Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 202 Kesepakatan


__ADS_3

Dika, saat ini pria itu sedang berbicara serius dengan Sarah. Pembicaraan yang hampir tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Sarah dan Dika hanya bertemu sesekali. Biasanya pembicaraan mereka adalah masalah serius, namun keduanya seolah membuatnya sebagai barang candaan saja. 


Tapi kali ini beda. Bahkan dari bahasa tubuh dan tatapan Sarah, Dika sudah bisa menangkap ada sesuatu yang diinginkan oleh wanita itu. Dan benar saja. 


“Apa yang mau kamu lakukan dengan foto ini?”, tanya Dika to the point. 


Dia sudah cukup mengenal Sarah dibandingkan dengan dia mengenal istrinya sendiri. Hanya dari eskpresi yang ditampilkan oleh wanita itu. Dika juga bisa merasakan ada perbedaan tentang Sarah belakangan ini. Dari pertama kali dia tanpa sengaja mengenalnya, hingga mereka menjalin hubungan. 


Dulu, Sarah terlihat lebih innocent. Ya, walaupun sifat liarnya ada, tapi itu hanya bagian 'chill' dari wanita itu yang memang seru dan menyenangkan untuk Dika. Makanya dia bisa nyaman satu sama lain. Tetapi, sejak pertemuannya dengan Arya di hotel waktu itu, Sarah jauh sekali berbeda. 


Perasaan nyamannya saat bertemu dengan Sarah perlahan hilang, menipis, bahkan sampai pada keputusan dia ingin menyudahi hubungan mereka. Tidak memungkiri, kemunculan Rima di hidupnya juga mempengaruhi itu. 


Jika Sarah sampai berusaha menghubunginya seperti ini hanya untuk memperlihatkan foto - foto itu, dia pasti sedang merencanakan sesuatu. Dia tahu itu dan tidak ingin berputar - putar. Dia ingin tahu apa yang Sarah inginkan darinya. 


“Sesuai dengan ekspektasiku dari seorang Dika Sadewa. Kamu begitu cerdas. Sayangnya, kamu cerdas untuk hal - hal jahat. Karena itu aku membutuhkan bantuanmu.”, ucap Sarah menaikkan sebelah alisnya. Dia meneguk minumannya. Segelas jus orange dengan detail potongan jeruk di bagian pinggir bibir gelasnya.


“Jahat? Bukankah kamu yang saat ini sedang mengancamku. Dan kamu masih bisa mengatakan aku jahat? Dimana letak jahatnya? Justru, menurutku, kamu yang jahat. Jangan membuat semua orang menjadi jahat dan bersikap seolah - olah hanya kamu yang baik di dunia ini. You're playing victim, now. Sarah, dengarkan aku. Kamu pernah menjadi seorang gadis yang baik. Dulu. Saat kamu masih bersama Arya.”, sindir Dika. 


Sarah menatap pria itu tajam.


"Ada apa dengan kalian berdua? kalian mengatakan hal yang sama. Aku adalah gadis yang baik dulu, dan sekarang aku berbeda. Apa yang sebenarnya kalian pahami dariku? Kalian tidak menyadari kalau kalian yang membuat ku seperti sekarang ini.", ujar Sarah menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Dika yang juga ia letakkan di meja. 


"Berhenti berputar - putar, sekarang apa yang kamu inginkan?", Dika menepis tangan Sarah yang mencoba meraih tangannya. 


“Heh… bermain - main di belakang istri sah kamu, bukankah itu jahat namanya? Oke, aku izinkan kamu tidak menghitungku karena mungkin kamu hanya bermain - main. Tapi dengan dr. Rima. Sepertinya kamu sangat serius dengannya. Bagaimana kalau Rianti tahu? Dia tidak hanya akan menghancurkan bisnis papamu, tapi dia juga akan membuat keributan besar di rumah sakit.”, kata Sarah dengan nada yang mengancam. 


“Apa yang kamu inginkan? Berhenti berputar - putar dan segera katakan yang kamu inginkan. Arya? Tidak mungkin. Oke, kamu berhasil mengancamku dengan foto - foto ini. Tapi, bagaimana aku bisa membawa Arya kembali kepadamu. Jangan bercanda. Apa yang bisa aku lakukan. Mengancamnya untuk kembali padamu? Bagaimana?”, kata Dika merasa permintaan Sarah tidak masuk akal. 


Dika melirik sebentar ke arah Sarah dan memperhatikan ekspresi wajahnya. 


‘Mengembalikan Arya? Dia saja tidak bisa, bagaimana aku bisa? Dasar perempuan gila.’, bathin Dika dalam hati. 


'Aku tidak tahu bagaimana aku dulu bisa menjalin hubungan dengannya. Semuanya malah jadi kacau begini.', ujar Dika dalam hati.


“Mudah. Kamu tinggal mendekati istrinya sampai Arya menceraikannya. Sisanya, aku bisa melakukannya sendiri.”, kata Sarah. 


“Apa? Mendekati Dinda? Aku tahu kamu sudah gila, tapi aku tidak tahu kalau kamu segila ini. Bagaimana mungkin aku bisa mendekati gadis itu? Aku bisa dihajar jika mendekatinya. Asal kamu tahu, dia sudah mencurigaiku padahal aku tidak berniat jahat pada istrinya. Apalagi jika aku ada niat untuk mendekatinya.”, kata Dika. 


"Dan Sarah, asal kamu tahu, Dinda bukan gadis seperti itu. Dia tidak sama dengan kita. Dia tidak sepertimu. ", Dika memperjelasnya lagi. 


Sarah emosi mendengar ucapan Dika, namun dia mencoba untuk menahannya. 


“Hei.. hei.. Dika. Aku tahu bukan aku wanita pertama yang menjadi selingkuhanmu. Aku tahu kamu bisa melakukannya. Atau, kamu mau Rianti mengobrak - abrik dr. Rima kesayanganmu itu?”, Sarah tak henti - hentinya mengancam. 


“Arya, pria itu bisa marah hanya karena hal - hal sepele. Intinya, buat sebisa mungkin, Dinda yang bersalah dan membelot darinya. Bukan semata - mata karena kamu yang menggodanya. Gampang, kan?”


Dika memainkan pulpennya sambil memikirkan kata - kata Sarah tadi siang. Dia tidak habis pikir dengan wanita itu. Sebenarnya sejauh apa dia melangkah hanya untuk mendapatkan kembali Arya. 


Dia sudah pernah memilikinya dan melepaskannya. Mengapa semakin kesini Dika merasa Sarah terobsesi pada Arya. Bukan lagi persoalan cinta. Dan dia terseret lebih dalam pada permainan wanita itu. 


Padahal, Dika tidak memiliki maksud terselubung saat memutuskan untuk pindah ke perusahaan yang sama dengan Arya. Dia hanya penasaran pada sosok Arya. Kemudian pertemuannya dengan 


Dinda juga hanya sebuah kebetulan. Mana dia tahu kalau ternyata istri pria itu adalah intern yang bekerja di tempat yang sama dengannya dan bahkan menjadi bawahannya. 


“Lalu sekarang, apa yang harus aku lakukan? Jika aku tidak melakukan sesuai dengan permintaan Sarah, maka wanita itu akan menyeretku ke pinggir jurang.”, ucap Dika pelan dalam kesendiriannya di ruang kerja miliknya. 


Jika saja Rianti bersikap seperti dulu, mungkin dia tidak akan menggubris ancaman Sarah. Tapi, Rianti bersikap aneh belakangan ini. Mulai dengan bullshit bahwa dia ingin memperbaiki hubungan kami berdua. Bahkan dia tidak segan - segan mengancamku yang merupakan suaminya dan sudah hidup bersama 10 tahun. Meski hanya di atas kertas. 


Sepertinya Dika memang masuk ke dalam perangkapnya sendiri.


********


Waktu sudah memasuki dini hari. Setidaknya jam 3 pagi. Dinda terusik dengan dinginnya AC yang ada di kamarnya. Tubuhnya refleks merapat ke arah Arya untuk mendapatkan kehangatan dari pria itu. Salah dia juga yang punya kebiasaan tidur dengan AC sedingin itu. Jadi, dia harus bertanggung jawab.


Saat Dinda refleks mendekat, Arya membantunya untuk mempersempit jarak diantara mereka. Pria itu bahkan mengecupnya singkat. Dinda menghadap ke arahnya sekarang dan tidur di bawah lengan pria itu. Sementara Arya menghadap ke arah langit - langit.


“Em? Mas Arya tidak tidur?”, Dinda yang awalnya hanya terusik perlahan mulai membuka matanya. Perlakukan Arya membuatnya terbangun.


Dia merasakan tubuhnya sedikit pegal namun tetap mengeluarkan senyum pada Arya.

__ADS_1


“Makasih ya sayang.”, ucap Arya random sambil tersenyum jahil. Ternyata benar, Arya bangun.


“Mas Arya tidak benar - benar mengucapkan terima kasih, kan? Tapi, hanya ingin menggodaku.”, kata Dinda protes. Senyum jahil itu. Dia sudah hafal betul mana yang benar senyum perhatian dan mana yang senyum jahil. Oh ya, dan mana yang senyum mengancam (hanya untuk bawahan Arya di kantor).


“Mana mungkin. Aku tersenyum tulus, begitu juga dengan rasa terima kasihku. Ah.. memikirkan seminggu yang lalu aku harus tidur sendirian di hotel. Sudah, kamu tidur lagi saja. Kamu baru bisa tidur dua jam yang lalu. Sini aku peluk. Besok harus ke kantor.”, kata Arya.


Dinda memilih untuk tidak meladeni kejahilan suaminya. Matanya masih mengantuk. Dia memilih untuk berlindung dibalik hangatnya tubuh Arya dan perlahan matanya mulai tertidur kembali.


Di mobil menuju kantor.


“Nanti jam 5 sore, kan?”, tanya Arya memastikan pada Dinda yang terlihat sangat sibuk dari arah samping pandangan Arya.


Dinda mengangguk. Ternyata, dia tengah sibuk memasang tali sepatunya.


“Kenapa kamu tidak menggunakan sepatu kets saja? Sepertinya akan lebih nyaman buat kamu. Gampang kan tinggal dimasukkan, selesai. ”, ujar Arya sambil sesekali melirik istrinya yang dari tadi sibuk memasang tali sepatu.


Terima kasih buat tadi malam, keduanya sukses bangun terlambat hari ini. Selepas menjalankan kewajiban subuh, mereka kembali tidur dan bablas sampai jam setengah 8 pagi. Dinda bahkan tak sempat memasang tali sepatunya. Lebih tepatnya, dia hanya memakai sendal saat masuk ke dalam mobil Arya.


“Sudah, biarkan saja. Nanti biar aku yang pasangkan.”, ucap Arya yang meski sesekali melihat tapi tahu bahwa Dinda kesulitan memasang tali sepatunya.


Perut Dinda sudah mulai mengeluarkan baby bump di usia kehamilannya yang menginjak 4 bulan. Di kantor, dia masih aman dengan menggunakan pakaian yang longgar, jadi tidak ada yang menyadarinya kecuali mereka - mereka yang sudah tahu seperti Erick, Siska, dan Bryan.


“Jangan dipaksa, kasian perut kamu jadi terhimpit. Nanti biar aku yang pasangkan.”, ucap Arya lagi saat melihat Dinda masih terus berusaha.


“Bagaimana caranya?”, tanya Dinda bingung.


“Kamu tinggal bersandar ke pintu mobil dan meluruskan kaki kamu kesini. Aku akan memasangkannya. Sandaran mobil bisa dimundurkan ke belakang. Memangnya kamu punya kaki yang panjang?”, kata Arya men-skak mat Dinda yang masih meragukannya.


“Mulai body shaming, Pak Arya Pradana.”, balas Dinda cemberut.


“Tenang, kamu tidak perlu khawatir, anak kita pasti mewarisi ayahnya. Karena ayahnya yang lebih dominan saat di….”, Arya baru saja akan melanjutkan kalimatnya dan Dinda langsung menyumpal mulut suaminya yang belakangan semakin mesum itu dengan tangannya.


Beruntung mereka sedang terjebak lampu merah dan mobil sedang berhenti.


“Loh, kamu merasa tidak terima? Kalau begitu..”, kata Arya semakin jahil.


“Iya, iya sorry sorry.. Aku minta maaf.”, kata Arya sambil memberikan tatapan penuh arti.


“Itu masih. Sebel deh sama mas Arya. Aku masih muda mas Arya.. geli ih. Jokes om - om. Serem.”, protes Dinda.


“Daripada yang seusia kamu, baper terus dan tidak berpengalaman. Mending om - om.”, Arya terus saja meracau sambil mengarah kesana untuk menjahili istrinya.


Dinda langsung melayangkan tatapan tajam.


“Iya, iya.. Maaf yaa..”, Arya melanjutkan kemudinya.


Sebelum memasuki area perkantoran, mereka singgah terlebih dahulu di area drive-thru untuk membeli kopi kesukaan Arya.


Biasanya Siska yang bertugas, namun berhubung asistennya itu masih berada di Sulawesi dan baru pulang besok, Arya harus menyiapkannya sendiri.


“Americano-nya satu ya mba, yang hot. Boleh minta dimasukkan ke tumblr sendiri?”, tanya Arya.


“Iya, tentu saja Pak. Boleh dibantu tumblrnya.”, jawab petugas tersebut.


Dinda langsung memberikan tumblr yang tadi dia bantu ambil dan memberikannya pada Arya.


“Mau donat atau kue pendampingnya sekalian, Pak?”, tanya petugas itu.


“Sayang, kamu mau donut, ga?”, tanya Arya mengalihkan pandangannya pada Dinda.


“Boleh dong 2.”, Dinda tersenyum.


Mereka tidak sempat sarapan hari ini dan hanya membawa sandwich. Dinda sudah memakannya. Dinda malu mengambil banyak sandwich dan ternyata benar, dua potong tidak cukup.


“Yakin, cukup dua?”, tanya Arya.


“Tiga?”, kata Dinda dengan ekspresi wajah polos. Ekspresi yang mampu menghangatkan hari - hari seorang Arya Pradana.


Arya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


“Mba, kasih tiga donutnya, ya. Yang ada taburan gula dan bluberrynya. Iya, terima kasih.”, ucap Arya saat semua pesanannya sudah diberikan.


Dinda langsung mukbang donut dadakan di dalam mobil Arya.


“Aa..”, kata Arya memberikan sobekan kecil donut ke mulut Arya.


Arya menggigitnya. Begitu terus. Dinda akan mengambil gigitan besar, dan memberikan sepotong kecil pada Arya. Pria itu tidak suka sarapan. Sepotong - sepotong yang diberikan Dinda sudah cukup baginya.


EPILOGUE 


"Mas Arya beneran membeli ini buat aku?", tanya Dinda dengan mata yang berbinar - binar dan wajah yang berseri.


"Iya, memangnya saya mau belikan untuk siapa lagi. Ibas? Dia gak perlu dibelikan juga pasti endingnya akan nyolong baju saya.", kata Arya yang paham betul dengan sifat adiknya.


Beberapa hari yang lalu, dia menyadari lagi ada yang hilang dari lemari pakaiannya. Sebuah outer berwarna biru yang biasanya dia gunakan kalau sedang ada perjalanan keluar negeri terutama daerah yang dingin.


Outer itu sudah tidak ada di tempatnya. Saat Arya bertanya pada Dinda, Ibas memang masuk ke kamarnya saat Arya sedang di ruang kerjanya. Dinda kira, Ibas sudah izin dulu dengan Arya, ternyata belum.


Saat ditanya, Ibas pasti memiliki jawaban andalannya sendiri.


"Kalau aku tanya mas Arya dulu, sampai kamu melahirkan juga ga bakal dikasih Din. Mas Arya kan pelit. Bukan, dia itu gak mau kalau adiknya terlihat lebih keren dan lebih tampan dari dia.", begitulah kira - kira jawaban pamungkas dari seorang Baskara Pradana.


"Makasih ya mas Arya, aku kira kemarin waktu lihat, ini punya siapa. Ternyata hadiah.", kata Dinda senang.


"Kamu bukanya kecepetan kemarin. Saya mau kasih setelah makan malam. Kamu malah langsung buka."


Dinda hanya bisa tersenyum cengengesan.


Sejak dari Maldives, sepertinya ini pertama kalinya Dinda mendapatkan hadiah lagi dari Arya.


"Ohiya, ada satu lagi. Sebentar.", ujar Arya mengambil satu kotak hadiah lagi di dalam lemari.


"Oh? Sepatu?", tanya Dinda langsung hanya dengan melihat merek yang tertera di kotaknya.


"Iya. Kok kamu bisa tahu?", tanya Arya bingung.


"Jelas aja mas. Mas Arya beneran beliin aku ini? Mas Arya ga salah? Atau ini cuma kotaknya aja? Sebentar, apa ini yang KW ya?", Dinda menduga - duga sendiri.


"Enak aja KW. Barang buat saya aja, saya gak pernah beli KW. Apalagi buat istri saya sendiri.", kata Arya.


"Mas Arya, tapi ini kan harganya lumayan? Aku ga bisa menerima ini mas.", tanya Dinda belum berani memegang kotak yang barusan disodorkan Arya padanya.


"Loh, kenapa? Ini buat kamu loh. Kamu gak suka?", tanya Arya bingung dan sedikit kecewa.


"Bukan. Bukan. Bukan itu maksudnya. Aku seneng banget, tapi.. Tapi ini kan mahal, mas.", kata Dinda ragu - ragu.


"Biasa aja kok. Maksudnya, Alhamdulillah aku bisa beli ini. Gak se-mahal itu kok, Din.", ucap Arya bingung dengan kata mahal yang di sebutkan Dinda.


Padahal harganya sekitar setengah dari harga sepatu milik Arya sendiri. Arya juga membelinya setelah bertanya pada Siska. Dia meminta pendapatnya tentang sepatu kantor yang biasa digunakan oleh perempuan. Sepatu yang tetap cocok meski digunakan oleh seorang intern. Dan Siska merekomendasikan sepatu itu.


"Dulu aku cuma bisa lihat sepatu ini di etalase toko. Setelah diterima di perusahaan, aku pernah minta bunda untuk beliin buat aku kerja ke kantor.  Tapi bunda gak kasih karena harganya mahal. Akhirnya aku 'ngambek' ke Bunda. Aku menyesali itu. Seharusnya aku lebih paham posisi bunda waktu itu.", Dinda tiba - tiba curhat.


Wajahnya dari yang tadi senang berganti jadi terharu.


"Gapapa, Din. Wajar. Toh kamu juga sudah menyadari kalau kamu salah waktu itu. Aku juga pernah seperti itu ke papa.", ujar Arya.


"Mas Arya gak bisa beli?", pertanyaan polos keluar dari mulut Dinda.


"Haha... hum.. sedikit perbedaan dari kasus kamu. Papa bisa beli. Tapi menurut papa, barang itu bukanlah barang yang cocok untuk dikenakan oleh anak SMA dari segi harganya.", jelas Arya.


Dinda mengangguk - angguk mendengar penjelasan Arya. Ternyata seperti itu Papa mendidik anak - anaknya.


"Makanya gak heran kan kalau Ibas sering malingin baju kakaknya. Sekarang mungkin dia sudah diizinkan untuk beli baju yang dia mau karena dia sudah bekerja sendiri.", ujar Arya.


"Ya udah, coba dipakai sepatunya. Kalau ini, adalah hadiah aku buat kamu karena sudah jadi istri yang baik.", puji Arya.


Dinda langsung salah tingkah menerima pemberian itu. Pertama, Arya membelikannya beberapa pasang outfit khusus bumil. Mungkin Dinda baru akan mengenakannya diusia kehamilan trimester ketiga.


Lalu, Arya juga membelikannya sepatu kets, supaya lebih mudah kalau berangkat ke kantor. Tidak perlu memasang tali sepatu lagi.

__ADS_1


__ADS_2