
Dinda termenung di kursi ayun balkon sambil menyeduh tehnya. Pikirannya kembali pada kejadian yang tidak mengenakkan beberapa jam yang lalu. Dia masih tidak menyangka seorang Andra bisa berkata seperti itu padanya.
Kenapa Andra yang selama ini yang terlihat baik malah mengatakan seolah - olah dirinya adalah perempuan murahan. Lalu, mengapa mereka harus berbohong padanya. Kenapa tidak mengatakan kalau acara makan - makannya diganti jadi di klub?
‘Bagaimana aku harus menghadapi mereka besok?’, bathin Dinda dalam hati.
‘Apa aku berlebihan sudah bersikap seperti itu?’, Dinda terus menanyakan hal yang sama dalam hatinya sambil melihat keluar balkon.
Dia bingung bagaimana harus berhadapan dengan Andra, Suci, Delina, dan teman - teman yang lain. Entah apa yang diceritakan Andra kepada yang lain setelah tadi dia pergi begitu sjaa. Apakah mereka tidak akan berteman lagi? Apakah mereka semua berpikir Dinda berlebihan karena tidak mau diajak ke klub?
‘Apakah semua orang harus mau kalau diajak ke klub?’, Dinda terus bertanya - tanya di dalam hati.
Selama ini, dia tidak pernah keluar rumah jika bukan karena kuliah, mengantar ibunya berbelanja di pasar, atau mengantar pesanan katering. Bianca dan yang lain pernah ke klub beberapa kali tetapi dia tidak pernah mengintimidasi Dinda sekalipun jika Dinda tak pernah ikut mereka saat itu. Mereka tetap berteman baik.
Saat Dinda semakin larut dalam pikirannya, deru mobil Arya mulai terdengar berikut dengan suara pagar yang terbuka. Dinda terlihat bersemangat karena Arya sudah pulang.
Dinda tak bisa mengintip dari balkon, karena letaknya bersebelahan dengan pagar depan. Tetapi dia sangat yakin kalau itu adalah suara mobil Arya. Dinda berdiri dari kursi ayunnya dan menunggu seseorang membuka pintu kamar.
Dinda meletakkan teh panasnya di atas meja. Saat pintu kamar itu terbuka dan dia melihat Arya, Dinda langsung tersenyum. Entah apa yang merasukinya, Dinda mempercepat langkahnya mendekat pada Arya dan memeluknya.
Pria itu tentu saja heran. Seminggu yang lalu, mereka masih perang dingin. Berbicarapun hanya sepotong - sepotong saja. Namun, sekarang Dinda sudah inisiatif memeluknya.
Arya membiarkan Dinda memeluknya lebih lama. Untuk beberapa saat, Dia belum berkata apa - apa dan hanya diam saja.
“Kamu kenapa? Tumben sekali datang menyambut bahkan dengan memberi pelukan.”, ujar Arya akhirnya berbicara.
“Oh.. maaf Pak.. eh maksud aku mas Arya.”, kata Dinda sambil melihat agak ke atas karena tinggi badan Arya memang melebihi dirinya. Dinda baru tersadar pada apa yang sudah di lakukannya. Dia tiba - tiba langsung gagap dan mengambil langkah mundur perlahan.
Dinda begitu kalut dengan pikirannya tentang kejadian tadi. Begitu mendengar mobil Arya, dia bersemangat untuk sekedar melampiaskan kebingungan dan kegundahannya dengan memeluk pria itu. Gerakan tubuhnya lebih cepat mengambil inisiatif dibanding dengan otaknya.
Saat Dinda mengambil langkah mundur perlahan, Arya justru tersenyum sesaat, menjatuhkan tas yang dipegangnya, dan menarik Dinda kembali masuk dalam jangkauannya.
Arya meletakkan kedua tangannya di pipi Dinda dan menundukkan sedikit kepalanya untuk menyamai tinggi gadis itu. Dia mengangkat sedikit wajah Dinda dan mencium bibir ranum gadis itu.
Mata Dinda membulat dan jantungnya semakin berdegup kencang. Anehnya, ada rasa nyaman yang ia dapatkan dibalik ciuman itu. Dia seperti bisa mencurahkan rasa kesal, gundah, dan galaunya lewat ciuman itu.
Selama ini, Dinda tidak pernah membalas ciuman Arya. Dia lebih memilih untuk membiarkan pria itu melakukan apa yang dia mau dengan bibirnya bahkan sesekali menguncinya agar Arya tak bisa berbuat lebih.
Tapi malam ini, entah apa yang merasukinya, Dinda sedikit - sedikit membalas ciuman itu dan Arya bisa merasakannya. Pria itu tersenyum dibalik aktivitasnya. Eksplorasi bibir Arya yang sangat lembut dari sebelum - sebelumnya seperti mencurahkan kepenatannya hari ini.
Meeting yang tidak kunjung usai, beragam pertanyaan dari para manajemen, dan komentar Erick tadi yang membuatnya sedikit kesal.
Setelah beberapa menit, Arya melepas ciumannya perlahan. Mata keduanya masih terpejam dan terbuka perlahan seiring terpisahnya bibir mereka. Sedangkan tangan Arya, masih menempel pada pipi dan pinggang Dinda.
“Kenapa belum tidur?”, tanya Arya dengan suara baritonnya dan tatapan yang lembut .
“Belum mengantuk.”, jawab Dinda.
“Besok masih Selasa, loh. Sudah jam berapa ini? Kamu ada masalah?”, tanya Arya. Entah sejak kapan Arya mulai perhatian.
Dinda menggeleng dan tersenyum. Dia mengambil tas yang Arya jatuhkan dan meletakkannya di ruangan Arya.
Arya mengikuti langkah Dinda karena letak kamar mandi memang bersebelahan dengan ruang kerjanya.
“Aku mandi dulu.”, ujar Arya pada Dinda setelah membuka bajunya. Ia segera berlalu ke kamar mandi.
“Mas Arya udah makan? Mau disiapkan sesuatu, gak?”, Dinda mengetuk pintu kamar mandi Arya sebentar.
“Belum. Tadi sudah bilang Bi Rumi untuk siapkan makanan di bawah.”, jawab Arya di sela - sela showernya.
“Hm. Baik.”, kata Dinda berlalu dari kamar mandi.
Dinda memilih melanjutkan aktivitas minum tehnya di malam yang semakin larut. Matanya masih belum bisa tidur. Namun, hatinya sudah mulai tenang. Apapun tanggapan yang lain besok, Dinda akan menghadapinya.
*****
“Tadi malam pulang jam berapa Arya?”, tanya Inggit di meja makan pagi ini. Inggit dan Kuswan yang biasanya memang tidur lebih awal terjaga karena deru mobil dan suara pagar yang terbuka. .
__ADS_1
“Jam 10, ma.”, jawab Arya singkat sambil lanjut mengunyah sandwich buatan Bi Rumi.
“Sibuk sekali.”, komentar Inggit juga tak kalah singkat.
Inggit tak pernah mengomentari Arya yang sibuk dengan pekerjaannya. Setidaknya, kehidupan dan rutinitasnya sekarang jauh lebih baik daripada saat dia belum menikah lagi. Saat deru mobil Arya terdengar di malam hari, Inggit biasanya selalu khawatir. Apakah puteranya mabuk lagi, apakah malam ini akan ada drama lagi, apakah Kuswan akan baik - baik saja menghadapinya.
Jadi, meski Arya saat ini pulang malam, asalkan dia tidak berbuat yang aneh - aneh, Inggit sudah bersyukur.
Sebenarnya Inggit ingin sekali mengatakan pada Arya untuk mengurangi pekerjaannya dan fokus pada rumah (istrinya). Tapi, Inggit mengurungkan niatnya. Menurutnya, mengatakan hal itu pada seorang workaholic seperti Arya tidak akan ada gunanya.
“Din, buahnya dimakan. Biar semakin sehat, ya.”, tawar Inggit menyodorkan semangkuk buah potong pada Dinda.
“Iya ma.”
“Ohiya, kamu sudah bilang ke Arya kalau weekend ini harus ke luar kota untuk menghadiri acara lamaran Reza, anak tante Indah?”, tanya Inggit pada Dinda. Sudah lama dia ingin bertanya tetapi lupa terus.
“Ohhh.. Dinda lupa, ma.”, Dinda langsung panik. Sekarang sudah hari Selasa dan dia belum memberitahu Arya sama sekali.
“Arya, kamu kosong, kan weekend ini? Pergi sama Dinda ke luar kota ya, nak. Reza, anak tante Indah yang baru pulang dari luar itu mau nikah.”, ujar Inggit.
“Mama dan papa gak ikut?”, tanya Arya.
“Papa ada jadwal check dan biasanya setelah itu disuruh istirahat. Mama sudah telepon tante Indah, dia bilang gak papa. Soalnya, dia kan juga tahu papa harus rutin cek ke dokter. Makanya mama suruh kamu dan Dinda.”
“Ya sudah.”, balas Arya.
“Kamu itu bisa gak sih berbicaranya panjangan sedikit?”, protes Inggit.
Arya selalu saja hemat kata saat berbicara dengannya. Apalagi momen kebersamaan mereka setiap hari kerja hanya saat sarapan pagi ini. Malam juga kadang - kadang karena Arya biasanya pulang malam.
Dinda hanya bisa tersenyum disampingnya. Pagi itu, hanya ada mereka bertiga di meja makan. Ibas seperti biasa masih ***** di kamarnya setelah begadang semalaman. Dinda melihat mba Andin sudah di rumah kemarin sekitar jam 7 malam, tetapi masih belum keluar kamarnya.
Arya dan Dinda menyelesaikan sarapannya dan siap berangkat. Dinda beranjak dari kursinya ke dapur untuk membantu Bi Rumi mengemas bekal makan siang untuk dirinya dan Arya. Melihat Dinda berjalan menuju dapur, Inggit mengikutinya.
“Dinda, sini sebentar, mama mau bicara.”, ujar Inggit sambil berbisik.
Dinda mengarahkan pandangannya pada inggit seolah bertanya apa maksud dari pertanyaannya.
“Arya itu orangnya workaholic. Dia bisa bekerja 24 jam non-stop.”, Inggit mengawali kalimatnya dengan hiperbola.
Dinda mengangguk memberikan tanda bahwa dia mendengarkan perkataan Inggit.
“Kamu harus bisa menggoda dia.”, ujar Inggit tanpa ragu.
“Eh? Maksud mama?”, Dinda sebenarnya mengerti maksud Inggit, tapi dia hanya ingin memastikan lagi apakah yang dia dengar benar.
‘Menggoda? Masa aku disuruh menggoda mas Arya? Mama makin lama makin aneh, deh.’, ujar Dinda dalam hati.
“Kalo malam, pakenya jangan baju tidur biasa. Pake lingerie yang kita beli waktu itu. Arya pasti bakal pulang cepat terus.”, ujar Inggit terkekeh tipis. Bi Rumi juga ikut tersenyum karena meskipun Inggit menurunkan suaranya, tetapi tetap saja masih bisa terdengar di radius 1 meter.
“Hehe.. kok mama bisa nyambungnya kesitu.”, Dinda bingung harus bereaksi seperti apa.
“Kamu harus pinter, Din. Cowok yang gila kerja kaya dia harus dipancing.”, ujar Inggit.
‘Memangnya mas Arya ikan, ya. Harus dipancing segala.’, ujar Dinda dalam hati.
“Kamu ingat teman mama tante Dayu yang waktu itu bersama kita membeli lingerie? Sejak dia berikan lingerie pada menantunya, anaknya Ryan selalu pulang cepat.”, Inggit semakin antusias dengan idenya.
Dinda kembali mengangguk menandakan dirinya paham apa yang dikatakan Inggit. Perilaku seperti itu sebagai tanda bahwa dia menghormati Inggit yang sedang memberikan saran padanya.
“Nanti malam, ya. Jangan lupa dipake. Kita lihat apakah Arya masih sanggup pulang malam.”, kata Inggit pada Dinda sambil memberikan bekal yang sudah dikemas oleh Bi Rumi.
Di sisi lain, Kuswan juga membuka obrolan dengan Arya di meja makan saat Dinda dan Inggit sibuk sendiri di dapur.
“Arya, kamu gak ada rencana ke rumah mertua kamu?”, tanya Kuswan tiba - tiba.
Arya hanya meliriknya sebentar tanpa tanggapan.
__ADS_1
“Sudah hampir 4 bulan kalian menikah, masa kamu tidak ke rumah mertua kamu. Papa dan mama sudah sering, tapi kamu belum. Menginap barang sehari dua hari juga sudah membuat bundanya dan Dinda senang. Kasihan Dinda. Dia masih muda. Dia pasti juga ga berani bilang ke kamu.”, ucap Kuswan memberikan nasihat.
Kuswan sudah menunggu inisiatif dari Arya, tetapi putera pertamanya ini seperti sibuk terus dan belum ada rencana untuk menjenguk mertuanya. Kuswan juga beberapa waktu lalu melihat Dinda tidak bersemangat dan berpikir mungkin karena dia ingin pulang ke rumahnya.
“Iya pa. Nanti Arya agendakan.”, ujar Arya sambil beranjak dari kursinya karena sudah melihat Dinda muncul dari dapur. Tanda mereka sudah siap berangkat.
“Pergi dulu ya, ma.”, ucap Dinda sambil salam dan mencium tangan Inggit dan Kuswan.
Inggit dan Kuswan hanya geleng - geleng saat Arya malah langsung nyelonong keluar. Berbeda dari Dinda, Arya sudah tidak pernah salim kedua orang tuanya kalau pergi keluar sejak SMA. Inggit dan Kuswan kadang merindukan masa - masa itu.
*****
“Dinda, kamu mau kita menginap di rumah bunda?”, tanya Arya begitu berhenti di basement gedung perkantoran seberang kantor mereka. Tempat ini adalah tempat biasanya Arya menurunkan Dinda agar tidak terlihat oleh pekerja kantor yang lain.
“Serius, mas Arya? Boleh?”, tanya Dinda sangat antusias.
“Kamu kenapa gak bilang? Ya tentu boleh.”, balas Arya.
“Aku takut bilangnya soalnya mas Arya sibuk dan hubungan kita ke belakang kemarin juga sedang tidak baik.”, Dinda berusaha untuk jujur. Sudah sejak lama Dinda ingin pulang ke rumah bundanya. Tapi dia tidak berani bilang.
Bundanya juga pernah berpesan, di awal pernikahan, jika bukan keluar dari mulut Arya sendiri, sebaiknya Dinda tidak mengatakan ingin pulang karena bisa memberikan indikasi negatif untuk Arya dan juga mertuanya.
Arya menghela nafasnya sebentar. Dia menghadap ke arah Dinda dan memegang bahunya.
“Mulai sekarang, kalau kamu ingin pulang. Bilang aja, ya.”, ujar Arya.
Dinda mengangguk pelan.
“Minggu depan kita harus ke lamaran Reza, kita agendakan ke rumah Bunda dua minggu lagi. Gimana?”, ujar Arya.
Dinda langsung membalas dengan senyuman yang antusias.
“Makasih ya, mas Arya.”
“Eits, tapi gak gratis. Ada bayarannya.”, kata Arya.
“Eh? Harus bayar? Aku naik ojol aja, gapapa.”
“Hahaha.. Bukan itu maksudnya.”
Arya menunjuk - nunjuk pipinya. Dinda yang polos malah meletakkan tangannya di pipi Arya.
“Kenapa mas?”
“Kamu ini ya, Din. Polos sama lemot itu beda tipis, loh. Kalau kamu jadi bawahan saya, mungkin kamu sudah saya pecat. Lain kali kita nonton bareng film yang saya rekomendasikan, ya. Biar gak lemot.”
“Ahhh.. iya iya maaf - maaf mas. Hahaha. Saya mengerti sekarang maksudnya.”, Dinda hanya tertawa malu. Dia akhirnya tahu apa yang diinginkan Arya sebagai bayaran.
“Disini?”, tanya Dinda lagi.
“Ya mau dimana lagi? Hotel? Masih pagi.”, decak Arya.
Dinda menghela nafasnya sebentar. Dia merasa deg-deg-an karena sifatnya tidak refleks dan bahkan Arya memperlihatkan bahwa dirinya menunggu ciuman di pipi dari Dinda.
Cup.
Akhirnya, setelah delay beberapa detik, Dinda berhasil memberikan kecupan ringan itu di pipi Arya.
“Hm.. kayanya bayarannya kurang deh. Sini!”, perintah Arya pada Dinda yang sudah akan membuka pintu mobil.
“Eh?”, Dinda kembali menoleh ke arah Arya dan pria itu dengan cepat menciumnya di bibir. Ciuman singkat tetapi berhasil membuat jantung Dinda berdetak tidak aman.
“Ya udah, turun sana. Kerja yang benar, ya. Jangan lemot. Sama, jangan senyum - senyum dekat Erick. Kalau diskusi, jauh - jauh. Kalau tidak saya panggil kamu ke ruangan.”, ujar Arya pada Dinda.
Sebelum turun, Dinda mengambil tangan Arya dan menciumnya. Lalu, dia melambai ke arah mobil yang sudah melaju itu.
‘Kenapa jadi membicarakan pak Erick. Ah ya sudahlah, dia memang aneh. Sudah galak, dingin, aneh pula. Tapi, HOT. Eh, ngomong apa sih aku. Sadar Dinda, sadar.’, Dinda tenggelam dalam pemikirannya yang mulai liat.
__ADS_1