
Bagaimana pendapat kamu tentang Parkiran? Parkiran menjadi tempat yang relatif. Bisa relatif aman sekaligus relatif berbahaya. Apalagi untuk parkiran gedung - gedung tinggi yang bisa terdiri dari beberapa lantai.
Bahkan, parkiran untuk gedung - gedung tunggu dengan pengawasan ketat tak boleh membuat kita hilang waspada. Apalagi, parkiran yang memiliki desain tertutup dan jauh dari pengawasan petugas keamanan. Ditambah dengan kurangnya CCTV di area - area krusial.
Tidak seperti biasanya, pertemuan Dinda dan Dika sedikit mengusik Arya. Dia kira dia bisa menjaga profesionalitasnya. Tapi, entah mengapa, semakin kesini Arya semakin sulit untuk mengendalikan dirinya terutama rasa cemburu.
Bahkan, mendengar Dinda berdiskusi hanya berdua dengan Dika saja bisa membuat hatinya panas. Apalagi jika nanti Dinda harus masuk ke divisi IT dimana mayoritas stafnya adalah laki - laki. Hari - hari sejak Dinda menceritakan Opportunities yang HR berikan padanya menjadi hari - hari suram untuk Arya.
Dia terus saja memikirkan bagaimana jika Dinda menerima tawaran itu?
‘Ah.. aku mungkin sudah gila. Kenapa aku malah seperti anak SMA yang baru pacaran? Toh, Dinda sudah menjadi istriku dan dia bukan seperti wanita pada umumnya. Dia pasti bisa menjaga marwahnya dan selama ini istrinya memang begitu. Tapi, dari mana datangnya rasa cemburu itu?’, Arya nampak frustasi dengan pikirannya sendiri.
Kali ini, Arya dan Dinda menghabiskan waktu lebih lama di parkiran. Arya berusaha membuat dirinya lebih tenang dengan mendengar langsung dari Dinda. Arya tahu, Dinda bukan wanita yang macam - macam. Tapi, kali ini dia butuh mendengar langsung dari istrinya agar rasa cemburu yang mengganggunya beberapa hari ini bisa hilang.
Tiba - tiba mereka mendengar suara aneh dari arah belakang. Suaranya terdengar samar - samar. Arya melihat ke arah Dinda yang sudah memasang mode ‘awas’. Memang bukan waktu yang tepat, tapi Arya tersenyum melihat reaksi gadis itu.
Dinda memegang erat lengannya. Arya hendak keluar, tapi Dinda justru menarik tangannya dan langsung menekan tombol untuk mengunci semua pintu. Arya beberapa kali menenangkan dan memberikan pengertian bahwa dia hanya ingin memeriksa sebentar. Tapi anehnya Dinda tidak memperbolehkannya.
Wajah istrinya terlihat takut dan khawatir seolah cemas jika terjadi sesuatu padanya. Saat itu, hati Arya terasa hangat. Dia merasakan ketulusan dari seorang Dinda padanya. Setelah berpikir sejenak, Arya menuruti kata - kata Dinda dan memilih menyalakan mobilnya.
“Pak, maaf. Tadi saya dengan ada suara aneh di parkiran. Sepertinya arah blok B. Mungkin bisa coba minta bantuan beberapa satpam untuk memeriksa.”, kata Arya begitu sampai di pintu keluar parkiran yang berada di bagian paling utara lantai tersebut.
Gedung tempat perusahaan Arya dan Dinda berada di salah satu kawasan elit business. Tentu saja, pengamanan nya juga sangat ketat. Hanya saja kalau sudah pukul 8 ke atas, jumlah petugas yang berjaga di bagian sekitar lift dan tengah memang sudah berkurang.
Banyak yang berjaga di bagian depan karena memang bertepatan juga dengan waktu pergantian shift malam. Arya tidak memiliki kecurigaan pada hal - hal yang berbahaya. Dia hanya takut jika ada yang ternyata membutuhkan bantuan.
“Kamu mau makan di luar?”, tanya Arya tiba - tiba.
Malam ini mereka tidak ada agenda makan di luar sama sekali. Tapi, Arya hanya tertarik untuk mengajak istrinya refreshing sebentar.
“Hm.. mau bubur ayam. Boleh ga mas? Tapi yang di abang - abang.”, kata Dinda terdengar ceria lagi setelah tadi dia sempat mematung di parkiran karena parno.
“Boleh. Tahu tempat yang enak?”, tanya Arya tersenyum.
Arya juga memegang tangan Dinda dan mengarahkan telapaknya ke bibirnya. Arya mengecupnya singkat. Jalanan macet, Arya punya banyak waktu untuk bisa bermesra ria dengan Dinda saat mobil mereka langsung stuck di jalan.
“Mas Arya merokok lagi ya?”, tanya Dinda yang langsung mencium tangannya sesaat setelah Arya memberikan kecupan.
“E-enggak. Memang tercium, ya?”, tanya Arya heran dan kembali menarik tangan Dinda untuk mencium nya.
“Enggak, orang wangi begini. Kamu ngarang ya, Din.”
“Hihi.. langsung panik.”, tawa ringan Dinda pecah.
“....”, Arya langsung menunjukkan wajah datar.
Jelas dia terkejut karena siang ini Arya memang merokok.
‘Hampir saja. Fuhh.’, kata Arya bernafas lega dalam hati.
“Oiya, kontrol kehamilan rutin kamu kapan?”, tanya Arya seiring dengan lampu merah yang mulai menghentikan laju mobilnya.
“Dua minggu lagi. Eh, 10 hari lagi. Mas Arya bisa?”, tanya Dinda dengan nada lembut.
Sejak kejadian kecelakaan Arya tempo hari, Dinda tidak lagi mewajibkan Arya untuk bisa menemaninya ke rumah sakit.
“Aku sudah bilang ke Siska untuk mengosongkan jadwal di minggu yang sama dengan jadwal kontrol kamu bulan lalu. Seharusnya tidak ada meeting dadakan lagi. Mereka harus segera mencari pengganti Gilbert.”, kata Arya.
Dinda kaget, baru pertama kali ini Arya membahas hal yang berkaitan dengan kantor. Biasanya Arya tak pernah menyebutkannya kecuali kalau Dinda tanya.
“Belok kemana?”, tanya Arya.
“Ikut ke belokan rumah aja mas. Kita makan bubur ayam yang depan masjid perumahan. Mau?”
“Baiklah.”
Tak terasa, sebentar lagi mereka berdua sudah sampai di depan Masjid yang dikatakan Dinda. Tidak hanya ada tukang bubur ayam disana, tetapi juga tukang bakso dan beberapa panganan lain. Ada sekitar 10 gerobak yang berderet rapi. Area lapangannya juga luas.
Arya berusaha mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya. Dia ingin mendapatkan tempat parkir yang strategis agar lebih mudah untuk berputar saat ingin keluar area Masjid.
__ADS_1
Drrrtttt Drrrtttt
Ponsel Arya bergetar beberapa kali. Nampaknya pesan masuk. Arya kesulitan untuk bisa segera memeriksanya karena di belakang dan depan mobilnya juga ada mobil lain.
“Din, bisa tolong ambil ponsel aku di saku celana? Pesannya berturut - turut. Biasanya penting.”, kata Arya meminta bantuan.
“Harus sekarang. mas? Nanti aja kalau sudah selesai parkir.”, jawab Dinda.
“Masih beberapa menit lagi. Siapa tahu penting. Ponsel kantor.”
“Dimana?”, tanya Dinda.
“Itu kamu tarik dulu kunci yang ada di atas. Trus ambil ponselnya. Aku lipat.”, ujar Arya.
“Udah?”
“Belum, aduh susah. Sebentar. Aah.. akhirnya ketemu juga.”, kata Dinda setelah dengan susah payang mencoba mengambil ponsel nya.
“Kamu buka.”, perintah Arya.
“Hm? Gapapa?”, tanya Dinda ragu.
“Dari siapa?”, tanya Arya.
“Sandinya?”
“1901”, jawab Arya.
“1-9-0-1. Hm? 1-9-0-1?”, Dinda tersenyum karena mengingat sesuatu.
‘Tanggal pernikahan aku dengan mas Arya. Gayanya ga romantis, tapi sandi ponsel kantor dia pasang tanggal pernikahan.’, ujar Dinda senyum - senyum sendiri.
“Kenapa malah senyum - senyum sendiri? Siapa?”, tanya Arya.
“Hm. Dari Susan. Bu Susan di Business and Partner?”, tanya Dinda.
Meski dirinya tidak begitu kenal, tetapi beberapa kali dia pernah bertemu.
“Kamu balas ‘Oke. Lain kali jangan mendadak.’.”, Arya membacakan pesan teks yang ingin dia jadikan sebagai balasan agar Dinda bisa membantu mengetiknya.
“Udah. Ngomong - ngomong, mas Arya dekat dengan Bu Susan?”, tanya Dinda sambil meletakkan ponsel Arya di dashboard.
“Kenapa?”
“Hm.. terdengar sangat akrab. Bahkan Bu Susan tidak memanggil ‘Pak’.
“Dia senior aku waktu kuliah di Amerika.”
“H-hm.. berarti…”, kata Dinda menyipitkan matanya pada Arya.
“Berarti apa? Wah hujan lagi.. Aku ambil payung dulu di belakang.”, kata Arya membuka pintu mobilnya yang sudah terparkir sempurna.
“Mas Arya, tunggu.”, Dinda ingin mencegah Arya untuk keluar karena hujan.
Tapi, pria itu sudah terlanjur menghilang dari sampingnya. Beberapa saat kemudian dia muncul dari sisi pintu di samping Dinda dan mengetuknya.
“Mas Arya, kenapa menembus hujan? Nanti sakit.”
“Kalau tidak begitu, kita tidak bisa mengambil payungnya. Ya sudah turun. Jadi makan bubur ayam, gak?”
“Jadi dong. Sudah sampai disini.”, kata Dinda kembali mengenakan hijabnya.
Dinda menaruh dua tiga hijab yang lebih mudah digunakan di dalam mobil Arya. Ketika dia membutuhkannya, dia bisa lebih mudah untuk mengenakannya.
Hal yang menarik dari deretan pedagang gerobakan di depan halaman Masjid adalah adanya tenda - tenda yang dibuat rapi. Sehingga, meskipun hujan, mereka tidak perlu panik harus berteduh.
“Kalau tahu akan hujan. Aku tidak akan mengambil tempat parkiran yang jauh.”, kata Arya menyesalinya.
Arya menarik Dinda untuk lebih dekat dengannya karena mereka hanya menggunakan satu payung. Pria itu dengan santai melingkarkan lengannya di pinggang Dinda dan sedikit memiringkan payungnya agar istrinya tidak terkena hujan.
__ADS_1
Dinda yang menyadari hal itu, langsung meluruskannya kembali. Adegan geser menggeser terjadi beberapa kali sampai Dinda lelah untuk meladeninya.
“Wah ramai juga bubur ayamnya. Mas Arya mau ikut makan bubur ayam atau mau pilih yang lain?”, reaksi Dinda saat ini membuatnya terlihat seperti anak kecil.
Lucu, menggemaskan, dan lugu. Wajahnya antusias hanya karena melihat gerobak bubur ayam.
“Pak, saya pesan bubur ayam. Sambalnya dicampur ya.”
“Din.”, panggil Arya memegang bahu istrinya.
“Pak, bubur ayamnya jangan ditambah sambal ya.”, kata Arya meralat pesanan Dinda.
Seketika gadis itu langsung menoleh ke arah Arya sebagai bentuk protes. Kenapa sambal di bubur ayamnya ditarik.
“Kamu lagi hamil. Gak boleh sambal - sambal-an.”, ujar Arya dengan wajah galak.
Dinda hanya bisa memanyunkan bibirnya.
“Pak, saya tambah sate - sate-annya juga, ya.”, kata Dinda setelahnya.
“Mas Arya mau makan apa?”, tanya Dinda.
“Hm…”, Arya terlihat sangat bingung memilih.
Sambil berpikir, Arya mengarahkan Dinda untuk mengambil duduk terlebih dahulu.
“Mas Arya gak biasa ya makan disini. Jadinya bingung mau pesan apa?”, respon Dinda lesu.
“Kenapa kamu menarik kesimpulan seperti itu? Aku suka kok jajanan seperti ini. Hanya saja, sudah lama aku tidak duduk di tempat seperti ini. Rasanya aku ingin memesan semuanya. Makanya sekarang aku bingung mau pesan yang mana.”, kata Arya berdiri sambil memegang bahu Dinda yang sedang duduk.
Cuaca yang sedang dalam kondisi hujan, membuat angin semilir berhembus dan menambah dinginnya malam. Arya memegang bahu Dinda untuk memastikan kalau istrinya tidak kedinginan. Skinship - skinship tipis dan tidak ketara dari Arya membuat Dinda tersenyum senang.
“Hm.. aku mau pesan itu dan itu saja.”, kata Arya mengambil keputusan.
Dinda melihat arah telunjuk Arya. Ternyata pria itu memilih siomay bandung dan bakwan malang. Seketika Dinda juga ingin memakan makanan yang dipilih Arya.
“Ini ya mba, pesanannya. Ini kecapnya bisa tambah sendiri. Ini kerupuknya.”
“Ini ya Pak, siomaynya. Sausnya nanti saya antarkan karena masih di pakai oleh ibu di sebelah sana.”
“Ini untuk bakwan malangnya. Sambalnya, kecap, dan sausnya.”
Satu persatu pedagang menaruh pesanan pelanggannya di atas meja termasuk milik Arya dan Dinda.
Meski pesanan Dinda datang terlebih dahulu, dia menunggu Arya memulai sendokan pertamanya. Dinda terbiasa menunggu orang lain menyanduk sendok pertama mereka terlebih dahulu sebelum dia mengambil suapan pertamanya. Dinda melakukannya terutama untuk orang - orang yang lebih tua atau dihormati.
Berhubung Arya adalah suaminya. Dia sengaja menunggunya.
“Mas Arya, aku coba dong bakwan malangnya.”, seperti kilat, Dinda sudah menghabiskan hampir setengah porsi bubur ayamnya.
Kemudian, dia tertarik melihat mangkok Arya yang berisi satu porsi komplit spesial bakwan malang.
“Buka mulutnya, sini.”
“Gak mau. Bisa sendiri.”, kata Dinda menggeleng dan menolak untuk disuapi. Padahal Arya sudah siap dengan sendoknya.
“Hm?”, kata Arya bingung.
“Malu, ah. Mas Arya.”
“Aaa..”, Arya tetap mengarahkan sendoknya ke mulut Dinda.
Dinda tak menolaknya.
“Humm… enak banget. Wahh… teksturnya kental, ada rasa - rasa gurih plus asamnya juga. Enak deh. Aku boleh pesan itu juga ga?”, tanya Dinda dengan ekspresi yang antusias.
“Habiskan dulu bubur ayamnya, baru kamu pesan lagi.”, kata Arya.
Kring Kring Kring…. Ponsel Arya berbunyi.
__ADS_1
“Iya halo?”
“Pak Arya, gawat Pak.”, suara Siska memecah romantisme Arya dan Dinda malam itu.