
Dinda menarik nafasnya dalam. Tanpa terasa, hari ini sudah hari Senin. Itu berarti dia sudah harus masuk ke kantor. Masa cuti sakitnya sudah lewat. Namun, kali ini Dinda bukan sekedar pergi ke kantor seperti biasanya. Deretan tantangan sudah menantinya di depan.
Kemarin, setelah melewatkan quality timenya bersama, Arya akhirnya memberikan ponsel milik Dinda. Dia tidak begitu saja memberikannya. Pertama, Arya meminta maaf karena dia tanpa sengaja sempat membaca pesan disana.
Selanjutnya, sebelum mengembalikan ponsel, Arya memberikan nasehat pada istrinya terlebih dahulu. Memberikan dukungan dan dorongan agar dia bisa menghadapi apapun pesan yang akan dia lihat disana.
Apa yang ada disana pasti datang dari berbagai sisi. Mulai dari sosial sekitar kantor dari orang - orang yang mengenalnya, social sekitar kantor bagi yang tidak mengenalnya, manajemen berkaitan dengan pekerjaannya, dan berbagai komentar lainnya yang mungkin muncul di sosial media.
“Din, I know It’s hard and too much for you. Kamu masih muda. Ini pekerjaan pertama kamu. Ini lingkungan sosial kerja pertama kamu. Ini karir pertama kamu. Believe me, I know It means so much to you. Aku ada disini dan selalu disini buat kamu.”, ujar Arya meletakkan kedua tangan di bahu istrinya. Menatapnya intens dan memberikan kekuatan padanya.
“Mas Arya belum baca pesan disini?”, tanya Dinda.
“Arya menggeleng. Aku memang suami kamu, tapi aku yakin ada privasi yang harus dijaga. Kalau kamu mengizinkan, aku akan melihatnya bersama. Tapi jika tidak, aku serahkan padamu. Hanya saja, apapun kesulitan yang kamu terima, plis let me know.”,kata Arya selanjutnya.
Sepertinya, ini kali kedua dia berbicara lebih banyak dari Dinda. Kali ini, Arya harus benar - benar meyakinkan istrinya kalau dia punya banyak support system. Terutama orang yang saat ini berada di sampingnya dan selalu akan begitu.
Dinda berpikir sebentar.
“Kalau kamu butuh, aku akan membacanya bersama kamu.”, ujar Arya menatap keraguan di wajah istrinya. Seolah dia belum siap membuka ponselnya.
Entah akan ada apa disana.
Flashback selesai
“Sayang?”, panggil Arya saat melihat istrinya masih terdiam di depan cermin.
“Hn?”, kata Dinda menoleh tersenyum pada Arya yang berada di luar kamar mandi.
“Kamu butuh ada yang mandiin?”, tanya Arya bercanda.
Pria itu menyenderkan tubuhnya di pintu kamar mandi sambil menatap intens penuh cinta pada istrinya.
“Ih… om - om genitnya mulai lagi deh.”, kata Dinda langsung menolak tawaran Arya dan menutup pintunya.
"Ha-ha-ha", Arya menggeleng - geleng.
Dinda berpikir mungkin dia yang menjadi semakin cinta pada Arya. Padahal, Arya berpikir sebaliknya. Semakin hari, dia semakin tenggelam pada rasa cintanya akan istrinya. Tingkah - tingkah lucu dan kecilnya membuat Arya masuk dalam dunia baru yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Jauh dari tipenya tapi Arya tak pernah menyangka jika sebenarnya wanita seperti itu yang mungkin dia inginkan selama ini.
Tanpa Dinda sadari, candaan renyah Arya mampu membuatnya tertawa dan menghapus pikiran - pikiran berat di kepalanya. Segera setelah menutup pintu kamar mandi, Dinda tersenyum. Dia tahu Arya tak benar - benar serius dan hanya ingin membuatnya tertawa. Dinda menyukai sisi itu dari Arya.
Sisi yang hanya dirinya yang bisa lihat. Sisi dimana tak ia berikan pada sembarang orang. Sisi dimana Dinda semakin jatuh hati pada suaminya.
Arya, pria itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Ada beberapa dokumen yang harus dia lihat sebelum memulai meeting nanti di kantor. Waktu juga masih sangat pagi.
Beralih ke arah kanan, terdapat kemeja dan jas milik Arya yang sudah rapi digantung.
Dinda yang menyetrikanya. Padahal, Inggit sebenarnya sudah melarang Dinda untuk tidak perlu melakukan itu karena sudah ada Bi Rumi.
Tapi, Dinda memaksa. Alhasil Inggit sampai mencari model setrika uap yang lebih mudah untuk digunakan untuk Dinda.
Gadis itu tidak ingin menyepelekan hal - hal kecil seperti ini. Meski sederhana dan bisa dilakukan orang lain. Meski terkadang dia harus memberikan waktu ekstra, tapi pakaian suaminya, lebih baik dia yang menyiapkannya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Arya sudah melihat Dinda yang hilir mudik dari closet ke meja rias, kemudian kembali lagi. Hal yang baru Arya pelajari sejak gadis itu mulai nyaman berada di kamarnya adalah, Dinda kerap tidak percaya diri dan bisa mengganti kembali baju yang sudah dia kenakan.
Seperti sekarang ini. Lima menit yang lalu, Arya melihat dari ruang kerjanya, gadis itu sudah mengenakan kemeja linen lengan panjang dan celana bahan dengan warna senada. Kemudian dia bergerak ke kloset dan tiba - tiba mengenakan outer. Mungkin dia sudah mengganti bajunya menjadi model lain.
Dinda berulang kali memeriksa apakah ini cocok atau tidak. Dia sudah seperti foto model yang berjalan hilir mudik memperagakan semua desain baju.
“Sayang, kamu mau ke kantor atau mau cosplay jadi foto model?”, teriak Arya dari dalam ruang kerjanya. Dia sengaja membiarkan pintu terbuka agar bisa melihat apakah istrinya sudah siap atau belum.
Bukan berarti mereka sudah tidak memiliki banyak waktu untuk bersiap - siap. Tetapi, Arya hanya kasihan kalau istrinya harus mondar - mandir dan bisa membuatnya gampang lelah.
__ADS_1
Tidak ada respon dari Dinda. Namun tak berselang lama, tiba - tiba dia muncul di pintu.
“Mas Arya, kalau begini bagus ga? Stylish ga? Naikin mood ga? Hem.. Ga kelihatan seperti ibu hamil, kan? Atau aku kenakan yang warna krem saja, ya agar lebih netral. Aku pikir warna hijau mungkin bisa meningkatkan mood.”, tanya Dinda berputar memparodikan beberapa pose di hadapannya.
“Memangnya kamu mau terlihat stylish di hadapan siapa? Kalau kamu dandan buat saya, saya gak butuh stylish. Buat saya, seksi saja sudah cukup.”, ujar Arya tersenyum jahil.
Dinda hanya bisa memanyunkan bibirnya.
“Om, sudah pagi om. Ga boleh genit - genit.”, balas Dinda pada komentar Arya yang tidak serius.
“Ha-ha-ha-ha… berani ya panggil ‘om’ - ‘om’. Buat siapa sih dandan sebegitunya? Lagipula kalau bukan pagi memangnya kita mau ngapain?”, kata Arya kembali bertanya lagi.
“Hm HR? Jadi supaya begitu masuk ruangannya, aku terkesan tidak down tapi justru dengan semangat kerja yang menjulang tinggi. Supaya mereka tahu kalau aku punya potensi, mas. Gimana? Bajunya sudah mendukung belum? Atau perlu lebih formal lagi? Apa aku pakai blazer aja, ya? Mama Inggit pernah beliin aku blazer.”, Dinda terlihat sangat sibuk.
"Hah... haruskah aku cemburu dengan pria seperti James?", ujar Arya terlihat tidak setuju kalau Dinda menaruh perhatian sebesar itu hanya untuk menemui HRD. Meski dia tahu apa objektifnya.
“Kamu mau interview kerja, pake blazer?”, tanya Arya.
“Oh iya sih ya, formal banget. Tapi mas Arya sering pake jas. Ya.. walaupun hampir ga pernah pakai dasi.”, kata Dinda masih setia berdiri di depan ruang kerja suaminya.
“Beberapa hari intens bersama saya, kamu lupa ya saya siapa?”, kata Arya dengan gaya formalnya.
“Selamat Pagi Pak Arya. Saya akan siap sekitar 5 menit lagi. Pak Arya silahkan dipakai bajunya, ya. Sudah saya gantung rapi disana.”, ujar Dinda dengan gaya formalnya langsung melipir ke meja rias.
Arya mengangguk - angguk seperti eksekutif muda.
“Bismillah.”, Dinda akhirnya memutuskan untuk mengenakan baju yang sekarang dia pakai.
Apapun yang dia pakai tidak akan membuatnya percaya diri kalau dari dalam tidak ada rasa percaya diri sama sekali. Dinda harus punya rasa percaya diri itu dan apapun pakaiannya, dia yakin tetap bisa maksimal.
Selanjutnya, Dinda hanya perlu membuat wajahnya terlihat lebih cerah. Pokoknya, tidak boleh ada yang melihat dia down, stress, dan sebagainya. Hari ini adalah hari pertama dia bekerja lagi setelah insiden kemarin. Semoga saja orang - orang sudah lupa. Tetapi tetap saja tidak nyaman melihat pandangan orang - orang padanya nanti.
Dengan memberikan semangat pada penampilannya, dia berharap itu bisa menyalurkan rasa percaya diri untuknya.
30 menit yang lalu, dia masih tertunduk di depan cermin memikirkan bagaimana hari ini akan berlangsung. Sekarang moodnya sudah kembali 180 derajat. Gugupnya masih sama, tapi rasa gugup yang dihiasi dengan rasa antusias untuk bekerja kembali.
Mirip seperti saat pertama dia masuk kerja sebagai intern. Tidak mengenal siapapun. Semua terasa asing. Tapi, melihat Arya di hadapannya, Dinda tahu benar kalau ini bukan lagi hari pertama masuk kerja sebagai intern. Arya itu nyata.
Pria yang dulu hanya bisa dia intip dari pantulan dinding lift kini membersamai harinya.
“Parfumnya jangan yang harum - harum.”, ujar Arya sudah muncul dari belakang.
Pria itu meletakkan tas kerjanya salah satu nakas yang dekat dengan pintu keluar sebelum beringsut mendekati istrinya.
“Kenapa? HRD nya ga suka cium bau parfum ya mas?”, tanya Dinda polos. Dia benar - benar sempat mengira seperti itu.
“Harumnya cuma boleh buat saya.”, ujar Arya mencium leher istrinya dari belakang.
Dinda sedikit menaikkan bahunya karena itu adalah serangan tiba - tiba.
"Bagaimana dengan mas Arya? Aromanya pasti juga tercium oleh orang lain. Apalagi waktu itu, sepertinya mas Arya sangat dekat dengan Bu Susan.", kata Dinda berbalik.
Dinda tidak lupa kalau dia menyukai aroma parfum Arya. Presensi pria itu bisa terasa baginya hanya dengan mencium bau parfum miliknya. Padahal, pria itu hanya menyemprotkan sedikit saja.
Dia sudah selesai mengenakan hijabnya.
"Susan?", tanya Arya memastikan sambil tersenyum melihat pantulan istrinya di cermin. Menawan.
"Hn.", balas Dinda dengan ekspresi menanti jawaban.
Mereka saling berkomunikasi melalui pantulan cermin.
__ADS_1
"Ha-ha.. kamu cemburu dengan Susan?", tanya Arya tertawa renyah.
"Bukan cemburu, tapi mas Arya terlalu dekat dengannya. Dan pandangan Bu Susan juga mengisyaratkan kalau dia menyukai mas Arya.", ujar Dinda maju dan mendekat ke suaminya.
Walaupun Dinda tidak memiliki pengalaman hubungan serius dengan pria manapun sebelum menikah dengan Arya, tapi sedikit banyak dia bisa merasakan saat ada wanita lain yang menyukai Arya. Sebaliknya, dia justru tidak sadar dengan orang - orang yang menyukainya.
Dinda membenarkan beberapa bagian jas dan juga kemeja Arya agar terlihat lebih rapi. Dia kemudian bergerak ke arah leher Arya seolah ingin mencium. Arya sudah menanti hal itu dengan gagah.
"Hmm... tuhkan wangi.", ujar Dinda.
Arya langsung kecewa begitu menyadari, Dinda bukan ingin menciumnya tetapi hanya ingin mencium aroma parfum yang dikenakannya.
"Okee.. sepertinya kita tidak bisa berdebat tentang hal itu. Aku hanya memakainya sedikit. Aku lihat kamu juga begitu", kata Arya.
Kemudian, Arya menunjuk - nunjuk pipinya setelah Dinda selesai berjinjit.
"Hn?", Dinda tidak mengerti maksud Arya.
"Ah.... ", tak berapa lama, Dinda langsung menyadarinya.
Arya sudah memasang ancang - ancang untuk memberikan pipinya pada Dinda. Tapi begitu bibir Dinda sudah dekat dengan pipinya, Arya menggeser wajahnya dan bibirnya yang justru menempel pada bibir istrinya. Saat Dinda terkejut dan akan turun dari jinjitnya, Arya meraih segera pinggang Dinda untuk sedikit lebih memperlama pagutan mereka.
"Mas Arya curang.", omel Dinda saat mereka selesai.
"Hm? Dimana letak curangnya?", tanya Arya pura - pura tidak mengerti.
"Tadi mas Arya menunjuk pipi.", kata Dinda protes.
"Aku tidak tahu kamu akan melakukannya dan aku berbelok. Siapa sangkat ternyata..."
"Enggak percaya. Pokoknya mas Arya sudah curang.", kata Dinda saat Arya belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Ya sudah, ini ambil lagi.", ujar Arya sedikit merendahkan posisi tubuhnya dan memberikan bibirnya pada Dinda.
"Ih... apa - apaan.", kata Dinda menolak dengan menggeser tubuh Arya ke belakang.
"Ha-ha.. ya sudah kalau tidak mau dikembalikan lagi.", balas Arya tersenyum.
"Mana bisa dikembalikan.", ujar Dinda melayangkan ekspresi manyun pada Arya.
"Jadi tadi bagaimana? Kamu cemburu dengan Susan?", tanya Arya membuka kembali topik yang tadi.
"Engga.", kata Dinda tidak mengakuinya.
"Terus kenapa bertanya?"
"Huuu... tapi.. bukan berarti gak boleh tanya tentang Bu Susan. Sebelumnya aku gak sadar, tapi sepertinya mas Arya dan Bu Susan sangat dekat.", ujar Dinda lagi.
"Bilang tidak cemburu tapi tanya - tanya terus.", ujar Arya.
"Habis sedekat itu.", ujar Dinda.
"Aku dan Susan hanya teman lama. Bagaimana dengan kamu dan tim kamu itu. Bryan, Andra, belum lagi yang di divisi saya. Memangnya saya tidak tahu?", kata Arya.
"Mereka tidak serius. Mereka hanya bercanda.", jawab Dinda.
"Bagaimana kamu menyadari keberadaan Susan yang mungkin seperti yang kamu bilang. Seperti itu juga saya menyadari keberadaan Bryan dan Andra.", ujar Arya pada Dinda.
"Aku sayang mas Arya.", ujar Dinda.
"Tiba - tiba?", tanyanya tersenyum.
__ADS_1
Dinda menggeleng.
"Sudah lama.", Dinda tersenyum dan memeluk suaminya.