Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 114 Test Pack


__ADS_3

Jamuan makan malam di salah satu restoran terbaik di ibukota Thailand, Bangkok menjadi jamuan pertama untuk Arya hari ini. Dia datang lima menit sebelum waktu yang dijanjikan. Beberapa orang yang dia kenal karena sudah pernah bertemu di Indonesia menyapanya.


Mereka saling berjabat tangan. Tidak semua dari mereka yang mengikuti olahraga tenis siang ini. CEO Perusahaan yang projectnya sedang dipegang Arya kali ini datang sedikit terlambat karena adanya masalah operasional di kantornya.


Setelah dia tiba sekitar 10 menit lewat dari waktu yang dijanjikan, makan malampun dimulai. Sebelum makan malam dimulai, CEO itu juga memperkenalkan satu tim dari perusahaan di Indonesia yang juga akan berkerja sama dalam proyek ini. Tidak semuanya berhubungan dengan Arya, namun ada dua hal yang bersinggungan, sehingga dalam jamuan makan malam ini, perusahaan juga memperkenalkan mereka.


Salah satunya adalah Sarah, mantan istri Arya yang juga tanpa sengaja ia temui hari ini di bandara. Arya tak terlalu ambil pusing untuk memikirkan apakah itu tanpa sengaja atau tidak. Hal yang terlintas di kepalanya dan menjadi satu - satunya fokus dia disini adalah menyelesaikan proyek dengan rapi dan pulang.


Selain Sarah, terdapat empat orang lagi dari perusahaan yang sama. Tidak satupun dari mereka yang Arya kenal. Tiga diantaranya adalah pria dan satu orang perempuan yang sepertinya masih level junior.


Arya sama sekali tidak menghiraukan Sarah. Dia benar - benar bersikap seperti biasanya sampai sebuah kalimat Sarah membuatnya sedikit terganggu.


“He’s actually my ex-husband. It’s quite coincidence, we met here.”, ujar Sarah sambil tersenyum dan menenggak wine yang ada di hadapannya.


“Oh… Arya.. why dont you tell us?”


“It’s not part of the business.”, jawab Arya lugas.


“Sure, sure.. Let’s enjoy tonight cause we’re going to start the effort tomorrow. Hope you enjoy the stay.”, ujar CEO tersebut sambil mengangkat winenya dan menginstruksikan agar yang lain minum.


Tentu saja Arya menghindari minuman itu dan menjadi satu - satunya orang yang mengangkat segelas cola. Setelah itu semua menikmati hidangan dan berbincang - bincang terkait proyek. Lebih tepatnya, setiap kali ada yang menanyakan terkait hal personal, Arya pasti akan dengan cepat mengalihkannya ke bisnis tanpa mereka sadari.


Dua jam waktu yang mereka habiskan untuk makan malam. Sisanya tentu saja obrolan ringan. Penanggung jawab entertain malam ini mengajak yang lain untuk lanjut ke sebuah club. Beberapa orang yang ikut bersama Arya menerima ajakan itu sementara Arya sendiri menolaknya.


Dia berdalih terlalu lelah hari ini dan lebih memilih untuk beristirahat di kamarnya. Arya undur diri begitu sanga CEO juga sudah meninggalkan mereka untuk urusan lain. Arya berjalan menuju lobi restoran dan mengambil taksi.


Sebelumnya Arya ke lobi.


“Kamu yakin tidak ingin ke klub? Klub disini adalah yang terbaik.”, ajak Sarah yang saat itu baru saja keluar dari toilet wanita dan kebetulan bertemu dengan Arya di koridor restoran.


“Tidak. Enjoy your night.”, ujar Arya membuang tisu yang dia gunakan ke dalam tong sampah dan pergi.


“Arya. Arya, tunggu.”, panggil Sarah menarik bahu Arya agar pria itu berbalik.


“Hm?”, jawab Arya singkat.


“Aku pikir ini waktu yang tepat untuk kita mempertimbangkan kembali hubungan kita. We’re alone, here.”, kata Sarah berusaha menarik tangan Arya namun pria itu menepisnya halus.


“We’re done.”, telak Arya sebelum akhirnya benar - benar berlalu dari pandangan Sarah.


*****


“Fuhhh… tarik nafas Dinda.. Bismillah.”, Dinda mengambil satu buah test pack yang tadi sudah dia beli.


Dia sudah sampai di rumah sejak beberapa jam yang lalu. Dinda sudah mandi, makan malam bersama dengan yang lain di bawah, berbincang sebentar di bawah, dan sekarang disaat semua orang sudah mulai tidur, Dinda masih diam membaca instruksi penggunaan test pack di kamar mandi.


Ini pengalaman pertama baginya. Seumur hidup, Dinda belum pernah melihat apalagi memegang alat ini. Meski sudah membaca instruksinya, Dinda juga masih belum paham bagaimana cara menggunakannya. Akhirnya dia mengambil ponsel dan menonton beberapa tutorial penggunaan test pack.


Sesuai dengan petunjuk, Dinda sudah meletakkan test pack itu kembali di atas meja dan menunggu selama lebih kurang 10 menit. Dinda memejamkan matanya. Dia sama sekali tidak tahu apakah dia berharap test pack itu menunjukkan garis dua atau tidak.

__ADS_1


Dinda sangat bingung. Dia juga baru mendengar bagaimana perasaan Arya yang sebenarnya kurang dari satu minggu. Apakah kalau dia benar - benar hamil, Arya akan senang mendengarnya? Atau justru tidak?


Dinda terlihat sangat gelisah di dalam kamar mandi. Waktu 10 menit terasa begitu lama untuknya. Dinda beberapa kali mendengar pembicaraan Arya dengan Inggit atau Kuswan tanpa sengaja perihal anak. Dinda tak mendengar seluruhnya, tetapi sepanjang yang Dinda dengar, sepertinya raut wajah Arya selalu tidak senang setiap disinggung masalah anak.


Sepertinya, selama ini Arya juga tidak pernah menyinggung perihal kehamilan atau anak dengan Dinda. Apakah itu artinya Arya belum menginginkan kehadiran anak? Dinda terus bertanya - tanya sampai alarm yang tadi dia set berbunyi. Pertanda waktu 10 menit sudah berlalu.


“Fuhhhh… tarik nafas. Bismillah.”, tidak hanya memejamkan matanya, Dinda juga menutup test pack dengan telapak tangannya, dia hanya menggeser sedikit demi sedikit karena Dinda merasa belum siap untuk melihatnya.


“Din…. Dinda… kamu di dalam ga?”, sayup - sayup terdengar seseorang menggedor - gedor pintu kamarnya.


‘Aduhhh siapa sih?’, ucap Dinda frustasi.


ia merasa sedang berada di medan perang namun tiba - tiba ada iklan lewat. Dinda meletakkan test packnya di dekat wastafel dan menghampiri pintu kamar untuk melihat siapa yang mengganggunya malam - malam begini.


“Oh.. mba Andien? Ada apa mba?”, tanya Dinda.


“Kamu ada pembalut ga? Mba tiba - tiba datang bulan nih. Stok abis dan udah malam banget mau cari keluar.”, tanya Andien.


‘Ahhh kenapa mba Andien malah tanya pembalut disaat seperti ini. Mana aku punyaa…’, tidak hanya kalendar datang bulan yang lupa Dinda update. Dia juga baru ingat kalau tidak memiliki stok pembalut sama sekali.


Terakhir kali datang bulan, sepertinya Dinda sudah menghabiskan stok pembalutnya dan dia juga baru ingat kalau sudah hampir 2 bulan dia sudah tidak datang bulan.


“Hm.. gimana ya mba. Stok aku juga sedang habis. Belum beli lagi.”, jawab Dinda sambil tersenyum kaku.


“Yah.. gimana dong, ya.”, tanya Andien bingung.


“Hah? Memangnya Bi Rumi masih datang bulan?”, tanya Andien.


“Masih kok mba. Waktu itu aku pernah ingat Bi Rumi bilang sedang datang bulan. Lupa persisnya kapan. Siapa tahu aja Bi Rumi punya. Mau aku tanyain ke bawah?”, kata Dinda menawarkan.


“Ga usah - ga usah.. Biar mba aja yang tanya sendiri. Sekalian mau bikin susu buat Rafa dan Samawa.”


“Beneran mba ga mau ditemenin?”, tanya Dinda lagi memastikan.


“Enggak, udah kamu tidur aja. Maaf ya mba ganggu.”


“Iya gapap mba. Ya udah kalau begitu. Malam mba.”


Dinda kembali menutup pintunya. Dia segera berlari menuju toilet untuk melihat hasil test pack tadi. Dinda menyilangkan kedua telapak tangannya. Dia masih gelisah.


“Apapun hasilnya, semoga yang terbaik.”, ucap Dinda segera langsung membuka hasil test pack itu.


Mulut Dinda terbuka. Ia menutupnya dengan satu telapak tangannya. Dinda kaget dengan hasilnya. Terdapat dua garis merah yang muncul di alat test pack tersebut.


“Hoooookk… berarti aku hamil? Hah? Aku hamil? Hm… mungkin satu alat bisa saja salah. Aku coba yang satu lagi.”, Dinda segera berlari keluar mengambil satu lagi alat test packnya di dalam tas.


Dia melakukan langkah - langkah yang serupa dan menunggu hingga 10 menit sebelum kembali melihat hasilnya.


“Benar… muncul dua garis merah lagi. Apa itu berarti aku benar - benar hamil? Fuhh bagaimana ini? Bagaimana aku memberitahukannya? Apa aku cek di rumah sakit dulu baru bilang mas Arya? Apa aku bilang mama dulu? Bunda? Ahh aku bingung. Mungkin aku telpon mas Arya dulu.”, akhirnya Dinda mengambil ponselnya.

__ADS_1


Dinda sudah ingin menekan tombol panggilan untuk Arya namun sebuah pesan lebih dulu muncul di beranda ponselnya.


“Dimas? Kenapa lagi sih dia? Aku cuekin aja.”, ujar Dinda saat membaca bahwa notifikasi pesan WhatsApp yang masuk adalah dari Dimas.


Sebenarnya Dinda tidak mau menyimpan nomor pria itu. Tapi, jika tidak disimpan dan pria itu menghubunginya, dia jadi tidak tahu bahwa itu dari dimas dan malah membaca, membalas, atau mengangkat teleponnya. Kalau dia menyimpan nomor Dimas, setidaknya dia bisa mengacuhkannya saja karena dia itu itu adalah nomor Dimas.


Dinda kembali mencari nomor Arya dan menekan tombol memanggil. Satu kali panggilan, tetapi Arya tidak mengangkatnya. Kemudian Dinda mencoba menghubungi sekali lagi.


“Hm.. Bangkok dan Jakarta tidak ada perbedaan jam kan? Apa dia sudah tidur? Tapi biasanya mas Arya bekerja sampai larut kalau sedang ada bisnis luar kota. Aku coba lagi aja.”, Dinda kembali mencoba menghubungi Arya, tapi nihil, pria itu tidak mengangkatnya.


Dinda sedikit kecewa. Disaat seperti ini, dia tidak punya siapa - siapa. Dia tidak mungkin menhubungi Bunda atau memberitahu Inggit. Orang yang pertama harus dia beritahu tentu saja adalah Arya.


“Coba sekali lagi. Kalau tidak diangkat, besok saja.”, kata Dinda dengan penuh harapan, teleponnya kali ini akan diangkat oleh Arya.


“Halo…”, jawab Arya di seberang sana. Dinda tak bisa menyembunyikan senyum sumringahnya saat Arya akhirnya mengangkat teleponnya.


“Mas Arya sedang dimana? Kok baru diangkat?”, tanya Dinda.


“Maaf, baru sampai di kamar hotel setelah tadi dinner. Kamu belum tidur?”, tanya Arya.


“Belum.. Mas Arya.. aku mau ngomong sesuatu yang penting.”, ucap Dinda dengan nada yang serius.


“Hm? Mau ngomong apa?”, tanya Arya.


“Hmpppphhh…”, samar - samar terdengar suara ringisan seseorang dari arah ponsel Arya. Suara seorang wanita.


“Itu..”, Dinda merasa antara yakin dan tidak yakin pada suara yang dia dengar.


“Din, sorry nanti aku telepon lagi ya. Bye.”, Arya menutup teleponnya begitu saja.


“Oh? Tadi itu apa?”, Dinda langsung dibuat bingung oleh sikap Arya barusan. Tidak, dia merasa bingung dengan suara yang dia dengar.


‘Suara siapa itu tadi? Apa aku salah dengar? Tapi kalau aku salah dengar, kenapa mas Arya harus menutup teleponnya? Apa dia masih meeting semalam ini?’


Masih dengan bingung, Dinda menerima notifikasi WhatsApp lagi dari Dimas.


‘Dia ini kenapa sih? Kenapa terus menghubungiku? Lebih baik aku tidak membacanya.’, pikir Dinda dalam hati.


Namun, entah terselip atau terkena jari Dinda, notifikasi itu terbuka seiring dengan jatuhnya ponsel Dinda karena dia tidak berhati - hati saat memegangnya.


“Aahhh pake jatuh segala, yahh kebuka deh pesannya Dimas.”, kata Dinda sambil mengambil ponselnya kembali.


Dinda memutuskan untuk tidak membacanya dan hanya menutup halaman WhatsApp itu.


“Sebaiknya aku tidur dan menghubungi mas Arya besok pago. Lagipula aku harus ke kantor.”, kata Dinda sambil membuang bungkus test pack ke dalam tong sampah sementara hasilnya dia masukkan kembali ke dalam tas yang dia gunakan tadi.


‘Hm.. ‘, setelah berpikir sejenak, Dinda kembali ke dalam toilet dan mengambil bungkus testpack tadi lalu memasukkannya ke dalam tasnya.


“Sebelum bilang ke mas Arya, mungkin aku jangan membiarkan yang lain tahu dulu. Lagi pula, test pack kan bisa saja salah. Apa aku ke rumah sakit untuk cek ya?”, Dinda membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia harus beristirahat agar siap melalui hari besok di kantor.

__ADS_1


__ADS_2