Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 170 Mencari Tahu


__ADS_3

Suasana malam yang hening memberikan keleluasaan bagi orang - orang untuk berpikir. Dika, pria itu sedang duduk diam di dalam ruang kerjanya. Laptop yang terletak di meja tidak menyala. Buku catatan terletak rapi. Tidak ada tanda - tanda ia melakukan pekerjaannya sama sekali.


Ia hanya duduk diam saja di ruangan yang menjadi tempat pelarian terbaik di rumahnya.


‘Jadi, istri baru Arya benar - benar Dinda, anak intern itu?’, pikirannya masih terisi dengan momen beberapa jam yang lalu di restoran. Saat mata mereka beradu pandang, Dika tak berniat menghampiri Sarah sama sekali.


Namun, saat wanita itu memilih keluar, Dika khawatir wanita itu akan membuat keributan. Tidak seperti Arya yang mungkin mengenal sisi Sarah yang berbeda, Dika bisa mengetahui karakter Sarah meski dia mengenal Sarah tak selama Arya mengenal wanita itu.


‘Dan siapa pria yang ada bersama Sarah? Aku melupakan keberadaannya tadi malam, tapi sepertinya pria itu bukan sembarang pria yang dibawa Sarah. Apa orang kantornya? Atau sejak aku jarang bertemu Sarah, wanita itu punya pria lain lagi?’, Dika berusaha mengumpulkan puzzle - puzzle yang ada di kepalanya.


Tok tok tok tok


Lamunan Dika terhenti dengan bunyi ketukan pintu.


“Iya, masuk.”, ujar Dika lembut.


Istrinya tidak ada di rumah malam ini. Sama, seperti malam - malam sebelumnya. Jadi, dia sudah bisa menduga siapa yang mengetuk pintu malam - malam begini.


“Eh, anak papa kok belum tidur?”, ketika dilihatnya bocah 10 tahun yang masuk mengintip dari balik pintu.


“Pa, aku sudah besar. Jangan sebut ‘anak papa’ - ‘anak papa’ terus.”, protes Putera, anak laki - lakinya.


“Hm? Memangnya kalau kamu sudah 10 tahun, sudah bukan anak papa lagi?”, tanya Dika berdiri dari kursinya.


“Tidak juga sih. Tapi aku malu mendengarnya. Kenapa papa tidak sebut namaku saja.”, kata Putera yang masih berdiri di pintu yang terbuka.


“Baiklah. Jadi kenapa kamu belum tidur?”, tanya Dika.


“Aku tidak mengantuk.”


“Tapi, besok kamu harus ke sekolah. Mungkin sekarang tidak mengantuk, tapi kalau kamu tidak tidur, besok kamu bisa ketiduran di kelas.”, jelasnya.


“Mama tidak di rumah lagi?”, tanya Putera.


“Hm? Kamu ke kamar mama lagi?”


“Kenapa mama jarang pulang sih, Pa? Mama tidak sayang padaku?”


“Mama sebentar lagi pulang. Mungkin dia sedang ada pekerjaan yang membuatnya lembur.”, terang Dika.


“Hampir setiap malam?”


“Kemarin mama di rumah kok. Tapi, sayangnya kamu sudah tidur. Mungkin mama tidak mau mengganggu kamu karena kamu sudah tidur.”


“Lalu, kenapa mama dan papa tidak tidur sekamar? Aku selalu lihat papa tidur di sofa.”, entah kenapa puteranya memiliki banyak pertanyaan malam ini.


“Papa tidur bareng kok. Tapi, kalau papa tidur di sofa, mungkin papa kecapekan setelah bekerja sampai larut malam. Terlalu capek untuk berjalan ke kasur. Papa juga tidak mau mengganggu mama kamu.”, Dika tersenyum sambil berjongkok menyesuaikan tingginya dengan tinggi puteranya.


“Sekarang, boleh papa menemani kamu tidur? Kamu harus tidur, supaya besok bisa berangkat ke sekolah.”


“Baiklah.”, jawab Putera tidak bersemangat.


Untuk anak sekecil itu, dia sudah bisa mengetahui apa yang terjadi di rumah meski tidak mengetahui detailnya. Setidaknya, dia sadar bahwa ada yang sedang tidak baik - baik saja.


Rianti, istri Dika juga bekerja meneruskan bisnis orang tuanya. Namun, biasanya dia lebih sering bekerja remote atau beberapa kali dalam sebulan menemui kliennya. Di luar itu, Dika tak tahu apa yang dikerjakan istrinya sampai dia harus pulang larut malam.


Hubungan keduanya tidak pernah baik bahkan sejak pernikahan. Rianti menyukai Dika tapi dia tahu pria itu tak pernah mencintainya.


********


Burung pipit sudah menandai pagi di kediaman Kuswan khususnya di kamar Arya Pradana dan istrinya. Dinda masih tertidur setelah nekad melanjutkan tidur setelah kewajiban shubuhnya. Arya sedang menatap istrinya, menunggu gadis itu terbangun.


Dinda perlahan mengerjapkan matanya karena sudah merasa terusik dengan bunyi burung pipit yang nyaring seperti sedang paduan suara. Ia membuka kelopak matanya perlahan dan langsung berhadapan dengan siluet yang dikenalnya.


Dinda mencoba mengerjapkan beberapa kali untuk memastikan apakah siluet yang dilihatnya adalah benar - benar Arya. Beberapa detik kemudian, mukanya sedikit merengut karena dirinya heran dan ingin memastikan. Tidak mungkin pria itu ada di hadapannya.


Setiap kali Dinda terbangun di pagi hari, Arya pasti sudah tidak ada di tempat tidur. Dia sudah berolahraga ringan di balkon, kemudian melanjutkan aktivitas pagi dengan mandi dan memeriksa beberapa meeting di ruang kerjanya.


Kadang dia akan turun bersama Dinda kalau gadis itu sudah siap. Tidak seperti hari ini. Dinda yang masih heran, meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Arya. Dia ingin memastikan bahwa apa yang dia lihat bukan ilusi.


“Tumben.”, itu kata pertama yang muncul dari mulutnya.


“Kok tumben sih. Seharusnya, morning sayang. Pagi!. Kenapa ‘tumben’?”, tanya Arya.


“Oh? Beneran mas Arya?”


“Ya ampun Din, kamu kira siapa? Figuran?”, tanya Arya speechless.


“Lagian, ngapain mas Arya meletakkan wajah mas Arya sedekat itu denganku? Dan satu lagi, bukankah biasanya mas Arya sudah siap pagi - pagi begini? Mas Arya gak olahraga? Memberi makan burung atau apa gitu?”, tanya Dinda sampai bangun dari tidurnya karena heran.


“Aku mau lihat istriku bangun.”, kata Arya.

__ADS_1


Dinda langsung meletakkan telapak tangannya di kening Arya.


“Mas Arya gak lagi sakit, kan? Demam? Perutnya ada yang aneh? Atau kepalanya kepentok?”, tanya Dinda sambil memeriksa sekujur tubuh Arya untuk memastikan pria itu baik - baik saja.


“Hah.. aku baik - baik saja.”


“Terus, ngapain mas Arya masih disini. Buruan mandi, setelah itu aku. Nanti kita bisa terlambat.”


“Ya sudah, untuk menghemat waktu, kita mandi bareng saja.”, ucap Arya dengan penuh percaya diri.


“Jangan aneh - aneh deh mas, sudah sana mandi.”, kata Dinda mendorong tubuh Arya agar segera turun dari ranjang.


“Kenapa? Kamu malu? Gapapa, kita matiin saja lampunya.”, kata Arya menggoda Dinda dengan nada seksi.


“Apa - apaan sih mas Arya. Pagi - pagi sudah mesum. Lagian, kalau dimatikan lampunya, memang keliatan dimana sabunnya?”, jawab Dinda.


“Oh.. berarti kamu oke dong. Tinggal kita cari aja lampu yang lebih redup biar sabunnya keliatan.


“Ih… apaan sih. Sudah sana mandi.”, kali ini Dinda melemparkan bantal ke arah suaminya.


Pria itu hanya tersenyum sambil sesekali terkekeh karena melihat wajah istrinya sudah memerah seperti tomat.


“Bilang aja mau, tapi malu.”, Arya masih membahas hal yang sama.


“Apaaan sih, aku lempar pake ini, loh.”, ujar Dinda mengambil bantal guling yang lebih padat.


Arya hanya bisa tersenyum puas. Interaksi pagi mereka cukup membuat mereka lupa dengan apa yang terjadi tadi malam.


Bagaimana mungkin semua ada di sana. Dika, Sarah, Dimas, Arya, dan Dinda. Keberadaan mereka di tempat yang sama membuka kotak pandora yang seharusnya tidak pernah ditemukan. Sudah saatnya masing - masing move on dengan kehidupan mereka.


********


“Kenapa kamu memanggilku kesini?”, tanya Dika sesaat setelah dia sampai di sebuah Cafe.


“Kamu benar - benar tidak tahu kenapa aku mengajak kamu bertemu disini?”, tanya Sarah.


Ya, setelah lama berpikir, dia akhirnya menghubungi Dika. Walau bagaimanapun, gambaran pertemuan mereka malam itu memberikan dia banyak informasi. Benar atau tidaknya, dia harus menanyakannya.


“Kamu pindah kerja ke perusahaan yang sama dengan Arya?”, tanya Sarah to the point.


Sama halnya dengan Dika yang moodnya sedang tidak enak, Sarah juga begitu. Dia merasa pria di depannya ini sudah membohonginya mentah - mentah.


“Aku rasa hubungan kita tidak sedekat itu sampai aku harus memberitahu kamu dimana aku bekerja sekarang.”, jawab Dika.


“Tidak sedekat itu? Apa definisi dekat untukmu? Apa aku harus masuk ke kartu keluargamu? Apa aku harus menjadi istrimu?”, balas Sarah.


“Okay. Let’s say kita memiliki hubungan seperti yang kamu katakan. Lalu siapa pria yang kamu bawa malam itu. Pacar barumu? Pacarmu yang kesekian? Simpananmu yang kesekian?”, kata Dika dengan nada datar namun penuh penekanan.


“Heh.. uniknya, dengan itu semua kamu masih mengejar Arya? Bahkan kamu tak segan - segan melakukannya di depan istrinya?”, lanjut Dika.


“Jawab pertanyaanku dan jangan mengalihkan pembicaraan. Kenapa kamu pindah ke perusahaan Arya? Apa yang kamu rencanakan? Bagaimanapun aku berpikir, aku tidak menemukan jawabannya.”, ujar Sarah.


“Kamu tidak perlu memikirkannya karena aku tidak punya alasan khusus untuk bergabung di perusahaan Arya. Simpel, aku hanya penasaran bagaimana sosok mantan suami yang menjadi obsesimu itu. Dan, impressive.”, jelas Dika.


“Apa maksudmu? Jangan berputar - putar.”, balas Sarah.


“Dia tidak bergeming meski dia sedang mewawancarai pria yang pernah dilihatnya berada di kamar hotel bersama mantan istrinya. Sssh…melihat dia mengejarmu sampai ke kamar hotel, aku yakin saat itu dia masih sangat mencintaimu. Tapi, setelah menyaksikan pemandangan tadi malam, I dont think that’s the case anymore.”, terang Dika.


“Sar, terima saja. You’re lost. Kamu telah menyia - nyiakan pria penting dalam hidupmu. Kamu baru sadar ketika dia sudah bersama orang lain.”, itu adalah kalimat terakhir dari Dika sebelum berdiri dan pergi meninggalkan cafe.


Dia bahkan belum memesan apapun. Sekali lagi Sarah menggebrak mejanya. Dia membuat orang - orang di sekitar memperhatikannya. Namun, Sarah nampak tak peduli dengan itu semua.


‘Sh*t, apa yang dipikirkan pria itu. Kenapa sikapnya belakangan ini jadi berubah terhadapku?’, pikir Sarah dalam hati.


Dia sama sekali tidak bisa mengetahui apa yang ada di pikiran Dika saat ini. Belakangan mereka memang jarang bertemu. Sarah mengira pria itu sedang sibuk. Tapi, alasannya mungkin lebih dari itu.


*******


“Pak Erick!.”, seseorang mengejutkan Erick yang sedang sibuk dengan treadmillnya.


Pria itu hampir saja terjatuh karena dia sedang berlari. Erick terpaksa harus mematikan mesin treadmillnya karena takut terjadi kecelakaan.


“Apa sih kamu? Bikin kaget saya saja.”, balas Erick pada Jessica.


Gadis itu pagi - pagi sudah mengganggu rutinitas akhir pekannya yang damai di gym.


“Kenapa aku jarang sekali melihat Pak Arya di gym?”, tanya Jessica.


“Aah.. Arya lagi. Lama - lama aku bisa dikira managernya. Kenapa semua orang mencari dan meributkannya belakangan ini.


“Huh? Memangnya siapa lagi yang mencari Pak Arya.”

__ADS_1


“Kamu kira cuma kamu sendiri yang mengganggunya belakangan ini?”


“Iya sih, dengan wajah tampan, body bagus, dan karir yang cemerlang, hanya wanita gila yang tidak menyukai Pak Arya.”, balas Jessica sambil memberikan gestur yang seolah - olah membanding - bandingkan antara Arya dan Erick.


“Mau kamu apa sih? Kalau mau cari Arya, telepon saja. Atau datangi ke rumahnya kalau kamu punya nyali.”, teriak Erick.


“Aku sudah mencobanya tapi tidak diangkat.”


“Ya sudah, berarti kamu di blacklist.”


“Hah? Masa sampai segitunya. Hal yang aku lakukan hanya mengirimkan pesan pada istrinya. Kenapa dia harus memblacklist. Apa aku akan diblacklist juga kalau aku melamar lagi di perusahaan?”, tanya Jessica kali ini dengan nada serius.


“Dia professional, mana mungkin dia memblaklistmu dari perusahaan. Maksudku dia hanya memblacklistmu… tunggu.. Apa kamu bilang? Mengirimkan pesan pada istrinya?”, tanya Erick heran.


“Hm.. aku hanya iseng dan ingin tahu saja. Jadi aku mengirimkan pesan pada istrinya.”


“Istrinya?”


“Dinda. Aku lihat nomornya di ponsel Pak Erick tempo hari. Beberapa hari setelah aku mengirimkan pesan pada istrinya, aku bertemu dengan mereka di bioskop tanpa sengaja. Aku benar - benar tidak stalking. Itu murni kebetulan, tapi Pak Arya langsung mengirimiku pesan yang mengerikan.”, ujar Jessica.


“Padahal saat bertemu dia terlihat sangat ramah.”, lanjut Jessica.


“Dia siapa?”, tanya Erick.


“Pak Arya, aku rasa dia tidak tahu kalau aku yang mengirimkan pesan itu karena aku menggunakan nomor lain. Tapi setelah menerima pesan mengerikan darinya, aku jadi berpikir sepertinya selama ini dia tahu kalau aku yang mengirimkan pesan itu. Bulan depan aku rencana ingin melamar di perusahaan, apa Pak Arya akan menjadikan ini sebagai alasan untuk mencoret namaku?”, tanya Jessica khawatir.


“Karena itu kamu mau minta maaf padanya?”, tanya Erick.


“Hm. Aku hanya iseng.”, ucap Jessica.


“Aku yakin itu bukan iseng. Memangnya apa pesan yang kamu kirim ke istrinya.”


“Aku tidak perlu menceritakan hal itu ke bapak. Begini saja, kalau Pak Erick melihat mas Arya datang kesini, tolong beritahu aku.”, kata Jessica memohon.


“Siapa? Aku? Memangnya aku kurang kerjaan mempertaruhkan keberlangsungan hidupku dengan membantumu bertemu dengannya. Sudah, sudah, kamu cari cara sendiri.”, Erick langsung melanjutkan treadmillnya dan mengabaikan Jessica.


*******


Beberapa waktu ini, Dika menjadi anak yang patuh pada Rima dengan tidak mengunjunginya ke rumah sakit. Namun, pertemuan dengan Sarah kali ini membuatnya jadi emosi dan ingin seseorang yang bisa mengembalikan moodnya. Setelah berpikir lama, dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.


Dika berkeliling di area prakter dokter Rima namun dia tidak menemukannya. Seharusnya, hari ini dan jam segini adalah jadwal prakteknya.


“Permisi, saya mencari dr. Rima, apa hari ini beliau tidak bertugas?”, karena lelah mencari, akhirnya Dika memutuskan bertanya pada resepsionis.


“Mohon maaf, untuk keperluan apa? Untuk saat ini dr. Rima memang sedang tidak bertugas. Namun, kami bisa merekomendasikan dokter lainnya yang sedang available. Apa untuk memeriksa kandungan istri Bapak?”, tanya resepsionis tersebut.


“Hm.. tidak perlu. Terima kasih. Nanti saya akan datang lagi.”, ujar Dika langsung pergi.


Padahal resepsionis ingin menawarkan untuk melakukan pendaftaran awal untuk praktek dr. Rima berikutnya.


‘Apa dia mengganti jadwal prakteknya karena aku sering datang menemuinya, ya?’, pikir Dika yang memutuskan untuk kembali saja hari ini.


Mungkin dia bisa menemuinya lain kali.


Tanpa Dika sadari, Sarah sedari tadi membuntutinya. Awalnya, dia memang sedang mengemudi ke arah yang sama dengan Dika. Namun, melihat pria itu tidak berbelok ke kiri yang berarti rumahnya, dia malah berbelok ke kanan.


Rasa penasaran membuat dirinya berakhir disini.


‘Rumah sakit? Bukan rumah sakit umum biasa tetapi Ibu dan Anak? Memangnya Rianti istrinya hamil lagi? Tidak mungkin, hubungan mereka kan kurang baik.’, pikir Sarah.


“Permisi, boleh tahu pria yang tadi menanyakan apa ya?”, tanya Sarah.


“Kalau boleh tahu hubungan Ibu dengan Bapak yang tadi apa?”, tanya resepsionis tersebut.


“Saya.. saya istrinya.”, jawab Sarah berbohong.


“...”, resepsionis itu terlihat bingung karena mengapa suami istri malah datang terpisah.


“Ah.. hubungan kami sedang tidak baik.”, ujar Sarah tersenyum.


“Oh baik. Beliau menanyakan apakah dr. Rima praktek hari ini. Berarti Ibu ya, yang mau periksa dengan dr. Rima? Mungkin bisa saya jadwalkan sekarang kalau ibu bersedia?”, ujar resepsionis tersebut.


“dr. Rima?”, tanya Sarah bingung.


“Ya. Beliau adalah salah satu dokter kandungan terbaik di RS ini. Maaf, apa ibu benar ingin memeriksakan kandungan?”, tanya resepsionis lagi.


“Terima kasih.”, jawab Sarah lalu langsung pergi.


Resepsionis tersebut kebingungan dengan tindakan dua orang tadi.


“Hm.. apa mereka benar - benar bertengkar, ya. Sama - sama aneh.”, celetuk resepsionis itu.

__ADS_1


‘Dokter kandungan? Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Dika yang aku tidak tahu?’, pikir Sarah dalam hati.


__ADS_2