
Area Business and Partners yang biasanya masih ramai dengan lalu lalang para staff, kini sudah mulai sepi. Hanya tersisa satu dua orang yang memang belum pulang karena menunggu hujan reda.
Sekitar 30 menit yang lalu. Hujan mulai membasahi jalanan. Mereka yang membawa mobil masih bisa tetap melanjutkan perjalanan pulang karena hujan tidak deras. Hanya gerimis - gerimis manja saja.
Mereka yang menggunakan motor, masih bisa melawan hujan dengan berbekal jas hujan. Namun, mereka yang harus pulang dengan transportasi umum, terpaksa harus menunggu di cafe terdekat, atau setia berada di kantor sambil menonton film atau bermain game di ponsel.
Arya Pradana baru saja menyelesaikan meeting onlinenya dengan regional. Sebagai salah satu perusahaan Multinasional, Arya juga dituntut untuk terlibat dalam beberapa meeting dengan cabang mereka yang ada di luar negeri.
“Aaah.. karena aku harus presentasi. Aku sampai lupa membalas pesan Dinda. Semoga saja dia belum pulang. Hah.. tapi aku membuatnya menunggu lama.”, kata Arya sambil membereskan mejanya.
Beberapa waktu lalu setelah melakukan kontrol kehamilan rutin di rumah sakit, Arya sudah berpesan pada Dinda untuk tidak menggunakan ojek online untuk sementara waktu. Jika dia terlambat dari waktu yang dijanjikan, Arya meminta Dinda untuk segera menghubungi Pak Cecep.
“Hm? Kenapa dia tidak mengangkat ponselnya?”, kata Arya bingung. Dia mencoba menghubungi Dinda tetapi istrinya tidak mengangkat teleponnya.
“Apa dia sedang di jalan?”
Drrrrtttt Drtrrtttt
*Dari:**Semut 1 *
Arya, ini aku Dimas.
Entah kamu tahu atau tidak. Dika sedang menemui Dinda di Cafeku sekarang.
Arya menatap heran pada pesan yang baru saja dia baca. Arya selalu menyimpan nomor - nomor orang yang tidak dia suka dengan ‘Semut’. Dia akan melabelinya dengan Semut 1, 2, dan seterusnya.
Sebelumnya, dia tidak menyimpan nomor Dimas karena bahkan Dimas juga tidak pantas untuk masuk ke dalam nomor kontaknya. Tapi, apa boleh buat. Setiap kali pria itu mengirimkan pesan atau menghubunginya, Arya tidak bisa mengenalinya dan sulit untuk menolaknya.
Setidaknya dengan melabelinya begini, Arya jadi tahu itu pesan atau panggilan dari pria itu. Arya ingat dengan 5 nama pertama yang dia labeli sebagai ‘Semut’. Tapi untuk urutan selanjutnya, dia sudah lupa dan memilih untuk tidak menggubrisnya sama sekali.
“Aah apa lagi ini. Dia sedang memainkan peran apa kali ini? Apa maksudnya dengan memberitahu kalau Dinda ada di bawah? Sebaiknya aku turun saja untuk memastikan.”
*********
“Apa waktu itu, Arya sudah menjadi suami kamu?”, kata Dika blak - blakan sambil menyeruput kembali kopinya dan melirik ke arah Dinda.
“Maaf, ini pesanannya. Avocado Smoothies, Kentang Goreng, dan Kroket Kentang.”, kata Dimas yang mengantarkan sendiri pesanan mereka.
“Terima kasih”, jawab Dika.
Lebih tepatnya, Dimas mengambil pesanan itu dari karyawannya dan mengatakan kalau dia sendiri yang akan mengantarkannya. Dimas tersenyum pada Dinda sebelum akhirnya kembali ke meja kasir.
Dinda menggeleng memberikan respon atas pertanyaan Dika yang tiba - tiba.
“Hem.. kamu tidak perlu khawatir. Saya tidak akan memberitahukan pada yang lain jika kamu tidak menginginkannya. Saya hanya penasaran, bagaimana kamu bisa bertemu dan menikah dengan Arya. Jarak usia kalian lumayan jauh dan Arya juga sudah pernah menikah sebelumnya. Bisa dibilang dia seorang duda.”, kata Dika sambil memakan beberapa potong kentang goreng.
“Maaf Pak Dika, bukan saya ingin bersikap tidak sopan. Tetapi, saya rasa itu adalah urusan pribadi saya.”, blas Dinda.
“E-ehm.. Maaf kalau saya terlalu banyak tahu.”
“Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, boleh saya permisi?”, kata Dinda menatap lurus ke arah Dika.
“Ah.. Baiklah. Sampai bertemu besok.”, Dika nampak sedikit terkejut dengan sikap Dinda yang terkesan berani.
“Permisi, Pak Dika. Terima kasih untuk traktirannya.”, kata Dinda sebelum berdiri dan keluar dari Cafe itu.
‘Heh.. sepertinya aku terlalu meremehkan istrinya. Aku kira dia selugu yang dikatakan oleh Sarah? Apa dia sudah terlalu lama bersama Arya?’, kata Dika dalam hati.
Kring Kring Kring
“Halo, kamu dimana Din?”, tanya Arya di balik ponselnya.
“Di bawah. Mas Arya kemana saja? Masih meeting ya? Berarti aku pulang dengan Pak Cecep saja?”
“Aku sudah selesai. Ini mau turun. Kamu mau tunggu di depan lift basement?”
“Hm.. aku tunggu di dekat parkiran saja bagaimana? Takutnya masih ada orang kantor di lobi.”, jawab Dinda.
“Sudah tidak ada orang. Lagian ini sudah jam 8 Din. Bahaya kalau di parkiran sendirian. Kamu tunggu di depan lift. Kita ke mobil bareng. Terserah kalau kamu mau jaga jarak.”, kata Arya memberikan solusi.
Dinda menutup ponselnya dan mengikuti saran dari Arya.
__ADS_1
‘Suara mas Arya agak beda. Apa dia habis marah - marah saat meeting tadi?’, tanya Dinda dalam hati.
Sesuai titah suaminya, Dinda menunggu di depan lift menuju basement. Satu dua orang karyawan yang tidak Dinda kenal berlalu lalang memasuki basement. Beberapa ada yang bertanya apakah Dinda ingin naik juga. Sebagian memilih masuk tanpa menawarkan.
Sembari menunggu, Dinda memilih memainkan ponselnya. Sekedar memeriksa apakah ada obrolan baru di grup yang berisi sahabat - sahabatnya. Tapi sunyi. Belakangan, mereka sibuk dengan urusan masing - masing. Terakhir mereka bertemu sepertinya di pernikahan Bianca.
Pintu lift berikutnya terbuka. Dinda masih sibuk memainkan ponselnya.
“Ngapain kamu disini?”, tanya Suci.
Ternyata yang baru saja keluar dari pintu lift adalah Suci. Dia nampak mengenakan dress berwarna hitam. Wajahnya juga seperti orang yang baru dandan.
“Menunggu lift. Mba Suci? Ehm mau kemana?”, siapapun yang melihat Suci sekarang pasti akan bertanya seperti itu.
“Aku mau party tapi ponselku tertinggal.”, jawab Suci.
“Hm..”, Dinda tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia sudah puas dengan jawaban itu.
Dinda memang bukan tipe yang kepo dengan urusan orang lain. Jika dia penasaran, biasanya dia hanya ingin mengetahui bagian luarnya saja.
“Oh.. Pak Arya?”
Dinda mendengar suara Suci yang sudah berlalu. Mendengar nama orang yang dipanggil Suci, Dinda otomatis menoleh. Arya sudah ada disana.
Melihat Dinda barusan, dan sekarang berpapasan dengan Arya, Suci cukup cerdas untuk mengetahui kalau mereka akan pulang bersama.
“Kamu mau kemana berpakaian seperti itu?”, tanya Arya.
Arya tidak penasaran. Dia lebih ke arah basa - basi saja.
“Acara party teman, Pak.”, jawab Suci.
“Hm.. kamu masih jalan dengan pacar kamu itu?”, tanya Arya.
Kali ini, Arya bertanya bukan karena basa - basi. Mendengar pertanyaan Arya, Suci mengangguk.
“Saya tidak bermaksud ikut campur, tapi beberapa waktu yang lalu saya melihat dia di klub bersama wanita. Sebaiknya kamu mempertimbangkan kembali untuk berpacaran dengan laki - laki seperti itu.”, ujar Arya.
“Kalau begitu. Apa Pak Arya bersedia jadi pacar saya?”, tanya Suci dengan ekspresi wajah yang serius.
Dinda kaget bukan main mendengar perkataan Suci. Sebaliknya, Arya hanya berwajah datar tanpa reaksi sama sekali.
“Ha-ha.. Pak Arya gak seru.”, balas Suci melepaskan lengannya dan berlalu menuju lift untuk mengambil handphonenya di lantai atas.
Arya melanjutkan langkahnya. Tidak ada siapa - siapa disana lagi selain Dinda dan Arya.
“Apa - apaan mba Suci? Bukannya dia sudah tahu kalau mas eh maksudku Pak Arya sudah menikah.”, kata Dinda tidak percaya.
“Kalau kamu takut, kenapa kamu tidak mengatakan saja ke semua orang kalau kita sudah menikah? Hm?”, respon Arya sambil menekan tombol lift karena Dinda lupa menekannya.
“Pak Arya tidak melihat respon Kepala Divisi sebelah waktu itu? Bahkan disaat tidak ada yang tahu hubungan kita saja, beliau masih menuduh saya punya backing-an atau masuk menggunakan orang dalam. Apalagi kalau mereka tahu. Hah..”, Dinda menghela nafas sambil memanyunkan bibirnya.
Pintu lift terbuka. Keduanya masuk dan berjalan menuju mobil.
“Din, kamu tadi menemui Dika?”, tanya Arya mulai serius.
“Hm? Kok Pak Arya bisa tahu?”, tanya Dinda heran.
Alih - alih segera menjawab pertanyaan Arya, Dinda justru melemparkan pertanyaan padanya.
“Ngobrol apa kalian?”, tanya Arya masih belum menjalankan mobilnya.
“Pak Dika minta maaf karena membuat saya dimarahi Kepala Divisi sebelah. Sudah, itu saja. Dia mentraktir saya di Cafenya Dimas. Dimas yang memberitahu Pak Arya?”
“Tidak usah mengalihkan pembicaraan?”
“Kalau dipikir - pikir, hanya Dimas yang melihat saya ada di Cafe bersama Pak Dika. Atau Pak Erick? Mba Rini?.”
“Kamu, ya. Mau saya cium disini biar semuanya tahu?”, kata Arya mengancam.
“Enggak - enggak. Benar kok, Pak Arya. Tadi Pak Dika hanya minta maaf soal waktu itu. Pak Arya juga ada di sana kan? Ngomong - ngomong, saya lupa berterima kasih karena waktu itu Pak Arya sudah membantu saya saat menghadapi Kepala Divisi sebelah.”, ujar Dinda tersenyum.
__ADS_1
Dia meletakkan tas kantornya ke belakang dan membuka hijabnya. Dinda memang selalu begitu setiap kali sudah berada di mobil Arya. Dia akan membuka hijabnya untuk menyegarkan dan memberikan udara bagi rambutnya yang sudah lama tertutup.
“Kamu terlihat santai sekali ya.”, kata Arya menatap Dinda tajam.
“Pak Arya gak percaya? Seharusnya aku tadi merekam pembicaraannya supaya Pak Arya percaya. Tunggu, seharusnya saya juga protes. Tadi waktu Mba Suci pegang - pegang dan mengatakan mau pacaran dengan Pak Arya, kenapa Pak Arya responnya begitu? Bikin kesal saja.”, kata Dinda pura - pura marah sambil sesekali mengintip ke arah Arya yang terus menatapnya.
“Kenapa kamu gak bilang kalau mau menemui Dika?”
“Hm? Inikan urusan kantor. Masa saya harus bilang kalau ketemu Mba Rini, Pak Erick, Pak Alex, Mas Egi. Pak Arya juga gak pernah bilang kan kalau mau ketemu klien wanita?”, protes Dinda. Dia tampak percaya diri mengatakannya tapi lagi - lagi mencuri - curi pandang ke samping takut akan respon suaminya.
“...”, Arya tidak memberikan respon. Dia kembali menyandarkan badannya di kursi setir. Tetapi dia tidak kunjung menghidupkan mobilnya.
“Tadi saya sudah mau bilang tapi Pak Dika sudah keburu memanggil. Saya kirim pesan ke ponsel Pak Arya kok. Tapi keputus, cuma terkirim satu kalimat.”, Dinda mencoba menjelaskan.
Hening.. Tak ada jawaban dari Arya. Dinda bingung mau mengatakan apa. Perutnya juga sudah lapar, dia mau pulang.
“Pak Arya cemburu?”, tanya Dinda hati - hati.
“Iya, saya cemburu karena kamu menemui Dika hanya berdua di Cafe lagi. Hah… mau minta maaf kenapa harus mengajak duduk di Cafe segala?”, kata Dika dengan suara baritone.
“H-hm..”, respon Dinda ambigu.
“Apa lagi maksudnya cuma H-hm doang? Lagian kamu dari tadi saya pantau ya, terus saja memanggil saya dengan ‘Pak’, ‘Pak’,’Pak’. Saya ini suami kamu. Awas ya, saya hitung sudah lebih dari 10x kamu memanggil saya ‘Pak’.”
Dinda langsung refleks menutup bibirnya dengan telapak tangan.
“Kan masih di area kantor. Lagipula, belum sampai 10 kok. Ngarang deh, mas Arya curang, ih.”, protes Dinda.
“Sekarang, kita itu cuma berdua. Siapa coba yang akan mendengar. Di dalam mobil lagi. Kamu sengaja ya mau manas - manasin saya.”, wajah Arya sudah mulai bete.
“Mas Arya, ini di dalam perut aku ada dedek bayinya, loh. Punya siapa? Punya mas Arya, kan? Terus kenapa masih cemburu dengan Pak Dika? Kita murni membicarakan tentang urusan kantor. Kan tidak enak kalau di tolak.”, kata Dinda berusaha membujuk Arya agar tidak marah lagi.
Brak…
Tiba - tiba terdengar bunyi aneh. Sayangnya, hanya Dinda yang mendengar bunyi tersebut. Dinda langsung mematung dan terdiam. Dia juga sempat meletakkan tangannya di lengan Arya yang sedang memegang kemudi.
“Kenapa kamu?”, tanya Arya bingung.
“Mas Arya dengar sesuatu gak?”
“Dengar apa?”
“Itu tadi ada bunyi aneh? Mas Arya…”, tanpa sadar Dinda sudah meremaskan tangannya di lengan Arya karena takut.
Brak…
Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam. Suasana parkiran memang sudah lebih sepi dari biasanya. Mobil memang banyak yang terparkir, tetapi kemungkinan banyak mobil yang ditinggal penghuninya yang sedang keluar. Sedari tadi, tidak ada yang keluar dari lift basement.
“Itu mas. Dengar ga?”, kata Dinda dalam mode ‘awas’.
“Hn. Suara apa ya. Sebentar aku cek dulu.”, kata Arya.
“Mas Arya, ga usah.”, kata Dinda cepat menarik lengan Arya yang baru saja ingin membuka pintu mobilnya.
“Kok ga usah? Kita cek dulu itu apa. Siapa tahu ada yang butuh bantuan.”, kata Arya.
Dinda menggeleng.
“Jangan. Ga usah. Feeling aku gak enak.”, kata Dinda takut.
“Hm? Gapapa.. Lagian kantor kan aman. Siapa tahu ada yang terjatuh atau bagaimana dan membutuhkan bantuan.”, kata Arya.
“Engga. Ga boleh. Udah kita keluar aja. Nanti di pos satpam bilang biar mereka yang cek. Jangan mas Arya.”, kata Dinda.
“Plis..jangan. Kita jalan aja.”, kata Dinda dengan suara lirih memohon.
Entah kenapa, feeling-nya tiba - tiba tidak enak. Dinda kekeuh menahan lengan Arya agar tidak membuka pintunya. Dia bahkan menekan tombol untuk mengunci semua pintu.
“Sudah, yuk pulang. Nanti di depan kita beritahu satpam. Ya?”, kata Dinda lagi.
Arya menghela nafasnya. Kalau Dinda tidak menahannya sampai berkali - kali begini, Arya mungkin akan turun dan memeriksa. Tapi melihat Dinda yang sangat khawatir hingga menahannya, membuat Arya akhirnya mengikuti kata - kata Dinda.
__ADS_1
Arya akhirnya menyalakan mobilnya dan melaju menuju pintu keluar basement.