur.
“Din.. kamu kenapa? Sakit?”, tanya Arya sambil mengusap - usap kepala Dinda. Dia tidak merasakan panas disana. Arya kemudian menjatuhkan lengannya pada bagian depan Dinda untuk berusaha melihat wajah gadis itu. Matanya terpejam.
“Kamu capek, ya? Ya udah, kamu istirahat aja kalau gitu. Padahal saya mau tanya - tanya loh, glamping nya gimana. Siapa tahu next time kamu bisa pergi berdua sama saya.”
“....”, tidak ada jawaban dari Dinda.
Arya memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya dan mengerjakan beberapa laporan yang belum sempat dia kerjakan.
****
__ADS_1
15 Tahun yang lalu
“Sekarang kamu lagi nembak aku?”, tanya seorang wanita yang saat ini sedang bersama pria di depan sebuah sungai di Amerika.
**Wanita itu adalah Sarah. Sejak pertemuannya kembali tiga bulan yang lalu dengan Arya, Sarah banyak menghabiskan waktu bersama selama libur semester. Mereka juga mengambil kerja paruh waktu di sebuah restoran sekitaran Redwood. **
**Interaksi dan kedekatan Arya dengan Sarah membuat Arya merasakan hal yang berbeda. Dia kagum dengan gadis ini. Sarah adalah wanita yang cerdas dan supel. Dia bisa dengan mudah mencairkan suasana dan pandai mengeluarkan lelucon. **
**Selain penampilannya yang memang seksi dan modis, Sarah juga pandai bergaul. Dalam waktu singkat, dia sudah bisa membaur dengan orang - orang di sekitarnya. Arya merasakan hal itu saat menghabiskan waktu kerja paruh waktu bersama. **
**Tidak hanya rekan kerja, dia juga bisa dengan mudah berbaur dengan para pelanggan dan membuat hari - hari Arya semakin indah. **
**Hari ini adalah hari pertama mereka akan melewati semester kedua. Arya tidak ingin melewatkan wanita seperti Sarah. Dia langsung menyatakan perasaannya dan langsung mengajak Sarah untuk berpacaran. **
**Sarah hanya tersenyum saat Arya tiba - tiba menyatakan perasaannya di depan sungai dekat kampus mereka. **
“Hehe… kamu itu orangnya memang gak romantis, ya?”
“Kenapa?”
“Kamu menyatakan perasaan di tempat paling tenang dan sunyi begini. Kamu hampir membuat aku takut, Arya.”
“Yang benar kamu?”
“Haha bercanda… aku mau.”
“Mau apa?”
“Barusan kamu mengajak aku pacaran, kan? Ya, aku mau jadi pacar kamu.”
“Beneran,Sar? Kamu gak bisa tarik kata - kata kamu lagi, ya.”
*Cup.. **
Sarah langsung mencium bibir Arya untuk menghentikan pria itu dari kalimat - kalimatnya yang selanjutnya.
“Tidakkah ini terlalu cepat?”, Arya terkejut saat Sarah sudah menciumnya lebih dulu.
“Hm? We’re in the USA. It’s considered late, right?”
Arya tersenyum dan menarik Sarah masuk ke dalam pelukannya dengan cepat. Kemudian, Arya juga menciumnya. Kali ini lebih lama dari sekedar kecupan singkat yang Sarah berikan pada Arya.
__ADS_1
*Sarah tersenyum. Mereka menghabiskan waktu berjalan santai menyisir pinggir sungai yang entah mengapa terlihat sangat istimewa hari itu. Sarah sesekali menolehkan kepalanya ke arah Arya dan tersenyum. *
Dia merasa sangat senang. Begitu juga Arya yang mempererat pegangannya pada Sarah.