Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 37 Bulan Madu Bagian 3


__ADS_3

Drttt Drttt


Lagi - lagi ponsel pak Arya bunyi. Sudah tiga kali sejak Dinda selesai melakukan rutinitasnya di dalam kamar mandi. Awalnya Dinda memutuskan untuk tidak menghiraukannya karena toh nanti Pak Arya juga akan cek setelah dia bangun.


Tapi karena orang itu menelpon sampai tiga kali, Dinda takut ini adalah urusan penting. Dia terpaksa harus membangunkan Arya.


“Pak… Pak Arya… Pak.. bangun, Pak Arya. Ada yang telepon ponsel pribadi Pak Arya sampai tiga kali.”, kata Dinda sambil terus menggoyang - goyangkan tubuh Arya.


Meski sudah di goyang - goyang dan ditepuk tapi Arya sepertinya enggan bangun.


Mendadak Dinda merasa penasaran siapa yang menelepon ponsel Arya. Mengingat itu adalah ponsel pribadi, jadi kalau bukan keluarga, lalu siapa lagi. Mama Inggit tadi sudah menelepon bahkan video call, jadi tidak mungkin dari mama.


Dinda memberanikan diri untuk melihat.


Sarah is calling ...


‘Sarah? Lagi - lagi orang yang namanya Sarah menelepon. Apa ini adalah Sarah, mantan istri Pak Arya?’


‘Kenapa sepertinya pak Arya dan Sarah masih intens berhubungan, ya? Apa dia belum tahu kalau Pak Arya sudah menikah? Tapi kalau dia tahu, berarti mereka masih berhubungan. Soalnya kan yang tahu pernikahan ini untuk sementara adalah keluarga dekat saja.’, Dinda merasa tidak nyaman memikirkannya. Ada rasa aneh dalam hatinya yang Dinda masih belum sadar itu apa.


‘Waktu itu juga. Kenapa dia ada di apartemen yang sama dengan Pak Arya? Apa mereka masih tinggal bersama? Ah.. gak mungkin. Pak Arya selalu pulang ke rumah. Mungkin aku salah lihat.’


Di satu sisi dia merasa tidak suka jika Arya masih berhubungan dengan mantan istrinya. Mereka berpisah dan belum memiliki anak, jarang sekali ada yang masih berhubungan baik. Tapi di sisi lain, Dinda juga merasa tidak punya kuasa.


‘Tapi kan sekarang aku istrinya. Ahhh bingung.’


Di sisi lain Dinda juga memaklumi jika mereka masih dekat. ‘Kira - kira ada urusan, apa ya?’, batin Dinda bertanya - tanya di dalam hati


Saat Dinda sibuk dengan lamunannya sambil memegang ponsel Arya, pemilik ponsel sudah ada di belakang dan menyandarkan kepalanya pada bahu Dinda.


Dinda duduk di pinggir kasur dengan memegang ponsel milik Arya. Di layarnya masih tertulis panggilan masuk dari Sarah. Total sudah ada 6 panggilan.


Sontak Dinda kaget.

__ADS_1


“Sayang, kamu ngapain?”, kata Arya dari belakang. Dagunya dia taruh rapi di bahu Dinda.


Hembusan nafasnya terdengar dan terasa jelas di telinga Dinda. Seketika ia merasa merinding di sekujur tubuhnya. Rasa - rasa yang aneh mulai muncul. Badannya seolah beku. Ranum aroma tubuh Arya terasa sekali jika mereka berjarak sedekat itu.


Rasa takut Dinda yang terbesar adalah dia takut kalau dia masuk dalam pesona Arya dan tidak bisa lagi keluar. Merasa terluka untuk hal yang bahkan belum sempat dimulainya dengan persiapan.


Dinda tidak mampu menjawab. Dia mematung sambil memegang ponsel. Dinda refleks menaruh ponsel Arya di belakang pinggangnya.


“Dari siapa?”, kata Arya semakin intens mendekatkan wajahnya.


‘Jantung, plis, jangan bunyi terlalu keras. Aku tahu kamu deg-deg-an’, kata Dinda di dalam hati pada jantungnya. Seolah jantungnya adalah makhluk lain yang bisa diajak bicara.


Sniff Sniff… Arya semakin mendekatkan kepalanya dan mencium aroma rambut Dinda yang saat itu sedang tergerai tanpa hijab.


“Pak Arya, ngapain sih.”, tanya Dinda risih.


“Siapa yang telpon?”, tanya Arya.


“Bukan siapa - siapa.”, kata Dinda.


Mwah Muah Muach


Arya akhirnya mencium pipi Dinda beberapa kali sebelum mencium tengkuknya sekali. Selanjutnya, Arya mengambil ponsel yang masih di genggam di Dinda di belakang pinggangnya.


Ketika dia sadar siapa yang sedang melakukan panggilan telepon. Arya melirik sebentar ke arah Dinda, kemudian mengambil ponselnya dan berdiri.


Arya berjalan ke arah teras kamar mereka yang memang terbuka sejak mereka masuk. Di depannya mereka bisa melihat hamparan laut biru.


“Halo..”, kata Arya dengan suara dingin dan pelan.


Dinda masih di tempat yang sama. Dia hanya bisa mengamati. Arya memilih menjauh saat menerima telepon karena dia tidak ingin pembicaraannya terdengar oleh Dinda. Dinda sadar akan hal itu.


Arya tidak ingin menyinggung perasaan Dinda dengan menunjukkan dia masih berhubungan dengan mantan istrinya. Sementara Dinda merasa Arya menjauh darinya karena Dinda bukanlah siapa - siapa bagi Arya.

__ADS_1


Saat ini, Dinda sama sekali tidak bisa mendengar suara pak Arya karena tersamarkan oleh semilir angin. Apalagi jarak mereka lumayan jauh sekarang.


“Arya.. kamu sedang bulan madu? Bagaimana bisa kamu pilih tempat bulan madu yang sama dengan tempat kita dulu?”, kata Sarah.


Benar. Orang yang menghubungi Arya saat itu adalah Sarah, mantan istrinya.


Entah dari mana dia mendapatkan informasi bahwa Arya kini tengah berada di Maldives untuk berbulan madu.


“Kamu bicara apa, Sar?”, kata Arya pura - pura tidak tahu.


“Well, pertemuan kita terakhir memang bukan pertemuan yang berkesan. Aku gak bohong soal aku masih cinta sama kamu….”, Sarah masih ingin melanjutkan ucapannya tetapi Arya sudah memotong.


“Masih cinta dan tidur dengan orang lain? Definisi cinta seperti apa itu?”, Arya mengucapkan kata itu dengan tegas. Arya berjalan maju semakin menjauh ke arah pinggir kolam renang.


“Ya.. aku gak munafik dan mengakui itu. Tapi, kamu yakin kalau istri kamu sekarang adalah cewek lugu yang lebih baik dari aku?”, kata - kata Sarah sekali lagi membuat Arya heran.


Pertama dia tahu bahwa mereka sedang berlibur di Maldives. Kedua, dia tahu siapa istri Arya?


“Plis, jangan buat aku semakin kecewa sama kamu, Sar.”, kata Arya lirih.


“Kamu kecewa sama aku? Harusnya kamu kecewa sama mama kamu yang udah misahin kita. Aku gak akan pernah lupa gimana mama kamu menghancurkan bulan madu kita di Bali sampai kamu akhirnya sembunyi - sembunyi bawa aku ke Maldives.”, kata Sarah, dari nada suaranya dia seperti menangis.


Tapi Arya tak ingin jatuh dalam sandiwara Sarah yang sudah berkali - kali mematahkan dan mengecewakan hatinya.


Bahkan tak jarang Arya mempertanyakan mengapa dia bisa jatuh cinta dengan perempuan ini. Dan sampai sekarang rasa sakit itu masih ada meski telah 3 tahun mereka bercerai.


“Gak usah bawa - bawa mama. Antara aku dan kamu sudah selesai. Seperti yang kamu tahu dan entah dari mana. Aku sudah menikah and we’re happy.”, kata Arya kemudian menutup ponselnya.


Dia menarik nafas beberapa kali untuk menghilangkan emosi di kepalanya. Setiap dia berbicara dengan Sarah, selalu saja diakhiri dengan pertengkaran. Selalu saja, Arya teringat dengan pertemuannya tanpa sengaja dengan Sarah di club.


Dia berbalik melihat Dinda yang masih duduk di pinggir kasur dan sedang menatapnya.


‘Apa yang diinginkan Sarah? Apa yang akan keluar dari mulutnya adalah kejujuran atau kebohongan lain. Darimana dia tahu tentang Dinda?’

__ADS_1


‘Heh.. dia ingin kembali? Bullshit. Dia tidur dengan Dimas, dan sekarang dia bilang ingin kembali? Apa yang dia pikirkan sebenarnya?’, batin Arya frustasi.


****


__ADS_2