
Arya Pradana, pria ini sedang menikmati waktunya di dalam bathtub kamar mandi kesayangannya. Ia menggunakan sabun yang beberapa waktu lalu dibeli oleh Dinda bersama Inggit. Awalnya dia ragu karena sabun ini berbeda dari yang biasa digunakan.
Sekarang, dia justru senang dengan aromanya. Kurang lebih 30 menit ia habiskan hanya untuk berendam di dalam bathtub sambil menenangkan pikiran dan melepaskan penatnya dari keseharian bekerja. Hari ini lagi - lagi melelahkan menurutnya.
‘Hm. Apa Dinda sengaja meletakkan pakaian ini di spot yang paling terlihat seperti ini?’, ujar Arya dalam hati ketika sudah memasuki wardrobe atau ruang pakaiannya.
Dari pintu, dia sudah bisa melihat jelas beberapa pakaian yang tergantung di spot utama yang biasanya diisi oleh pakaian formal kantornya dan juga Dinda.
Tapi sekarang, spot itu terisi oleh sekitar 10 buah baju aneh yang digantung. Arya tidak ingat bahwa pakaian itu ada di dalam ruangan ini.
Arya yang masih mengenakan handuk kimono setelah selesai dari kamar mandi hanya bisa terdiam berpikir sambil melihat deretan baju - baju aneh tersebut.
Tak lama, ada yang membuka pintu kamar. Arya sudah bisa menebak siapa itu. Karena, siapa lagi yang tinggal di kamarnya ini selain Dinda dan dirinya.
“Din, sini sebentar.”, panggil Arya sambil menampilkan hanya sebagian tubuhnya dari pintu ruang pakaian.
“Iya?”, Dinda berjalan mendekati ruangan sambil membawa tumbler berisi green tea untuk Arya.
Dinda terlihat masih mengenakan pakaian kantornya. Sepulang kantor, Arya langsung naik ke atas dan mandi sedangkan Dinda tiba - tiba dipanggil oleh Inggit ke ruang tengah.
Inggit menunjukkan beberapa barang - barang yang sudah dia packing untuk dibawa sebagai hadiah acara lamaran sekaligus pernikahan Reza, anak tante Indah yang merupakan kakak ipar Inggit.
Dia menghabiskan waktu yang lama mendengarkan penjelasan Inggit. Setelah itu, Bi Rumi memberikannya sebuah tumbler teh. Inggit meminta Dinda untuk memberikannya pada Arya.
Dinda meletakkan tas dan tumbler green tea di atas sofa sebelum mengikuti arah panggilan Arya.
“Iya, kenapa mas?”, tanya Dinda saat masuk ke dalam ruang pakaian.
“Oh? Huh? Kok itu bisa ada disitu? Eh?”, Dinda langsung panik dan berjalan cepat mendekati deretan gantungan lingerie di bagian tengah lemari utama di dalam ruangan itu.
“Seharusnya ini gak disini. Aku udah menyembunyikannya di laci bawah. Kok bisa disini, ya? Trus piyama aku kemana ya? Ini kok begini?”, Dinda panik tidak karuan, dia seperti orang yang kehilangan akal. Sejujurnya dia juga merasa sangat malu dengan Arya.
Perasaan bingung dan malu bercampur menjadi satu. Apalagi saat Arya mendekat padanya.
“Kamu yakin tidak sedang menggodaku?”, ungkap Arya dengan gaya cool nya.
Dia menyandarkan sebelah tangannya di dinding. Pertanyaannya keluar dengan nada provokatif.
Dinda semakin tidak fokus karena Arya sedang memperhatikannya.
“Eng-enggak kok. Itu, pasti si mama deh yang taruh disini. Aku udah umpetin. Trus piyama aku kemana ya? Aku pake apa dong, tidurnya?”, ujar Dinda bingung. Dia tidak berani menatap Arya langsung. Dinda menurunkan semua pakaian aneh itu dan menyembunyikannya kembali di laci bawah.
“Hm. Aku tidak tahu, loh. Kamu sampai sudah punya 10.”, ujar Arya pada Dinda.
“Apaan sih mas Arya. Bukan aku yang beli. Tapi mamah.”
“Tapi, kamu yang bakal pake, kan? Masa mamah?”
“Aku turun dulu, mau tanya mamah.”, ujar Dinda berlalu melewati Arya.
“Mau bertanya apa?”
“Piyama dan baju kaos aku disimpan dimana? Kalo gak aku bingung mau pakai apa.”, jawab Dinda.
“Itu.”, ujar Arya dengan menaikkan sedikit alisnya dan matanya mengarah pada laci yang penuh dengan lingerie.
Dinda memasukkan semuanya tanpa melepaskan gantungan baju terlebih dahulu. Sehingga laci itu penuh dan tidak bisa ditutup. Dia kesulitan untuk menutupnya dan membiarkannya begitu saja karena sudah terlanjur salah tingkah.
“Ih mas Arya.”, ujar Dinda kemudian segera keluar menuruni tangga bermaksud untuk mencari Inggit.
Lima belas menit yang lalu, dia masih ada di ruang tengah bersamanya. Tapi, Dinda tak menemukan siapa - siapa di sana.
“Bi Rumi, Mama mana?”, tanya Dinda pada Bi Rumi yang sedang mencuci piring di dapur.
“Ibu sudah ke kamar non. Sepertinya sudah tidur.”, Jawab Bi Rumi.
“Eh? Perasaan tadi masih disini, Bi. Oiya, bibi tahu kemana mama bawa piyama dan beberapa kaos aku ga Bi? Aku cari - cari di kamar gak ada.”, ujar Dinda.
“Wah, Bibi gak tahu non. Seharian bibi ke supermarket sama pak Cecep. Jadi, belum masuk kamar non Dinda dan den Arya. Memang kenapa non? Bajunya ga ada semua?”, jawab Bi Rumi.
“Iyaa bi. Diganti sama…”, Dinda tidak mau melanjutkan nya.
“Ya udah aku coba ke kamar mama. Makasih ya Bi.”, ujar Dinda malu.
Dinda berjalan lurus ke arah ruang tamu lalu berbelok ke kanan dimana kamar utama Inggit dan Kuswan berada.
Pintunya sudah tertutup. Tadinya, Dinda ingin mengetuk. Tetapi, dia teringat, mungkin saja Kuswan sudah tidur dan nanti dia malah mengganggu.
__ADS_1
Akhirnya, Dinda mengurungkan niatnya. Dia kembali ke kamar dengan wajah lesu.
“Sepertinya mama sudah tidur.”, ujar Dinda pada Arya.
“Udah, kamu pakai kemeja aku aja dulu. Ini pasti akal - akalan mama. Kemeja aku yang warna putih di lipat dibawah itu ukurannya oversized semua. Kamu bisa pake.”, kata Arya menenangkan.
Dinda mengangguk dengan ekspresi menahan malu.
‘Mama ada - ada aja deh. Apa maksudnya coba menggantung semua lingerie itu di area lemari utama seperti itu. Trus juga menyembunyikan piyama dan baju - baju kaus aku. Huh. Fiuh… kenapa kamar jadi panas sekali, ya.’, ujar Dinda dalam hati sambil menggerak - gerakkan kemejanya agar ada angin yang masuk.
“Oiya, ini green tea. Tadi mama suruh aku kasih ke mas Arya.”, ujar Dinda sambil menyodorkan tumbler yang tadi dia taruh ke Arya yang sudah duduk di pinggir kasur sambil memegang laptopnya.
“Oh.. thank you. Tumben mama bikin green tea.”, balas Arya singkat.
“Aku mandi dulu.”, ujar Dinda sambil berlalu menuju kamar mandi. Sebelumnya, dia mengambil satu kemeja warna putih milik Arya.
Sama hal nya seperti Arya, Dinda juga ingin berendam air panas malam ini. Dia menyalakan air dan menunggunya hingga penuh. Tak lupa, Dinda juga menyetel lagu melow untuk menemaninya di kamar mandi.
Kring. Kring. Kring.
Tiba - tiba ponselnya berbunyi, padahal dia sudah masuk ke dalam bath-up. Awalnya, Dinda tidak menghiraukannya, tetapi karena ponselnya berbunyi sampai 3x, Dinda akhirnya mengangkatnya juga. Untung dia meletakkan ponselnya di atas sebuah pajangan yang bisa dijangkau dari bath-up.
Dinda melihat ponselnya dan ternyata panggilan itu berasal dari grup WhatsApp dirinya, Bianca, Dian, Rara dan Sekar. Dinda menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.
“Dinda…. Lama sekali sih angkatnya.”, ujar Bianca dengan nadanya yang cempreng seperti biasa.
“Iya.. kamu lagi ngapain itu? Di kamar mandi, ya?”, tanya Sekar.
Dinda bisa melihat dengan jelas Sekar sedang berada di dapur kesayangannya. Sepertinya dia masih banyak pesanan pastry yang harus dia kerjakan.
Dinda mengangguk menjawab pertanyaan Sekar.
“Sudah malam baru mandi.”, Dian ikut menimpali.
“Tumben kamu di rumah? Biasanya di UGD.”, kata Rara yang menunjukkan background beberapa peralatan rumah sakit di belakangnya.
“Lagi libur. Kamu masuk shift malam ya?”, tanya Dian.
“Seperti yang kamu lihat. semoga saja tidak ada yang melahirkan malam - malam. Aku sudah lelah hari ini.”, Jawab Rara.
“Kita akan selalu doain kamu kok, Bi. Gak nyangka kamu jadi yang pertama menikah di antara kita.”, ujar Sekar.
Uhuk uhuk uhuk. Dinda refleks terbatuk - batuk mendengarnya.
“Jangan diminum airnya Din.”, ujar Dian bercanda saat mendengar Dinda terbatuk - batuk.
“Hahahahahaha… bisa aja kamu.”, Dinda hanya bisa tertawa dengan suara canggung.
Dia bahkan belum bisa memberitahu teman - temannya bahwa dia sudah menikah. Dinda tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya mereka nanti.
Sebenarnya tidak masalah jika Dinda ingin memberitahukannya pada teman - temannya. Toh, mereka berada di circle yang berbeda. Namun, Dinda sudah kehilangan timingnya untuk bercerita.
Tadinya Dinda ingin coba mengatakannya saat mereka berlibur bersama. Tapi, semuanya malah kacau karena insiden tidak terduga saat dia melihat Arya bertemu mantan istrinya.
Saat itu, mood Dinda langsung hilang karena dia berpikir, mungkin Arya akan segera bercerai dengannya. Jadi, mengapa dia harus bersusah payah mengatakannya pada teman - temannya.
“Nanti share live streamingnya dong, Bi. Biar kita juga bisa melihat prosesi lamaran kamu.”, sahut Rara. Dia berbicara setengah berbisik karena sedang berada di rumah sakit.
“Iya… pasti. Aku pengen ada kalian sebenarnya.”, ujar Bianca.
“Iyaa… gapapa.., Bi. Semangat ya… jangan nervous.”, ujar yang lain bersamaan.
Tok tok tok
“Din, kamu masih di dalam? Masih lama gak? Kok dari tadi gak keluar - keluar”, teriak Arya dari luar.
Sontak Dinda langsung terkejut dan tidak sengaja menjatuhkan ponselnya ke dalam air.
“Oh…”, Dinda panik dan segera mengambil ponselnya dan meletakkannya keluar. Ia mengambil handuk dan mengeringkan ponsel tersebut.
“Din, kamu lama banget di dalam, ngapain?”, sahut Arya lagi dari luar. Tidak biasanya gadis itu mandi selama ini. Karena khawatir, Arya mengetuk - ngetuk pintu tetapi tidak mendengarkan suara dari dalam.
Tangan Arya yang berada di gagang pintu kamar mandi spontan membuka pintu tersebut dan ternyata terbuka. Arya terkejut dengan apa yang dilihatnya. Matanya membulat dan tubuhnya langsung refleks berbalik sok cool.
Dinda masih panik karena dari ponselnya, masih terdengar suara - suara temannya yang kebingungan bertanya suara siapa itu. Tetapi, Dinda seperti tidak bisa menekan apa - apa di ponselnya. Belum selesai dengan itu, dia harus terkejut karena tiba - tiba Arya ada di depan pintu kamar mandi.
“Kenapa pintunya gak dikunci?”, ujar Arya lalu menutup pintu kamar mandi kembali dengan cepat.
__ADS_1
Jantungnya berdegup kencang tidak seperti biasanya. Darahnya berdesir ke seluruh tubuh. Arya berusaha menghela nafas untuk menenangkan dirinya.
“Panas. Apa karena minum green tea panas ya. AC nya padahal sudah dikecilkan.”, ujar Arya sambil menggerak - gerakkan bagian baju piyamanya.
Dinda masih bingung bagaimana cara mematikan ponselnya, namun beberapa saat kemudian tanpa melakukan apa - apa ponsel tersebut malah mati sendiri.
“Oh.. rusak, ya. Mati sendiri. Kenapa gak dari tadi aja”, kata Dinda frustasi.
Dia masih linglung apa yang harus dia lakukan terlebih dahulu. Akhirnya Dinda memutuskan untuk mengambil shower dan membersihkan tubuhnya yang penuh sabun.
Dia menyelesaikan mandinya yang masih setengah beres yang penting tidak ada sabun lagi di badannya.
Pintu terbuka, Dinda muncul perlahan dari balik pintu dengan handuk kimononya. Lagi - lagi dia merasa sangat malu atas insiden tadi.
Beberapa insiden membingungkan sekaligus memalukan yang membuatnya panik luar biasa.
Pertama, suara Arya beserta ketukan pintu jelas didengarkan oleh teman - temannya. Dinda terkejut dan menjatuhkan ponselnya.
Kedua, kebodohan selanjutnya adalah dia lupa mengunci pintu kamar mandi dan menciptakan kehebohan lainnya.
Ketiga, meskipun ponselnya masuk ke dalam air dan error, tapi dia masih bisa mendengar suara teman - temannya. Yang artinya, suara Arya juga mungkin saja masih terdengar sebelum ponsel itu benar - benar mati.
Dinda berjalan perlahan menuju tempat tidur mereka. Dia sudah mengenakan kemeja oversized yang tadi disebutkan Arya. Pria itu masih berada di pinggir ranjang. Dia meletakkan laptopnya di nakas dan berdiri.
“Huh.. kamu sedang ada misi menggoda saya malam ini? Mulai dari deretan lingerie, terus pintu kamar mandi gak dikunci. ”, ujar Arya sambil menatap ke arah Dinda yang sudah kikuk dan tersipu malu.
“Bukan bukan.. Mas Arya salah paham.. saya tidak ada maksud kesana sama sekali. Tadi itu….”, ujar Dinda mencoba menjelaskan.
Dia menyilangkan tangannya untuk berusaha memberikan tanda bahwa Arya benar - benar salah paham. Tetapi dia berhenti karena dia sadar bahwa penjelasan yang harus dia berikan akan sangat panjang.
“Hape saya mati nyemplung di bathtub”, ujar Dinda dengan wajah lugu dan ekspresi yang menggemaskan.
Dari semua kalimat penjelasan yang ingin dia katakan, Dinda justru memilih memberitahu Arya perihal ponselnya yang masuk ke dalam bathtub.
Arya tak punya pilihan lain selain menghela nafas dan tersenyum memandang gadis ini.
Rambut basah Dinda yang masih setengah kering dan setelan kemeja oversized menarik perhatian Arya.
‘Sebenarnya aku kenapa? Kenapa dia jadi terlihat berbeda malam ini?’, ujar Arya dalam hati.
Alih - alih memperhatikan kata - kata Dinda, konsentrasinya justru mengarah ke yang lain.
“Hah….”, Arya menghembuskan nafasnya sambil berjalan mendekati Dinda dengan cepat, memegang pipinya, mendongakkan kepala gadis itu sedikit ke arah atas, lalu menciumnya dalam.
Mata Dinda membulat. Dia seperti masuk ke arena roller coaster yang membuat jantungnya naik turun dari tadi. Lalu sekarang ini.
Arya bergerak melakukan apa yang dia inginkan. Arya merasa frustasi karena meskipun pikirannya melarang dan berusaha keras untuk tidak bertindak jauh, tetapi bibirnya, tangannya, dan tubuhnya sudah bergerak lebih dulu.
Arya sudah menggiring Dinda ke atas kasur. Dia masih menciumnya lembut sambil memegang bahunya. Setelahnya, dia bergeser ke leher Dinda dan memberikan beberapa kiss mark di sana. Dinda menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan kedua tangannya.
Arya memperlakukannya sangat gentle dan lembut. Tetapi, entah kenapa seketika Dinda teringat pada insiden di hotel beberapa minggu lalu saat Arya sedang mabuk.
Perasaannya yang tadi menerima perlakuan Arya justru berubah menjadi takut. Padahal, Arya memperlakukannya dengan sangat lembut.
Tanpa terasa, air mata Dinda keluar saat Arya sedang berusaha membuka kancing kemejanya. Arya menyadari itu dan bingung lalu menghentikannya.
“Kamu kenapa?”, Arya bertanya pelan.
Dinda hanya diam. Tadinya, hanya air matanya saja yang keluar. Lama - kelamaan Dinda malah menangis tersedu - sedu.
“Din? Apa saya menyakiti kamu?”, tanya Arya lagi. Ia terdengar sangat khawatir.
Dinda menggeleng.
“Terus kenapa kamu menangis?”, tanya Arya sedikit panik.
“Saya gak tahu, mas.”, jawab Dinda beberapa saat setelahnya. Ia sempat terdiam sebentar dan hanya menatap ke samping.
Arya menatap wajah Dinda. Dia menghapus tangis yang ada di pipi gadis itu.
“Saya minta maaf. Saya terbawa suasana. Entah apa yang ada di dalam green tea tadi. Saya, saya tidak bisa mengendalikan diri.”, ujar Arya bangun dari posisinya. Wajahnya sendu dan Dinda menyadari itu.
Arya berjalan ke arah nakas, mengambil laptopnya, dan berlalu ke dalam ruang kerjanya.
Dinda hanya bisa terdiam bingung atas reaksi dirinya terhadap perlakuan Arya barusan.
Tetapi, meski hati Dinda sudah memaafkannya, tubuh Dinda masih memberikan reaksi sebaliknya. Saat ini, dia merasa bersalah pada Arya.
__ADS_1