Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 144 Kehamilan Dinda


__ADS_3

Pak Cecep melajukan mobilnya beberapa saat setelah Dinda masuk. Baru sekitar 5 menit keluar dari area bandara, hujan yang sangat deras turun. Beberapa pengendara motor terlihat segera menepikan kendaraannya untuk sekedar mengambil jas hujan. Beberapa terus jalan, dan beberapa lagi menepikan ke pinggir - pinggir toko untuk menunggu hujan reda.


“Hm? Kenapa berhenti, Pak? Ada yang harus dicari?”, tanya Dinda saat Pak Cecep tiba - tiba menepikan mobilnya.


“Menunggu Den Arya non.”, jawab Pak Cecep.


“Hm? Mas Arya?”


“Iya non. Den Arya meminta saya untuk menunggu disini karena dia akan naik taksi dari bandara kesini.”, jawab Pak Cecep.


“Aah.”, respon Dinda singkat.


‘Ternyata mas Arya tidak naik taksi langsung ke rumah. Aku kira dia masih marah sampai tidak ingin satu mobil denganku.


“Oh? Itu mas Arya.”, ucap Dinda begitu melihat sebuah taksi berhenti di depannya dan seorang pria yang dia kenal turun dari sana.


Pak Cecep segera keluar setelah mengambil payung karena Arya harus membawa kopernya.


“Biar saya saya Den. Den Arya naik saja ke mobil.”, ucap Pak Cecep memberikan sebuah payung.


“Gapapa Pak, Bapak payungkan saja. Saya yang bawa ke bagasi mobil. Ayo, Pak. Hujannya deras sekali.”


Arya segera membuka pintu mobil bagian tengah dan masuk. Dia menyeka air di rambut dan kaosnya yang basah. Meski hanya sebentar berada di luar, Arya sudah basah kuyup.


“Wah.. hujannya deras sekali ya Den. Kalau begitu saya segera berangkat, ya.”, ucap Pak Cecep yang langsung mengemudikan mobil.


“Eh? Mas Arya mau ngapain?”, tanya Dinda kaget sambil menutup matanya dengan tangan karena Arya sudah membuka bajunya tiba - tiba.


“Dingin. Saya mau ganti baju.”, jawab Arya sambil mengambil sebuah kaos ganti di bagian belakang mobil.


“Hah? Kamu pikir saya mau ngapain?”, kata Arya.


“O.. hm..enggak, saya tidak memikirkan apa - apa, kok.”, jawab Dinda salah tingkah.


Pak Cecep hanya bisa tersenyum melihat interaksi keduanya. Menurutnya, tingkah keduanya sangat menggemaskan.


“Kamu sedang akting? Memangnya ada bagian yang belum kamu lihat?”, ujar Arya sambil menyandarkan badannya ke kursi sambil menoleh ke kiri melihat rintik hujan yang sangat deras.


“Eh? Mas Arya…”, Dinda sangat malu sampai - sampai dia tidak tahu harus mengatakan apa.


“Kalaupun saya berbuat sesuatu, ga akan di depan Pak Cecep.”, ternyata Arya masih melanjutkan.


Dinda hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata - kata lagi. Perjalanan mereka sedikit lebih cepat karena beberapa titik jalan sangat lancar dari biasanya. Hujan yang deras membuat sedikit sekali pengendara motor yang berani menerjang jalan. Akibatnya jalan lebih kosong.


“Ooh… sayang.. Sayang sudah pulang rupanya… langsung mandi ya Dinda dan Arya, makan malamnya nanti Bi Rumi akan siapkan.”, sambut Inggit sambil tersenyum melihat putera dan menantunya.


“Iya, langsung bantu taruh di atas aja ya Pak Cecep.”, perintah Inggit yang melihat Pak Cecep mengangkat koper.


“Permisi Den, Non. Ini kopernya saya taruh dimana?”, tanya Pak Cecep di pintu kamar Arya.


“Boleh disini saja ya, Pak. Makasih banyak Pak Cecep.”, jawab Dinda karena Arya sudah langsung melaju ke kamar mandi. Dia sudah kebelet mau buang air sejak tadi.


******


“Makan yang banyak ya sayang. Kamu kan sudah gak sendiri lagi. Harus banyak makan.”, ucap Inggit saat melihat Dinda dan Arya sudah duduk di meja makan.


Ibas yang baru pulang dari kegiatan freelancenya juga sudah ikut bergabung di meja makan.


“Eh?”, kata Dinda bingung.

__ADS_1


“Jadi, kandungannya sudah berapa bulan sayang? Periksanya di rumah sakit mana? Kenapa tidak mengabarkan langsung ke mama dan papa. Takut gak di bolehin ke Lombok sama Arya?”, tanya Inggit sambil meletakkan sepotong ayam kecap kesukaan Dinda di piringnya.


“Hah? Dinda hamil, ma?”, Ibas yang baru pulang langsung kaget.


“Kamu ini, baru pulang langsung gabung di meja makan. Mandi dulu sana.”, kata Inggit.


“Memangnya Ibas bau. Lagian sudah lapar, ma. Kalau tunggu mandi dulu, yang ada Ibas pingsan nanti di kamar mandi. Oiya, kamu beneran hamil, Din?”, Ibas kembali bertanya.


Wajahnya terlihat sangat kaget namun antusias. Dia juga multitasking karena sambil bertanya dengan antusias, dia juga bergerak cepat mengambil ayam, daging, dan beberapa potong kentang balado ke piringnya.


“Ya.. beneran dong. Masa akting. Kamu ini ada - ada saja.”


“Wah.. mas Arya… topcer juga rupanya. Anak gadis orang sudah hamil saja.”, komentar Ibas.


“Kamu ini. Udah makan saja. Jangan banyak komentar.”, ujar Inggit yang sudah memukul putera keduanya dengan undangan pernikahan yang terletak di lemari dengan meja makan.


Menerima itu, Ibas hanya mengeluarkan wajah pura - pura kesal.


“Papa mana ma?”, tanya Arya.


“Biasa, sedang berkumpul di kompleks depan bersama teman - temannya. Padahal sudah malam. Nanti kamu jemput papa ya, harusnya ini sudah jam tidur papa. Sepertinya sedang ngobrol seru sampai lupa waktu.


“Hasil check-up?”, tanya Arya.


“Baik - baik saja, kok. Paling cuma wanita itu yang bikin Papa bahkan mama darah tinggi.”, sadar akan mulutnya yang keceplosan, Inggit langsung menutup mulutnya.


Dinda mengeluarkan ekspresi bingung di sela - sela aktivitasnya mengunyah makanan.


“Hahahaha… sudah - sudah teruskan saja makanannya. Oiya Din, kamu sudah beritahu Bunda?”, tanya Inggit.


“Belum Ma. Rencananya minggu depan mau menginap di rumah bunda kalau mas Arya mengizinkan.”


“Tentu saja Arya mengizinkan, ya kan Arya?”, kata Inggit.


“Oiya, tapi kamu info aja dulu via telpon. Biar gak kelamaan.”


“Iya ma. Nanti Dinda beritahu Bunda.”, jawab Dinda mengangguk.


“Gimana liburannya, menyenangkan? Gak ada yang aneh - aneh terjadi kan?”


“Udahlah ma, ditanyain terus, sudah seperti pak polisi saja.”, komentar Ibas yang tentu saja mendapatkan pukulan sekali lagi dari mamanya.


“Papa pulang…”, Kuswan berteriak dari pintu utama masuk ke dalam rumah. Hal yang tidak biasa ia lakukan.


“Oh.. Dinda sudah pulang, ya. Ini papa tadi pesan makanan sama teman - teman papa, sekalian papa bawa buat kamu. Kata Kuswan meletakkan bungkusan makanan di samping Dinda.”


“Lah, buat aku mana, pa?”, tanya Ibas karena dia tidak mendapatkan bagiannya.


“Ini kan kamu sedang makan.”, jawab Kuswan meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamar.


“Hah? Itu kan Dinda juga makan tetapi dikasih makanan lagi. Ih.. si Papa pilih kasih.”, ucap Ibas mendumel.


“Kalau mau di kasih makanan, hamil dulu.”, kata Inggit bercanda.


“Begitu dengar Dinda hamil, papa kamu jadi yang paling sibuk tahu Arya. Dia langsung telepon sana sini tanya - tanya gimana pengalaman temannya yang sudah punya cucu. Padahal dulu waktu Andin, papa gak gitu - gitu banget karena mungkin Andin jauh ya, di Amerika. Jadi, gak begitu keliatan.”


Arya tersenyum tipis. Sudah lama dia tidak mendapatkan perhatian seperti itu dari Papanya. Meskipun perhatian seperti ini tidak langsung untuknya, namun secara langsung Kuswan menunjukkan kasih sayangnya pada putera pertamanya.


Beberapa tahun terakhir terutama sebelum dia menikah dengan Dinda, suasana di antara mereka sangat intens. Bahkan, Arya bisa merasakan jika perhatian Kuswan berbeda dari saat dia menikah dengan Sarah.

__ADS_1


“Papa kamu kumpul - kumpul di komplek depan juga pasti mau pamer kalau sebentar lagi dia akan punya cucu dari putera pertamanya. Lihat aja besok di tukang sayur, pasti sudah menyebar gosipnya.”


“Kaya mama enggak aja. Paling begitu mas Arya kasih tahu, se-keluarga besar langsung update.”, sindir Ibas yang sudah sangat mengenal sifat mamanya.


“Ya.. harus dong. Berita bagus itu harus segera disebarkan. Apalagi untuk ibu - ibu arisan yang mulutnya suka ceplas ceplos sana sini mengomentari anak - anak mama.”


Inggit merasa sedang di atas langit karena bisa menampik segala gosip yang beredar di kalangan ibu - ibu arisan. Meskipun dia terkesan bodo amat, tetapi Inggit selalu saja memperhatikan dan tahu setiap ada yang membicarakannya di belakang. Terlebih selama tiga tahun belakangan.


Telinganya sudah super panas karena mendengar gosip - gosip tentang menantunya, perceraian Arya, dan masalah Andin. Bahkan, Inggit juga harus rela menelan bulat - bulat rasa malunya ketika mendengar informasi dari salah seorang teman arisan yang pernah melihat Sarah di hotel bersama pria lain.


Kalau dia mengingat - ingat hal itu, hatinya masih tidak bisa melupakan rasa sakitnya. Dia sudah mau menerima wanita itu di rumahnya, tetapi malah mempermalukannya seperti ini. Dia juga sampai tak tega memberitahu Arya karena dia tahu, jika rasa sakit untuknya saja sudah begitu apalagi rasa sakit yang diterima oleh putranya jika dia mengetahuinya.


Itulah kenapa begitu ada Dinda, Inggit benar - benar mencurahkan segala kasih sayangnya dan menganggap Dinda seperti anaknya sendiri.


*******


“Sudah tidur?”, tanya Arya pada Dinda.


Setelah makan malam, keduanya kembali ke kamar karena sudah sangat kelelahan. Tidak ada suara atau jawaban apapun dari Dinda, sepertinya gadis itu sudah tertidur pulas. Arya menoleh sebentar ke samping dan benar, Dinda sudah benar - benar tertidur.


‘Hah… harus aku apakan gadis ini supaya tidak terus membuatku khawatir.’, ucap Arya dalam hati.


Pandangan Arya kemudian mengarah pada perut Dinda.


‘Bayi papa yang belum seperti bayi. Kamu yang sehat ya disana dan bantu papa untuk jagain mama. Kalau ada laki - laki yang deketin mama, kamu bikin aja mama bete sama laki - laki itu. Pokoknya cuma papa yang boleh deket - deket sama kamu, ya?’, ucap Arya dalam hatinya sambi tersenyum.


Ia memeriksa sebentar ke arah Dinda untuk memastikan kalau gadis itu sudah terlelap sebelum meletakkan telapak tangannya di perut Dinda. Dinda sedikit bergerak karena terganggu, tetapi Arya kemudian meletakkan lengannya di leher gadis itu dan menariknya agar posisi tidurnya menjadi lebih nyaman dan dia juga merasa lebih hangat.


*******


“Ada berapa orang yang harus saya interview hari ini?”, tanya Arya pada Siska.


Jadwal meeting Arya memang sudah di blok dan dia bisa melihat itu di laptopnya, tetapi tidak ada informasi mengenai jumlah maupun nama - nama orang yang harus dia interview.


“Ada 8 orang Pak. Empat orang pagi ini dan empat orang lagi sore nanti.”, jawab Siska.


Sebagai sekretaris, dia harus menjadi Ms. Know It All. Tidak boleh ada satu informasipun yang luput darinya. Untuk itulah dia dibayar mahal.


“Jadwal meeting dengan tim Susan dan Eko sudah di blok?”, tanya Arya lagi.


“Untuk Bu Susan sudah, Pak. Tetapi untuk Pak Eko belum. Katanya ada klien yang tiba - tiba mengajak bertemu dan meeting dadakan hari ini. Dia akan menginformasikan jadwalnya kembali segera.”


“Oke. ensure semuanya selesai sebelum pekan depan ya. Saya akan ada banyak meeting soalnya. Gilbert?”, Arya mulai menyinggung pria itu saat melewati mejanya.


“Hm.. belum ada kabar, Pak. Apa Pak Gilbert bilang akan masuk hari ini? Saya dengar dari Egi dan Wawan, Pak Arya bertemu Pak Gilbert?”


“Hm. Dia bilang mau masuk hari ini.”


“Tapi Pak. Bukannya.”


“Bukan saya yang memintanya masuk. Dia sendiri yang mau masuk. Saya hanya bersikap profesional.”


“Baik Pak, saya mengerti.”, Siska langsung kembali ke tempatnya dan Arya berjalan menuju ruangannya.


“Oh ya Sis. Masih adawaktu sekitar 15 menit sampai interview kan? Kamu bisa tolong panggilkan 5 orang yang membuat masalah di Tim Building kemarin? Suruh mereka datang ke ruangan saya.”, perintah Arya.


Baru saja, Siska akan duduk, tetapi dia harus berdiri lagi karena dia harus berjalan ke are divisi Digital and Development untuk memanggil Dinda, Suci, Delina, Bryan, dan Andra.


“Hah.. kenapa tidak dari tadi dia bilang. Aku kan jadi bolak - balik.”, protes Siska.

__ADS_1


“Ngomong apa kamu?”


“Ahhaha … enggak Pak. Saya panggilkan mereka, SEGERA.”, kata Siska langsung meluncur menuju divisi Digital and Development.


__ADS_2