
Siska dan Arya terlibat meeting dengan management hari ini. Mulai dari pukul 10 pagi hingga menjelang jam makan siang. Banyak sekali poin penting yang harus dicatat pada meeting kali ini. Terutama hal - hal yang berkaitan dengan langkah selanjutnya yang perlu dilakukan.
Selama menghadiri meeting, Siska tidak memiliki kesempatan untuk memeriksa ponselnya sama sekali. Dia kembali dari meeting lebih dulu dibandingkan dengan Arya. Pria itu masih terlibat diskusi intens dengan para management.
“Oh tidak. Apa - apaan sih ini?”, tanya Siska kaget saat mengetahui ada gosip liar yang beredar.
Jika Andra memiliki intel terkait isu dan gosip yang menyebar, hal yang sama juga dimiliki oleh Siska. Dia juga memiliki intel yang bisa memberitahu padanya gosip dan rahasia apa saja yang sedang terjadi di divisi Business and Partners.
Bahkan, Siska sebenarnya bisa mendapatkan informasi dari berbagai divisi di perusahaan. Arya lah yang menyambungkan mereka pada Siska. Tidak seperti yang lain, Arya membutuhkan informasi ini agar dia bisa mengetahui apa yang terjadi dan apa pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan.
Uniknya, apapun yang terjadi dan Siska tahu, Arya melarangnya untuk mengambil tindakan.
Biasanya, Arya akan memutuskan apa langkah yang harus dia lakukan untuk setiap berita yang ada. Termasuk gossip liar satu ini.
Meski geram, Siska harus bersikap seolah tidak terjadi apa - apa pada rekan - rekan satu kantornya yang lain.
Mau bagaimana lagi, dia harus mematuhi perintah bosnya.
*******
Kring Kring Kring
Ponsel Arya berbunyi. Saat ini, dia masih berada di dalam lift yang akan membawanya menuju lantai divisinya.
Siska’s calling…..
Begitu yang tertulis di layar ponsel Arya.
Pintu lift terbuka di lantai yang ia tuju. Arya keluar dengan santai kemudian mengangkat telepon dari Siska.
Dinda juga ikut keluar karena dia memang membawa bekal makanan hari ini. Jadi, dia berencana untuk makan saja di pantry. Seseorang dari belakang ikut turun.
“Fas, kenapa kamu turun?”, tanya rekan satu divisinya.
“Duluan saja.”, jawab Fas santai dan pintu lift tertutup.
Dinda tentu saja terkejut mendengar nama Fas dipanggil.
“Fas?”, tanya Dinda kaget melihat temannya itu.
Tadinya, pandangan Dinda tertuju pada Arya yang sudah berjalan ke arah pintu yang satunya. Arya tampaknya sedang menerima telepon dengan serius sampai dia tidak berbalik.
‘Ya, di kantor kan dia adalah Pak Arya.’, pikir Dinda dalam hati.
“Kamu tadi sedang apa dengan Pak Arya?”, tanya Fas yang sedari tadi ingin bertanya.
“Oh? Aku? Aku kenapa?”, tanya Dinda pura - pura tidak tahu.
“Tadi, di depan pintu lift. Aku tidak salah lihat kan? Pak Arya memeluk kamu? Pemandangan apa itu? Sepertinya kamu harus menjelaskannya untuk menghilangkan rasa penasaranku.”, kata Fas to the point.
“Aa-ah… tadi.. Ehm.. tadi.. Aku tidak sengaja terpeleset dan kebetulan Pak Arya ada disitu. Hanya kebetulan saja. Benar, ha-ha, seperti film saja ya. Bisa pas saat pintu lift terbuka.”, jawab Dinda dengan tawa renyahnya yang canggung.
“Em? Kenapa kamu jadi berkeringat?”, tanya Fas lagi.
“Berkeringat? Mana mungkin. Disini kan ruangan ber AC. Kamu tidak ikut makan dengan teman satu divisimu? Sepertinya mereka memanggilmu tadi.”, Dinda mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya, perempuan yang tadi berambut panjang dan berbaju hijau sedang ulang tahu. Dia ingin mentraktir kami di salah satu restoran di mall depan. Aku harus pergi sekarang.”, kata Fas.
“Iya.. kamu sepertinya harus segera menyusul. Sayangkan, kalau kamu melewatkan traktiran gratis.”, kata Dinda membantu menekan bel agar Fas bisa segera turun dan tidak memberikan pertanyaan apa - apa lagi padanya.
“E-em? Kenapa aku merasa kamu sedang mengalihkan topik pembicaraan?”, tanya Fas bingung.
“Ah? Tidak, kamu hanya berpikir berlebihan. Nah, itu liftnya sudah datang. Jam makan siang, jarang - jarang bisa mendapatkan lift kosong. Kalau begitu, selamat makan enak, Fas.”, kata Dinda melambaikan tangannya.
‘Hah.. lagian, memang benar kan seperti film saja. Kenapa liftnya terbuka disaat yang sama dengan situasi mas Arya menarikku ke pelukannya? Siapapun pasti akan berpikir kalau itu hanya kebetulan.’, pikir Dinda dalam hati.
Dia lantas melanjutkan langkahnya menuju kursinya untuk mengambil bekal dan membawanya ke pantry. Dinda harus memakan bekal itu sampai habis karena Bi Rumi sudah menyiapkan banyak sayuran dan buahan sehat agar memberikan nutrisi yang bagus untuk bayinya.
__ADS_1
Sementara itu Arya….
“Iya, Sis?”, tanya Arya sambil menolehkan pandangannya ke belakang untuk sekedar mengecek Dinda.
Saat Arya menoleh, Dinda sudah menoleh ke arah sebaliknya.
“Ya sudah, kamu ke ruangan saya sekarang.”, kata Arya sambil menutup ponselnya.
Siska meletakkan ponselnya yang menunjukkan foto dimana Arya mencium seorang wanita. Situasi di sekelilingnya sedikit gelap. Hanya ada cahaya - cahaya kecil yang membuatnya terlihat seperti di sekitaran klub.
“Terus?”, kata Arya begitu melihat foto itu.
“Foto ini sekarang tersebar hampir di semua ponsel tim Business and Partners.”, kata Siska memberikan informasi.
“Ya sudah. Biarkan saja. Poin - poin yang tadi kamu catat di meeting dengan management, kamu kirim ke saya via email. Ingat, berikan action points yang jelas agar saya langsung menyiapkannya. Data untuk presentasi saat CEO Town Hall, sudah kamu kumpulkan?”, tanya Arya menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Pak Arya tidak mau mempermasalahkan foto yang tersebar ini?”, tanya Siska yang masih tidak berpindah dari topik sebelumnya.
“Do we have time for that? Sekarang kembali ke meja kamu. Have lunch and come back to me with two emails. Action points and Data. Got it?”, kata Arya dengan tatapan serius.
Ia nampak sama sekali tidak mempermasalahkan foto tersebut.
********
“Heh Din, dari mana saja kamu? Sudah makan siang?”, tanya Delina.
“Iya sudah mba. Tadi aku bawa bekal jadi langsung makan di pantry.”, jawab Dinda.
“Heh, kamu sudah tahu belum? Ada gosip terbaru.”, kata Delina.
“Gosip apa?”
“Heh – heh.. Kerja, kerja. Gosip, gossip. Kalau mau gosip di rumah.”, tiba - tiba Rini menghentikan pergerakan mulut Delina yang sudah mau mengeluarkan berita fantastis yang didengarnya.
Keduanya refleks langsung kembali pada posisi sempurna di meja kerja. Delina mulai melihat dokumen yang harus dia selesaikan hari ini dan Dinda memeriksa email.
“Belum, Din. Sepertinya baru bisa besok.”, ujar Delina.
“Beliau M-I-A hari ini.”, kata Andra tiba - tiba ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka.
“M-I-A?”, tanya Dinda bingung apa maksudnya.
“Missing in Action. Pak Dika TIDAK ADA di kantor sedari pagi. Padahal sudah ada segunung dokumen yang harus dia tanda - tangani. Pak Erick sedang pusing sekarang. Dia mencoba menghubungi Pak Dika tetapi tidak pernah tersambung.”, terang Andra.
“Seriusan? Tanpa kabar? Kemana dia? Iya sih beliau Kepala Divisi, tapi masa baru masuk aja sudah absen begini? Mendingan Pak Arya kemana - mana.”, kata Delina.
“Eits eits… itu jelas statement berbahaya. Yakin, mau balik ke Pak Arya lagi? Mau under pressure lagi?”, kata Andra.
“Tapi, selama dengan Pak Arya, memang ada pekerjaan yang gak selesai. Kamu ingat ga kasus dimana Dinda diomelin sama divisi sebelah? Beliau juga back-up full.”, kata Delina.
“Hah.. gimana dong, baru ingat.”, kata Dinda panik.
“Kenapa Din?”, tanya Delina dan Andra juga ikut terkejut.
“Yang minta laporan itu mba, dia adalah orang yang sama yang dulu mengamuk disini karena laporannya telat. Bagaimana dong?”, kata Dinda panik.
“Maksud kamu? Yang waktu itu, dia lagi sekarang?”, tanya Delina memastikan.
Dinda mengangguk.
“Tenang, Din. Kan bukan kamu yang salah. Laporannya sudah kamu buat dan Pak Dika-nya belum tanda tangan. Beda cerita dengan yang sebelumnya.”, Andra berusaha memberikan pendapatnya dan menenangkan.
“Tapi kalau melihat wataknya dia, sepertinya dia juga pasti akan marah - marahnya ke Dinda.”, ujar Delina sambil menghadapkan kursinya ke arah meja tengah.
“Bry-Bryan. Sini sebentar deh.”, panggil Andra.
“Kenapa?”, tanyanya.
__ADS_1
“Pak Erick mana?”
Bryan hanya mengangkat bahunya.
“Aah, dia kemana lagi. Mba Rini? Tadi perasaan masih ada.”
“Mba Rini baru aja ke ruangan meeting.”
“Meeting terus.”
“Namanya bos, beda.. Posisinya sudah lebih senior.”, jawab Delina.
“Ya sudah Din. Nanti kalau itu orang ngamuk disini, kita bantuin kok. Orang Pak Dikanya memang tidak ada, ya mau bagaimana.”, kata Delina menenangkan.
“Eh, Andra. Jadi gimana kabarnya yang gosipnya Pak Arya?”, Delina, wanita ini memang sangat ahli berpindah topik.
“Hush, jangan berbicara terlalu keras.”, kata Andra menutup mulut Delina.
Di divisi DD sendiri, Andra baru mengatakannya pada Delina saja. Saat dia ingin menyebarkannya ke yang lain, perkataan Rini terngiang - ngiang di kepalanya sampai membuat dirinya tidak berani untuk mengatakannya.
Lain kasusnya dengan Delina. Dia sudah mengetahuinya dari bisik - bisik di toilet wanita. Tapi, karena hanya mendengarkannya setengah, dia penasaran dan bertanya pada Andra. Dari situlah dia bisa tahu.
“Aku memberitahumu karena kamu meminta. Kenapa sekarang kamu malah ember.”, kata Andra panik.
“Tentang Pak Arya? Gossip apa?”, tanya Dinda yang juga ikut penasaran.
Seketika Bryan langsung menoleh pada Dinda.
“Jangan menyebarkan gossip yang tidak benar.”, kata Bryan.
“Kalau benar, itu fakta namanya bukan gosip.”, ujar Delina.
“Jangan pernah meragukan validitas berita dariku.”, kata Andra tidak terima.
Dia paling merasa tertantang jika ada yang meragukan kebenaran berita darinya.
“Ini.”, akhirnya, tanpa berpikir panjang, Andra yang merasa tidak terima dengan pernyataan Bryan langsung meletakkan ponselnya yang berisi foto Arya di hadapan yang lain. Ya, foto Arya yang seperti sedang mencium seorang wanita.
“Darimana kamu dapat foto ini?”, tanya Dinda. Dia tidak bisa mengatur ekspresinya. Dia kaget, bingung, heran, dan tak lama rasa cemburu dan marah masuk dalam dirinya.
‘Tidak mungkin mas Arya seperti itu, kan? Foto itu pasti tidak benar.’, ujar Dinda dalam hati. Wajahnya menegang.
“O-oh… tidak seperti kamu Din. Biasanya kamu tidak tertarik dengan hal - hal seperti ini. Ehm…”, kata Andra menyipitkan matanya seolah - olah di merasa curiga.
“Darimana kamu dapat foto ini?”, tanya Dinda lagi.
Ekspresinya tidak santai, namun yang lain mengartikan sikap Dinda seperti orang yang sedang penasaran. Hal yang tidak biasa.
“Oh tenang - tenang, Din. Semua orang di Business and Partners juga dapat kok fotonya. Asalnya tentu saja kita tidak tahu. Yang jelas, Pak Arya sudah punya pacar. Wah… pantas auranya terlihat lebih berbeda sekarang.”, kata Andra kembali menambahkan pendapatnya mengenai foto yang dia dapat.
Setelah mendengarkan penjelasan Andra. Dinda pergi begitu saja dari sana. Saat ditanya Delina dia mau kemana, Dinda tak menjawab. Bryan mencoba mengikuti Dinda dari belakang.
“Din, kamu mau kemana?”, tanya Bryan yang masih mengikuti dari belakang.
“Bukan urusan kamu.”, kata Dinda dengan nada yang jutek.
Benar - benar hal yang tidak biasa dari seorang Dinda.
“Din, tunggu.”, Bryan menarik lengan Dinda.
Mereka sedang di lorong yang menghubungkan area divisi mereka dengan area di sebelahnya yang sebagian diisi oleh tim IT. Di daerah situ juga terdapat toilet.
Dinda berusaha menarik tangannya. Tidak ada siapa - siapa disana.
“Seharusnya, sejak awal kamu memilih berkencan dengan pria itu. Kamu sudah tahu dia bagaimana. Kamu benar - benar tidak memikirkan kalau suatu saat dia akan seperti ini?”, kata Bryan.
Dinda menoleh dan menatap Bryan tajam. Dinda seolah ingin berkata sesuatu tetapi dia akhirnya tidak mengatakan apa - apa dan berbelok masuk ke toilet wanita. Tentu saja, Bryan tidak bisa mengikutinya sampai sana.
__ADS_1