Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 82 Sunrise


__ADS_3

Arya mengerjapkan matanya seiring dengan pagi yang menjelang. Suara burung dan beberapa hewan lainnya mengisi dinginnya pagi hari itu. Arya hanya tidur sekitar 3 jam dan bisa bangun seolah tanpa beban.


Diliriknya Dinda yang masih tenggelam di dalam selimut sambil memeluknya. Dinginnya pagi menyusup masuk meskipun mereka sudah menggunakan selimut tebal. Mungkin karena itu Dinda tak ingin ada jarak darinya dan Arya.


Kring kring kring. Ponsel Arya berbunyi memecah keheningan. Dinda seolah tak terusik dengan suara itu dan malah mempererat pelukannya.


“Halo, sudah sampai dimana kamu?”, jawab Arya. Fam yang meneleponnya.


“Udah di depan dong.. Jadi lihat sunrise gak. Aku sama Dito udah siap.”, ujar Fams girang. Meski sudah melewati perjalanan malam yang panjang, dia tak terdengar lelah. 


“Ambisius sekali kamu mau lihat sunrise?”, tanya Arya heran. Dinda tampak sedikit terusik. Dia bergerak sedikit namun masih tetap memeluk Arya.


“Hujan rintik - rintik nih. Semoga saja kita bisa dapet sunrise plus rainbow, mas. Dito juga sudah bawa kamera. Dia baru beli tipe baru. Yok, kita perawanin dulu.”, ajak Fams begitu antusias. 


“Heh, Fams. Mas Arya itu masih termasuk pengantin baru tahu. Kamu gangguin dia aja. Kali aja lagi…”, Dito ikut menimpali di belakang Fams. 


“Ohiyaa ya mas Arya? Aku ganggu ya? Duh, jadi gak enak nih sama mba Dinda.”, sahut Fams. 


“Tenang. Sudah selesai, kok. Dito cepat cari pacar, ya. Di puncak, dingin - dingin, harus ada yang menghangatkan, loh.”, balas Arya yang selalu tidak bisa kalah dari Dito.


“Ehmmm Hemmm… siapa mas Arya?”, tanya Dinda dengan suara serak - seraknya, efek suasana pagi yang dingin.


“Mereka beneran abis ngapa - ngapain, ya? Gila aja, lagi acara lamaran orang masih aja nih mas Arya.”, tiba - tiba Fams heboh karena mendengar suara serak Dinda yang mendukung bayangan di kepalanya saat ini. 


“Padahal aku cuma bercanda loh. Beneran, ya?”, ujar Dito malu sendiri.


“Kalian tunggu di depan, ya. Setengah jam lagi kita menyusul.”, kata Arya. Dia adalah tipikal yang tidak mau mengalah atau terseret dalam guyonan sepupunya. Jika bisa menambahkan MSG lebih banyak, dia tidak segan - segan untuk berakting.


*****


“Haiiii Mba Dinda, apa kabar? Ya ampun.. Makin cantik aja deh.”, sapa Fams dengan penuh semangat kala melihat Arya dan Dinda berjalan keluar pintu gerbang.


Dinda mengenakan setelan baju one piece dengan celana panjang agar bisa dengan mudah melewati trayek yang basah karena rintik hujan. Tak lupa ia mengenakan sarung tangan dan jaket milik Arya untuk menghangatkan tubuhnya. Mereka memilih untuk tidak membawa payung karena rintik hujan juga sudah mulai berkurang.


Di sebelah Dinda, Arya mengenakan sebuah celana sport berwarna hitam dan jaket. Ia tidak mengancingkan jaketnya, sehingga dada bidang di balik kaos putih tipisnya terlihat. Arya juga tidak melupakan topi kesayangannya.


“Kamu juga makin bersemangat saja, Fams. Hai Dito..”, Mereka terakhir bertemu pada pernikahannya. Setelah itu, Fams kembali ke luar kota untuk melanjutkan skripsinya. Mirip dengan Ibas, dia juga akan wisuda di periode yang sama.


“Ibas mana? Gak ikutan?”, tanya Dito.


“Dia diminta standby jadi supir di rumah. Soalnya kesehatan papa akhir - akhir ini juga kurang bagus.”, ujar Arya menjawab.


Dito dan Fams mengangguk.


“Ohiya, itu mas Edo.”, tak lama Edo, anak tante Meri dari suaminya yang pertama muncul dari arah belakang.


Dia masuk untuk mengantarkan barang - barang titipan tante Meri sebelum ikut bergabung melihat sunrise atas ajakan fams dan Dito.


“Loh, Gita gak jadi diajak, mas Edo?”, tanya Fams heran, karena Edo hanya sendirian.


“Dia capek, mau tidur katanya.”, jawab Edo.


Edo tidak datang bersama tante Meri dan suaminya karena mereka sedang berada di Kalimantan. Mereka akan naik pesawat pagi hari ini dan sampai di siang hari. Dengan jadwal seperti itu, mereka masih bisa mengejar acara lamaran di sore hari.


Arya melayangkan tatapan tajam pada Edo, dia tahu Fams dan Dito datang bersama Edo ke Villa karena ban mereka bocor. Tetapi, Arya tidak menyangka jika Fams malah mengajak Edo ikut.


Dinda menyadari tatapan ekspresi yang keluar dari Arya. Dinda tidak terlalu akrab dengan Edo. Lebih tepatnya, mereka bahkan tidak pernah berkenalan langsung, apalagi mengobrol.


“Oke, kita jalan sekarang?”, ujar Dito yang sudah siap dengan tripod dan kameranya.


“Yuk, sayang.”, ujar Arya pada Dinda. Dinda bergidik bingung dengan panggilan Arya padanya.


“Uuuu… ternyata pengantin baru sudah panggil sayang - sayangan aja nih.”, Dito kembali melayangkan guyonannya.


Arya memilih untuk tidak menggubrisnya. Dia malah meladeni Dinda yang mencari penjelasan atas panggilan manis padanya. Mereka hanya perlu mengambil jalan sedikit memutar dari arah pintu gerbang menuju ke sebuah bukit di dekat situ. Dari bukit itu, biasanya mereka bisa melihat sunrise yang muncul dari balik gunung kembar yang letaknya sebenarnya tidak saling berdekatan.


“Wahh.. ternyata ada juga ya tempat seperti ini disini.”, celetuk Dinda pada Fams yang sedang mengabadikan pemandangan diatas bukit dengan ponsel pribadi miliknya.

__ADS_1


“Iyaa dong. Pasti mba Dinda berpikir, Villa nya menyeramkan ya?”


“Haha iya.. Soalnya benar - benar tidak ada rumah lain di sekitar sini.”


“Iyaa.. Mama sudah lama beli villa ini, tapi masih terawat dengan baik.”


“Kenapa lamarannya gak di rumah? Jujur, jarang - jarang loh ada yang mengadakan pesta lamaran di villa begini. Kalau pernikahan mungkin.”, tanya Dinda pada Fams.


Disisi lain, Dito masih sibuk mengambil angle untuk berfoto. Hari mulai cerah, tetapi matahari belum terlihat. Mungkin karena awan tebal yang menutupi.


“Mas Reza itu sayang banget sama kakek dan nenek. Katanya dia, dulu mereka pernah bilang ke mas Reza, kalau dia sudah mulai serius dengan wanita, mereka mau mas Reza melamarnya disini, divilla ini.”, kata Fams.


“Oh.. jadi begitu.”


“Trus, aku dengar kamu lagi marahan sama mas Reza, kenapa?”, Dinda ingin mencoba lebih dekat dengan Fams. Maka dari itu, dia mencoba untuk bisa membuka obrolan lebih panjang dengannya.


“Fams itu cemburu Din.”, Dito membantu menjawab setelah selesai mengatur kameranya.


“Cemburu?”, tany Dinda memastikan.


“Iya, dia cemburu sama calon istrinya mas Reza.”, jawab Dito.


“Setiap diajak keluar, dia sudah gak pernah mau sekarang. Dia malah mentingin calon istrinya. Bete, kan.”, Fams menunjukkan emosinya.


“Hm.. Kamu pernah bertanya ke mas Reza? Kenapa dia selalu gak ada waktu buat kamu?”, tanya Dinda.


Fams menggeleng.


“Aku gak tahu apakah alasan kami sama. Tapi, sejujurnya aku juga pernah beberapa kali menghindari ajakan adikku Arga untuk jalan menjelang pernikahanku dengan mas Arya.”


Fams dan Dito mendadak menoleh pada Dinda. Mereka menunjukkan perhatiannya.


“Entah kenapa setiap jalan dengan Arga, aku jadi sedih. Sedih kalau nanti setelah menikah, aku ga bisa jalan lagi, sedih karena kami yang biasa berdua jadi mungkin akan jarang bertemu, sedih karena mungkin nanti gak akan tinggal serumah lagi. Entahlah, apa mungkin mas Reza juga berpikir yang sama.”, jelas Dinda.


“Apa mas Reza seperti itu?”, tanya Fams sambil menunduk.


“Coba deh sesekali kamu tanya ke dia.”, usul Dinda pada Fams.


Saat ketiga orang ini (Dinda, Fams, dan Dito) asyik berbicara, Arya juga tampak mengobrol serius dengan Edo di sisi beberapa meter dari tempat mereka.


“Kenapa kamu tidak bertanya lagi?”, kalimat pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Edo saat mengeluarkan rokoknya dari saku dan menyodorkannya pada Arya.


“Aku tidak merokok.”, jawab Arya datar.


Edo menunjukkan keheranannya pada Arya.


“Apa karena Dinda?”


“Apa ingin kamu bicarakan? Aku yakin kamu bukan orang yang ingin naik bukit untuk melihat sunrise.”, tembak Arya to the point.


“Heh.. kamu selalu menjadi orang paling cerdas di keluarga besar. Bagaimana kabar Sarah?”, tanya Edo.


“Bukankah kamu yang berhubungan dengannya sampai harus mengungkapkan aku sudah menikah?”


“Kenapa? Kamu ingin kembali dengannya sampai tidak ingin dia tahu kamu sudah menikah?”


“Jaga bicaramu, mas”, ujar Arya masih dengan bahasa dan intonasi yang sopan.


“Aku kasihan pada Sarah. Sekarang, melihat Dinda, aku juga jadi kasihan padanya.”


“Urus saja urusanmu sendiri.”


“Apa Dinda sudah bertemu dengan mantan istrimu?”


“Jika kamu membuat mereka bertemu, aku tidak akan segan menghajarmu.”, Arya menjawab dengan tegas.


“Heh.. kenapa? Bukankah seru melihat mereka bertengkar memperebutkanmu? Seperti saat Sarah bertengkar dengan mantan kekasihku?”, Edo mulai memperjelas intensinya kepada Arya.

__ADS_1


“Kamu masih saja membahas cerita lama. Buka matamu dan tanyakan pada Nia, apa pernah aku menggubris perasaannya. Kamu yang tidak bisa menjaga milikmu, kenapa menyalahkanku.”


“Kita lihat saja, bagaimana reaksimu jika suatu hari nanti, kamu tidak bisa menjaga milikmu.”, ancam Edo sambil mengarahkan pandangannya pada Dinda.


“Mas Arya, mas Edo, sunrise nya sudah muncul. Foto yuk.”, teriak Dito dan Fams.


Arya melambaikan tangannya tinggi meninggalkan Edo dan mendekati Dinda.


“Wah.. bagus banget sunrise nya mas Arya, ditambah di sebelahnya juga ada pelangi.”, ujar Dinda sangat antusias pada Arya. Arya tersenyum sambil menggandeng Dinda erat.


“Sudah dapat angle yang bagus?”, tanya Arya pada Dito setelah berhasil menikmati sunrise selama lebih dari 10 menit. Mereka menyaksikan hingga matahari itu semakin tinggi seolah melewati tinggi gunung dari kejauhan.


“Sudah dong mas. Videonya sudah aku rekam.”, jawab Dito dengan penuh semangat. Dia sudah meletakkan kameranya pada angle yang tepat dan merekam matahari, mulai dari awal terbit hingga naik seperti melampaui ke dua gunung di sebelahnya.


“Kalau begitu fotokan mas sama Dinda, ya.”, ujar Arya sambil menarik Dinda masuk dalam pelukannya.


“Eh?”, Dinda terkejut karena tiba - tiba, Arya sudah menariknya ke dalam pelukannya.


“Siapp mas. Asal cuannya di transfer ya, mas Arya.”, balas Dito tak kalah bersemangat. Dia selalu saja mencari kesempatan tambahan uang jajan dari mas kesayangannya. Meskipun ibunya adalah tante Meri, tetapi Dito lebih suka mendapatkan uang dari hasil kerjanya sendiri.


“Beres.”, jawab Arya. Arya mengambil posisi memeluk Dinda dari belakang. Mencium pipi gadis itu, menggendongnya ala bridal style, dan berbagai jenis gaya lainnya.


Dinda hanya bisa mengikuti dan terheran - heran dengan sikap Arya yang tiba - tiba begitu manis.


“Mas Arya kenapa sih? Tumben banget, tanya Dinda di sela - sela pose mereka.”


“Kok tumben. Perasaan kamu aja kali.”, ujar Arya.


Terlihat Dito dan Fams seperti memberikan kode pada Arya. Awalnya Arya tidak sadar, karena keduanya hanya menunjukkan katupan jari yang menempel. Akhirnya Arya mengerti apa maksudnya.


Arya segera menarik Dinda, memiringkan sedikit kepalanya, dan mencium bibir gadis itu. Dito langsung dengan gerak cepat mengambil gambar keduanya.


“Huwaaaa….. Romantis banget!”, sorak sorai Fams yang sudah mengambil story IG, membuat Dinda kebingungan.


“Gimana, bagus gak?”, tanya Arya menghampiri Dito bersama kameranya.


“Wah.. gak heran kamu jadi fotografer pre-wedding handal. Luar biasa sekali hasil foto kamu.”, ujar Arya.


“Iih.. mas Arya… malu..”, tutur Dinda pada Arya.


“Sejak kapan sih, mas ku ini so sweet.”, goda Fams pada Arya.


“Beruntung banget mba Dinda dapet mas Arya.”, lanjut Fams.


“Salah Fams. Yang ada, beruntung banget mas Arya dapet Dinda. Lihat nih fotonya cantik begini.”, puji Dito sambil memperlihatkan hasil jepretannya.


“Udah diapain aja sih, mba Dinda sama mas Arya.”, Fams mulai melancarkan pertanyaan sensitif.


“Apaan sih kamu.. Masih kecil.”, kata Dinda pada Fams. Padahal mereka hanya berbeda beberapa tahun saja.


Dari kejauhan, Edo hanya memperhatikan gerak gerik mereka. Dia sedikit kesal pada Dito. Memang, sejak awal dia sudah tidak suka dengan adik tirinya itu. Tapi, kedekatannya dengan Arya membuatnya bertambah iri.


“Kalian pikir, berkat siapa kalian bisa sampai sini. Kenapa mas dianggurin aja.”, ujar Edo mulai mendekati.


“Hahahaha… iya mas Edo. Mas Edo mau foto juga?”, tanya Fams yang menyadari kecanggungan Dito.


Meskipun Edo yang menjemput Dito ketika bannya pecah di tol, tetapi ide itu muncul dari Fams. Sebenarnya dia tak ingin ikut Edo. Tapi mau bagaimana lagi. Dia juga tak bisa terlalu menunjukkan jika hubungan dia dan kakak tirinya itu kurang baik.


“Dinda, kamu cantik sekali. Kita belum pernah kenalan formal, loh sebelumnya.”, ujar Edo tiba - tiba menyodorkan tangannya pada Dinda.


Dinda sedikit kaget. Meski begitu, dia tetap membalasnya dengan senyuman. Dinda mengangkat kedua tangannya yang menempel untuk menerima salam dari Edo. Bukan menyentuhnya, tetapi bersalaman dari jauh.


Edo yang sudah menyodorkan tangannya, akhirnya menarik kembali dan mengikuti gerakan tangan Dinda untuk bersalaman dari jauh.


Arya tersenyum tipis pada Edo untuk menunjukkan kemenangannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2