Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 259 Bagaimana Nasib Karir Dinda? Bagian 1


__ADS_3

Setiap hari adalah hari paling sibuk di perusahaan tempat Arya bekerja. Salah satunya adalah divisi dimana dia memimpinnya, Business and Partners. Divisi dengan tingkat pressure paling tinggi. Di kalangan para internal karyawan sendiri, divisi yang dipimpin oleh Arya dikenal sebagai divisi elit.


Ya, mereka memberikan klasifikasi dan level pada setiap divisi. Selain karena divisi ini menjadi jantung perusahaan, divisi inilah yang menjadi satu diantara sedikit divisi yang dimana perusahaan awalnya memulai.


Arya mungkin sudah menjadi kepala Divisi yang kesekian. Dia mengawali karirnya begitu lulus dari kampus di Amerika langsung di divisi ini sebagai seorang karyawan biasa. Hanya dalam waktu 6 bulan, dia berhasil menjadi senior dan dalam waktu 1.5 tahun menjadi Manager.


Setelah itu, Team Lead menggeser banyak karyawan senior yang berada di atasnya sebelum akhirnya mendarat sebagai Head dengan jabatan paling senior di antara para head yang lainnya. Padahal, usianya masih relatif sangat muda.


Arya adalah satu diantara sedikit orang di perusahaan mereka yang masuk sebagai bawahan dan menjadi pimpinan untuk kepala - kepala yang pernah memimpinnya. Sebuah karir yang mengesankan. Tetapi tentunya membutuhkan pengorbanan waktu yang sangat besar. Termasuk pernikahannya yang pertama.


Terlepas dari adanya rasa diantara Dimas dan Sarah yang tidak pernah diketahui oleh Arya sebelumnya, Arya merasa dia juga berperan besar dalam benang kusut hubungan mereka. Dia terlalu fokus pada karirnya dan memberikan ruang bagi orang lain untuk masuk dengan mudah.


“Permisi, Pak Arya. Meeting jam 11 ya, Pak. Ruangannya di tempat biasa.”, Siska kembali dengan rutinitas yang luar biasa sibuk setelah satu hari libur nasional.


Seperti biasa, buku catatan, sebuah pulpen, dan ponsel menjadi barang favorit yang selalu dia bawa kemana - mana. Mengatur jadwal seorang Arya Pradana tidaklah mudah. Berkali - kali dia ingin resign di awal. Bahkan dia menyimpan semua surat resign yang pernah dia tulis di dalam salah satu laci mejanya.


Flashback sekitar beberapa tahun yang lalu saat Siska baru saja masuk ke perusahaan.


*“Saya melihat hal menarik di laci kamu.”, ujar Arya yang baru saja memanggil Siska ke ruangannya. *


*Mata Siska menyiratkan penuh tanda tanya. ‘Apa maksudnya dengan menemukan hal menarik di dalam laci? Memangnya ada apa di lacinya?’, pikir Siska. *


*“Oh?”, tak berapa lama berpikir, Siska langsung menutup mulutnya. *


‘Tidak mungkin.’, kata Siska khawatir kalau dugaannya benar. Apa mungkin yang dimaksud dengan hal menarik yang dikatakan oleh Pak Arya adalah laci terakhir di meja nya?


*“Hn.. benar sekali. Saya sedang mencari - cari laporan yang dibutuhkan. Tapi kamu tidak ada. Tak disangka saya menemukan hal menarik disana.”, kata Arya mengangkat sekantong penuh surat lengkap beserta dengan amplopnya. *


*“Eh? Pak Arya… Saya… bukan… adik saya… dia ada praktek membuat surat, jadi…”, ujar Siska terbata - bata memberikan alasan terbaiknya. *


*Ya, dia pikir itu adalah alasan terbaik. Satu - satunya alasan aneh yang terpikirkan oleh Siska saat itu. Tubuhnya sudah kaku. Tangannya sudah bergetar. Jantungnya sudah berdebar kencang. Kalau saja dia tidak kuat, mungkin dia sudah pingsan disana. *


*Arya Pradana, bosnya yang baru saja naik sebagai Kepala Divisi itu sudah dikenal sebagai pria ambisius dan paling killer di divisi itu. Senang - senang sebagai sekretarisnya hanya berlangsung selama satu hari. *


*Siapa yang tidak bangga bisa diangkat sebagai sekretaris di divisi elit. Dari luar, Siska mungkin terlihat hebat, tetapi di dalam, dia stress berat. *


“Oke, surat yang pertama, hm.. Sepertinya ini minggu pertama kamu masuk. Sudah menulis surat resign? Oh.. saya galak? Okee..”, ujar Arya membuka satu surat dan membaca bagian - bagian terpentingnya saja.


*Sementara Siska hanya bisa berdiri diam di depan meja bosnya tanpa bisa melakukan apapun. Dia juga tidak mungkin melarang pria itu untuk membuka suratnya atau membawa kabur surat - surat itu. *


*Biasanya Siska menguncinya. Tetapi setelah memasukkan surat terbaru ke dalamnya, dia lupa. *


*“Hm.. mari kita lihat surat yang kamu buat setelah satu bulan bekerja disini. Bos banyak mau? Dia kira dia saja yang hebat? Hm..”, ujar Arya membaca surat selanjutnya. *


*“Arya kelaut saja. Arya? Wanita mana yang bisa bertahan dengannya?”, di surat satu ini, Arya yang awalnya tenang agak tertampar sedikit. *

__ADS_1


*Belum banyak yang tahu tapi saat itu adalah saat - saat dimana dia sudah memiliki segudang masalah dengan pernikahannya bersama Sarah. *


*“Arya kapan resign?” *


*“Pak Arya di rumahnya jualan kulkas?” *


*“Itu orang atau kulkas?” *


*“Dia terbuat dari es?” *


*“Dia yang paling kejam” *


*“Arya brengsek? Oh?”, semakin dibaca, Arya semakin speechless dengan surat resign yang dibuat oleh Siska. *


*Kalimat - kalimat yang ada disana jelas tidak seperti surat resign pada umumnya. *


Flashback selesai


“Hn.. laporan dari Tim 3 dan 6 pastikan sudah ada di meja saya sebelum jam 5. Saya ada meeting dengan eksternal dan perlu dokumen dari kedua tim itu. Siapa yang ikut meeting dengan saya nanti?”, tanya Arya.


“Meeting yang jam 11 atau jam 5, Pak?”, tanya Siska sedikit kebingungan.


“Jam 5.”, balasnya singkat.


“Sudah pastikan jadwal mereka? Anak buahnya gak ada yang ikut?”, tanya Arya lagi.


“Bu Ranti bilang mau bawa 1 orang anak buahnya. Kalau Pak Eko saya belum pastikan, Pak.”, jawab Siska.


“Bagaimana keadaan Pak Teddy?”, tanya Arya.


“Masih sama, Pak. Sudah sadar, tapi belum bisa banyak bicara.”, jelas Siska.


“Anak buahnya Jimmy dan Niko, minta ke ruangan saya jam 1 nanti. Sepertinya kita tidak bisa biarkan kosong. Project beliau harus di handover segera. Kamu minta Susan standby jam antara jam 2-3, ya.”, perintah Arya.


“Bu Susan sedang meeting di luar kota, Pak. Beliau berangkat hari ini. Baru kembali dua hari lagi.”, ujar Siska.


“Tim 1 dan 2 berapa project?”, tanya Arya.


“Full Pak.", jawab Siska mantap.


"Oke.. kalau begitu panggil Susanto dan Albert ke ruangan saya setelah saya bertemu dengan Niko dan Jimmy.”, perintah Arya


“Baik, Pak.”, balas Siska


Siska segera berbalik melangkah keluar dari ruangan Arya.

__ADS_1


“Sis, Gerald ada cari saya gak?”, tanya Arya teringat hal yang penting.


“Hm.. belum si Pak. Mau saya tuliskan memo ke sekretaris beliau?”, tanya Siska.


“Gak usah. Nanti langsung saya saja yang coba ketemu beliau.”, balas Arya.


“Oh, baik kalau begitu Pak.”, jawab Siska.


*********


“Din, jadi kamu gimana? Terus di sini atau…”, tanya Delina pada Dinda yang sedang mengerjakan laporan.


Belakangan tugasnya tidak terlalu banyak. Hanya menulis laporan - laporan saja. Sementara yang lain, sepertinya sangat sibuk. Bahkan Bryan sudah beberapa kali bolak - balik ke meja Pak Erick.


“Belum tahu, mba. Masih belum ada informasi dari Pak James.”, kata Dinda lesu.


“Kamu sudah coba minta bantuan Pak Erick?”, tanya Delina.


“Heh? Kalau dia mau minta bantuan, lebih berdamage Pak Arya, kali Del. Kamu otaknya kadang susah sampainya, ya?”, entah dari mana, Andra tiba - tiba nimbrung.


“Ikutttt.. aja omongan perempuan. Sudah sana. Lama - lama kamu keduluan Bryan loh. Tampaknya dia akan segera dipromosikan.”, kata Delina menakut - nakuti.


“Ehem.. Ehem…Din.. Pak Arya kalau di rumah, sama gak sama di kantor?”, tanya Andra, lagi - lagi tiba - tiba.


Plak.


“Kerjaan kamu sudah beres? Gangguin anak intern aja kerjaannya.”, Rini menimpuk kepala Andra dengan buku laporannya.


Andra sama sekali tidak memperkirakan serangan itu. Rini tiba - tiba saja muncul dari belakang. Sepertinya dia baru selesai menjilid laporan.


“Aduh… kenapa dipukul sih, Mba.”, protes Andra mengelus - elus kepalanya.


“Makanya jangan kepo urusan orang. Kamu kira Dinda nyaman ditanya seperti itu?”, ujar Rini duduk di tempatnya.


Mendengar perkataan Rini, Andra langsung mengalihkan pandangannya kembali pada Dinda.


“Kamu merasa terganggu ya, kalau aku tanya hal - hal seperti itu?”, kata Andra.


Bukan Dinda yang mengangguk, tapi Delina di sebelahnya.


“Dinda gak berani jawab jujur karena dia gak enakan. Sudah sana, ganggu aja.”, kata Delina.


Ting…


Bunyi email masuk dari PC Dinda. Sebuah notifikasi muncul di bagian kanan bawahnya. Dari James, HRD. Sepertinya pengumuman yang sangat penting.

__ADS_1


__ADS_2