
“Jadi, sudah sejauh apa hubungan kalian?”, inilah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Erick setelah dia mengambil 3 piring lebih makanan dari buffet sebuah restoran hotel.
Porsi makan Erick sangat besar. Orang - orang di kantor mungkin akan mengira jika Erick sering melakukan diet karena bentuk tubuhnya yang lumayan atletis. Meskipun tidak seperti Arya. Percayalah, Erick sering nge-gym setiap minggu agar dia bisa memasukkan lebih banyak makanan tanpa membuatnya gendut.
“Aku tahu ini buffet, tetapi bisakah kamu tidak membuatku malu.”, ujar Arya.
Hari ini dia terpaksa mentraktir teman satu SMA nya ini di buffet terkenal di restoran bintang lima agar pria ini mau tutup mulut. Arya hanya bisa geleng - geleng kepala karena dia tidak menyangka dia malah mengabulkan permintaan Erick.
“Kapan lagi aku bisa makan di buffet hotel bintang lima seperti ini kalau bukan dari kartu pak bos.”, ujar Erick memberikan lelucon sarkas. Berdasarkan struktur manajerial di kantor, Erick berada 3 level di bawah Arya. Itu mengapa, Erick tidak bisa langsung naik menjadi Head of Digital and Development.
“Jangan pura - pura seperti orang susah. Kamu kira aku tidak tahu berapa harga member gym-mu?”, balas Arya.
Pria ini sedang berusaha sebisa mungkin untuk membuat Erick lupa pada pertanyaan yang ingin dia tanyakan tadi.
“Kamu kan tahu aku mendapat diskon tambahan sebagai penghuni apartemen. Dan, apartemen yang aku miliki sekarang adalah milik orang tuaku. Arya, jangan mencoba mengalihkan pembicaraan. Jadi sejauh apa kamu memacari, Dinda? Apa kamu sudah gila?”, Tanya Erick.
Sebenarnya, Erick sudah lama mencurigai hubungan antara Arya dan Dinda, meski dia tidak belum memastikannya.
“Sejauh ranjang?”, ujar Arya melayangkan kalimat yang sukses membuat Erick tersedak dan itulah rencana Arya.
Uhuk Uhuk Uhuk
Erick dengan cepat mengambil minum dan memukul - mukul dadanya, agar sosis dan daging yang sedang dia telan bisa mengalir masuk ke perutnya.
“Apa??? Kamu sudah gila? Kamu tidak sedang membohongiku, kan?”
“Kamu bertanya, kan? Aku hanya menjawab pertanyaanmu.”, jawab Arya dengan santai sambil menenggak air putih yang ada disampingnya. Cara pandang, gaya duduk, dan tatapan Arya benar - benar santai.
Meski awalnya Erick yang memegang kartu AS-nya, tetapi bukan Arya namanya kalau tidak bisa membalik situasi.
“Arya, Dinda itu polos, loh. I mean, se-polos itu. Selama aku bekerja, aku belum pernah melihat bawahan sepolos dan selurus dia. I mean, kamu pasti sudah sering hangout dengan banyak orang dan bisa menilai sendiri. And you date someone like Dinda?”, kata Erick. Dia masih belum bisa lepas dari rasa terkejutnya.
“Sepertinya, dia sudah tidak sepolos itu lagi. Setidaknya saat bersamaku.”
__ADS_1
“So, you really slept with her?”, Erick lagi - lagi bertanya dengan menggebu - gebu. Kali ini dia bahkan menaikkan volume suaranya dan sukses membuat beberapa orang di samping mereka menoleh.
“Pelankan suaramu. Kamu ingin mempermalukan aku hari ini?”
“Selama ini, aku tidak pernah percaya semua rumor tentangmu yang beredar di antara karyawan. Tapi, apa kamu benar - benar sering tidur dengan wanita setelah bercerai?”, selama ini Erick jarang bertanya, tetapi kali ini dia harus.
Erick adalah salah satu orang yang menginterview Dinda saat gadis itu pertama kali melamar pekerjaan di perusahaan mereka sebagai intern. Dia tahu betapa polosnya gadis ini. Jahat sekali jika Arya hanya memanfaatkannya saja. Meski Erick masih meyakini Arya bukan orang seperti itu, tapi informasi yang diprosesnya saat ini malah semakin membuatnya ragu.
“Kamu pikir aku apa, tidur dengan sembarang wanita. Sepertinya aku sudah memberitahumu tentang hal ini. Aku bingung, mengapa semua orang mengira aku senang tidur dengan wanita. Aku minum, iya. Tapi tidur dengan sembarang wanita, what the hell?”, ujar Arya dengan intonasi yang tenang.
“Lalu, apa maksud jawabanmu tadi bahwa hubungan kalian sudah sampai ranjang? Maksudnya kamu tidur dengannya kan?”, Erick semakin tidak sabaran.
“Of course I did, she’s my wife.”, balas Arya santai.
Kesalahan kedua yang Erick lakukan saat menunggu jawaban dari Arya adalah dia menenggak minumannya. Dia tersedak dua kali dan menumpahkan minumannya. Bahkan Arya memarahinya karena dia juga ikut kena semprotannya.
“What? Are you f*cking kidding me? Come on, bercanda juga ada batasnya, bos Arya.”, ujar Erick dengan penuh nada sarkas.
“Kamu serius? Tidak bercanda? Bagaimana bisa?”, Tanya Erick.
Arya begitu santai saat ini seolah dia tidak masalah jika Erick mengetahui hubungan mereka. Sebenarnya, Arya ada maksud tersembunyi mengapa dia membiarkan Erick mengetahui hubungan mereka. Arya ingin Erick bisa memantau para pria di divisinya agar tidak menempel pada Dinda.
Dia akan stress luar biasa dan tidak fokus setiap kali dia tidak di kantor. Erick bisa menjadi mata - matanya untuk menjauhkan Dinda dari para laki - laki yang dilihatnya tadi. Setidaknya, mereka tidak menyentuh sesuatu yang menjadi miliknya bahkan sehelai kain pun dari Dinda.
Arya menatap wajah bingung dan shock Erick dan menunggu pria itu untuk melontarkan pertanyaan selanjutnya.
“Sejak kapan? Bagaimana bisa? Berarti kamu sudah lama mengencaninya? Tidak, aku baru tahu keanehan interaksi dan pandanganmu terhadap Dinda baru - baru ini. Aku bahkan tidak tahu kalian punya hubungan, aku hanya menebaknya.”, ujar Erick.
Sejujurnya, Erick tidak mendengar apapun dari dalam ruangan Arya. Ruangan Arya kedap suara dan mustahil untuk mendengar pembicaraan di dalamnya, apalagi Arya dan Dinda berbicara dengan volume kecil,
Namun, ekspresi Arya yang terkejut saat membuka pintu tertangkap oleh Erick dan dia berpikir untuk gambling dengan imajinasinya. Bagaimana kalau dia pura - pura mengetahui Arya dan Dinda memiliki hubungan dan Erick tidak menyangka jika Arya masuk dalam jebakan itu dan mengakui hubungan mereka.
“Aku bahkan tidak dengar apa - apa tadi dari ruanganmu. Tapi karena kamu mengeluarkan ekspresi kaget, aku hanya menebak - nebak saja.”, Jelas Erick.
__ADS_1
“Cepat atau lambat, aku juga harus memberitahukannya pada semua orang. Tapi belum sekarang. Dan aku ingin kamu bisa mengawasi Dinda untukku.”, pinta Arya.
“Wuh.. sesuatu yang tidak profesional keluar dari mulut Arya?”, kata Erick lagi.
“Aku tidak memintanya sebagai atasanmu, tapi sebagai teman.”
“Hm.. kamu cemburu dengan Dinda?”, Tanya Erick.
“Sudah, jangan banyak tanya. Dan jangan mengambil kesempatan. Aku juga tidak nyaman dengan interaksimu dengan Dinda yang kelewat perhatian.”
“Haha.. bahkan kamu cemburu padaku? What happened to Arya?”, lagi - lagi Erick bertanya sarkas.
“Tapi memang, Dinda memiliki daya tarik yang berbeda dari wanita kebanyakan. Tapi bukan berarti aku akan mendekatinya. Tunggu, aku sangat penasaran, bagaimana mungkin kamu menikahi gadis yang bisa dibilang jauh lebih muda darimu? 10 tahun, 11?”, tanya Erick lagi.
“Aku tidak akan memberitahukan detailnya padamu sekarang. Yang jelas, kamu seharusnya bangga, karena hanya kamu yang aku berikan kepercayaan memegang rahasia besar ini.”, ujar Arya yang berbalik sarkas.
Erick bergidik geli mendengar kata - katanya yang penuh percaya diri?
“Hahahah…baiklah - baiklah, tuan muda yang agung. Saya merasa tersanjung karena tuan muda mau memberikan saya kartu AS ini. Bisakah saya menggunakan kartu AS ini saat akhir bulan dimana kantong saya kering tapi saya ingin makan di restoran mahal?”
“Asal kamu melaporkan padaku jika ada anak buahmu yang berinteraksi berlebihan dengan Dinda.”
“Hm.. permintaan yang sulit. Aku tidak bisa mengendalikan orang lain. Haha…”
“Kamu hanya perlu memberitahuku. Tidak perlu melakukan apa - apa. Ingat, aku sering sekali menandatangani dokumen - dokumen dari divisi Digital disaat - saat last minute. Bahkan beberapa minggu lalu, aku harus menunggu sampai malam, di bandara, aku harus menemuimu padahal aku mau berlibur. Jika aku daftarkan semuanya, permintaanku ini terlalu kecil. ”, jawab Arya.
“Kamu tahu apa yang aku lakukan jika ada yang meminta tanda tangan di menit - menit terakhir di divisi Business and Partners?”, tanya Arya melanjutkan.
“Ya.. aku tahu. Rumor-nya sudah sampai ke semua divisi. Oke.. oke… aku akan melakukannya.”, Jawab Erick.
“Lalu? Apa yang akan kamu lakukan jika itu terjadi.”, tanya Arya lagi.
“Itu urusanku.”, jawab Arya.
__ADS_1