
“Kamu serius? Lalu, apa Dinda baik - baik saja? Tidak, maksudku dia terlihat baik - baik saja dari luar, apa dia tidak trauma atau semacamnya?”, tanya Erick setelah mendengarkan cerita Arya mengenai apa yang dialami Dinda di parkiran.
“Dia masih gemetar saat menceritakan itu padaku.”, terang Arya.
“Lalu, dia tidak bisa mengenali siapa dua orang yang ada di parkiran itu?”, tanya Erick lagi.
Arya menggeleng.
“Dinda tidak sempat melihatnya. Saat dia mencoba mengintip melalui layar kamera ponselnya, seseorang menghubunginya.”, ujar Arya.
“Ah… sayang sekali. Kamu benar - benar harus menjaganya. Apa mereka mengenali Dinda?”, tanya Erick lagi.
“Dinda tidak bisa memastikannya, yang jelas, begitu mereka sadar ada yang mungkin menguping pembicaraan mereka, Dinda langsung lari dan dia bertemu dengan Dika.”
“Berarti di bagian ini Dika sudah menyelamatkan istrimu.”, kata Erick.
“Hanya kebetulan dia ada disana.”, balas Arya yang tetap tak mau menerima fakta itu.
“Bayangkan kalau Dika tidak ada disana. Dinda tidak bisa menunggu lift basement yang lama untuk naik ke atas. Dengan kondisi hamil, dia juga tidak bisa naik tangga. Di satu sisi kedatangan istri Dika memang menghancurkan segalanya. Tapi, di sisi lain keberadaan Dika di basement saat itu bisa jadi sudah menyelamatkan Dinda.”, jelas Erick lagi mencoba menjabarkan situasi dari informasi yang dia terima.
“Ah.. sudah berhenti menyebut namanya. Kepalaku panas setiap mendengar nama pria itu. Kamu tahu, dia datang kesini bertingkah seperti mengkhawatirkan Dinda. Hah… dasar pria brengsek.”, kata Arya kesal.
“Kamu juga, bukankah aku bilang untuk menjaga jarak Dinda dan Dika. Kenapa mereka berdua malah bisa semobil?”, Arya lanjut memarahi Erick.
“Pekerjaanku sedang banyak. Mana sempat aku memantau istrimu juga. Lagipula, kenapa tidak kamu tarik saja istrimu ke divisi Business and Partners, biar kamu bisa mengamatinya 24 jam.”, sindir Erick setengah bercanda.
“Kebucinanmu ini yang membuat karyawan terus membicarakan Dinda. Makanya jadi orang jangan terlalu keren. Serba salah kan jadinya.”, kali ini Erick sudah melantur kemana - mana.
Sementara itu di dalam ruangan pasien.
“Terima kasih sudah menyempatkan datang. Padahal kalian semua pasti sibuk.”, ujar Dinda tersenyum pada yang lain.
Andra ingin mengatakan sesuatu tetapi dia menahannya dari tadi karena ada mama Pak Arya yang sedang duduk di kursi. Tidak hanya Andra, sebenarnya yang lain juga ingin mengatakan sesuatu terkait dengan fakta kalau ternyata Dinda sudah menikah dan suaminya adalah Pak Arya.
Tetapi, tak satupun diantara mereka yang bisa membuka suara karena mereka tahu topik itu tidak bisa dibicarakan saat itu.
Kring kring kring
Tetiba ponsel di dalam tas di atas sofa berbunyi. Inggit langsung melihatnya karena itu berasal dari tas miliknya.
“Sayang, mama angkat telpon tante Indah dulu, ya. Kalian lanjut mengobrol. Tante permisi dulu, ya.”, ujar Inggit sambil melihat siapa yang menghubunginya.
“Iya halo mbak yu…”, ujar Inggit yang suaranya sayup - sayup mulai hilang setelah dirinya keluar dari ruangan.
Hah…..semua orang yang ada disana langsung menghela nafas dengan ritme yang hampir sama. Meski mereka sedang menjenguk Dinda tetapi suasana di kamar itu seolah tegang karena masih ada mama Arya tadi. Sekarang barulah mereka bisa bernafas lega.
Dinda agak kebingungan melihat yang lain. Dia tidak tahu kalau mereka terintimidasi dengan keberadaan mertuanya.
“Woah.. aku sampai bingung harus mengatakan apa karena masih ada mama mas Arya disana.”, ujar Delina.
“Sama.”, ujar Fas mengiyakan.
“Din, kamu beneran udah nikah?”, akhirnya Andra mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi ingin sekali dia tanyakan.
“Ya ampun Andra, setelah berhasil dapat kesempatan untuk bertanya, yang kamu tanyakan malah itu?”, tanya Fas tidak percaya.
“Pak Arya ada di depan. Kalau bukan istrinya, ngapain dia di depan dan barusan itu mamanya mas Arya. Ngapain beliau disini panggil ‘sayang‘ kalau Dinda bukan istrinya. Makanya kalau bertanya itu yang benar.”, Delina ikutan berkomentar.
Dinda hanya bisa tersenyum canggung. Tadi sebelum rekan sedivisinya datang, mas Arya sudah memberikan info. Dinda sudah bersiap - siap jika pertanyaan ini muncul.
“Maaf ya.. Aku tidak bermaksud untuk berbohong, tapi timingnya membuatku sulit untuk memberitahukannya. Bahkan setelah informasi itu tersebar pun, aku yakin pasti banyak yang tidak percaya. Yah.. aku hanya intern, mana mungkin cocok dengan pria seperti Pak Arya.”, kata Dinda.
“Eh eh eh… bukan begitu kok Din maksud kita. Sama sekali bukan begitu. Hanya saja, kita tidak menyangka. Kamu jangan salah paham, ya.”, ujar Delina dan Fas buru - buru mengklarifikasi.
“Tenang saja, aku mengerti kok.”, ujar Dinda tersenyum. Dia lebih santai dari sebelumnya.
“Jadi, bagaimana kandungan kamu. Tidak ada masalah?”, Bryan yang sedari tadi mengamati akhirnya bertanya juga.
“Alhamdulillah baik.”, jawab Dinda.
“Ah.. iya.. Kamu juga sedang hamil.”, kata Fas.
‘Meski menyaksikannya sendiri, aku juga tetap tidak percaya. Dinda sudah menikah dengan Pak Arya dan sekarang sedang hamil. Sepertinya aku harus melihat mereka setiap hari baru bisa terbiasa.’, ujar Fas dalam hati.
“Aku penasaran, kalau di rumah Pak Arya bagaimana? Galak juga?”, tanya Delina tiba - tiba.
“Nah… ini.. Ini baru pertanyaan bermutu. Bukan seperti pertanyaan Andra tadi.”, ujar Fas memuji.
“Jadi, jadi, bagaimana Din? Pak Arya galak juga gak? Dia gimana kalau dirumah, dingin juga, kaya lemari es? Suka marah - marah juga?”, Delina terus menghujani Dinda dengan banyak pertanyaan.
“Hm… ha-ha.. Bagaimana ya menjawabnya.”, Dinda bingung sendiri bagaimana harus mengatakannya. Dia hanya bisa tertawa gugup.
“Kapan kamu masuk ke kantor?”, tanya Suci langsung membuat suasana hening berkat nada bicaranya yang langsung membuat seisi ruangan dingin.
“Aku mencoba untuk bisa masuk Senin, mba Suci. Tapi, aku harus izin mas.. Maksudku.. Pak? Harus izin Pak Arya dulu.”, ujar Dinda bingung bagaimana harus memanggil Arya di depan yang lain.
“Santai aja Din. Mau panggil mas juga ga masalah kalau di luar. Babe juga oke. Honey juga boleh. Kenapa kamu Andra, masih ga terima?”, ujar Fas melihat Andra yang masih down.
“Sebaiknya kamu mempersiapkan mental sekuat mungkin untuk kembali ke kantor.”, ujar Suci memberikan saran dengan nada tegas.
“Suci, jangan begitu dong.”, kata Delina menegur Suci dengan suara pelan.
“Dia harus tahu kalau banyak mulut - mulut pedas yang menantinya di kantor. Jadi sebaiknya kamu bersiap - siap.”, ujar Suci.
“Tenang aja Din, aku akan bantu kok kalau kamu ada kesulitan menghadapi orang - orang di kantor.”, ujar Bryan dengan nada serius.
“Uuuuuuu… jangan - jangan selain Andra, Bryan juga sempat menaruh hati nih pada Dinda.”, ujar Delina langsung menghembuskan rumor.
Fas melirik ke arah Bryan sebentar dan menatapnya mencari jawaban pada ekspresinya. Dia menggigit bibirnya sedikit menunggu jawaban dari Bryan. Hatinya gugup.
‘Bagaimana ini? Apa Bryan benar - benar menyukai Dinda?’, tanya Fas dalam hati.
Dia sesekali melirik ke arah Bryan untuk sekedar memastikan.
Kring kring kring kring
“Oh? Ponsel kamu?”, tanya Delina ke arah Bryan.
__ADS_1
Bryan menggeleng.
“Dari belakang.”, ujar Suci.
“Oh, ponsel mas Arya.”, ujar Dinda saat rekan - rekannya melihat ke arah belakang tepatnya meja dekat sofa.
“Hm.. orangnya di luar. Andra, ambil gih kasih Pak Arya atau bilang ponselnya dering gitu.”, perintah Fas.
“Ih.. enggak ah, kamu aja.”, kata Andra menolak.
“Siapa tahu telpon penting. Sana ndra.”, perintah Fas lagi.
“Ogah ah. Dinda aja Din, kan suami kamu.”, Andra malah menyuruh Dinda.
“Gila kamu. Kan dia lagi sakit masa dia yang turun dari tempat tidur dan kasih ke ‘mas’ eh salah Pak.. maaf - maaf jadi terpengaruh panggilan Dinda.”, ujar Fas menyunggingkan tawa simpulnya.
“Bry, kamu aja. Kan kamu akrab sama Pak Arya.”, sekarang giliran Delina menyikut Bryan dengan kalimat pamungkasnya.
“Dih, ngarang kamu Del.”, balas Bryan.
Dinda tergelak mendengar omongan rekan - rekannya yang saling lempar - melempar. Dia bahkan menutup mulutnya agar tawanya masih bisa terkendalikan. Sejak tadi mereka datang, Dinda hanya tersenyum simpul saja. Tapi, melihat dia tertawa justru memberikan rasa lega bagi mereka.
Tak lama seseorang masuk dari pintu. Arya. Rupanya pria itu bisa mendengar suara ponselnya dari luar karena pintu tidak tertutup rapat sepeninggal mama Inggit tadi. Dia agak bingung karena semua rekan Dinda melihat ke arahnya.
‘Untung aja, orangnya datang.’, kata Andra dalam hati.
‘Hah..andai saja pria seperti itu yang jadi pasanganku.’, kata Suci malah melantur meski dalam hati.
Arya menyunggingkan senyum dan memberikan isyarat agar mereka melanjutkan obrolan mereka tanpa mempedulikannya. Penampilan dan ekspresi Arya terlihat berbeda. Masih dingin dan menyeramkan, tapi level nya berkurang.
Mungkin saja berkat setelan rumahan yang dia kenakan saat ini. Arya mengenakan celana training panjang berwarna hitam dan baju kaos berwarna hijau yang fit dengan porsi tubuhnya. Dia juga mengenakan sebuah gelang hitam di tangannya.
Beberapa kali dia mengenakannya di kantor, tetapi sangat jarang. Penampilannya tambah seksi dengan adanya cincin pernikahan di jarinya serta kalung berbentuk hati di lehernya. Ini pertama kali mungkin yang lain melihat kalung itu karena Arya selalu mengenakan kemeja yang dikancing rapi.
“Iya halo Bas? Engga, kamu beli yang medium aja. Papa gak boleh yang itu. Awas kamu kasih papa. Dinda masih makan makanan rumah sakit. Engga boleh. Nanti kalau bedrestnya sudah selesai baru dikasih. Tar mas yang bilangin.”, ujar Arya yang menerima telepon sambil perlahan berjalan kembali keluar.
Sayangnya, pintu tidak tertutup sepenuhnya dan sayup - sayup suara masih bisa terdengar ke dalam.
Dinda mendengarkan dengan seksama pembicaraan Arya. Bibirnya langsung manyun begitu mendengar kalimat Arya terakhir.
“Engga boleh. Nanti kalau bedrestnya sudah selesai baru dikasih. Tar mas yang bilangin.”
‘Mas Arya strict banget sih. Padahal sudah diam - diam titipnya. Lagian Ibas ember banget.’, teriak Dinda dalam hati.
“Ohiya Din, baru ingat. Kamu kok gak balas - balas pesan aku sih. Waktu itu aku khawatir banget. Secara aku sedang tidak ada di kantor.”, ujar Fas.
“Ah.. maaf - maaf kalau ada yang mengirimkan pesan di ponsel tapi aku belum balas. Aku belum sempat pegang hape.”, ujar Dinda memberikan alasan.
‘Padahal ponselnya disita mas Arya.’, ujar Dinda dalam hati.
Tapi dia tidak mungkin mengatakannya yang sebenarnya pada yang lain.
“Din, kamu ga selingkuh dengan Pak Dika kan?”, tanya Delina.
Fas langsung menepuk bahu Delina karena dia menanyakan hal yang sensitif.
Sebenarnya yang membuat Dinda lebih syok dibandingkan dengan dituduh selingkuh adalah kejadian di basement. Setidaknya dia merasa lebih tenang karena dia sudah menceritakannya pada Arya dan Arya juga tahu kalau Dinda tidak mungkin ada sesuatu dengan Dika.
“Hanya saja ternyata tamparannya sangat sakit.”, ujar Dinda memegang pipinya.
“Iya.. sampai ada goresan begitu di pipi kamu.”, ujar Bryan.
Suci melihat ke arah jam dinding yang terletak di rumah sakit. Sepertinya jam besuk sudah lama lewat dan hari juga sudah mulai senja.
“Guys, sebaiknya kita pulang sekarang.”, ujar Suci dengan nada datar.
“Baru juga sampai, Suci.”, kata Andra mengomentari.
“Baru nyampe dari mana? Kita sudah hampir sejam disini.”, ujar Suci.
“Ahhh.. iya juga ya.. Tidak terasa.”, kata Fas melihat jam tangannya.
“Din, pokoknya cepat sembuh, cepet masuk lagi ke kantor ya.”, kata Delina sudah siap dengan kalimat untuk pamitannya.
“Iya..”, ujar Dinda tersenyum.
“Project yang kemarin masih banyak to do list yang belum di kerjain.”, ujar Suci dengan nada jutek tapi sebenarnya dia bermaksud sebaliknya.
“Hn. Makasih mba Suci sudah datang.”, balas Dinda.
“Din, walaupun aku patah hati, tapi jangan lengah ya. Aku lagi cari jalan buat menikung.”, kata Andra setengah bercanda setengah sedih.
“Mo nikung Pak Arya, ndra? Kasih telepon doi aja tadi kamu ga berani.”, ujar Delina.
Semua langsung tertawa mendengarnya.
“Ya… mungkin Pak Arya yang ga boleh lengah. Kalau tiba - tiba kamu disakitin sama dia. Kamu bisa berlabuh ke aku, Din.”, ujar Andra.
“Ihhhh cringe banget.. Geli ah, Andra. Kayanya Dinda ga bakal mau deh berlabuh sama kamu. Keburu kebalik kapalnya.”, ujar Fas mengomentari kalimat menggelikan dari Andra.
“Din, jaga kesehatan, ya.”, ujar Bryan.
“Tuh, kaya Bryan, singkat, padat, adem, ngena.”, kata Delina lagi.
Bersamaan dengan itu, Erick muncul dari pintu masuk bersama Arya di belakangnya. Mungkin pria itu baru saja menyelesaikan teleponnya.
“Guys, gimana? Sudah selesai? Sudah malam juga, kasian Dinda dan Pak Arya harus istirahat.”, kata Erick.
“No no no It’s okay kalau mau lanjut.”, ujar Arya tersenyum ramah.
‘Oh… merinding lihat senyum Pak Arya.’, semua kira - kira berpikir begini.
“Kalau begitu, saya yang mau istirahat.”, ujar Erick tertawa renyah.
“Iya Pak, kita juga sudah mau pulang. Barusan banget pamitan sama Dinda.”, ujar Fas sebagai juru bicara geng mereka.
“Terima kasih ya sudah datang menjenguk. Selama di rumah sakit Dinda bosan ketemunya saya terus.”, ujar Arya melemparkan candaan.
__ADS_1
Semua hening sejenak sebelum akhirnya tertawa lepas.
“Hahahahahaha”
***********
“Mas Arya pelit.”, komentar Dinda di tempat tidurnya.
Mama dan Papa sudah pulang bersama dengan Ibas. Mama memaksa untuk menginap tapi Dinda bersikeras menolak karena kasihan tidak ada tempat untuk tidur. Lagipula, besok dia juga sudah pulang.
Inggit sudah mendengar cerita singkat kejadian beberapa hari lalu dari Arya. Tentu saja Inggit marah. Bagaimana mungkin ada orang yang langsung menuduh tanpa bukti yang jelas bahkan menampar dan menarik hijab menantunya.
Namun, Inggit berpendapat kalau kasus ini tidak perlu diperpanjang ke pihak berwajib seperti yang Arya ingin lakukan. Karena akan membuang - buang waktu. Toh, sekarang wanita itu sudah tahu kalau dia sudah salah kaprah. Tetapi, Inggit masih ingin wanita itu meminta maaf karena sudah membuat keributan.
Arya masih memikirkan saran itu karena hingga saat inipun, Arya masih ingin memperpanjang kasus itu agar tidak sembarangan orang menyerang keluarganya lagi. Plus, meski Arya tidak menceritakan perkara yang lebih berbahaya di basement, Arya juga sudah meminta Siska untuk melaporkan pada pihak terkait tanpa membuat kegaduhan agar para pelaku cepat tertangkap.
Arya tidak khawatir pada dirinya. Dia lebih khawatir jika saja kedua orang itu mengenal Dinda dan mencelakainya di kemudian hari. Pak Teddy juga sudah mulai sadar dan akan memberikan keterangan lebih lanjut tentang perkara ini.
“Kenapa?”, tanya Arya yang juga berbaring di kasur yang sama dengan Dinda sambil memeluknya agar kasur yang kecil itu muat untuk mereka berdua.
“Kenapa es krim dan ayamnya tidak dikasih.”, ujar Dinda cemberut.
“Kamu masih sakit. Lagian, dengan kamu mencoba pesan secara diam - diam lewat Ibas, kamu pasti tahu kalau yang kamu lakukan itu belum diizinkan dokter. Benarkan? Nanti, kalau sudah sembuh, aku akan ajak kamu makan - makan lagi.”, kata Arya.
“Tapi aku mau yang itu tadi.”, kata Dinda.
“Masih belum boleh.”, balas Arya mencoba mencium kening Dinda.
Namun, gadis itu dengan cepat menolaknya.
“Oh-oh?”, respon Arya saat ciumannya ditolak mentah - mentah oleh Dinda.
“Aku gak akan cium atau menerima ciuman mas Arya kalau yang tadi belum dikasih.”, kata Dinda dengan tegas. Dia bahkan membalik badannya dan membelakangi Arya.
“Hm? Kamu serius?”, tanya Arya yang hanya bisa menatap punggung istrinya.
“Hn. Pokoknya aku mau es krim dan menu yang tadi aku pesan. Sudah tiga hari aku cuma makan makanan rumah sakit dan melihat mas Arya makan enak. Sebel.”, kata Dinda menarik selimut menutup wajahnya.
Arya tidak mau mengalah, dia menurunkan selimut itu dan memeluk istrinya lebih erat. Dia juga mendaratkan ciumannya pada apa yang bisa di raihnya dari belakang.
“Ih.. aku bilang ga boleh cium - cium kalau yang tadi belum ada. Mas Arya curang. Gak boleh cium - cium dulu. Mas Aryaaaa…”, teriak Dinda.
Akhirnya terjadilah pergulatan ringan di tempat tidur pasien malam itu. Dinda tak bisa melawan lebih jauh karena tentunya tenaga Arya jauh lebih besar. Dia menyerah masuk dalam pelukan pria itu. Tapi, tetap dirinya tak berhadapan dengan Arya.
“Kamu lagi ngidam, ya?”, tanya Arya pelan dari belakang.
Deru nafasnya terdengar jelas oleh Dinda.
Dinda tidak menjawab.
“Din?”, panggil Arya.
Tak ada suara.
“Sayang.”, panggil Arya lagi tapi masih tak ada suara.
Arya bangun sedikit untuk sekedar melihat wajah istrinya. Dan benar saja, Dinda sudah tertidur pulas.
“Nanti ya sayang, kalau sudah pulang ke rumah, baru deh aku beliin makanan yang kamu suka.”, ujar Arya pelan sambil mencium istrinya.
Melihat Dinda sudah tertidur, sepertinya Arya sudah bisa turun dari kasur dan melanjutkan pekerjaannya. Jam sudah larut tapi dia masih ada beberapa laporan bahan meeting yang harus dia cek sebelum bisa berakhir pekan.
Arya baru saja akan bangun dan turun dari tempat tidur. Namun, Dinda sudah berbalik arah. Gadis itu membenamkan wajahnya di dada Arya dan melingkarkan tangannya dengan santai dan erat di pinggang Arya. Seolah memberi kode bahwa pria itu tidak boleh kemana - mana.
Arya mengintip sedikit dari balik helaian rambut yang menutupi paras cantik istrinya.
‘Dia tertidur pulas.’, ujar Arya.
‘Hah, sepertinya pekerjaannya besok saja.’, lanjut Arya dalam hati.
Dia membenarkan posisinya dan Dinda agar gadis itu lebih nyaman. Dia tarik selimut ke atas agar tidak kedinginan. Malam terakhir di rumah sakit itu mereka lewatkan dengan pelukan erat di tempat tidur rumah sakit yang kecil.
**********
EPILOGUE
“Din, serius. Tega kamu Din. Kenapa kamu ga bilang kalau teman perempuan kamu yang bernama Delina itu datang menjenguk? Kalau begitu kan aku tidak perlu keluar. Wah parah kamu Din.”, Ibas merengek setelah tim Digital and Development baru saja pulang.
Dia juga baru sadar kalau Delina, perempuan yang sedang diincarnya datang bersama dengan rombongan yang tadi.
“Berarti kita impas.”, kata Dinda santai.
“Hm?”, Ibas bingung.
“Kenapa kamu bilang mas Arya kalau itu pesanan aku? Seharusnya kamu kan bisa bilang itu pesanan kamu. Mas Arya kan jadi tahu, terus aku dilarang makan.”, ujar Dinda yang memang sudah menginginkan menu makanan yang tadi dia titipkan pada Dimas. Ditambah dengan es krim.
Saking inginnya makan es krim, Dinda bahkan sudah melihat - lihat gambarnya diinternet dan membayangkan es krim yang nanti bisa dia nikmati.
Sayangnya, rencana itu malah ketahuan Arya dan dilarang habis - habisan.
“Yah, mau bagaimana lagi. Aku itu orangnya gak bisa bohong Din.”, kata Ibas berdalih.
Padahal kalau soal barang - barang milik Arya, dia bisa menyembunyikannya tanpa ketahuan sama sekali.
“Bohong banget. Terus kamu bilang aku ahli bohong. Sayang, om kamu begitu memang, gak bisa diajak kerja sama.”, kata Dinda sambil mengelus - elus perutnya.
“Wah, kamu sudah memfitnahku di depan keponakanku sendiri. Din… “. kata Ibas menyipitkan matanya.
“Kalau masih membicarakan es krim yang tadi. Tidak boleh.”, ujar Arya yang baru datang setelah mengantarkan Erick ke depan lobi.
Mendengar perkataan Arya, Ibas langsung memberikan ledekan dengan menjulurkan lidahnya pada Dinda.
Dinda hanya bisa memanyunkan bibirnya ke depan membalas ulah Ibas.
“Awas, nanti aku bilang ke Delina kalau kamu Playboy.”, kata Dinda.
Ibas langsung memberikan ekspresi tidak terima.
__ADS_1
“Udah.. udah.. Berantem seperti bocah saja.”, kata Arya membuat keduanya langsung diam.