Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 218 Rumah Sakit


__ADS_3

“Kamu memangnya sudah sembuh?”, tanya Arya yang baru saja selesai mandi dan sedang mengenakan pakaian santainya.


Hari ini adalah hari Minggu. Dua hari lalu, Siska memberikan informasi padanya kalau anggota tim 10 akan menjenguk Pak Teddy pada hari minggu pagi. Arya sudah bersiap - siap.


“Sudah. Coba pegang ini? Sudah tidak panas lagi kan? Ya? Mas Arya? Ya boleh ya?”, kata Dinda seperti anak kecil yang sedang meminta izin pada orang tuanya.


“Bianca bilang mau ketemu dimana? Sama siapa saja?”, tanya Arya.


Dia sudah meletakkan tangannya di kening Dinda dan memastikan kalau istrinya sudah benar - benar sehat. Namun, tetap saja, dia merasa berat untuk mengizinkannya mengingat Dinda baru saja sembuh.


“Di Mall sama Bianca dan teman kampus yang biasa. Waktu itu sudah pernah kenalan sama mas Arya, kok. Kita cuma mau jalan dan makan aja kok. Gak aneh - aneh. Gak akan pulang malam juga. Ya, mas Arya? Aku sudah bosan di rumah terus selama lebih dari 2 hari. Bunda juga sudah pulang ke rumah. Mas Arya juga mau pergi. Mama dan papa ada acara. Ibas juga. Mba Andin juga. Masa aku di rumah sendiri? Jamuran nanti. Ya?”, Dinda mengeluarkan semua taktik yang dia punya untuk bisa mendapatkan izin dari Arya.


Pokoknya, sebisa mungkin dia merayu pria itu agar mengizinkannya untuk keluar. Dinda masih mengikuti Arya kemanapun pria itu berjalan. Dan sekarang dia ada di ruang ganti pakaian. Dinda berdiri dengan patuh menunggu izin dari suaminya.


“Jam berapa?”, tanya Arya lagi.


“Jam 11 siang sudah ketemu di Mall.”, jawab Dinda.


“Ya sudah, sekarang kamu siap - siap. Kamu berangkat sama saya.”, ujar Arya.


“Hm? Bukannya mas Arya mau menjenguk orang kantor?”, tanya Dinda.


“Setelah itu. Kamu ikut saya dulu jenguk Pak Teddy. Nanti setelah itu baru ketemu teman kamu.”, jawab Arya lagi.


“Tapi kan bukannya mas Arya menjenguk Pak Teddy bersama dengan anggota tim yang lain? Terus saya ikut?”, tanya Dinda bingung.


Meski Arya sudah mengatakan dan berdiskusi dengan HRD, namun Arya belum mendiskusikannya dengan Dinda. Keputusan dari HRD juga belum keluar.


“Kalau kamu tidak mau ikut, kamu bisa tunggu di lobi dulu. Kalau kamu mau ikut saya juga gapapa.”, ujar Arya.


Dinda menatap Arya. Pria itu sengaja memberikan dia pilihan yang sulit agar dia tidak jadi bertemu dengan temannya.


“Pak Teddy ada di ruangannya sendiri. Kalau kamu tidak mau terlihat bareng saya, kamu bisa tunggu di lobby. Hm?”, ucap Arya lagi.


“Aku naik taksi online aja, gak boleh?”, tanya Dinda pelan dengan nada merayu.


“Enggak boleh.”, ucap Arya singkat.


Dinda memajukan bibirnya saat Arya sudah keluar dari ruang ganti pakaian.


“Galak banget. Ini gak boleh, itu gak boleh.”, Dinda menggumam dengan omelannya sendiri.


Saat Arya berbalik ke belakang. Dinda menampilkan senyumnya yang paling indah.


“Aku ganti baju dulu. Mas Arya sarapan aja dulu di bawah. Aku tadi sudah sarapan.”, kata Dinda berusaha semanis mungkin.


“Jangan pake lama.”, kata Arya sebelum meninggalkan kamar mereka.

__ADS_1


*********


“Kamu tunggu disini. Yang lain sudah masuk ke ruangan pak Teddy, nanti saya akan kirim pesan kalau sudah mau selesai.”, kata Arya sebelum meninggalkan Dinda di lobby rumah sakit.


Bukan lobby utama, tetapi salah satu lobby informasi- yang menyatu dengan lobby pengambilan obat. Namun, sepertinya lobby khusus obat - obatan tertentu saja. Karena tempat itu relatif sepi dibandingkan lobby utama yang ada di depan pintu masuk.


“Hn.”, Dinda mengangguk sebelum melepas tangan Arya yang sudah berjalan masuk ke arah lobby utama.


Disana ada lift menuju ruang pasien. Kebetulan Pak Teddy dirawat di lantai 4.


“Pak Arya!”, panggil seseorang saat melihat Arya sedang bertanya ke bagian informasi.


Arya saat itu mengenakan jeans polos berwarna biru dan kaos lengan panjang yang ia gulung sedikit keatas. Dia juga mengenakan jam dan topi. Namun, Arya melepas topinya saat akan bertanya pada suster.


“Oh, Jim. Saya tadi bingung ruangannya yang mana. Disana ya?”, tanya Arya begitu mendapati Jimmy berjalan ke arahnya dari arah yang berlawanan.


“Iya betul, pak. Mari saya bantu bawa, Pak”, ujar Jimmy.


“Oh ga usah - ga usah. Santai aja.”, ujar Arya yang membawa keranjang buah dan satu kantong berisi roti.


“Gapapa Pak.”, ujar Jimmy menawari bantuan.


“Baiklah. Saya minta tolong bawa ini, ya.”, ujar Arya memberikan sekantong roti yang dibawanya.


“Maaf ya saya terlambat, ada urusan pribadi dulu. Kalian sudah lama ya?”, tanya Arya sedikit berbasa - basi karena dia telat 30 menit dari waktu yang dijanjikan.


“Oh tidak apa - apa Pak Arya. Kita juga sebenarnya baru sampai. Ada pak Niko dan yang lain juga. Lengkap sih satu tim.”, jawab Jimmy.


“Oh, oke.. Berhubung tidak boleh masuk berbarengan, jadi kita ganti - gantian. Pak Niko tadinya ada disini, tapi sedang ke bawah untuk membeli kopi.”, ujar Jimmy begitu sampai di depan kamar Pak Teddy.


Pak Teddy dirawat di sebuah kamar single yang hanya berisikan satu pasien saja.


“Bagaimana keadaannya?”, tanya Arya.


“Sudah sadarkan diri Pak. Tapi memang masih belum bisa diajak berbicara banyak. Dokter menyarankan untuk tidak mengajak berbicara terlebih dahulu sampai kondisinya benar - benar pulih.”, ujar Jimmy menjelaskan.


“Hm.. kamu bilang baru sampai tapi sudah banyak informasi. Jangan - jangan bohong lagi. Kamu sudah sampai lebih dulu ya?”, tanya Arya sambil setengah bercanda.


Jimmy hanya tersenyum renyah sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.


Begitu sampai di ruangan pasien, Arya langsung bertemu dengan keluarga Pak Teddy dan memberikan salam serta ucapan turut merasa sedih dengan kejadian ini.


Menurut keterangan keluarga, saat itu Pak Teddy sudah mau pulang saat tiba - tiba seseorang memukulnya dari belakang. Pak Teddy sempat melihat ada bayangan yang terpantul dari mobil dan mengelak sehingga sempat ada pukulan yang tidak kena.


Arya jadi semakin yakin kalau suara yang dia dan istrinya dengar malam itu mungkin saja suara saat serangan itu terjadi. Dia menyesal tidak turun dan memeriksa saat itu. Namun, Dinda bersikeras karena khawatir dan punya firasat tidak enak.


Arya sempat menginformasikan bahwa kejadian tersebut sudah dilaporkan ke pihak berwajib dan sedang diselidiki. Dia juga memberikan update sesuai dengan informasi yang diterima dari Siska.

__ADS_1


Saat ini dugaan terbesar adalah orang dalam. Namun penyelidikan masih terus berlanjut. Arya juga menghimbau timnya, meskipun pengamanan sudah diperketat, namun mereka harus berhati - hati. Terutama kalau sedang lembur dan harus pulang malam.


Sebab, ada saat - saat dimana timnya harus pulang larut karena lembur.


*********


Dinda yang masih menunggu menyibukkan dirinya membaca buku - buku online tentang ibu dan anak. Rutinitas yang memang sedang rutin dia lakukan agar nanti tidak canggung setelah melahirkan.


Sementara Arya lebih fokus membaca tentang buku seputar kehamilan di waktu senggangnya atau sebelum tidur, Dinda sekarang lebih banyak membaca tentang informasi pasca melahirkan.


Kring Kring Kring Kring


Ponsel Dinda berbunyi. Telepon dari Bianca.


“Assalamu’alaikum. Hm, iya Bi?”, sapa Dinda begitu mengangkat ponselnya.


“Kamu jadi kan Din?”


“Iya jadi kok, Bi. Kamu sudah sampai?”, tanya Dinda.


“Sebentar lagi. Yang lain katanya juga sedang di jalan. Kamu dianter? Atau berangkat sendiri?”, tanya Bianca. 


“Sama Mas Arya.”, jawab Dinda.


“Hah sudah kuduga. Tapi yang penting kamu akhirnya dibolehin keluar. Tapi kamu benar - benar sudah sembuh, kan? Aku merasa bersalah loh kalau mengajak kamu jalan tapi ternyata belum sembuh total.”, kata Bianca. 


“Udah kok Bi. Sudah Sembuh. Alhamdulillah. Kamu lagi dimana? Kok seperti ada suara pengumuman begitu? Tidak sedang di rumah?”


“Sedang di rumah sakit.”, jawab Dinda.


“Hah? Loh katanya sudah sembuh, kok di rumah sakit. Dinda kamu…”


“Aku menemani mas Arya menjenguk rekan kerjanya.”, sebelum Bianca berceloteh kemana - mana, Dinda langsung memotong.


“Oh.. bikin kaget saja.”, ujar Bianca. 


“Oh.. sebentar ya Bi. Mas Arya telepon. Nanti aku kabari lagi.”, ujar Dinda.


“Halo mas Arya. Sudah selesai?”, tanya Dinda.


“Hm.. saya kesana sekarang. Kamu tunggu saja.”, ujar Arya. 


“Oke.. aku jalan ke arah pintu masuk parkiran saja, supaya lebih mudah jadi mas Arya tidak perlu berputar.”, ujar Dinda.


“Ya sudah.” 


“Pak Arya…. Oh sudah datang duluan ternyata. Yah terlambat dong saya.”, ujar seorang wanita. 

__ADS_1


“Oh.. saya tidak tahu kamu mau menjenguk juga. Kalau tahu saya tunggu sampai kamu datang.”, jawab Arya. 


“Hm? Tunggu sampai kamu datang? Apa - apaan maksudnya? Siapa sih itu?”, Dinda belum menutup ponselnya, begitu pula dengan Arya. Sehingga dia masih bisa mendengar suara dari seberang sana.


__ADS_2