
Jam sudah menunjukkan pukul 1 Siang. Town Hall meeting yang paling tidak disukai Dinda akan segera dimulai. Meeting ini biasanya diadakan tiap tiga bulan sekali. Seharusnya meeting ini membahas pencapaian - pencapaian divisi yang bersangkutan. Dalam hal ini, Bisnis Partner dan Digital yang keduanya dipegang oleh Pak Arya.
Kebanyakan adegan yang harus dilihat oleh Dinda dalam meeting ini adalah menyaksikan Pak Arya memarahi bawahannya di divisi bisnis. Sedangkan divisi Digital menjadi penonton ngenes yang ga tega divisi sebelah dimarahi.
“Guys, Pak Arya akan datang telat, ya. Kira - kira 15 menit lagi karena masih meeting sama regional. Kalian ambil coffee break nya dulu aja.”, sekretaris Arya muncul dan memberikan informasi penting yang membuat wajah tim di divisi Business Partner sedikit lebih tegang dibanding sebelumnya.
“Kalian siap - siapin hati ya. Gue ga tega liat divisi partner.”, Pak Erick celetuk dengan nada tipis di dekat para tim Digital yang sudah berkumpul mengambil coffee yang tersedia.
“Kalo meeting sama regional extend sampai lama biasanya karena dua alasan. Performance lagi bagus banget yang saya yakin engga. Kedua karena performance turun.”, kata Pak Erick menjelaskan sambil menyeruput coffeenya.
“Bakal ribut lagi nih kayanya.”, kata Andra yang masih staf satu divisi dengan Dinda.
‘Gak di rumah, gak di kantor, kerjaannya marah - marah mulu. Ah bodo, abis meeting ini aku mau ke Cafe aja. Pusing.’
“Din, abis meeting ini Cafe, yuk!.”, gayung bersambut. Andra mengajak Dinda ke Cafe. Entah bagaimana pria itu bisa membaca pikirannya.
“Eh, kalo mo ngaso ke Cafe harusnya jangan depan saya juga bilangnya.”, kata Pak Erick.
Andra dan kebanyakan staf Digital lainnya memang sangat akrab dengan pak Erick. Dinda saja yang masih merasa sungkan karena memang masih anak kemarin sore.
Tidak sampai 15 menit, Pak Arya sudah terlihat batang hidungnya. Beberapa orang yang sedang nongkrong di luar ruang meeting langsung berlari masuk mengambil tempat dan duduk rapi begitu melihat Arya.
“Pagi, Team”, sapa Arya dengan suara lantang dan tegas. Sapaan itu langsung dibalas dengan suara yang tidak kalah lantang dan semangatnya dari semua orang yang hadir di dalam ruang meeting.
“Oke, langsung kita mulai meetingnya. Sis, langsung buka slidenya, ya.”, selanjutnya Arya menjelaskan panjang lebar mengenai pencapaian divisi secara garis besar.
Sesuai dugaan banyak highlight merah yang membuat Arya terdengar berdecak kesal. Kebanyakan karena ada sampai 30% project yang tidak lanjut di kuartal kedua.
Kira - kira 20 menit, Arya menyampaikan presentasi. Semua memperhatikan dengan seksama. Tidak seperti biasanya, kali ini Arya tampak serius dari slide pertama sampai slide terakhir. Padahal pada pertemuan pertama dulu, Dinda masih bisa melihat sedikit guyonannya.
__ADS_1
Presentasi dilanjutkan dengan masing - masing manajer di divisi Partner. Dinda tidak memahami semua presentasi. Ia sudah berusaha mencoba memahami, tapi tetap saja banyak istilah yang tidak dia mengerti.
Meskipun hal itu wajar karena dia berasal dari divisi yang berbeda, tetapi dalam hati Dinda sedikit merasa kecewa. Dia tidak memungkiri bahwa saat Arya membawakan presentasinya, pria itu terlihat sangat keren, berwibawa, tegas, dan cerdas. Dinda seketika menciut dan kehilangan rasa percaya dirinya.
Di pertemuan pertama, hal itu tidak terlihat karena baru kuartal pertama dan pertemuan pun tidak terlalu lama. Selain itu, pembahasan juga belum terlalu mendetail seperti sekarang.
Dinda beberapa kali melirik ke arah Arya yang sedari tadi berbincang tipis dengan beberapa orang di sebelahnya. Mungkin dia membahas presentasi yang sedang dibawakan. Dinda juga melihat interaksi mba Suci dan Arya yang juga intens. Dinda merasa ada yang aneh dalam dirinya.
Dia memang belum terlalu akrab dengan Arya. Tetapi saat - saat seperti ini dia tidak suka kalau mereka juga terlihat sangat jauh dan tidak selevel.
Dinda terkejut karena untuk beberapa saat ia menangkap Arya juga melihatnya. Begitu Arya melihat ke arahnya, Dinda membuang pandangannya karena takut.
Akhirnya sekarang giliran pak Erick memberikan presentasi. Pak Erick maju bersama dengan Andra yang membantunya mengendalikan slide menggantikan mba Siska, operator sebelumnya.
Pak Erick menjelaskan dengan sangat lugas. Presentasinya juga mudah dimengerti. Di akhir sesi, Arya menanyakan beberapa pertanyaan pada Erick. Tapi sifatnya hanya memastikan angka dan keterangan yang dituliskan pak Erick dalam presentasi.
Semua orang keluar satu persatu. Beberapa ada yang masih mengambil sisa - sisa coffee break sebelum memutuskan untuk meninggalkan ruangan panas ini. Arya juga mengambil satu gelas kopi dan menyeruputnya. Padahal, dia belum makan apa - apa dari tadi pagi.
Dinda baru akan keluar bersama Andra. Mereka sudah sepakat dengan rencananya ngaso sebentar di Cafe. Andra juga mengajak mba Suci tetapi dia menolak karena ada dokumen yang harus dia kerjakan dan serahkan pada Arya sore ini. Akhirnya Dinda hanya ke Cafe berdua dengan Andra.
“Gila ya, Din. Gue sampai gak bisa bernafas tadi di dalam. Tegang banget.”, ungkap Andra sesaat setelah dia selesai memesan satu buah sandwich.
“Harus kuat mental ya kalau di divisi itu.”, balas Dinda menimpali.
“Ya… selama pak Arya headnya ya.. harus begitu. Tapi gue akuin sih, sejak di lead sama pak Arya, performance divisi Partner bagus dan revenue juga meningkat.”, kata Andra lagi.
“Tahu dari mana?”, walaupun Andra sudah lama di perusahaan ini, tetapi dia hanya level officer yang tidak punya akses ke data - data tersebut. Setidaknya, Dinda tahu hal itu. Makanya dia sedikit penasaran.
“Ya.. teman - teman divisi Partner lah. Kan gue juga sering jalan sama mereka. Makanya katanya pressurenya juga makin tinggi.”, lanjut Andra lagi.
__ADS_1
Dinda hanya mengangguk. Dia tidak tertarik membahas tentang pak Arya lagI. Dinda memilih untuk memperhatikan sekitar.
“Gue penasaran, Pak Arya itu sudah menikah belum si? Kata Suci, dia udah pernah nikah tapi sekarang udah cerai.”, Sakit kagetnya dengan pembahasan Andra yang random, Dinda sampai salah tingkah dan tidak sengaja menjatuhkan pulpennya.
Bak pucuk dicinta ulam pun tiba. Arya dan geng divisinya masuk ke Cafe. Padahal beberapa waktu yang lalu dia masih di dalam ruang meeting.
Pulpen itu jatuh bergulir dan berhenti tepat di sebelah sepatu Arya yang saat ini sedang memesan makanan. Sementara bawahannya yang lain sudah mengambil tempat. Sadar bahwa itu Dinda, Arya hanya melihat sebentar lalu kembali fokus memesan beberapa minuman.
‘Aku tahu, pak Arya memang harus cuek dan menganggap aku tidak ada kalau bertemu di kantor. Tapi, kenapa rasanya sakit diacuhkan olehnya?’, tanya Dinda dalam hati.
“Eh Dinda, ngapain? Ngaso ato meeting?”, dari kejauhan Mba Suci bertanya. Tidak dengan suara tetapi bisa dimengerti Dinda. Dinda menjawabnya dengan isyarat.
Dinda dan Andra masih tinggal di Cafe. Sesekali Dinda memperhatikan Arya yang berbincang dengan bawahannya. Ada saatnya laki - laki itu tersenyum bahkan tertawa ringan. Dinda jarang sekali melihat Arya meeting santai di luar kantor karena memang divisi mereka jarang berhubungan.
Selain itu, ruangan divisi Dinda juga sangat jauh dengan Arya sehingga Dinda hampir tidak pernah melihat sisi Arya yang dia lihat sekarang.
Ia melihat sesekali Arya juga melemparkan lelucon yang membuat rekan satu timnya tertawa terbahak - bahak. Arya juga terlihat sangat berwibawa saat memaparkan sesuatu dari tablet pc nya.
Diskusi mereka mengalir bahkan mba Suci juga terlihat beberapa kali menimpali. Mungkin dia memberikan ide atau pendapat yang disambut oleh anggukan tim yang lain termasuk Arya.
Dinda sadar selama ini dia belum mengenal pak Arya. Mereka tidak pernah mengobrol serius. Interaksi mereka juga terbilang singkat. Belum lagi belakangan ini Dinda juga dibuat bingung dengan sikap pak Arya. Setiap mereka berinteraksi pasti diakhiri dengan pak Arya yang menciumnya secara tiba - tiba.
Dinda juga baru tahu kalau ternyata Arya merokok. Dia tidak pernah sekalipun melihat pria itu merokok selama ini di rumah. Bahkan dia tidak pernah mencium bau rokok dari tubuhnya. Mungkin pak Arya merokok hanya sesekali saat meeting di luar saja, begitu pikir Dinda.
“Din.. din… kamu ngeliatin siapa? Suci?”, Andra mengibas - ngibaskan tangannya di depan wajah Dinda yang sedang termenung ke arah tempat duduk Arya dan timnya.
“Hah? Kenapa? Kamu barusan cerita apa?”, tanya Dinda baru tersadar.
“Gue gak ngomong apa - apa. Lo yang bikin gue bingung, bengong aja ngeliat kesana. Liatin siapa? Suci? Dia lagi meeting. Udah ah, balik yuk. Tar kelamaan dicari pak Erick lagi.”, ajak Andra yang sudah mulai bosan. Dinda hanya bisa menuruti.
__ADS_1