Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 38 Bulan Madu Bagian 4


__ADS_3

Beberapa menit setelah Arya menjawab telpon dari Sarah, Arya berjalan mendekati Dinda.


“Pak Arya, telpon dari Sarah, mantan istri Pak Arya?”, Dinda bertanya saat Arya sudah merebahkan tubuhnya kembali di kasur.


“Hm”, Arya hanya berdehem.


“Pak Arya masih cinta sama mantan istri Pak Arya?”, Entah apa yang merasuki Dinda. Dia punya keberanian untuk menanyakan hal paling sensitif dalam pernikahan mereka.


Arya hanya diam.


“Kenapa kamu tiba - tiba bahas itu?”, beberapa menit kemudian, Arya bertanya sambil memejamkan matanya.


“Saya ke apartemen Bapak waktu Pak Cecep ambil barang yang pak Arya minta.”


‘Oh ****. Pak Cecep kenapa bawa - bawa Dinda segala, sih.’, Arya memejamkan matanya frustasi.


“Sudah tiga tahun lebih pak Arya cerai dari mantan istri Bapak. Tapi, di kamar, dan semua sudut apartemen, sepertinya gak ada yang berubah. Saya hanya berasumsi kalau hati Bapak juga begitu.”


“Saya gak sempet bersihin. Sarah juga langsung ke luar negeri. Saya gak mungkin buang barang - barang dia gitu aja.”, jawab Arya malas.


“Saya gak masalah kok, kalau Pak Arya bilang, Pak Arya masih cinta sama mantan istri Bapak.”, ucap Dinda.


“Yakin kamu?”, tanya Arya melirik ke arah Dinda.


Dinda tidak menjawab, dia hanya mengangguk.


“Heh… Ga usah berpikir yang macam - macam.”, lanjut Arya.


“Boleh saya tahu apa yang Pak Arya pikirkan tentang pernikahan kita?”, tanya Dinda.


Mungkin ini kesempatan untuk membahas tentang mereka.


“Maksud kamu?”, tanya Arya.


Dia bukan tidak tahu maksudnya. Tapi, Arya ingin memastikan arah pembicaraan gadis ini.


“Apa yang akan Pak Arya lakukan dengan pernikahan ini?”, tanya Dinda.


Arya menghela nafasnya dan bangun dari tempat tidurnya. Arya menarik lengan Dinda yang masih duduk di pinggir kasur agar bisa lebih dekat padanya.


“Kamu yakin mau tahu jawabannya? Kamu siap dengan apa yang akan saya lakukan setelah saya memberitahu kamu? Atau bahkan setelah itu, saya baru akan kasih tahu kamu.”, respon Arya mengagetkan Dinda.


“Itu?”, tanya Dinda bingung.


Arya menarik sedikit rambut yang menutupi leher Dinda dengan tangannya. Dia menatap Dinda lembut. Arya sudah akan menyesapkan bibir nya lagi pada leher Dinda, sebelum gadis itu menggeser lehernya untuk menghindar.


“Pak Arya mau ngapain?”, respon Dinda.


“Saya mau menjawab pertanyaan kamu.”, balas Arya.


“Maksud saya kalimat, kata - kata.”, ucap Dinda memperjelas.


“Kayanya pertanyaan saya bisa dijawab pake mulut deh, Pak. Ga perlu pake gerakan aneh.”, Dinda langsung beranjak dari pinggir kasur agar tak lagi diserang tiba - tiba oleh pria tua genit di depannya ini.


“Ya.. ini saya jawab pake mulut.”, Arya masih dengan sikapnya.


“Tapi bukan begitu jawabnya.”, protes Dinda.


“Kamu nanya kan? Masa kamu yang ngatur - ngatur jawabannya? Saya dong. Kan saya yang ditanya”, Arya ikut berdiri. Dia maju mendekati Dinda perlahan. Gadis itu juga ikutan mundur.


Alhasil Dinda terkunci dalam jangkauan Arya karena di belakangnya sudah lemari. Dia tak bisa kemana - mana karena setiap kali Dinda bergerak, Arya sudah siap menghadangnya.


“Jadi, masih pengen tahu jawabannya. Kayanya saya udah pernah bilang deh pas malam pertama kita. Saya termotivasi untuk mengucapkan ijab kabul karena seperti kata Dito, kamu masih muda, belum pernah punya pacar, masih perawan lagi.”


“Sementara, saya sudah pernah menikah, sudah tiga tahun bercerai. Bayangkan, saya, pria dewasa hidup sendiri selama tiga tahun dan ada cewe kaya kamu bersedia jadi istri. Mau saya lewatkan gitu aja?”, Arya melanjutkan lagi kalimatnya. Kali ini dengan nada yang lebih menggoda dan senyum jahilnya.

__ADS_1


Tangan kanannya sudah dia tempelkan ke bagian atas lemari di atas kepala Dinda sedangkan tangan kanannya ia letakkan dengan nyaman pada pinggang Dinda. Sedikit lagi, tangan Arya berhasil meraih resleting kemeja yang saat ini Dinda kenakan.


“Bohong. Gosip di kantor bilang, Pak Arya sering ke club, gonta - ganti pacar. Jadi, gak mungkin Pak Arya kesepian meski saya yakin itu cuma pelampiasan.”, Dinda sudah bergidik ngeri dan berusaha menghindarkan tangan kanan pak Arya yang sedikit lagi berhasil meraih resleting kemeja yang saat ini Dinda kenakan.


“Huh..”, Arya tersenyum licik.


“Gosip. Namanya aja gosip, Din. Kamu kira saya pria hidung belang yang tidur dengan sembarang wanita yang saya tidak kenal? Gonta - ganti pacar? Wah.. ternyata benar kata Erick, gosip di kantor sudah harus diklarifikasi.”, kata Arya mulai memegang ujung resleting kemeja Dinda.


“Ada yang bilang pernah lihat pak Arya bareng cewek di club.”, Dinda menelan ludah. Dia masih punya nyali untuk berdebat meski tangan Arya sudah mulai melancarkan aksi berbahayanya.


“Namanya Club Din, ya pasti ada cewek dan cowok ngobrol satu sama lain. Bukan berarti setelah itu mereka pacaran dan melakukan apa yang mau saya lakukan ke kamu sekarang.”


“Apaan sih Pak Arya. Udah ah.. Saya mau beberes koper.”, Dinda berusaha kabur dari teritori tubuh Arya yang sudah membelenggunya sejak tadi.


“Eits.. mau kemana? Kamu tadi tanya, sekarang saya mau jawab.”


“Ga jadi. Simpan saja jawabannya.”, kata Dinda ketus dan akhirnya berhasil pergi karena Arya sudah melepaskan pelukannya.


“Beneran gak jadi?”, tanya Arya kembali menggoda.


“Enggak.”, gerutu Dinda.


“Ya udah. Mana sini ****** ***** saya.”


“Ihh apaan sih makin aneh deh.”


“Saya mau mandi. Kan kamu tadi yang packing barang. Mana saya tahu ****** ***** saya kamu taruh mana. Yang pikirannya travelling siapa sih, saya atau kamu? Memangnya kamu pikir saya mau ngapain nanya celana dalem. Saya mau….”


Sesaat kemudian Dinda sudah melemparkan sebuah tas kecil berisi underwear milik Arya ke arah pria itu. Arya dengan sigap menangkapnya.


“Kasih tahu saya ya, kalo pikiran kamu travelling lagi. Haha.”, kata Arya tersenyum menang.


Arya tidak pernah sesenang ini dalam menjahili orang sebelumnya. Bahkan reaksi saudara dan keponakannya tidak bisa mengalahkan ekspresi Dinda saat ini. Gadis itu terdiam di samping kasur sambil membuka isi koper yang tadi juga sudah dia rapikan.


****


Dinda menggeleng.


“Kalau begitu ambil baju renang kamu dan saya akan ajarkan kamu berenang. Daripada kamu bosan dan pikirannya travelling kemana - mana, lebih baik saya kasih kamu keahlian.”


“Saya gak punya baju renang.”


“Pasti ada legging kan? Pake kaos aja atasnya gapapa. Gaperlu pake hijab. Sekatnya tinggi, kok. Gak bakal kelihatan.”


Dinda menuruti kata - kata Arya. Dia sudah lama ingin belajar renang. Tapi biaya lesnya lumayan karena sulit mencari pelatih wanita dan tempat berlatih yang khusus untuk wanita. Berhubung ada yang gratis, kenapa harus dilewatkan.


“Pak Arya jangan dorong - dorong ya. Dalam gak itu?”, kata Dinda yang sudah siap dengan legging dan kaos lengan pendeknya. Rambutnya yang panjang, ia gulung ke atas.


Wajah Dinda yang putih bersih tersapu oleh mentari yang diam - diam baru bersinar menukar mendung jadi cerah.


Arya yang sudah ada di dalam kolam renang, memandangi istrinya. Arya tersenyum.


‘Cantik.’, tuturnya tanpa sadar di dalam hati.


“Pak Arya cepat banget udah ganti baju?”


“Saya gak ganti, cuma lepas aja. Kenapa? Kamu mau saya lepas singlet saya juga?”


“Enggaaaa, jangan.”, kata Dinda.


Arya tergelak.


“Ya udah sini..turun. Mau berenang di udara, kamu?”


“Dalem gak?”

__ADS_1


“Ya kan ada saya, Din. Masa saya biarin kamu mati tenggelam disini.”


“Ya kan Bapak gak suka saya. Bisa aja Bapak tenggelamin saya disitu.”


“Kebanyakan nonton film. Udah sini masuk. Mau belajar renang ga? Atau kamu mau belajar yang lain di tempat tidur?”


Dinda geli melihat perubahan sikap Pak Arya yang jahil dan aneh semenjak mereka tiba di Maldives. Apa karena suasana disini adalah suasana bulan madu, begitu pikir Dinda.


“Aaaaa……”, Dinda akhirnya ditarik turun oleh Pak Arya karena gadis itu terlalu lama bengong. Kolam itu tidak dalam untuk Arya.


Tapi berhubung Dinda lebih pendek, dia langsung hilang dari permukaan air. Dinda kaget. Arya menariknya dengan cepat agar gadis itu tidak tenggelam. Arya memegang pinggang Dinda untuk memastikan gadis itu tidak tenggelam dan Dinda memegang bahu Arya untuk bertahan.


“Katanya gak dalam.”


“Ya.. kan buat saya enggak. Saya gak tahu buat kamu.”


“Jangan dilepas ya Pak.”


“Sekarang, kamu coba menelungkup, saya pegang bagian perut kamu untuk menahan.”


“Ga mauuu.. Takut.”


“Saya tahan, gak bakal saya lepas.”


Dinda kembali menurut.


“Nah, pertama kakinya kamu kayuh, Yang kiri ke atas lalu yang kanan di bawah. Gantian yang kanan ke atas dan yang kiri ke bawah. Begitu terus. Rasakan ritme pergerakannya.”


“Oke,,, terus begitu. Iya.. bagus..”, Dinda mengikuti arahan Arya. Dia perlahan bergerak maju dan Arya juga ikut sambil menahan bagian perutnya.


“Capek..”, Dinda kembali ke pose berdiri dan memegang bahu Arya.


“Gitu aja capek. Kamu gak pernah olahraga ya?”


Dinda hanya diam.


“Balik lagi kaya tadi, tapi sekarang tangannya kamu majukan bergantian ke depan. Kamu pernah lihat orang berenang kan? Nah majukan seperti itu.”


“Huft.”, meski mengeluh, Dinda kembali menuruti arahan Arya.


“Oke.. bagus… Iya…terus..”, tak lama, mereka sudah berada di tengah kolam.


“Hah hah hah… Capek.”, Dinda kembali ke posisi berdiri.


“Saya mau balik aja. Saya duduk di pinggir aja Pak.”


“Gimana sih, belum juga setengah jam.”


“Gak kuat”, jawab Dinda sambil menggelengkan kepalanya.


“Ya udah balik sana sendiri.”, Arya melepaskan pegangannya pada pinggang Dinda untuk mengerjai gadis itu.


Dinda yang masih berpegangan pada bahu Arya terkejut, dan langsung menarik badannya ke mendekat arah Arya agar tidak tenggelam. Tanpa sadar, dia sudah memeluk Arya erat.


“Pak Aryaaaaa…. Kenapa dilepas?”, Dinda berteriak panik.


Seketika dia baru sadar bahwa posisi mereka sangat dekat. Wajah mereka hanya berjarak beberapa cm. Dinda merasakan hembusan nafas Arya yang saat ini sedang tertawa karena berhasil mengerjainya. Dinda juga bisa mencium aroma shampoo dari rambut Arya.


Sadar bahwa dia begitu dekat, Dinda terdiam. Begitu pula dengan Arya. Tawanya berhenti saat dia sadar Dinda begitu dekat dengannya. Aroma gadis itu kembali membuat Arya terhipnotis.


Dia sudah mulai terbiasa mencium campuran aroma Vanilla dan Rose dari tubuh Dinda. Arya melepas pelukan Dinda. Namun, sesaat sebelum tubuh gadis itu jatuh lebih dalam, Arya menarik pinggangnya agar bisa tetap berhadap pandang dengan dirinya.


Tak lama, Arya mendaratkan bibirnya di bibir ranum Dinda yang sudah basah terkena air. Lama ciuman itu berlangsung. Dinda tidak menolak, dia mengalungkan tangannya di leher Arya.


*****

__ADS_1


__ADS_2