
“Pak Arya, saya boleh ijin bertanya?”, kata Siska berhati - hati.
Meeting sudah selesai tepat pukul 4 sore. Klien baru saja meninggalkan ruang meeting beberapa menit yang lalu. Sebagai hadiah karena meeting berjalan dengan lancar, Arya ingin mentraktir karyawannya untuk makan di luar.
Para karyawan sangat bersemangat karena traktiran di Singapur tentu saja berbeda karena harganya jauh lebih mahal kalau kurs mata uangnya juga dibandingkan. Jadi, traktiran kali ini sangat berharga buat mereka.
Masing - masing baru saja keluar untuk sekedar menghirup udara segar sebentar. Ya, udara di ruang meeting sudah tercemar karena penuh dengan ketegangan. Dua diantaranya kembali ke kamar mereka untuk berganti pakaian, satu ke toilet, dan satu lagi mencoba untuk mencurahkan penatnya dengan sebat di luar.
Siska sudah selesai melakukan reservasi di tempat yang dipilih Arya. Dia hanya tinggal menunggu keempat orang itu kembali dan mereka bisa berangkat. Mereka berencana untuk singgah ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli oleh - oleh karena besok mereka akan kembali dengan penerbangan pagi.
“Hn.”, jawab Arya singkat sambil terus memeriksa beberapa dokumen yang ada di laptopnya.
Meski meeting yang ini selesai, tentunya dia masih punya sekian tim dengan project yang berbeda - beda yang harus dihandlenya.
“Bagaimana ceritanya Pak Arya bisa menikah dengan Dinda? Pak Arya pacaran? Ketemu dimana? Ah tidak - tidak. Hm, kenapa Pak Arya menyembunyikan kalau Pak Arya sudah menikah lagi?”, awalnya Siska memang sangat berhati - hati. Namun, lama kelamaan dia malah menambah begitu banyak pertanyaan.
“Bukannya saya tadi sudah kasih kesempatan kamu untuk bertanya. Sudah habis kesempatannya.”, balas Arya.
“Yah.. Pak Arya, satu saja..”, ujar Siska dengan nada memohon.
“Saya pasti tidak bisa tidur semalaman memikirkan ini. Kemarin saja saya kesulitan untuk tidur.”, lanjut Siska.
“Kenapa kamu sampai tidak bisa tidur memikirkan urusan pribadi saya. Pikirkan saja pacar kamu. Kalian benar - benar sudah baikan?”, tanya Arya sambil masih melihat layar laptopnya.
Dari luar, Arya memang terlihat dingin dan sulit untuk didekati terutama untuk bawahannya. Butuh waktu lama juga untuk Siska bisa seakrab ini dengan Arya. Hal yang tidak banyak diketahui karyawan di kantor, bahkan sesama tim Business and Partners.
Mungkin mereka bingung, kenapa Siska bisa tahan menjadi sekretaris Arya. Awalnya juga Siska berpikir begitu. Mungkin sudah ratusan kali dia meragukan apakah dia bisa bertahan lama dengan pekerjaan ini.
Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, dia mulai mengetahui, Arya tidak seburuk itu. Bahkan Siska bisa belajar banyak dari pria ini.
‘Untung saja dia tampan dan berwibawa, kalau tidak, mungkin Siska tidak bisa bertahan sampai sekarang’, begitu kira - kira yang ada dipikirannya.
Personaliti Arya di dunia kerja membuat hanya orang yang tahan banting saja bisa berada di sekitarnya. Meski begitu, wajah tampan dan wibawanya bisa menjadi salah satu motivasi yang menjadi poin pertama orang mau bertahan. ‘Bercanda.’, begitu kadang - kadang yang ada di pikiran Siska.
“Pak Arya gak mau saya tutup mulut? Anggap saja jawaban pertanyaan saya adalah upah untuk tutup mulut.”, kata Siska menawarkan.
“Tutup mulut untuk?”, tanya Arya heran.
“`Hm.. Bukannya Pak Arya menyembunyikan status pernikahan Pak Arya. Sekarang saya tahu, berarti Pak Arya harus menutup mulut saya dong. Bukankah begitu?”, jelas Siska.
“Heh.. kamu pikir kenapa saya dengan santainya mencium istri saya padahal ada kamu?”, ujar Arya.
“Eh?”, Siska jadi bertambah bingung.
“Hubungi yang lain. Kita berangkat sekarang. Saya harus telpon istri saya lebih awal, jadi makan malam kita juga harus selesai lebih awal. Mengerti?”, kata Arya memukulkan dokumen yang dia pegang ke kepala Siska dengan pelan.
“Oh?”, Siska mengelus - elus kepalanya.
*******
Hari ini berlalu dengan lambat. Dinda sepertinya sudah ratusan kali melihat ponselnya. Untung saja Arya memberinya pesan, kalau tidak mungkin Dinda bisa ngambek lagi. Dinda sudah menghitung jam mulai dari sekarang.
Dia ingin menghabiskan waktu yang dia sia - siakan karena memberikan hukuman pada Arya. Ya, hukuman yang ternyata juga seperti hukuman untuknya.
Drrrttttt Drrtttttt
Ponsel Dinda kembali berbunyi. Nada deringnya menandakan panggilan masuk. Dinda sudah meletakkan ponselnya di nakas tadi karena dia sudah ingin tidur.
‘Hm? Bukankah mas Arya tadi sudah menelepon. Kenapa menelepon lagi, ya. Jangan bilang dia mau mengabari kalau kepulangannya ditunda? Aku tidak akan memaafkannya kalau memang begitu.’, ujar Dinda sambil mencoba menjangkau ponselnya di nakas.
Dia terlalu malas untuk bergerak karena dia sudah mengantuk.
“Eh? Nomor siapa ini? Aku tidak kenal. Tidak usah diangkat saja.”, kata Dinda sambil menurunkan volume ponsel dan meletakkannya kembali di nakas.
Drrrrrrtttt Drrrrrrt
Ponselnya kembali bergetar. Dinda mencoba untuk tidak menghiraukannya karena panggilan dari nomor yang tidak ia kenal lagi.
Dua kali dia tidak menghiraukannya. Panggilan yang ketiga, Dinda menyerah dan mengangkatnya.
Dia jadi penasaran siapa yang meneleponnya malam - malam begini.
“Halo..”, sapa suara yang ada di seberang sana.
Dinda masih belum menjawab karena dia berusaha mengenali suara orang yang menghubunginya. Nomornya tidak tersimpan di hp Dinda. Tentu saja, hal ini membuat dia penasaran.
“Halo? Ini nomornya Dinda?”, ujar suara seorang perempuan di seberang sana.
“Iya? Saya sedang bicara dengan siapa?”, tanya Dinda akhirnya mengeluarkan suaranya.
“Saya Jessica.”, balas perempuan itu.
“Jessica? Maaf sepertinya Anda salah sambung. Saya tidak kenal dengan siapapun bernama Jessica.”
“Ini benar dengan Dinda, kan? Istrinya mas Arya?”, tanya Jessica buru - buru karena Dinda terdengar ingin segera menutup ponselnya.
‘Mas? Kenapa dia sebut mas Arya dengan panggilan ‘mas’? Selain keluarga, tidak ada orang lain yang pernah memanggil mas Arya dengan ‘mas’.’, pikir Dinda dalam hati.
“Iya, dia adalah suami saya. Maaf ini siapa ya? Sepertinya saya tidak kenal dengan Anda sama sekali.”, tanya Dinda.
“Huf….”, perempuan itu terdengar menghela nafas berat.
Dinda jadi merasa bingung karena bukannya menjawab pertanyaan, wanita itu malah diam. Kemudian, tak berapa lama dia menutup telponnya.
“Oh? Apa - apaan wanita ini. Dia menghubungiku malam - malam, lalu tidak mengatakan apa - apa dan hanya menghela nafas berat? Terus, kenapa dia malah memanggil ‘mas’ ke mas Arya? Kenal dimana? Saudara bukan. Aku ingat betul tidak ada sepupu mas Arya yang bernama Jessica. Ah sudahlah, mungkin saja orang iseng. Aku mau tidur.”, ujar Dinda tanpa ambil pusing.
__ADS_1
Dia meletakkan ponselnya kembali di atas nakas dan membaringkan tubuhnya lagi. Belakangan dia jadi gampang mengantuk. Baru pukul 10 malam dan matanya sudah sangat berat.
*******
Jam 8 pagi setelah sarapan, Dinda sudah siap dengan tas dan nametagnya. Seperti hari - hari sebelumnya, dia sudah mantap untuk ke kantor. Hari ini Pak Dika, Pak Erick, dan Mba Rini akan ada meeting di luar. Sehingga, para karyawan di divisi DD bisa lebih bebas.
Geng Suci, Andra, Bryan, Fas, Dinda, dan Delina sudah sepakat untuk makan di luar hari ini. Berhubung para bos tidak ada di tempat, mereka bisa bebas untuk makan siang lebih lama. Mereka berencana untuk makan di restoran terkenal Jepang yang baru saja buka franschise.
Antriannya lumayan panjang, jadi mereka harus sudah keluar sejak pukul 11 pagi. Dinda sangat senang dengan acara - acara kecil seperti ini. Sesuai dengan ekspektasi kehidupan perkantoran saat dia kuliah dulu. Kadang - kadang senior juga memberikan spoiler dan menurut Dinda, hampir 80%nya sesuai dengan kehidupan yang sedang dia jalani sekarang.
Bedanya, dia tidak menyangka kalau dia menikah lebih cepat dan bahkan sekarang sedang hamil. Tapi, Overall semuanya mirip.
“Kamu?”, kata Dinda saat melihat Ibas yang sudah siap di teras rumah.
Dia jarang sekali sudah muncul pagi - pagi begini. Mustahil melihat Ibas di jam segini. Dan hari ini dia sudah siap di depan teras dengan style yang menurut Dinda sedikit berlebihan.
“Mau kemana kamu?”, tanya Dinda begitu melihat Ibas di hadapannya.
“Aku jadi body yang akan mengantarkan kamu ke kantor?”, kata Ibas sambil berpose.
“Hm?”
“Singkatnya, Mama dan Papa ada acara arisan di luar kota dari pagi. Pak Cecep mengantarkan. Mba Andin juga akan pergi sebentar lagi karena ada urusan. Jadi, mama suruh aku antarin kamu.”, jelas Ibas.
“Hm.. aku bisa naik ojek online.”, kata Dinda.
“No.. no.. kata Mama, kamu gak boleh lagi naik ojek online mulai sekarang. Kamu lagi hamil . Jadi, harus disetir oleh driver professional yang tahu keadaan penumpangnya, seperti aku dan Mas Arya. Tapi, berhubung mas Arya sedang tidak disini. Jadi, aku yang menyetir.”, penjelasan yang cukup rumit dan panjang dari seorang Baskara Pradana.
“Aku tidak tahu kalau kamu bisa jadi anak yang nurut dengan pesan orang tua.”, balas Dinda.
“Lebih tepatnya aku menurut dengan titah mas Arya. Mas Arya memastikan kalau tidak ada Pak Cecep, aku harus mengantar kamu. Sebagai gantinya, aku boleh pinjam 1 sepatu dan bajunya. Kamu tahukan betapa sulitnya meminjam pakaian mas Arya.”, jelas Ibas yang membuat Dinda akhirnya mengerti.
“Kamu mau kencan habis ini? Kenapa berpakaian dengan gaya berlebihan seperti ini? Masih pagi.”, kata Dinda lagi.
“Who knows. Siapa tahu ada wanita yang menyadari ketampananku di kantor. Di kantor kamu kan banyak cewe yang cantik - cantik.”, ujar Ibas.
“Hah.. ternyata…”, kata Dinda sambil geleng - geleng kepala.
“Ya sudah, ayo naik. Om akan mengantar kamu dan mama kamu, ya.”, ujar Ibas sambil melirik ke arah perut Dinda yang masih datar.
Dinda hanya bisa mengeluarkan senyumnya dan menuruti perintah Ibas untuk segera masuk ke mobil. Tidak berhenti sampai disitu, begitu masuk mobil, Ibas langsung mengambil kacamata hitam dan mengenakannya.
“Tunggu, aku baru sadar, ini kan mobil mas Arya. Dia sudah tahu kamu pakai mobilnya?”, tanya Dinda.
Tidak dua tiga kali dia mendengar keributan karena Ibas yang terus menggunakan barang - barang milik Arya. Arya memang sangat dewasa dan berwibawa kalau di kantor. Tapi kalau sudah berhadapan dengan adiknya, dia bisa jadi sangat kekanak - kanakan.
“Oh.. tentu saja tidak.”
“Terus?”
“Hah.. terserah kamu saja.’, jawab Dinda sudah menyerah dengan adik iparnya ini.
“Kamu ada teman yang bisa dikenalkan padaku tidak?”, tanya Ibas?
“Hmph… kalau kamu memang sedang mencari partner, aku sudah memperkenalkan kamu pada temanku dari lama. Tapi Bas, bukankah kamu bersikap seperti ini karena kamu masih belum bisa move-on dari mantan kamu?”, kata Dinda.
“Oh? Mantan yang mana?”, tanya Ibas bingung.
“Yang beberapa waktu lalu kita tidak sengaja bertemu di bioskop? Kamu bahkan bersikap seolah - olah adalah pacar kamu yang baru. Bukankah itu karena kamu sangat menyukainya?”
“Memangnya aku mas Arya. Yang susah melupakan mantannya. Ups.”, Ibas sadar kalau dia sudah salah bicara.
Dia bisa merasakan tatapan tajam dari Dinda ke arahnya.
“Tenang saja, Din. Aku berani jamin kalau mas Arya sudah berada di bawah kendali kamu.”, kata Ibas hiperbola.
“Memangnya aku siapa bisa mengendalikan mas Arya.”
“Kamu sudah gak terpengaruh dengan bisikan - bisikan negatif kalau mas Arya masih ada perasaan dengan mba Sarah, kan?”, kata Ibas.
Dinda tidak menjawab. Bukan karena dia tidak percaya atau ragu. Sesimpel dia sedang tidak memperhatikan arah bicara Ibas karena melihat sesuatu yang cantik didisplay di toko yang mereka lewati. Toko baju bayi. Dinda sedang fokus melihat itu.
“Hah? Kamu benar - benar masih punya pikiran kesana?”, tanya Ibas kaget.
“Eh? Kamu ngomong apa tadi?”
“Kamu masih berpikir kalau mas Arya masih punya sisa perasaan ke mba Sarah?”, tanya Ibas lagi.
“Who knows. Hanya mas Arya dan Yang Diatas yang tahu.”
“Kamu sudah tidak terpengaruh, kan?”
“Hm.. bohong kalau aku bilang tidak. Tapi, aku mau berusaha percaya 100% pada mas Arya. Lagipula, dia sepertinya terlalu sibuk untuk selingkuh.”, ucap Arya.
Tanpa terasa, mereka sudah sampai di kantor. Obrolan mereka selama di perjalanan membuat hiruk pikuk kemacetan tidak memberikan efek yang signifikan.
“Wah.. sepertinya ini kali pertama aku ke kantor mas Arya. Keren juga kamu Din bisa magang di kantor ini.”, kata Ibas yang ikut turun.
Tidak seperti Arya yang harus menurunkan Dinda di gedung yang berbeda, Ibas nampak santai menurunkan Dinda di halte depan kantor. Dinda juga bersikap biasa tanpa kecemasan. Bahkan Ibas turun dari mobil.
Lebih tepatnya, mereka berdua tidak sadar sama sekali. Jika Dinda bepergian dengan Arya, mungkin dia bisa dengan sadar bahwa Arya adalah suaminya dan mereka masih belum mempublikasikan hubungannya.
Tapi dengan Ibas? Keduanya malah tampak santai.
“Pagi, Dinda!”, Delina yang baru saja turun dari shuttle bus di halte menyapa Dinda.
__ADS_1
“Oh, pagi mba Delina.”, balas Dinda.
Tadinya, Delina tidak menyadari keberadaan Ibas sama sekali. Tapi, saat pria itu berada di samping Dinda, dia jadi ingin bertanya. Meski hanya lewat kode seperti menyikut lengan Dinda.
“Oh? Ah… dia… perkenalkan dia Ibas, adikku.”, kata Dinda akhirnya tersadar kalau mereka sudah melupakan satu kenyataan penting.
“Oh? Bukannya adik kamu namanya Arga, ya? Hm.. apa itu adiknya Bryan? Aduh aku lupa.”, ucap Delina bingung.
“Hem.. adik sepupu. Iya, sepupu.”, kata Dinda menjelaskan.
“Ya sudah, kalau begitu. Sana balik.”, lanjut Dinda sambil mendorong Ibas pergi.
Namun, ekspresi anak itu sepertinya mengatakan kalau dia masih belum mau diusir dari sana. Dia menoel - noel Dinda dengan harapan kakak iparnya itu tahu kalau dia ingin di perkenalkan dengan temannya yang bernama Delina itu.
“Bas, kamu ada kerjaan kan setelah ini. Sudah sana pulang.”, ujar Dinda sambil menyeret Ibas masuk ke dalam mobilnya.
“Kenalin.”, kata Ibas berbisik di telinga Dinda.
“Apanya?”
“Kenalin sama itu, teman kamu.”, desak Ibas.
“Kamu sudah gila, ya. Sana pulang.”, bisik Dinda sambil terus mendorong adik iparnya itu agar segera masuk ke dalam mobilnya.
“Sepupu? Kamu kira aku sepupu kamu? Mau aku perkenalkan diri sebagai adik ipar? Mungkin aku cukup bilang aku adalah Baskara Pradana, dia juga pasti tahu. Mas Arya kan punya posisi yang bagus di kantor. Teman kamu pasti tahu ‘Pradana’ itu siapa.”, kata Ibas dengan penuh percaya diri.
“Ibas…. Kamu..”
“Makanya kenalin dulu. Sepupu, adik tiri? Jadi apapun aku siap.”, bisik Ibas lagi.
Dinda memaksakan senyumnya dan akhirnya menyerah. Dia bersedia memperkenalkan Delina pada Ibas.
“He…he.. Oiya, mba Del.. jadi lupa. Kenalin, ini sepupu aku namanya Ibas. Nama panajngnya gak perlu tahu. Ibas, ini Delina teman kantor aku.”, ujar Dinda memperkenalkan dengan terpaksa.
Wajah Ibas langsung sumringah saat Dinda akhirnya menyerah dan memberikannya kesempatan untuk berkenalan dengan temannya.
“Kalau begitu, sampai nanti. Sudah sana pulang.”, Dinda memberikan kode keras agar Ibas segera take off dari sana.
“Okay.. sampai ketemu lagi, Del.”, ujar Ibas dengan penuh percaya diri.
Padahal jelas - jelas Dinda saja memanggil Delina dengan ‘mba’. Ibas dan Dinda sepantaran. Seharusnya Ibas memanggillnya dengan ‘Mba’ juga. Tapi, entah belajar merayu dari mana. Dia memanggil Delina langsung dengan nama. Hal itu tentu membuat Delina jadi terkesan.
*******
“Wah Din, kamu ga pernah cerita punya sepupu cakep kaya Ibas.”, ujar Delina.
“Eh? Haha.. karena aku jarang - jarang ketemu dia mba. Tadi juga cuma kebetulan. Tadi adlaah yang pertama dan terakhir dia mengantar aku ke kantor.”, ujar Dinda.
“Loh? Sering - sering juga gapapa kok Din. Aku kira tadi itu pacar kamu. Aku sudah kecewa saja. Ternyata sepupu. Tapi beneran sepepu kan Din?”, kata Dinda.
“Hahaha.. Iya.. mba.”
“Ohiya, mba Delina tadi kok naik shuttle. Tumben?”, tanya Dinda.
“Ah.. mobilku diakuisisi oleh kakakku Din. Argh.. aku benci sekali dengan dia. Menyebalkan.”, kata Delina.
“Loh kok bisa mba? Bukannya, kakak mba punya sendiri?”, kata Delina.
“Sejak yang rusak dulu, sudah diperbaiki sekali eh kambuh lagi. Trus dengan siasat dia, bisa - bisanya papa meminjamkan mobil aku ke dia. Padahal itu mobil aku…Jadilah aku diantar jemput olehnya sekarang, tapi pedihnya cuma sampai depat, sisanya aku naik shuttle. Hah…”, Delina menghela nafasnya.
“Tapi kok vibenya mirip - mirip seseorang, ya? Hm… siapa ya?”, tanya Delina tiba - tiba kembali ke topik sebelumnya sambil seolah berpikir.
“Hah? Siapa?”, tanya Dinda bingung.
“Itu.. sepupu kamu.”, balas Delina.
“Hahaha.. Memangnya bisa mirip dengan siapa, mba. Mungkin mba salah lihat. Oiya, nanti kita jadi makan di restoran Jepang itu?”, Dinda dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
“Oiya… hm.. Suci mana ya? Bry, sudah ada keputusan belum kita mau makan dimana? Jadi ke resto baru itu?”, tanya Delina sambil berdiri dan menoleh ke arah Bryan yang duduknya memang lebih jauh dari mereka.
“Jadi.. dong..”, tiba - tiba Andra muncul dari belakang.
Delina terkejut karena beberapa menit yang lalu dia masih belum terlihat.
********
Drrrrtttt Drtttttt
Jam sudah menunjukkan pukul 11. Dinda and the gang sudah sepakat untuk berangkat jam 11 agar mereka bisa makan di restoran jepang yang baru itu. Semua sudah berkumpul di depan lift sementara Dinda permisi sebentar karena dia kebelet buang air.
Saat sedang mencuci tangannya di Wastafel, ponsel Dinda berbunyi. Tanda pesan masuk. Dinda dengan cepat mengambil ponselnya karena berharap pesan itu berasal dari Arya. Tapi ternyata Dinda salah. Ada beberapa chat masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
Awalnya Dinda ingin mengabaikannya. Namun notification yang muncul di layar ponsel mencuri perhatiannya. Dinda sempat membaca satu kalimat yang membuatnya jadi membuka isi chat itu.
*From: 0812xxxxxxxxxxx *
Halo, maaf kalau saya tiba - tiba chat kamu.
*Suami kamu sudah selingkuh dengan istri saya. *
*Saya gak mau ada keributan besar. *
Jadi, saya minta tolong, kamu suruh suami kamu untuk berhenti berhubungan dengan istri saya.
DEG.
__ADS_1