
Dinda, gadis berusia 23 tahun itu sedang sibuk memainkan sebuah game di dalam ponselnya. Sebuah game masak memasak seperti Cooking Mania menjadi teman sejatinya saat mengantri panjang seperti sekarang ini.
Dia sedang berada di sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari apartemen Arya. Setelah mencari - cari rumah sakit yang sesuai, Dinda memutuskan untuk melabuhkan pilihannya pada rumah sakit ini karena dikenal sebagai rumah sakit ibu dan anak terbaik.
Setelah berpikir panjang selama beberapa hari kemarin, Dinda memutuskan untuk melakukan reservasi di rumah sakit ini. Dia memang sudah melakukan pemeriksaan menggunakan test pack. Namun, berdasarkan tips di internet yang dia baca, lebih baik untuk memeriksakannya ke rumah sakit karena hasil test pack belum tentu memberikan akurasi yang tepat.
Meski sudah melakukan reservasi, ternyata tetap saja dia harus menunggu beberapa orang di depannya. Waktu kedatangan di struk reservasi hanya perkiraan. Orang yang mengantri sebelumnya bisa saja menghabiskan waktu lebih lama di dalam.
Dinda datang kesini sendiri. Sampai saat inipun dia belum memberitahu Arya tentang kehamilannya. Setidaknya dia belum menginformasikan Arya tentang hasil test pack itu atau menyinggung apapun tentang kemungkinan dia hamil.
Sepanjang Dinda memandang, kebanyakan wanita ditemani oleh suami atau pasangan mereka. Mungkin karena sudah sore, banyak dari mereka yang bisa meluangkan waktu untuk istrinya setelah bekerja, atau mungkin sebagian ada yang mengambil cuti.
Dinda sengaja melakukan reservasi untuk kedatangan di sore hari, karena dia harus menunggu jam pulang kerja. Untungnya, rumah sakit ini juga menyediakan kunjungan cek shift malam. Tidak seperti kebanyakan rumah sakit yang hanya menyediakan kunjungan hingga sore hari.
Melihat pemandangan di depannya, Dinda kembali teringat percakapannya tempo hari dengan Arya di telepon. Setelah mengirimkan WhatsApp menggunakan ponsel orang lain, Arya akhirnya menghubungi Dinda malam harinya.
*“Halo, Din? Ini aku Arya.”, ujar pria itu dengan suara baritonnya yang berat. *
*“Hm.” *
*“Kenapa respon kamu singkat begitu? Kamu marah?”, tanya Arya yang mendapat respon dingin dari Dinda. *
*“Engga.” *
*“Terus?”, tanya Arya lagi. *
*“Engga kenapa - kenapa. Hape mas Arya kenapa bisa hilang?”, akhirnya Dinda membuka topik pembicaraan. *
*Seperti biasa sepulang bekerja, Dinda sedang berada di beranda kamar menikmati secangkir teh hijau. Sudah dua hari dia menunggu telepon dari Arya. *
*“Maaf ya. Situasi tak terduga muncul. Tapi itu gak penting. Yang penting sekarang aku bisa telpon kamu. Kamu sudah di rumah?” *
*“Iya, sedang di balkon.”, jawab Dinda. *
*“Ya sudah kalau begitu. Sudah terlalu malam, kamu jangan lupa kunci pintu balkonnya sebelum tidur, ya?”, ucap Arya. *
*“Hm.”, jawab Dinda singkat. *
*Obrolan yang dingin. Itu yang membuat Dinda kecewa. Dia sudah menunggu telepon ini selama dua hari, tetapi Arya hanya berbicara sesingkat itu. Ketika Dinda bertanya tentang kenapa ponselnya hilang, dia tidak memberitahunya dan malah mengatakan itu hal yang tidak penting. *
*‘Jadi, sebenarnya apa definisi penting buat mas Arya?, kenapa dia tidak menjelaskan kenapa ponselnya hilang, bagaimana harinya? Apa yang terjadi selama dua hari ini, kenapa dia baru menelpon? Kenapa dia tidak menjelaskan itu semua saat aku bertanya.’, protes Dinda kecewa di dalam hati. *
‘Kalau begini, aku tak bisa mengelak selain mempercayai rumor itu. Apa mungkin sebenarnya mas Arya memang sedang bersenang - senang dengan wanita itu. Apa selama ini mas Arya hanya membohongiku?’
*‘Seberapapun aku ingin menampik semua pikiran itu, sikap mas Arya membuat pikiran itu semakin mendatangiku.’, Dinda memegang perutnya. *
‘Bagaimana ini?’
*Belakangan ini mood Dinda sering berubah - ubah. Semakin kesini, dengan segala keambiguan dan rumor yang dia terima, dia juga merasa lebih sensitif dan lebih mudah terbawa perasaan. Hal kecil saja bisa membuatnya sedih dan overthinking, apalagi rumor luar biasa yang beredar di kantor perihal Arya. *
*Dinda tak bisa menghindar karena bahkan orang di divisinya pun membicarakan itu. *
“Antrian 25, Bu Dinda Lestari?”, panggil seorang asisten dokter yang memanggil satu persatu pasien selanjutnya.
Akhirnya setelah menunggu lebih kurang 45 menit, giliran Dinda tiba. Dia sangat gugup. Perasaannya campur aduk, hatinya gelisah, dan jantungnya berdebar. Dinda menarik nafasnya sejenak sebelum dia berdiri dan mengikuti arah langkah asisten itu.
“Selamat Malam, Bu Dinda? Sepertinya masih muda, ya? Saya panggil apa nih enaknya?”, kata dokter tersebut menyapa Dinda dengan sangat ramah.
Perlahan rasa gugup Dinda berkurang karena senyuman dan sapaan dokter tersebut. Guyonannya tentang panggilan yang tepat untuk Dinda juga membuat dirinya lebih Rileks.
“Dinda saja, Dok.”, jawab Dinda ikut tersenyum.
Bawaan ramah dari dokter itu membuat Dinda tenang. Untuk menghilangkan rasa groginya sambil dokter tersebut memeriksa berkas data dirinya, Dinda mengedarkan pandangannya pada apa yang berada dekat dengannya.
Tidak seperti ruangan dokter di rumah sakit, aroma ruangan ini sangat melegakan. Dinda melihat beberapa deretan kaktus di jendela kaca sebelah kiri dokter itu. Dia juga melihat beberapa tumpukan dokumen yang sepertinya tesis atau skripsi karena Dinda mengenal gaya pembukuannya.
Persis di hadapan Dinda terdapat papan nama bertuliskan ‘dr. Rima Wulandari, Sp.OG’. Tadinya saat reservasi, dia tidak begitu memperhatikan nama dokternya. Yang penting, Dinda memilih dokter perempuan. Karena ini adalah pengalaman pertamanya, sepertinya Dinda akan lebih nyaman dengan dokter perempuan.
“Okay, jadi baru pertama kali ya check-up ke rumah sakit ini? Mau cek kandungannya? Sebelumnya sudah melakukan pemeriksaan menggunakan alat test pack ya?”
“Iya Dok. Saya sempat pakai dua alat test pack merk A dan B. Keduanya memberikan hasil dua garis merah. Tapi, saya mau tetap cek ke rumah sakit untuk memastikan.”, jelas Dinda masih dengan nada ragu - ragu.
“Hm… ada keluhan?”, tanya dokter itu lagi.
__ADS_1
“Mual dan muntah sejak dua minggu ini. Tapi minggu ini mulai intens. Saya bahkan gak bisa cium aroma kopi karena bisa mentrigger rasa mualnya.”, jawab Dinda.
“Maaf, terakhir datang bulan, masih ingat?”
“Mungkin hampir dua bulan? Saya lupa cek tapi sepertinya saya sudah melewatkan periode datang bulan 2x. Seharusnya waktu - waktu sekarang adalah waktu saya datang bulan.”, ucap Dinda. Dia ingat betul kalau jadwalnya dengan Bianca mirip.
“Okay baik. Kita coba lakukan pemeriksaan terlebih dahulu ya. Mbanya akan dibantu oleh dr. Iren. Nanti setelah beberapa pemeriksaan selesai, kita coba cek USG nya, ya.”, ujar Dokter itu memberikan panduan.
Dinda langsung mengikuti kemana Dokter yang bernama Iren itu membawanya. Sepertinya usia Dinda tidak terlalu jauh berbeda dengan dokter ini. Mungkin satu atau dua tahun diatas Dinda. Sama dengan dokter Rima tadi, dr. Iren juga sangat ramah. Dinda merasa nyaman. Sesekali dia memberikan guyonan sambil memberikan penjelasan terhadap pemeriksaan yang dilakukan.
“Dok, sudah selesai.”, ujar Iren kembali membawa Dinda menemui dr. Rima setelah serangkaian tes tadi selesai.
“Kita coba USG ya sekarang. Yuk dibantu Iren, yang bagian sana tolong. Mba Dinda silahkan berbaring disini, ya. Mungkin akan terasa tidak nyaman sedikit saja.”, ujar dr. Rima memberikan panduan.
dr. Rima bisa dengan mudah mengetahui apakah ini adalah kehamilan pertama atau tidak terhadap pasiennya bahkan hanya dengan memperhatikan saja. Mungkin karena dia sudah menangani banyak kasus selama mengabdi sebagai dokter. Terutama untuk kasus Dinda yang hanya datang sendirian tanpa ditemani oleh siapapun termasuk keluarga atau suami.
“Maaf, keluarganya ga ada yang menemani? Sebelumnya saya izin tanya ya, mba Dinda sudah menikah?”, tanyanya mengusahakan agar pertanyaannya terdengar sangat sopan.
“Sudah dok.”, jawab Dinda tersenyum.
“Suaminya tidak menemani?”, tanyanya lagi.
“Kebetulan sedang ada pekerjaan, Dok. Jadi saya sendiri saja.”, jawab Dinda singkat.
Dia tidak ingin ditanyai lagi dan raut wajah Dinda bisa menjelaskan itu semua. Oleh karena itu, dr. Rima tidak menanyakan lebih lanjut.
Setidaknya dia sudah memeriksa kalau ini bukan kehamilan di luar nikah. Meski bukan urusannya, namun dia selalu merasa khawatir jika mendapati pasien yang datang padanya namun karena sudab hamil sebelum menikah.
“Nah, coba lihat ke arah sini mba Dinda. Itu kita sudah bisa lihat, ya janinnya sudah terbentuk. Ukurannya mungkin sekitar 10 mili - 14 mili ya. Jadi, kehamilan mba Dinda ini sudah memasuki usia 7 menuju 8 minggu, jadi betul sudah mau 2 bulan berdasarkan HPHT, hari pertama haid terakhirnya.”, ujarnya menjelaskan lebih lengkap lagi sambil disertai dengan senyuman.
Dinda melihat dengan saksama tampilan di layar monitor USG. Dia terpana dengan apa yang dia lihat di hadapannya. Test pack hanya memberikan hasil seperti dua garis merah dan Dinda tidak merasakan hal yang signifikan.
Namun, saat melihat janinnya di layar itu, membayangkan bahwa janin itu akan tumbuh, tiba - tiba perasaan aneh muncul dan membuat hatinya bergetar. Dinda bisa merasakan bahwa dia benar - benar terharu melihat tampilan di layar itu.
Dia tidak percaya ada mahluk kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Pertemuan pertama dengan si kecil yang membuat perasaan Dinda campur aduk. Bingung, senang, haru, dan bahagia bercampur menjadi satu.
“Tes yang tadi dilakukan untuk memeriksa kesehatan kandungan mba Dinda, ya. Nanti setelah hasil keluar, akan kita informasikan. Kita akan jadwalkan pemeriksaan rutin segera. Saya berharap mba Dinda bisa melakukan pemeriksaan secara rutin, ya, untuk memastikan kesehatan janinnya sampai nanti kelahiran.”
“Aa.. iya Dok.”, jawab Dinda sambil sesekali menghembuskan nafasnya berat karena dia sedang menahan tangisnya.
"Sekitar 3 bulan lebih dok. Mungkin hampir 4 bulan?", jawab Dinda.
"Wah.. selamat ya.. sudah dipercayakan untuk mengandung di usia pernikahan semuda itu. Banyak loh yang konsultasi sulit untuk hamil padahal sudah lama menikah. Mba Dinda harus jaga ya, kandungannya dengan baik.", tambah dokter itu.
“Mba Dinda mau frame yang mana?”, kata Dokter itu pada Dinda setelah dia turun dari tempat pemeriksaan USG.
“Eh?”
“Dokter Rima senang memberikan bingkai gratis untuk memajang foto USG pasien. Mba Dinda mau frame yang mana?”, kali ini dr. Iren yang menanyakannya pada Dinda.
“Ooh.. hm.. Yang itu saja.”, jawab Dinda memilih sebuah frama dengan gambar wortel.
Entah kenapa dia ingat pada Arya yang selalu saja meminggirkan wortel setiap kali dia menemukan itu dimakanannya.
“Okay.. ini ya.. Jangan lupa nanti diambil resep vitaminnya di depan. Karena ini kehamilan pertama, saya sarankan mba Dinda untuk lebih sering istirahat, tinggalkan pekerjaan yang berat - berat, jangan terlalu berpikir keras karena emosional ibu bisa mempengaruhi tumbuh kembang janinnya. Hati - hati di jalan, ya.”, ucap dr. Rima pada Dinda setelah memberikan satu goodie bag kecil yang lucu berisi frame bersama foto hasil USG tadi.
Entah bagaimana dokter itu bisa bersikap seramah itu meski Dinda adalah pasien ke 25 nya hari ini. Membayangkan kalau Dokter itu sudah menemui 24 orang dengan kasus berbeda sebelumnya hari ini membuat Dinda terpana.
Dinda terus memegang perutnya sembari menunggu tebusan resep vitamin dari dokter. Dia terus tersenyum memegang perutnya yang notabene masih rata.
“Sudah berapa usia kehamilannya? Baru ya?”, ucap seorang wanita di sebelah Dinda.
Wanita itu sepertinya sudah berusia lebih tua dari Dinda. Mungkin sekitar 34 atau 35 tahun. Dia duduk di samping Dinda sambil memegang perutnya yang sudah memperlihatkan baby bump.
“Hm.. masih 7 minggu. Mba nya sudah berapa bulan?”, tanya Dinda membalas untuk sekedar basa basi.
“Sudah masuk 24 minggu. Dokternya baik ya? Saya baru pindah ke rumah sakit ini. Dokter Rima itu sebelumnya di rumah sakit A dan baru pindah kesini, karena itu saya jadi ikut pindah.”, terangnya. Meski Dinda sebenarnya tidak tertarik mengetahui itu, tapi dia harus tetap memperlihatkan antusiasmenya agar tetap ramah.
“Aah.. iya, dokternya ramah sekali.”, ujar Dinda tersenyum.
“Bu Dinda Lestari?”, panggil petugas menyebutkan nama Dinda.
“Kalau begitu saya permisi ya Mba. Sudah dipanggil.”
__ADS_1
Dinda segera bergerak menuju meja resepsionis, mengambil obat, sekaligus membayar tagihan.
“Oh?” Dinda terkejut karena ternyata dia lupa membawa uang cash yang cukup. Dinda tidak menyangka ternyata lumayan juga biayanya.
“Bisa pakai kartu kredit juga, Bu.”, jawab petugas tersebut melihat Dinda mengeluarkan dompet dan ternyata tidak banyak cash di dalamnya.
“Kalau begitu boleh dibantu pakai ini ya.”, Dinda memberikan kartu kredit tambahan dari Arya yang memang diberikan Arya sejak awal pernikahan.
Selain uang belanja yang rutin di transfer oleh Arya setiap bulan, Arya juga membuat kartu kredit tambahan dari miliknya untuk dipergunakan oleh Dinda.
“Oke, sudah di proses ya Bu. Nanti untuk hasilnya akan dikirimkan via email ke alamat ibu. Jika ingin mengambil versi hardcopynya, bisa datang langsung ke rumah sakit. Atau jika mau dikirimkan langsung ke rumah juga bisa, nanti Bu Dinda hubungi kami saja di nomor yang tertera di email ya, Bu. Kalau begitu terima kasih.”, ujar petugas tersebut.
******
“Arghhh… ssshhh.. awwww.. Aaaw… Hah… padahal sudah dua hari, tapi perihnya tetap tidak hilang juga. Mana susah lagi balutinnya. Harus banget ya di bongkar pasang begini perbannya setiap hari. Bikin ribet aja.”, kata Arya dengan sejuta omelannya pagi ini di kamar hotelnya.
Berkat luka di tangannya, dia harus meluangkan waktu ekstra 1 jam untuk membalurkan obat dan mengganti perban. Katanya sih agar lukanya tidak infeksi dan cepat tertutup.
Sudah tidak terhitung berapa kali Arya mengeluarkan kata - kata pamungkasnya.
“Shit… susah banget, sih… Ahhh… Aawww .. Aw Aw Aw Shhhh”, Arya terus meringis kesakitan. Dia tidak percaya bahwa ini baru berlangsung tiga hari sejak kejadian itu.
Padahal saat dia bertemu orang lain di luar, dia akan akting sok cool seolah tidak terjadi apa - apa. Terutama saat meeting, dia akan bersikap biasa saja sampai - sampai orang lain lupa kalau dia habis terluka Senin lalu. Begitu di kamarnya, sudah tak terhitung omelan yang dia keluarkan karena kesulitan melalukan aktivitasnya. Bahkan untuk mandi, minum, memakai baju, dll.
“Ah.. aku sangat merindukan Dinda. Kalau ada dia, pasti dia yang akan mengganti perban luka ini untukku. Pekerjaan ini, meeting ini, kenapa harus datang disaat seperti ini. Baru juga satu hari baikan, langsung ke Bangkok.”, Arya terus meracau sambil menggigit perban yang satunya agar dia bisa mengikatnya dengan sempurnya.
“Apa dia marah karena aku telat dan jarang menghubunginya? Suaranya terdengar sangat dingin tadi malam. Apa seharusnya aku mengatakan tentang kejadian ini padanya, toh dia juga akan tahu sewaktu aku pulang nanti. Tidak mungkin luka ini sembuh hanya dalam waktu 4 hari. Tapi aku hanya akan membuatnya khawatir.”, kata Arya setelah akhirnya selesai bergulat dengan perbannya.
Dia segera mengenakan kemeja dan jasnya, kemudian mengambil tas laptop dan bersiap turun untuk sarapan. Meeting hari ini juga akan panjang. Arya bangun terlambat hari ini dan hanya bisa mengirimkan Dinda satu pesan WhatsApp saja.
Ponselnya memang sudah kembali, tetapi dia belum bisa mengembalikan kartu sim card dan setting yang lain karena harus menunggu tiba di Indonesia.
“Apa aku telepon Dinda dulu, ya?”
“Ah.. pasti dia sudah di kantor.”
“Bagaimana jika dia ngambek atau marah aku tidak meneleponnya.”
“Hm… sepertinya satu pesan juga cukup.”
“Tidak. Tidak. Aku harus menghubunginya.”
Kring Kring Kring
Saat Arya sibuk berdebat dengan dirinya sendiri, ponselnya berbunyi.
“Ya.. saya segera ke bawah.”, ujar Arya kemudian keluar dari kamar.
Arya menekan tombol di ponselnya bermaksud untuk menghubungi Dinda. Lift membawanya ke lantai bawah (lobi) dan sambungan teleponnya terputus sementara.
Begitu sampai di lobi, Arya masih mencoba menghubungi Dinda karena signalnya baru muncul. Seseorang di depan Arya yang merupakan timnya dari cabang Thailand menyapanya. Arya melambaikan tangan, namun tangan satunya tetap fokus menghubungi Dinda.
“Hai Morning, Arya. Kamu meeting pagi lagi hari ini? Bukannya kemarin meetingnya juga sampai malam?”, Sarah tiba - tiba muncul mengganggu konsentrasinya.
Arya berusaha untuk tidak menghiraukan Sarah, namun wanita itu terus mengajaknya berbicara. Dua orang tim internalnya juga sudah mendekat di depan untuk mulai masuk ke buffet.
“Gimana luka kamu? Aku harap kamu rutin mengganti perbannya. Jika kamu kesulitan, kamu bisa meminta bantuanku. Kamu bisa ke kamarku. Kamu tahu dimana kan? Atau aku juga bisa ke kamarmu?”, ujar Sarah lagi sambil menaruh tangannya di dada Arya namun pria itu menepisnya halus.
Arya menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan emosinya. Sesaat setelah sambungan teleponnya diangkat oleh Dinda, Arya menurunkan ponselnya, berpikir bahwa teleponnya belum terhubung.
*“Halo? Halo? Mas Arya?’, suara Dinda tidak terdengar oleh Arya yang sudah menurunkan ponselnya. *
Arya memberikan kode pada timnya untuk masuk ke buffet terlebih dahulu dan menunggunya di dalam. Sementara dia perlu menyelesaikan sesuatu dengan Sarah.
Arya menarik nafasnya perlahan.
“Sarah, aku ingin kembali lagi padamu. Baiklah, kita mulai lagi hubungan kita. Aku akan mengatur semuanya.”, kata Arya dengan suara tegas namun nada yang dingin dan lebih terkesan semu.
Sarah menatap lurus ke arah Arya. Terkejut dengan pernyataan pria itu
“Kamu berharap aku mengatakan itu setelah semua yang sudah terjadi? Setelah semua yang aku ketahui? Apa masih belum cukup penjelasan aku selama ini ke kamu? Seharusnya kamu paham bahwa kita sudah tidak mungkin bersama dan tidak ada yang bisa kamu hasilkan dengan bersikap seperti ini.”, jelas Arya.
Aku kesini untuk urusan pekerjaan, Sar. Jangan membuat situasi menjadi tidak nyaman seperti ini. Untukku, kamu, dan juga rekan kantor lainnya.
__ADS_1
“Just in case, aku dengar kamu sebenarnya tidak ada jadwal overseas meeting disini bersamaan dengan jadwal perusahaan kami. Jadwal meeting kalian sudah diatur bulan depan dan kamu mempercepatnya? Untuk apa kamu melakukan sejauh ini?”, lanjut Arya.
“You can always start over with someone else. Perjalanan kita sampai disini dan mungkin ini memang jadi yang terbaik buat aku, kamu, dan orang - orang di sekitar kita. Aku harap kamu memahaminya. Jangan buang energi kamu untuk sesuatu yang sudah diluar jangkauan kamu. Kamu tidak hanya menyakiti orang lain tapi juga diri kamu sendiri. So, please!.”, ujar Arya menepuk halus bahu Sarah sebelum akhirnya meninggalkannya berdiri disana.