Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 147 Modus ala Bianca


__ADS_3

“Din, kamu habis melakukan apa?”, tanya Arya memunculkan kepalanya dari balik pintu ruang pakaian.


“Hm? Melakukan apa, maksud mas Arya bagaimana?”, tanya Dinda heran.


“Laci T-Shirt aku berantakan. Kamu habis mencari sesuatu? Aku juga tidak menemukan satu t-shirt dan kemeja, sepertinya aku tidak memakainya beberapa hari ini. Tidak mungkin sedang masuk laundry Bi Rumi.”, tanya Arya heran sambil memperlihatkan kondisi laci bajunya.


“Hm? Tadi, Ibas kesini. Katanya ada bajunya yang mungkin terselip diantara baju - baju mas Arya.”


“Hah, anak itu. Dia pasti mengambil bajuku lagi. Hm, jam nya juga tidak ada satu.”, kata Arya mengomel.


“Dia bilang itu bajunya. Aku juga tidak tahu kalau dia mengambil jam.”, kata Dinda.


‘Pantas saja tadi ada sedikit gundukan. Si Ibas ada - ada saja. Sudah tahu masnya aneh bin ajaib. Masih aja.’, kata Dinda dalam hati.


“Mana itu bocah.”, kata Arya berjalan hendak keluar. Dinda tahu Arya pasti ingin menghampiri adiknya.


“Mas, mas. Tunggu.”, kata Dinda menghalangi Arya.


Kini dia sudah berada di depannya. Dinda tak bisa mengelak tangannya yang sudah mendarat di dada bidang Arya.


“Oh?”, Dinda bingung harus bagaimana karena dia sudah terjebak di situasi ini.


Arya hanya menolehkan wajahnya sedikit ke arah Dinda dan mengeluarkan ekspresi bingung.


“M.. Mas Arya mau keluar kamar dengan kondisi begini? Tanpa pakaian?”, tanya Dinda yang mengingatkan lagi pada Arya kalau dia hanya mengenakan handuk dari pinggang ke ke bawah. Sementara bagian atasnya tidak.


“Kenapa? Memangnya tidak boleh?”


“Tapi di luar ada Bianca, mas.”, kata Dinda mengingatkan.


“Hm? Kenapa? Kamu tidak mau membagi pemandangan ini dengan yang lain?”, goda Arya. Sebenarnya dia merasa sangat malu mengatakan itu, tapi Arya sangat menanti ekspresi Dinda saat ia goda dengan hal - hal seperti ini.


“Ih apaan sih mas Arya.”, kata Dinda sudah mengeluarkan ekspresi yang Arya suka. Dia tersenyum karena puas dengan taktiknya.


“Ya sudah sana, kalau mas Arya gak malu keluar kamar hanya mengenakan handuk begitu.”, ujar Dinda lagi dengan nada kesal.


“Eh .. eh.. Mau kemana kamu? Sudah sentuh - sentuh. Kamu harus tanggung jawab dong.”, kata Arya menarik lengan Dinda masuk kembali ke pelukannya.


“Kita di kamar aja yuk, ga usah ikutan mereka olahraga. Biar aja mereka olahraga sendiri. Kita olahraga di kamar saja.”


“Mas Arya…! Mesum banget sih pikirannya.”, teriak Dinda dengan wajah yang sudah memerah. Dia berusaha keluar dari pelukan Arya tetapi tetap tidak bisa.


“Eh? Kamu sedang memikirkan olahraga yang seperti apa?”, tanya Arya.


“Terserah mas Arya.”, kata Dinda kesal dan menyerah.


Arya tersenyum dan mendaratkan bibirnya di bibir Dinda. Arya memberikan kecupan yang lembut disana. Setelah beberapa saat, Arya melepaskan bibirnya dan menatap kembali Dinda yang wajahnya sudah sangat merah.


“Wajah seperti ini, kamu hanya boleh memperlihatkan ke saya. Tidak boleh yang lain. Ingat?”, perintah Arya pada istrinya.


Dinda hanya bisa mengangguk pelan.


*******


“Wah.. ini kita jadi olahraga gak nih, masakan tante Inggit bikin aku betah di rumah.”, ujar Bianca pada Inggit yang terus meminta Bi Rumi menyajikan makanan di atas meja.


Inggit adalah tipe orang yang sangat senang kalau ada orang ke rumah. Tipikal keluarga besar Kuswan dan Inggit yang memang sangat senang berkumpul dan makan - makan bersama. Jika tidak ada acara khusus, biasanya mereka akan saling mengundang makan malam secara bergiliran kemudian menghabiskan waktu untuk karaoke.


Sesekali mereka juga mengadakan acara menginap di suatu tempat untuk mempererat silahturahmi. Inggit baru sadar kalau acara seperti itu sudah jarang beberapa tahun terakhir karena banyak hal yang terjadi di keluarga mereka.


“Wah, Bianca gak sangka tante kalau Dinda sudah hamil. Sudah mau masuk 2 bulan lagi. Pantas beberapa waktu lalu, Dinda terlihat aneh.”, ujar Bianca membahas kehamilan Dinda.


Inggit sudah seperti tukang pos tercepat sejagat raya. Berita kehamilan Dinda sudah menyebar ke seluruh elemen keluarga dan teman arisannya tanpa tertinggal satu orangpun. Begitu juga dengan Kuswan yang juga tak kalah bersemangat mengedarkan berita ini ke seluruh teman - teman kompleks dan golf nya.


“Tante senang banget, Bianca. Mohon doanya ya, semoga kehamilan Dinda lancar sampai lahiran.”, kata Inggit.


Suara - suara mengaminkan langsung hadir terdengar.


“Mas Reza, kita kapan dong?”, kata Bianca tiba - tiba langsung bertanya pada Reza dengan nada agresif. Sontak wajah Reza memerah dan gelak tawa dari semua yang hadir di meja makan langsung pecah.


“Nah, ini dia yang ditunggu - tunggu. Mas Arya yang ternyata tak tertandingi jagonya.”, kata Ibas sembarangan.


Arya yang baru saja turun dari tangga bingung mendengar komentar dari adiknya.


“Heh, kamu bawa kemana baju mas?”, tanya Arya. Dia langsung menghampiri Ibas yang sedang memasukkan omelet ke dalam mulutnya.


“Baju apa?”, tanya Ibas pura - pura tidak tahu.


“Kamu punya pacar baru? Sampai - sampai harus mengenakan barang branded?”, tanya Arya.


“Ih.. lagian mas Arya punya baju jarang di pake gak pernah diturunin ke aku. Disimpan saja terus.”


“Percuma mas turunin ke kamu kalau endingnya kamu menginap di rumah orang, terus bajunya kamu tinggal di sana. Memangnya gak sekali dua kali mas kehilangan baju. Awas ya, balikin 2 t-shirt, satu kemeja, dan satu jam tangan yang kamu ambil. Gaji freelance kamu ditabung setahun juga belum cukup buat beli jam itu.”, kata Arya.


“Hapal banget. Beneran harga jamnya segitu, mas?”, tanya Ibas heran.

__ADS_1


“Aku jual aja kalau begitu.”, lanjut Ibas lagi.


“Heh? Coba aja, mas kirim foto - foto kontroversial kamu ke IG.”, ancam Arya.


“Wah.. masih disimpan juga foto itu? Sadis banget mas Arya.”, ucap Ibas menyerah.


******


“Mas Arya, apa aku boleh bertanya?”, kata Reza yang sedang duduk di samping Arya.


Mereka baru saja menyelesaikan satu putaran jogging yang rutenya lumayan jauh. Dari tempat mereka duduk, mereka bisa melihat Dinda dan Bianca yang sedang berjalan ke arah tukang ice cream.


“Hm? Mau bertanya apa?”, jawab Arya yang sudah meneguk setengah botol air mineral yang dia bawa dari rumah.


“Janji tidak akan tertawa?”, tanya Reza memastikan terlebih dahulu.


“Hah? Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan sampai aku harus berjanji untuk tidak tertawa?”, tanya Arya heran.


“Hm.. apa Dinda adalah tipikal yang curigaan juga?”, setelah diam sejenak, akhirnya Reza mengungkapkan pertanyaannya.


“Eh?”, dahi Arya mengkerut bingung sejenak kemudian dia tertawa terbahak - bahak.


“Tuhkan, mas Arya tertawa.”, kata Reza malu dan menyesal.


“Seharusnya aku tidak bertanya.”, lanjutnya lagi.


Arya ingin menjawab tetapi dia masih tidak bisa menahan tawanya. Beberapa kali dia ingin mengeluarkan kata - kata tetapi dia malah akhirnya tertawa. Setelah agak tenang, baru dia coba bertanya.


“Kenapa? Apa istrimu selalu mencurigaimu? Bukannya kalian baru sekitar dua mingguan menikah? Sudah curiga - curigaan?”, kata Arya masih sesekali tertawa.


“Ide olahraga ini muncul karena dia curiga aku janjian di tempat gym bersama sekretarisku.”, jawab Reza sambil menghela nafas.


“Sudah kuduga. Lagian kalian tiba - tiba pagi dini hari mengganggu tidurku hanya untuk mengajak olahraga di komplek begini? Hah…”


“Makanya, apa Dinda orangnya juga curigaan?”, tanya Reza.


“Hm.. aku memang pantas dicurigai. Tapi kalau kamu, tipikal anak baik - baik yang habis ngantor langsung pulang sepertimu membuatku tertawa hahaha… bisa - bisanya Bianca mencurigaimu. Apa kamu ada sesuatu dengan sekretarismu?”, kali ini Arya jadi tertarik untuk bertanya.


“Makanya, aku juga bingung. Sehabis pulang kantor atau proyek, aku selalu pulang. Aku hampir tidak pernah menghambiskan waktu di luar. Tidak seperti mas Arya, tapi kenapa dia masih mencurigaiku. Masa mau nge- gym saja aku harus membawanya?”


“Mas Arya, ini.”, Dinda mendekat membawa dua buah ice cream yang baru dibelinya. Satunya dia berikan pada Arya.


Saking asyiknya mengobrol, mereka tidak sadar kalau Dinda dan Bianca sudah mendekat. Bianca juga membawakan satu untuk Reza.


“Mas Reza sedang membahas apa? Kenapa wajahnya serius sekali?”, tanya Bianca pada Reza.


“Kamu, kita lagi olahraga pagi - pagi, kenapa malah beli ice cream?”, tanya Arya pada Dinda.


“Sekarang sudah jam 10. Lagipula hanya ice cream saja.”, jawab Dinda. Arya sedang membantunya untuk duduk disampingnya.


“Enakkan?”, tanya Dinda.


“Apanya?”, tanya Arya.


“Apalagi? Ya Ice Creamnya. Enak?”


“Biasa saja.”


Dinda langsung memajukan bibirnya dan memasang wajah kesal karena respon Arya.


“Nanti saya ajak kamu makan ice cream di tempat yang enak.”


“Hm? Dimana? Mau.”, kata Dinda bersemangat.


*******


“Sayang, kamu jadwal kontrolnya kapan lagi?”, tanya Arya pada Dinda yang sudah mengambil posisi tidur meski jam baru menunjukkan pukul 8 malam.


Belakangan ini, Dinda jadi lebih mudah mengantuk dan tidur cepat. Biasanya dia tidur setelah jam 10. Tak jarang dia juga tidur di atas jam 11 malam karena menunggu Arya pulang. Tetapi, semingguan ini sejak pulang dari acara tim building, Dinda tak bisa menahan kantuknya lewat dari jam 8.


Arya ikut naik ke atas ranjang untuk menemani Dinda tidur. Biasanya sekitar jam 1 malam, dia akan bangun untuk mengerjakan beberapa tugas kantor sebelum akhirnya tidur kembali. Arya berusaha sebisa mungkin untuk mengerjakan tugas kantor dengan cepat agar dia tidak perlu lembur.


Arya merasa tidak nyaman setiap kali Dinda harus pulang sendirian meskipun dijemput oleh Pak Cecep, supir mereka.


“Hm?”, kata Dinda yang sudah setengah sadar karena mengantuk.


“Kamu kontrol ke rumah sakitnya kapan? Bukannya kalau mau masuk bulan ketiga, kamu kontrol lagi?”, tanya Arya.


Dia sudah absen saat Dinda pertama kali memeriksakan kehamilannya. Arya sudah berjanji tidak akan pernah absen lagi kedepannya.


“Hm, belum tanya dokternya mas. Mungkin akhir pekan depan.”, jawab Dinda.


“Kalau sudah ada jadwalnya, kamu beritahu aku ya. Pokoknya aku harus menemani kamu kontrol mulai hari ini.”


“Hm?”, kata Dinda membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


“Mulai sekarang, kamu tidak boleh kontrol sendiri. Harus sama aku.”, perintah Arya.


Perkataan Arya barusan membuat Dinda tersenyum lebar.


“Aku sayang sama mas Arya.”, ungkap Dinda tiba - tiba.


Awalnya Arya sedikit kaget dengan ungkapan tiba - tiba dari Dinda, namun kemudian dia membalasnya dengan senyuman.


“Iya, aku tahu kok.”


“Mas Arya?”


“Aku kenapa?”


“Mas Arya, sayang gak sama aku?”, tanya Dinda.


Pertanyaan Dinda membuat wajah Arya sedikit merah. Tidak pernah ada hal apapun selama hidupnya yang bisa membuat pipinya memerah selain karena suhu yang dingin. Tapi setiap kali dia harus mengungkapkan perasaannya, Arya selalu deg - deg-an dan wajahnya memerah karena malu.


“Hm? Udah ah kamu tidur, katanya tadi sudah mengantuk.”


“Tuhkan, mas Arya gak jawab. Yasudah, sayang kita kontrolnya berdua aja ya. Papa gak sayang sama kamu.”, kata Dinda langsung membuat Arya salah tingkah.


“Iya, aku sayang sama kamu. Udah tidur sana, besok senin, loh.”, kata Arya.


“Peluk.”, kata Dinda manja.


“Sini.”, kata Arya ikut membaringkan tubuhnya dan menarik Dinda dalam jangkauannya.


*******


“Kamu jangan coba - coba bohongin aku.”, kata Sarah berteriak.


“Heh, apa untungnya untukku membohongi kamu. Aku kira kamu bisa membuat Arya kembali padamu. Tapi, sepanjang yang aku lihat. Justru gadis itu yang lebih cepat menaklukkan pria seperti Arya. Atas dasar apa kamu yakin kalau Arya tidak bisa memiliki anak? Buktinya, Dinda sekarang sedang mengandung anaknya.”


“Bisa saja itu bukan anak Arya. Pria itu sedang dibodohi.”


“Kamu yakin? Aku kira kita sama - sama tahu setelah berinteraksi dengan Dinda kalau dia bukanlah tipe wanita seperti itu. Aku jadi curiga, alasan kenapa kamu tidak pernah hamil selama pernikahan kamu dan Arya adalah sebenarnya dia sudah tidak pernah menidurimu lagi dalam waktu yang cukup lama? Mungkin dia sudah lama tahu kamu berselingkuh. Tapi kenapa dia seolah kehilangan segala - galanya saat kalian berpisah. Arya memang masih membuatku bertanya - tanya. Sebenarnya pernikahan seperti apa yang sudah kalian jalani.”


Tut tut tut…


Sarah sudah menutup teleponnya lebih dulu karena dia kesal.


“Sialan perempuan itu. Sungguh tidak bisa dipercaya. Arya dan perempuan seperti itu? Heh? Apa bagusnya dia? Apa aku benar - benar sudah tidak punya kesempatan? Aku tidak suka kalau ada yang mengambil sesuatu yang menjadi milikku Termasuk Arya.”


Sarah menekan tombol di ponselnya untuk menghubungi seseorang.


“Halo, Dimas? Kamu sedang dimana?”, tanya Sarah.


“Aku? Kenapa kamu tiba - tiba menanyakan tentangku?”


“Ah sudahlah, tidak jadi.”, kata Sarah menutup teleponnya.


‘Tidak ada gunanya aku menghubungi Dimas. Dia pasti akan lebih membela perempuan itu. Argh… kenapa sih mama Inggit harus menjodohkan Arya segala. Kalau perempuan itu tidak muncul, aku pasti sudah bisa kembali ke pelukan Arya.’


******


Suasana di kantor sedikit berbeda karena ada orang baru yang akan menempati posisi kepala Divisi Digital and Development. Beberapa hari telah berlalu sejak interview terakhir dengan Arya. Tentu saja setelah itu ada deretan interview lainnya, namun Arya tak diberitahu mengenai hasil akhirnya.


HRD sudah memutuskan pengganti divisi Digital and Development yang baru dan hanya memberitahu Arya lewat email yang belum ia baca. Sehingga, dia cukup kaget ketiga Siska mengatakan bahwa serah terima jabatan akan berlangsung di ruang meeting sekitar 30 menit lagi.


Email resmi belum dikirimkan kepada karyawan yang berada di bawah divisi Digital and Development, namun Erick sudah menerima email yang sama yang diterima oleh Arya. Erick mencoba menghubungi Arya pagi ini namun dia sibuk dengan Dinda sehingga tak mengangkat ponsel itu.


“Oh.. halo.. Selamat pagi Pak Arya. Saya sangat berterima kasih karena akhirnya bisa bergabung di perusahaan ini dan kedepannya bisa bekerja sama dengan kepala divisi yang sangat berprestasi seperti Anda.”, ujar Dika Sadewa, pria yang akhirnya dipilih oleh manajemen bersama HRD untuk mengisi posisi kepala Divisi Digital and Development yang sudah lama kosong.


“Halo, selamat siang. Perkenalkan, saya Dika Sadewa. Saya pernah bekerja sebagai di perusahaan XY sebagai kepala divisi IT. Meskipun begitu, saya memiliki banyak pengalaman dalam pengembangan sistem digital perusahaan dan saya yakin bisa menjadi orang yang tepat untuk mengisi posisi Digital and Development yang sudah lama kosong di perusahaan ini.”, ujar Dika memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri begitu Arya masuk ke dalam ruangan. 


Awalnya, Arya tak mengingat wajah pria itu namun ia merasa pernah bertemu dengannya sebelumnya. Namun, saat pria itu mengeluarkan suaranya, barulah Arya ingat bahwa dia adalah pria yang ditemui Arya di kamar hotel bersama Sarah beberapa bulan yang lalu. 


Tentu saja Arya bisa mengendalikan ekspresinya meski Dika dapat membaca sedikit keterkejutan dari Arya atas kehadirannya. Sebaliknya, Dika sama sekali tidak terkejut dengan pertemuannya dan Arya. Seolah - olah dia sudah menantikan hal ini sejak lama. 


“Hm. Senang mendengar antusiasme Anda terhadap posisi ini.”, jawab Arya dengan suara baritonnya yang mendominasi aura di ruangan itu. 


“Selamat pagi. Terima kasih atas pendapat Anda tentang saya.”, jawab Arya singkat.


“Sejujurnya saya baru tahu kalau Anda yang akan mengisi kepala divisi hari ini. Saya harap Anda senang dengan posisi baru Anda dan bisa memberikan kontribusi yang besar bagi perusahaan ini.”


“Oh.. tentu saja, Pak. Saya harap di satu atau dua kesempatan bisa berkolaborasi dengan Anda. Saya harap keberadaan saya bisa meringankan pekerjaan Bapak. Saya dengan Pak Arya adalah yang mengisi kekosongan posisi kepala divisi Digital and Development sementara waktu. Meski tidak ada background IT, tapi bapak berhasil meningkatkan performa divisi.”, ujar Dika pada Arya.


“Saya harap Bapak bisa meningkatkan performanya dan menjadi partner business yang baik untuk divisi Business and Partner, dan divisi lainnya di perusahaan ini.”, ujar Arya.


“Tentu saja.”, jawab Dika.


Meskipun sama - sama menjabat sebagai kepala divisi, namun level Arya lebih tinggi dibandingkan dengan Dika. Karena itulah, Dika tetap menjaga formalitas dan bahasanya saat berinteraksi dengan Arya.


“Perkenalkan, ini adalah Erick. Dia memegang posisi sebagai VP Digital and Development. Semua yang berkaitan dengan jobdesk, project, dan lainnya akan dijelaskan lebih lanjut oleh Pak Erick.”

__ADS_1


“Salam kenal, Pak Erick. Saya sudah tidak sabar untuk menyapa anggota tim saya.”, ujar Dika dengan senyuman.


“Baik, Pak. Akan segera saya perkenalkan dengan semua anggota tim DD.”, jawab Erick sambil melangkah keluar dan memandu Dika ke area divisi DD.


__ADS_2