
Jam 11 adalah jam - jam ambigu yang terkadang bisa dibilang pagi, namun ada juga yang mengatakan siang. Tak sedikit juga yang mengatakan pagi menjelang siang. Di jam - jam ini biasanya karyawan sudah kehilangan fokus untuk bekerja dan perhatian mereka terbagi antara pekerjaan yang harus diselesaikan dengan menu makan siang apa yang enak untuk mereka nikmati.
Dinda, dia sudah kehilangan fokusnya dari tadi. Entah kenapa hari ini tiba - tiba rasa mual menyerangnya. Padahal, kurang dari 2 minggu lagi kandungannya sudah berusia genap tiga bulan. Jadi, seharusnya rasa mual perlahan sudah menghilang. Apalagi beberapa hari kemarin rasa mual itu sudah tidak pernah datang lagi. Kondisinya sangat fit hingga dia lupa kalau dia sedang hamil.
Dinda kembali meminum teh hijau di dalam tumblr. Teh itu seharusnya milik Arya. Tapi, karena ia tahu perut istrinya sedang tidak enak, Arya memberikan tumbler itu pada Dinda.
“Hai Sis, mau kemana kamu?”, teriak Suci dari koridor depan area divisi DD.
Siska sedang berjalan menuju pintu keluar sedang menghampiri seseorang di sudut divisi DD. Sedangkan Suci ingin berjalan menuju pantry.
“Mau beli kopi Pak Arya. Dia tidak bawa tumblernya hari ini dan sudah 5 kali mendesakku untuk membelikannya kopi di cafe bawah.”, jawab Siska.
“Wah, kebetulan. Tadinya aku mau ke pantry. Tapi, aku ikut kamu saja deh. Lebih enak kopi di cafe bawah.”, jawab Siska.
Keduanya saling merangkul menuju lift. Suci dan Siska memang sangat dekat. Usia mereka tidak terpaut jauh. Suci baru bekerja sebagai MA hampir dua tahun setelah Siska bekerja sebagai sekretaris.
Alasannya, Suci melanjutkan kuliah S2 nya di luar negeri sedangkan Siska memilih untuk bekerja sambil menyelesaikan S2 nya.
“Mau beli di Cafe Dimas?”, tanya Suci pada Siska.
“Sok akrab sekali kamu bilang - bilang cafe Dimas.”
“Hem.. aku kan sudah akrab dengan dia karena pelanggan tetap.”
“Huu.. bilang aja suka orangnya. Jadi, kamu menyerah nih ceritanya sama Pak Arya?”, canda Siska.
Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Mereka segera masuk. Didalamnya sudah ada beberapa orang yang mungkin ingin makan siang lebih cepat. Begitu sampai di lift, keduanya diam karena tidak nyaman membicarakan topik tadi dengan orang - orang yang mungkin saja mengenal Arya.
“Kamu gak tahu apa - apa tentang Pak Arya?”, tanya Suci.
“Hm. Maksud kamu? A-ah! Kamu sudah tahu? Bagaimana bisa?”, kata Siska dengan ekspresi yang sengaja dibuat berlebihan.
“Gak usah iseng deh.”, wajah Suci langsung cemberut.
“A-ah.. Pak Arya memang begitu orangnya. Dia lebih cepat dari kilat kalau urusan menolak orang.”, ungkap Siska seolah sudah mengerti posisi Suci.
Suci hanya bisa memberikan tatapan tajam pada Siska yang terlalu jujur.
“Lagian, kamu kan sudah punya pacar. Kenapa masih mendekati pria beristri?”, ujar Siska tertawa renyah.
“Mas, Ice Americanonya satu ya.”, ujar Siska begitu sampai di depan Cafe milik Dimas.
“Aku gak bisa ikutan pesan dengan kartu kredit Pak Arya?”, ujar Suci iseng.
“Enak aja. Traktiran Pak Arya cuma buat aku. Makanya, jadi sekretaris bos, biar ditraktir terus. Sama Frappucinonya satu ya mas. Aku mau croissantnya satu, plus burgernya yang large dua ya mas. Saladnya juga 2.”, ujar Siska.
“Kamu beneran di traktir? Pesanannya banyak banget.”, kata Suci kaget.
“Hm.. karena aku sudah bekerja sangat keras beberapa hari ini. Jadi, Pak Arya memberikan aku rewards.”, jawab Siska.
“Tapi ini bukan rewards namanya, tapi merampok. Masa kamu pesan sebanyak itu?”
“Satu burger dan salad buat Dinda.”, bisik Siska.
Tapi, bisikan itu tetap saja terdengar oleh Dimas yang ternyata sedang lewat di belakangnya. Dia baru menerima telepon seseorang. Begitu mendengar nama Arya, Dimas penasaran.
“Memangnya dia bisa memanfaatkan sekretarisnya untuk membeli makanan seorang intern. Katanya Pak Arya professional.”, protes Suci.
“Hush. Jangan keras - keras. Ya, selama aku juga ditraktir, aku tidak masalah. Lagian, mereka cocok banget tahu, Ci. Memang sih kalau ingat Dinda itu intern, agak aneh melihatnya. Tapi, aku pernah lihat mereka ciuman di parkiran. Wah.. berasa nonton film.”, ungkap Siska yang entah kenapa untuk hal ini paling tidak bisa menjaga privasi bosnya.
“Oh, Hai Dim, apa kabar? Aku tidak melihat kamu belakangan ini.”, telinga Suci panas mendengarkan omongan Siska.
Dia memilih untuk mengganti ke topik lain begitu sadar ada Dimas disana.
“Kamu bukannya sudah punya pacar, sudah putus atau bagaimana sih, centil banget ke Dimas.”, bisik Siska.
“Syut, diam.”, balas Suci.
“Baik. Beberapa waktu lalu saya sibuk membuka cabang di luar kota. Jadi tidak sempat kesini.”, jawab Dimas.
“Wah.. sudah buka cabang lagi? Keren sekali.”, puji Suci.
Dimas membalasnya dengan senyuman tipis. Moodnya sedikit terpengaruh dengan omongan Siska yang dia dengar tadi.
__ADS_1
‘Cemburu? Kenapa aku malah cemburu.’, kata Dimas dalam hati.
Padahal dia tidak memiliki banyak interaksi berarti dengan Dinda. Kenapa dia malah menyukai gadis itu. Rasa suka yang berbeda saat dia mencintai Sarah.
“Saya ke sana dulu, ya.”, ujar Dimas pamit.
Dia tidak mood untuk memperpanjang obrolan dengan Suci. Setidaknya untuk hari ini.
“Tuhkan. Kamu dicuekin.”, ejek Siska.
“Biasanya enggak kok. Biasanya dia ramah. Kenapa moodnya tiba - tiba jelek, ya.”, kata Suci.
“Oh iya, saya sampai lupa pesan. Saya pesan Charamel Machiatonya satu, ya. Sama boleh deh, salad juga 1.”, kata Suci memulai pesanannya.
Pesanan mereka segera siap karena belum banyak pengunjung jam segitu. Siska meminta pelayan Cafe untuk memisahkan antara menu dirinya, Pak Arya dan Dinda. Jadi, tidak sulit untuk mengeluarkan lagi dari kantongnya.
“Kamu kenapa sih masih jelalatan sama cowok. Memangnya kamu sudah putus dengan pacar kamu?”, tanya Siska.
Biasanya dia tidak pernah tanya. Tapi entah kenapa belakangan ini Siska jadi penasaran. Padahal, pacar Suci termasuk anak orang kaya lama.
“Hah.. entah kenapa aku tidak merasa klik dengan pria itu.”, jawab Suci sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hm? Dia teman kampus kamu kan?”
“Hn. Bahkan kita S2 bareng. Tapi sekarang aku bingung, dia cinta aku atau hanya memanfaatkan aku.”, ungkap Suci sambil berjalan masuk ke dalam lift yang kebetulan sudah terbuka begitu mereka datang.
“Memanfaatkan? Apanya yang mau dia manfaatkan? Bukannya katamu dia anak orang kaya. Lebih kaya dari kamu.”
“Entahlah, belakangan dia lebih sering memintaku bertemu di hotel. Aku mulai tidak nyaman. Aku ingin putus, tapi setiap sikap atau ucapan aku mengarah kesitu, perubahan ekspresinya membuatku takut.”, jawab Suci.
“Berarti jangan minta putus di tempat sepi. Minta putus di tempat rame, Mall atau apa gitu.”, kata Siska memberikan pendapat.
“Ya sudah.. Nanti kita mengobrol lagi, ya. Kamu bisa kasih ini ke Dinda ga? Daripada aku muter.”, ujar Siska yang sudah menyodorkan bungkusan itu pada Suci.
“Gak mau.”, jawab Suci sambil berlalu pergi.
“Hah….. “, balas Siska frustasi menghadapi Suci.
Akhirnya dia harus melewati divisi DD yang membuatnya jadi mengambil jalan memutar untuk sampai ke kursinya. Tanpa banyak bicara, Siska langsung meletakkan bungkusan itu di meja Dinda dan pergi. Seperti perintah Arya.
Arya sudah mengirimkan pesan sebelumnya kalau Siska nanti akan membawakannya makanan. Burger adalah salah satu makanan kesukaan Dinda. Mungkin makanan itu bisa membantu menghilangkan rasa mualnya.
*******
Drrrrttt Drttttt
Pesan muncul dari Arya. Dinda memastikan dulu tidak ada orang disekitarnya, kemudian langsung membukanya. Tidak seperti yang lain, Dinda memilih untuk makan siang di kursinya saja. Dia malas ke pantry dan sepertinya Burger dan Salad ini sudah cukup menjadi menu makan siang terbaiknya.
Dari: Mas ‘A’
Ketemu di tangga darurat, ya.
Singkat, padat, dan jelas. Begitu kira - kira pesan Arya.
‘Hm? Mas Arya mau melakukan apa sih, sampai harus bertemu di tangga darurat segala.’
Dinda membalas pesan itu dan memastikan maksud Arya menemuinya. Jarang - jarang Arya menemuinya di kantor kecuali urusan pekerjaan. ‘Kenapa harus di tangga darurat?’, berarti bukan urusan pekerjaan. Begitu kira - kira kesimpulan Dinda.
Dari: Mas ‘A’
Sudah selesai makan siang, kan? Sudah sini.
Dengan malas Dinda mengikuti perintah Arya. Dia berjalan menuju tangga darurat.
“Mas Arya..! Ya ampun bikin kaget aja. Kirain masih dijalan mau kesini.”, ujar Dinda yang langsung melihat pria itu begitu membuka pintu tangga darurat.
“Saya sudah disini waktu kirim pesan.”, jawab Arya.
“Mau apa?”, tanya Dinda.
“Ya ampun, galak banget kamu. Biasanya kalau di kantor gak berani galak sama saya.”, kata Arya sambil memegang tangan gadis itu.
“Mas Arya, jangan di pegang - pegang.”, ujar Dinda.
__ADS_1
“Kenapa ga boleh dipegang?, tanya Arya kaget melihat reaksi Dinda.
“Nanti ada yang lihat gimana? Tamat riwayat aku.”
“Ga ada yang liat. Semua lagi makan siang. Sini.”, ujar Arya membentangkan kedua lengannya agar Dinda masuk dalam pelukannya.
“Ga mau.”
Arya langsung menyipitkan matanya heran.
“Nanti ada yang lihat. Di rumah aja.”
“Orang maunya sekarang. Kok di rumah. Di rumah beda lagi.”
“Ya udah kalau di rumah nanti dilebihin?”, jawab Dinda spontan bahkan dia tidak sadar dengan jawabannya.
“Eh? Apa yang dilebihin nih? Gak cuma pelukan aja?”, ujar Arya mulai iseng menggoda.
Namun, Dinda memberikan ekspresi yang membuat Arya menyerah untuk menggoda gadis itu lebih lanjut.
“Ini.”, ujar Arya memberikan sebungkus amplop bertuliskan apotek ke tangan Dinda.
“Ini apa?”, tanya Dinda bingung.
“Obat mual. Tadi aku telepon dr. Rima dan dia memberikan resep ini. Normal katanya. Kamu konsumsi aja sesuai dosis disana. Nanti mualnya segera hilang.”, jelas Arya.
Dinda langsung menatap Arya seolah dia meleleh dengan perhatian pria itu. Baru saja Dinda mau berterima kasih, suara langkah heels turun dari lantai atas mengejutkan Dinda. Sebaliknya, Arya cenderung lebih santai.
Dinda langsung membuka pintu darurat dan melesat pergi secepatnya tanpa mengatakan apapun pada Arya. Pria itu hanya tersenyum.
“Arya, kamu ngapain disitu?”, ternyata orang yang turun dari lantai atas bukan wanita tapi malah Erick.
Pria itu memang mengenakan sepatu pantofel dengan hak tipis tapi memberikan suara yang khas kalau digunakan diatas keramik.
“Hah dasar. Merusak suasana saja.”, ujar Arya kesal dan membuka pintu darurat lalu segera pergi.
“Hm? Perasaan aku tidak melakukan apa - apa. Kenapa dia tiba - tiba kesal?”, tanya Erick yang terlihat bingung.
********
Hari mulai sore, tetapi pekerjaan sepertinya belum selesai. Dinda yang terlibat proyek dengan Suci, Erick, Dika, dan Rini harus mengikuti waktu meeting yang mereka atur. Jam 4 sore dan mungkin sampai jam 6 hari ini.
Untuk mengubah suasana, mereka berencana untuk meeting di luar dan setelahnya langsung pulang. Sebuah restoran chinese menjadi pilihan. Meeting ini adalah kick off untuk membuka project ini dengan resmi. Selama sekitar dua bulan ke depan mereka akan fokus dengan project ini.
Diantara mereka, hanya Dinda yang tidak bawa mobil. Suci, Erick, dan Rini lupa kalau mulai hari ini, Dinda sudah menjadi anggota untuk project ini. Mereka sudah jalan terlebih dahulu menuju parkiran sementara Dika masih terjebak dalam meeting dan baru saja selesai.
“Loh, Din? Kamu belum jalan?”, tanya Dika pada Dinda.
“Oh? Jalan kemana, Pak?”, tanya Dinda polos.
Baru saja dia mau mengirimkan pesan pada Arya bahwa dia sudah bisa pulang jam 5 nanti. Tapi sepertinya hari ini dia tidak bisa tenggo.
“Ah.. mereka pasti lupa mengundang kamu. Kamu bawa mobil?”, tanya Dika.
“Hem.. saya gak bisa bawa mobil, Pak.”, jawab Dinda.
“Ya sudah, kamu ikut saya saja kalau begitu.”, kata Dika santai.
Dinda masih bingung.
“Hari ini kita ada kick off meeting untuk project yang waktu itu saya sampaikan ke kamu. Mungkin yang lain lupa mengundang kamu jadi kalender kamu tidak keblok. Jam 4 mulai meetingnya. Kamu tunggu saya di lift. Saya mau ke toilet dulu.”, ujar Dika langsung bergerak menuju toilet pria.
“Oh… hm..baik Pak.”, jawab Dinda.
‘Apa - apaan ini? Meeting? Yah.. berarti gak bisa pulang jam 5 dong.’, kata Dinda dalam hati.
‘Kenapa baru bilang sekarang, sih? Pak Erick, Mba Rini, dan Mba Suci, kenapa mereka semua bisa lupa. Tunggu, aku semobil sama Pak Dika?’, Dinda langsung kebingungan begitu sadar situasinya.
‘Mana aku juga tidak bisa menolak. Masa aku bilang mau naik ojek online. Ah, kan bos ini, tidak apa - apa lah. Aduh, tapi aku nanti duduk di depan apa di belakang, ya? Di depan? Aneh ga sih? Di belakang? Masa Pak Dika jadi kaya supir?’, kepala Dinda jadi penuh dengan betapa canggungnya perjalanan ini nanti.
Dia masih menunggu di depan pintu lift sendirian. Di koridor ujung Arya dengan wajah serius memandang tabletnya lewat bersama Siska. Mereka baru saja menyelesaikan meeting kecil. Tadinya dia tidak ingin mengalihkan pandangannya dari tabletnya. Tapi, tiba - tiba saja dia iseng melihat ke arah lift.
‘Dinda? Ngapain dia bawa tas? Mau balik cepat? Apa sudah telepon Pak Cecep? Tapi ini masih jam 3-an. Apa dia ijin pulang? Mualnya belum membaik?’, berbagai pikiran muncul di kepala Arya yang akhirnya membuatnya cemas.
__ADS_1
Arya bahkan menghentikan langkahnya. Tak lama, Dika keluar dari arah pintu keluar yang berlawanan. Tak jauh dari posisi Dinda berdiri. Mereka tampak saling sapa dan mengobrol sebentar sebelum akhirnya masuk ke dalam lift.
‘Hm?’, Arya mengkerutkan dahinya.