Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 228 Bagaimana keadaan istri saya Dok?


__ADS_3

Tidak hanya divisi Business and Partners saja yang gempar. Divisi Digital and Development tidak kalah chaosnya. Apalagi sumber dari pertengkaran di bawah. Apalagi yang menjadi sumber pertengkaran adalah bos mereka sendiri yakni Dika.


Bukan hanya karena kenyataan bahwa istri Dika melabrak salah satu intern di  divisi mereka tetapi juga penyebab dari pelabrakan itu.


“Jadi, istri Pak Dika datang ke kantor, dalam rangka melabrak seorang pelakoryang diduga adalah Dinda? Make sense ga sih ini? Dinda Lestari anak intern di divisi Digital and Development dituduh menjadi selingkuhan Pak Dika?”


“Sampai disitu saja sudah cukup bikin kita spot jantung. Terus, ada kelanjutannya lagi dimana Dinda Lestari, Intern Digital and Development ternyata sudah menikah dengan Arya Pradana, Kepala Divisi Business and Partners, dan dia turun ke bawah untuk mengklarifikasi kalau istrinya tidak berselingkuh?”


“Wah… apa aku benar -benarsedang berada di dunia nyata sekarang? Atau aku hanya bermimpi. Atau jangan - jangan ini cuma prank?”


Tidak hanya satu gosip besar yang masuk tetapi mereka seperti sedang dilemparkan bom molotov berkali - kali. Perdebatan itu mereka lakukan setidaknya dalam waktu 15 menit setelah kejadian.


Namun, tak berapa lama, Pak Erick langsung datang menghampiri dan membubarkan forum. Alhasil sekarang mereka sedang bekerja, tetapi pikiran mereka melayang kemana - mana. Setiap kali Pak Erick atau Rini bangun dari kursi mereka untuk meeting atau sekedar ke toilet dan membuat kopi, forum dadakan tiba - tiba langsung terbentuk dan bahasan mereka tentu saja masih sama.


“Tapi, Dinda? Aku masih tidak paham. Bagaimana ceritanya? Pak Arya pacaran dengan Dinda?”


“Pantesan selama ini Dinda seperti selalu jaga jarak. Tiap didekati selalu saja bawaannya pasti langsung kasih gap duluan. Terus dia juga terlihat lebih konservatif setiap membicarakan tentang gosip Pak Arya.”


“Tapi, tipe Pak Arya gitu… Gosipnya kan dia sering banget ke klub malam, minum sampai mabuk bareng cewek - cewek klub. Terus bagaimana ceritanya Dinda mau sama pria seperti itu.”


“Tajir mungkin. Pak Arya kan tajir mampus. Dia memang tajir, tapi tahu gak sih sebenarnya dia itu lebih tajir dari kelihatannya. Dia itu ahli banget main saham. Gajinya besar, background keluarganya… ehmm, untuk itu aku tidak tahu sih.. Tetapi beliau memang Businessman sejati.”


“Betul - betul. Gosip yang aku dengar dari beberapa orang di business and partners, pak Arya itu memiliki banyak investasi di bidang properti. Jadi, selain memang beliau jago main saham dengan modal gajinya dia yang memang sudah tinggi. Dia juga investasi di properti seperti Villa, apartemen, dan ruko.”


“Tapi masa sih, Dinda mau karena kekayaannya. Dinda kan kalau kita kenal sehari - hari juga bukan tipe cewek yang seperti itu. Plus dia juga orangnya gak hedonis. Barang - barang yang dia pakai juga ya.. Berkualitas tapi yang masih sesuai standar biasa. Gak yang mahal - mahal banget dan bermerek juga.”


“Guys, ada yang bilang, Dinda lagi hamil.”


“Eh masa? Masa? Tahu dari mana?”


“Ada yang melihat dan menduga Dinda segera dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan.”


“Hem.. apa jangan - jangan si Dinda mau aja diajak tidur sama Pak Arya lagi sampai akhirnya dia hamil dan akhirnya menikah.”


“Hush.. sembarangan aja kalau ngomong. Kalau itu tidak benar. Kamu itu sudah termasuk fitnah orang loh. Dosanya besar.”


“Yaa.. kan siapa tahu. Masa sih Pak Arya level sama yang modelan Dinda.”


“Memangnya Dinda kenapa? Dia itu cantik tahu.. Kamu kira selama ini gak ada yang mengincar Dinda? Lihat aja di divisi Business and Partners yang suka manggil - manggil Dinda bertanya Smart Report. Modus doang buat deket - deket.”


“Si Andra, Bryan, sama ada beberapa di divisi ini pasti yang suka sama Dinda, kan. Ngaku aja..”


“Siapa tahu mereka memang sudah saling kenal dan menikah.”


“Terus, kenapa harus sembunyi - sembunyi? Hem… atau jangan - jangan sebenarnya Dinda itu masuk perusahaan ini karena Pak Arya? Nepotisme? Bisa ditarik tuh status internnya dan dikeluarkan.”


“Hush.. belum tentu juga. Kamu jangan sok tahu.Sensi banget kayanya sama Dinda.”


“Gak mungkin deh. Soalnya Pak Arya juga objektif banget walaupun itu Dinda. Dia juga kan pernah diomelin beberapa kali.”


“Ya.. berarti saat itu mereka belum kenal terus si Dinda rayu - rayu Pak Arya, tidur bareng. Boom.”


“Helloooo… memangnya Pak Arya tipe yang seperti itu. Ada yang bilang, meskipun Pak Arya memang senang di klub, dia pulang sendiri, kok. Gak pernah bawa cewek.”


“Pak Erick…. Pak Erick…”


Begitu mencium bau - bau kedatangan Erick, mereka langsung kembali ke kursi mereka masing - masing dan bersikap seolah tidak terjadi apa - apa.

__ADS_1


“Perhatian ya. Saya tahu kalian sedang heboh membicarakan apapun yang saat ini sedang terjadi. Saya berharap kalian bisa lebih profesional, tidak menyebarkan informasi yang tidak benar, dan kembali bekerja seperti biasa. Saya yakin HR juga akan segera merilis informasi segera. Tentunya informasi yang benar dimana mereka akan bertanya dulu kepada pihak - pihak terkait. Jadi, sebelum kalian menyakiti orang lain dengan gosip kalian, sebaiknya diam saja dan lanjut bekerja. Mind your own business. Kalian dibayar perusahaan untuk bekerja bukan untuk bergosip.”, tegas Erick sebelum kembali ke kursinya, mengambil tas dan laptop kemudian lanjut ke ruang meeting.


Semua orang yang ada disana langsung menelan ludah. Tak berapa menit setelah Erick naik menggunakan lift ke lantai atas, Andra baru saja keluar dari lift dengan wajah lesu. Pandangannya kosong. Di belakangnya ada Bryan yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya.


Dia berhenti sebentar di dalam mobilnya untuk mencoba menghubungi dan mengirim pesan pada Pak Arya, menanyakan apakah Dinda baik - baik saja. Dia mencoba melihat rekaman yang tersebar kembali dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Bryan masih belum bisa melepaskan pikirannya dari insiden yang tidak begitu jelas dilihatnya tadi. Daripada naik menggunakan lift, Bryan memilih untuk menggunakan tangga. Disitulah dia tanpa sengaja mendengar percakapan Dika dari tangga bawah. Jaraknya antara Dika saat itu mungkin hanya berbeda satu deretan anak tangga saja.


Bryan menghentikan langkahnya begitu mendengar suara Dika dan berusaha untuk menguping.


“Kamu yang melakukannya?”, tanya Dika segera setelah seseorang di seberang sana mengangkat teleponnya.


“Kamu tahu? Kamu hanya akan membuat Arya semakin membencimu. Hah… aku tidak tahu lagi tentangmu. Arya benar. Sarah yang dulu sudah menghilang. Kamu benar - benar sudah menjadi pribadi yang baru dan jahat.”


“Arghhhhh…”, kemudian Bryan bisa mendengar dengan jelas bunyi handpohone yang dilembarkan ke lantai.


*******


Arya, pria itu menanti dengan cemas di kursi. Begitu sampai di rumah sakit terdekat, Arya langsung berteriak meminta pertolongan dokter yang berjaga di UGD. Dinda langsung di bawa ke dalam karena adanya kucuran darah di kakinya dan dia juga saat itu masih dalam keadaan pingsan.


Arya, pria itu tidak diizinkan untuk masuk dan hanya bisa menunggu di luar. Entah apa yang dilakukan dokter di dalam. Sesekali Arya berdiri dan mengintip kemudian duduk kembali.


Tangannya terkadang ia kepalkan kuat menahan emosi yang masih menguasai dirinya. Pikirannya tidak pernah se kalut ini. Dia kira Dinda tidak apa - apa. Kenapa dia tidak bisa menyadari ada yang tidak beres dari istrinya. Kenapa Arya terlambat menyadari dan malah fokus menghajar Dika.


Arya memijat pelipisnya. Tangannya ia kepalkan kuat. Ponselnya bunyi berkali - kali karena setelah meeting online tadi, sebenarnya dia harus mengikuti meeting yang lain bersama klien di luar.


Tak ada yang bisa Arya pikirkan lagi selain keselamatan istrinya saat ini. Tidak ada. Tidak ada yang lebih penting dari itu.


“Ar..”, Dimas datang menyodorkan sebuah minuman kaleng ke hadapan Arya.


Arya mengangkat wajahnya dan melihat pria itu sebentar. Dia tidak mengambil minuman itu dan kembali menatap frustasi ke bawah.


Arya tidak berkomentar apapun. Tenaganya hilang. Dia hanya ingin segera tahu bagaimana kondisi Dinda sekarang. Tak lama pintu otomatis terbuka dan seorang dokter keluar.


Beliau menjelaskan kondisi Dinda, bagaimana dia datang. Bagaimana hal fatal yang bisa saja terjadi jika dia tidak segera mendapatkan pertolongan. Bagaimana kemudian penyebabnya. Dan berbagai istilah medis lain yang tidak dimengerti oleh Arya.


Di kepalanya yang dia inginkan saat ini hanya satu. Apakah Dinda selamat? Hanya itu. Meski di lubuk hati Arya dia juga ingin bahwa bayinya juga selamat dan tidak terjadi apa - apa padanya. Tapi Arya merasa sangat takut untuk berharap banyak.


Dokter kembali menjelaskan lagi beberapa penanganan yang dilakukan yang Arya tidak paham.


“Untuk saat ini, kondisi istri Bapak stabil, begitu juga dengan bayinya. Bapak tidak perlu khawatir. Perawat akan membawa Bu Dinda segera ke ruang perawatan. Dia mungkin akan sadarkan diri dalam waktu beberapa jam. Untuk beberapa hari ke depan, biarkan dia untuk bedrest di rumah sakit sebelum di bawa pulang.”, ujar Dokter menjelaskan setelah berbagai penjelasan rumit yang ia coba sampaikan sebelumnya.


Kaki Arya melemas saking perasaannya yang merasa sudah lebih tenang sekarang. Dia benar - benar sangat takut.


“Terima kasih, dokter. Terima kasih.”, ujar Arya menjabat tangan dokter tersebut.


Tak berapa lama, Perawat mendorong tempat tidur Dinda keluar menuju ke kamar perawatan. Arya langsung permisi pada dokter tersebut dan mengiringi Dinda.Arya menatap istrinya yang masih tertidur. Wajahnya jelas pucat.


Arya memegang tangan Dinda sebentar sebelum memasukkannya kembali ke balik selimut. Kamar perawatan berada di lantai dua.


“Sus, maaf.. Ruangannya yang sendiri atau?”, tanya Aryamemastikan.


“Hm.. sharing dengan 4 orang pasien lainnya, Pak.”, jawab perawat tersebut.


“Boleh saya request satu ruangan sendiri?”


“Hm.. sebentar saya coba cek ke bagian administrasi dulu ya Pak. Kami cek ketersediaan ruangan.”

__ADS_1


Perawat tersebut berdiskusi dan akhirnya mendapatkan satu ruangan sendiri. Berada satu lantai berbeda dengan ruangan yang tadi. Dimas mengikuti di belakang. Dia tahu, Arya mungkin saja tidak menyukainya, namun Dimas juga ikut mengkhawatirkan keadaan gadis itu.


“Dim, thanks buat tumpangannya. Lebih baik kamu kembali.”, ujar Arya tetap tenang.


Dimas tahu betul bagaimana aura dingin Arya lewat kata- kata itu.


Begitu Dinda dibawa ke dalam lift menuju lantai atas, Dimas tidak lagi mengikutinya.Dia menghargai permintaan Arya untuk tidak disana.


Dimas mengangguk. Seiring dengan tertutupnya pintu lift, Dimas kembali berjalan dan mengambil minuman yang tadi dia beli untuk Arya namun tak diterima oleh pria itu.


‘Hum.. Right.. I hurt you so bad. I backstabbed you.’, ujar Dimas sendu di dalam hati.


Jujur, dia sering merindukan momen - momen tahun pertama mereka berkuliah di Amerika. Terlebih beberapa minggu awal dimana mereka belum bertemu dengan Sarah. Minggu - minggu dimana Dimas tidak tahu sama sekali kalau Sarah juga berkuliah disana.


‘I shouldn’t have had that feeling towards Sarah. I shouldn’t.’


‘If only I could turn back time.’, ucap Dimas dalam hati sambil memegang minuman tersebut.


*********


“Halo, Ibas? Hm.. kamu dimana sekarang?”, tanya Arya pelan.


“Masih di kantor, mas. Sebentar lagi balik. Kenapa? TUmben tanya? Meeting telat lagi? Suruh aku jemput Dinda?”, tanya Ibas sudah paham bagaimana pattern kakaknya yang tidak pernah menghubunginya kecuali karena ada maunya. 


Sebenarnya sama seperti dia juga.


“Kamu jangan bilang - bilang sama mama, ingat?”, ucap Arya memberikan titah pada adiknya dan memperingatkannya terlebih dahulu sebelum benar - benar mengatakan apa maksudnya.


“Apaan sih mas? Pakai rahasia - rahasia-an segala. Bikin deg- de-an aja.”, ujar Ibas bingung. 


“Kalau kamu nanti pulang ke rumah, minta tolong Bi Rumi untuk ambilkan pakaian mas dan Dinda untuk dua hari. Hm.. kamu ambil bantal, selimut, terus baju dingin Dinda. Sama lotion dia jangan lupa. Terus tablet mas, hari ini mas ga bawa.”, ujar Arya dengan serangkaian permintaan lainnya.


“Uh? Mas mau pindahan? Ambil aja sendiri. Ngapain nyuruh - nyuruh aku dan Bi Rumi.”, protes Ibas. 


“Dinda masuk rumah sakit. Kita akan disini beberapa hari.,,”, belum lagi Arya menyelesaikan kalimatnya, Ibas sudah teriak seperti orang gila.


“Oh? Kenapa mas? Siapa yang sakit? Mas Arya? Dinda? Dinda kenapa? Jatuh? Bayi nya gimana? Dinda gimana? Mas, aku perlu kesana ga? Itu di rumah sakit mana? Bagaimana keadaannya.”


“Heh, heh , heh.. Mas ada di rumah sakit terdekat dari kantor. Kamu tahu kan yang dekat dengan apartemen. Bukan apartemen mas, tapi apartment lain yang ada club lounge nya di atas. Kamu jangan bilang - bilang mama ya. Mas akan bilang mama kalau nanti kondisi Dinda sudah mulai membaik.”


“Tuhkan, Dinda yang sakit. Kenapa mas?”, tanya Ibas ikut khawatir. 


“Sudah nanti mas ceritain. Pokoknya kalau kamu pulang, itu jangan lupa. Kalau papa mama tanya, bilang aja mas lagi lembur dan Dinda sudah keburu di apartemen. Disana ga ada baju yang dia mau. Terserah kamu lah alasannya apa. Yang jelas jangan bikin papa khawatir. Hijab Dinda jangan lupa ya.”, ujar Arya.


Arya menutup teleponnya setelah mendengar adiknya mengatakan ‘Ya.’


Arya memandangi ponselnya. Ada seseorang yang ingin dia telepon sekarang. Tapi dia mengurungkan niatnya karena emosinya masih belum stabil. Mengingat apa yang terjadi tadi, kepala Arya yang sudah mulai dingin kembali panas. Meletup - letup seolah dia ingin menghajar orang.


Arya melihat ke arah Dinda yang masih belum siuman. Padahal tadi dokter bilang hanya beberapa jam saja. Dia mulai khawatir lagi. Tak berapa lama seorang perawat masuk dan memeriksa kembali keadaan Dinda.


“Sus, maaf.Tadi dokter bilang hanya beberapa jam tapi ini sudah lewat 4 jam, kok belum sadar - sadar juga.Istri saya benar tidak apa - apa kan sus?”, tanya Arya cemas.


“Iya bapak tenang saja. Toleransi seseorang terhadap obat berbeda - beda. Mungkin sebentar lagi Bu Dinda akan segera sadar.”, ujar perawat itu menjelaskan.


Begitu perawat itu pergi. Arya langsung mencoba mencari nomor dr. Rima. Dia tidak bisa tenang dan ingin pendapat dokter lain.


Arya langsung menjelaskan kronologinya. dr. Rima tentu saja menyayangkan kejadian tersebut dan bersyukur tidak ada hal yang berbahaya terjadi pada pasiennya. dr. Rima juga mencoba menenangkan Arya dengan memberikan penjelasan yang sama.

__ADS_1


“Pak Arya tidak perlu khawatir. Saya juga akan mencoba menghubungi dokter tersebut untuk mengetahui detailnya. Walaubagaimanapun Dinda adalah pasien saya. Nanti akan saya jelaskan kembali.”, ujar dr. Rima.


Arya tidak bisa memegang apapun saat ini. Yang dia inginkan hanyalah agar Dinda segera sadar. Bahkan,seorang Arya yang dikenal ahli dalam multitasking tak bisa memegang laptop, tablet, atau pun ponselnya untuk urusan kantor. Pandangannya tak lepas dari Dinda saat ini.


__ADS_2