Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 253 Arisan Dadakan Bagian 3


__ADS_3

“Mas Arya, itu kayaknya sudah mendidih. Mas Arya bisa matikan apinya dan masukkan ke wajan.”, ujar Dinda setelah mengintip bagaimana kondisi di sebelahnya.


Meski dia sudah mengatakan pada Arya, tapi pria itu terus mengaduknya bahkan saat pancinya sudah mendidih.


“Hm? Tapi kan belum lama, Din. Memangnya sudah matang?”, tanya Arya sambil terus mengaduk pancinya.


“Sudah mas. Mas Arya tidak perlu menunggunya lagi. Kalau sudah mendidih, mas Arya bisa matikan apinya.”, ujar Dinda.


“Baiklah.”, kata Arya mematikan apinya.


“Sekarang masukkan ke dalam wajan. Aku mau ke toilet sebentar.”, ujar Dinda yang sudah selesai menuangkan kembali puding di pancinya ke dalam wajan.


“Hm..perlu aku antar?”, tanya Arya.


“Pertanyaan macam apa itu, mas? Ya tentu saja tidak perlu. Aku bisa sendiri.”, ujar Dinda tertawa bingung.


Melihat Arya tersenyum, Dinda tahu kalau pria itu hanya ingin menggodanya saja. Arya kemudian duduk dengan tenang dan mengambil ponsel di kantongnya. Dia melihat beberapa pesan penting dan membalasnya. Dia juga sesekali melihat beberapa berita disana.


Pesan dari Ibas:


Kata mama yang disuruh beli mas Arya. Kenapa malah menyuruhku (emoticon marah)


Arya hanya tersenyum tanpa membalas pesan adiknya. Benar sekali, orang yang diminta untuk membeli beberapa bahan - bahan yang masih kurang sebenarnya adalah Arya, tetapi pria itu malah meminta Fam membangunkan Ibas.


Ibas baru tahu setelah dia tiba di dapur. Dia mengirimkan pesan pada Arya karena dia tidak tahu kakaknya sedang berada di area belakang dapur.


“Hai Bas, cepat sekali. Aku kira kamu masih tidur. Kemarin bukannya kamu sampai menyiapkan popcorn untuk ngegame, ya?”, tanya Dinda yang baru saja selesai dari toilet.


“Oh, jadi kamu bas pelakunya. Pagi - pagi mama masih lihat beberapa popcorn berserakan di lantai atas.”, kata Inggit sambil menghitung kembali bahan - bahan yang baru saja dibeli oleh Ibas dan Fam.


Mereka membeli di supermarket terdekat karena Ibas tidak mau terjebak kemacetan tidak jelas di hari libur.


Mendengar Mamanya mengomel, Ibas hanya no comment.


“Mas Arya kemana, Din? Nge-gym ya? Dia pasti kabur kalau ada acara - acara begini.”, tanya Ibas saat Dinda baru saja ingin kembali ke belakang.


“Engga, mas Arya bareng sama aku di belakang, bantuin bikin puding.”, ujar Dinda.


“Hah? Mas Arya di belakang? Bikin puding? Yang benar kamu? Bukannya dia ke gym?”, kata Ibas melihat ke arah Fam.


“Tadi kan aku sudah bilang, mas Arya gak jadi ke gym.”, mendapatkan tatapan tajam dari Ibas, Fam langsung memberikan klarifikasi.


“Kapan kamu bilang? Bukannya kamu hanya bilang kita harus beli bahan - bahan, disuruh mama karena mas Arya ga bisa. Mas Arya bukan gak bisa, dia malah mesra - mesraan di sana.”, protes Ibas yang kesal karena waktu tidurnya terganggu.


“Kita gak mesra - mesra-an kok.”, kata Dinda langsung meninggalkan Ibas sebelum anak itu mengatakan yang lebih aneh lagi. Terutama tentang apa yang terjadi semalam.


‘Ibas mulutnya benar - benar. Padahal disana ada Bunda, Tante Meri, Tante Indah, dan mama. Aku kan malu.’, ujar Dinda memutuskan untuk beringsut pergi melanjutkan pekerjaannya di belakang sebelum mas Arya menghancurkannya.


“Seperti ada suara Ibas.”, ujar Arya.


“Hn. Dia baru pulang beli bahan titipan mama…Mas Aryaa….. Ini kok dibiarkan di panci ga diuang ke wajannya.”, teriak Dinda saat menyadari, bagian puding yang sudah mendidih tadi tidak dipindahkan segera ke wajan dan ditinggal begitu saja di dalam panci.


“Hm?”, Arya bingung melihat ke arah panci.


“Oh.. iya.. “, kemudian dia dengan santainya memasukkan ponselnya ke dalam kantong dan mengambil wajan.


“Mas Arya… itu pasti sudah mengental dan sebagian bentuknya sudah tidak bagus. Kenapa dibiarkan lama di dalam panci, mas.”, Dinda memukul punggung suaminya geregetan.


“Memangnya ga bisa dimasukkan ke wajan? Baru juga sebentar.”, komentar Arya masih tidak mengerti.


Dia tetap mengambil wajan yang ada di atas meja dan mengambil panci puding kemudian menuangkannya. Plung. Terlihat beberapa bongkahan puding di beberapa bagiannya sudah terlanjur mengental, terutama di bagian pinggiran.


Arya kemudian menyunggingkan senyum ke arah istrinya yang sudah berkacak pinggang dan  menghela nafas.


“Ha-ha.. Ternyata puding tipe seperti ini bisa cepat kering juga ya. Aku baru tahu. Seharusnya, kamu bilang dari awal.”, ujar Arya dengan ekspresi seolah tanpa merasa bersalah.


“Tuh kan.. Benar.. Hiks.. harusnya aku tidak meninggalkan mas Arya sendiri.”, kata Dinda tiba - tiba merasa menyesal.


“Tidak seburuk itu. Kita coba lagi. Kali ini setelah mendidih, aku akan memasukkannya langsung ke dalam wajan. Okay!”, kata Arya bersemangat.


Sebenarnya dia bukan bersemangat, tetapi berusaha mengalihkan kegagalannya dan memastikan Dinda tidak marah.


“Woah… disini rupanya.”, kata Ibas yang mengikuti Dinda.


Begitu datang, dia langsung menggeleng - geleng kepala melihat pemandangan yang ada di depannya. Seorang Arya Pradana mengenakan celemek dapur dan sedang memegang panci dan spatula.


“Hn.. aku mengerti sekarang… jadi ini yang mas Arya maksud tadi malam.”, ujar Ibas.


“Maksudnya?”, tanya Fams yang mengekor di belakangnya membawa beberapa bungkus puding tambahan yang baru saja dia beli.


“Ini Mba Dinda, Mama minta ada yang rasa buah juga. Bas, tolong ambil buah mangga, naga, dan karton yang ada di dapur, ya. Bawa kesini, mau di potong - potong.”, ujar Fams.


Ibas memelototkan matanya bingung.


“Itu loh, yang tadi disuruh sama tante Meri, bawa kesini. Sembari mba Dinda dan aku tidak tahu apakah mas Arya akan berhasil, membuat puding yang rasa ini, aku akan siapkan buah untuk puding satunya.”, jelas Fams.


“Iya.. mas Arya sini.. Diulang lagi.”, panggil Dinda.


Dirinya langsung meminta Arya mengulangi kembali. Dinda dan Arya bekerja sama membuat puding satu persatu dan melapisinya. Dinda hanya duduk sementara Arya yang bertugas untuk meletakkan puding yang mendidih ke dalam wajan.


Di sebelahnya mereka, Fams sudah sibuk memotong - motong buah dibantu sesekali oleh Ibas yang berjalan hilir mudik. Sesekali Rafa dan Samawa berlari melihat mereka, mengambil beberapa potong buah dan kembali lagi ke dalam. Mereka menikmati permainan mereka sendiri disaat mamanya sibuk di dapur.


“Sayang, kalau kamu sudah capek. Kamu istirahat dulu. Biar nanti Fams dan Ibas yang melanjutkan.”, ujar Arya saat melihat Dinda nampak meluruskan punggungnya.

__ADS_1


Arya khawatir dan berasumsi kalau istrinya sudah lelah.


“Engga kok, mas cuma butuh sandaran dan selonjoran sedikit saja.”, balas Dinda.


“Ga ada tapi - tapian, kamu istirahat dulu. Tidur sejam aja dulu di kasur. Nanti kalo ini belum selesai kamu bisa balik lagi.”, ujar Arya.


Dinda baru ingin menyanggahnya namun Arya tidak mau di bantah.


“Tenang saja, aku, Ibas dan Fams bisa menyelesaikannya.”, ujar Arya.


Fams dan Ibas langsung saling pandang.


Dinda akhirnya menyerah dan berjalan meninggalkan tempatnya.


“Sebentar saja ya, guys. Maaf.”, kata Dinda pada Ibas dan Fams.


“Gapapa kok, mba. Mba Dinda sedang hamil, gak boleh kerja terlalu berat.”, ujar keduanya.


Arya mengikuti Dinda dari belakang memastikan istrinya benar - benar naik ke atas untuk istirahat.


*********


Hari sudah sore. Pekerjaan di dapur sudah 80% selesai. Tinggal proses menghidang dan ini adalah tugas Bi Rumi. Sementara yang lain sudah terkapar di ruang tengah sambil menikmati beberapa dessert dan minuman dingin. Mereka juga mengobrol di sela - sela istirahat.


“Bianca dan Reza mana?”, tanya Tante Mery pada tante Indah.


Nanti malam kesini. Reza baru pulang dari luar negeri. Bianca sedang tidak enak badan. Jadi, dia istirahat dulu. Nanti malam baru kesini.


“Hm… “, respon tante Meri mengangguk - angguk.


Sementara Fams yang hampir tertidur di Sofa setelah menyelesaikan puding mereka ikut mendengarkan.


‘Mama ngarang banget. Padahal keduanya sedang bertengkar, makanya mereka tidak mau datang disaat seperti ini. Entah alasan apalagi yang akan digunakan oleh mamanya untuk menjelaskan ketidakhadiran mereka malam ini.’, pikir Fams yang perlahan tertidur.


Tubuhnya ia rebahkan di badan sofa sementara kakinya bergantung enak di bagian pegangannya.


Arya, Ibas, Fams akhirnya berhasil menyelesaikan pudding mereka. Bala bantuan tiba - tiba datang dari dua sepupu perempuan Arya dari sisi Ibunya yang datang membantu disaat - saat terakhir.


Ibas yang lelah memutuskan untuk memberikan makanan burung sementara Arya memutuskan untuk naik ke atas. Dinda sempat turun setelah istirahat sekitar 1 jam. Kemudian 30 menit menjelang selesai, dia naik kembali untuk istirahat.


Arya juga memilih untuk istirahat di samping istrinya ketimbang ikut nimbrung di bawah. Arya tidak sadar, karena sedari tadi dia menempel dengan istrinya, bunda Ratna jadi bingung mau mendekati anaknya.


“Kenapa ikutan tiduran disini.”, kata Dinda yang sadar Arya memeluknya dari belakang.


“Enakan disini.”, ujar Arya menenggelamkan wajahnya di leher Dinda.


“Oh? Sayang, kamu demam?”, tanya Arya yang merasa leher Dinda lebih panas dari suhu biasanya.


“Gapapa mas, cuma kecapean dikit.”, kata Dinda tak ingin membuat suaminya khawatir.


“Sudah minum obat? Aku antar ke rumah sakit sebentar, yuk.”, tanya Arya.


“Tenang aja, gapapa kok. Sudah, tadi sudah minum obat plus vitamin yang diberikan oleh dr. Rima. Sebentar lagi juga sudah mendingan. Pudingnya sudah ditata semua?”, tanya Dinda.


“Masih mikirin puding?”, tanya Arya sedikit marah karena dia khawatir pada istrinya.


“Teman - teman mama kan mau datang. Katanya sudah lama mama ga jadikan rumahnya sebagai tuan rumah arisan. Pasti mama mau yang terbaik sampai masak sendiri dan gak catering.”, kata Dinda.


“Tenang saja, semua sudah selesai, tertata. Semua juga sudah tepar di ruang tamu.”, jawab Arya.


Dinda berbalik menghadap suaminya.


“Jangan galak - galak dong.”, ujar Dinda mencium bibir suaminya.


*********


“Mas Reza kenapa sih? Kenapa jadi sensi begini? Aku kan cuma bilang, aku cuma curhat doang. Gak boleh?”, teriak Bianca pada suaminya yang baru saja pulang dari luar negeri.


Dia tidak menjemputnya dan pria itu pulang membawa kopernya sendiri naik taksi.


“Kamu gak perlu teriak - teriak begini, Bi. Aku juga kan capek, baru pulang kerja. Oke, kamu gak jemput, aku juga sudah dewasa bisa pulang sendiri. Tapi, bukan berarti kamu juga bebas teriak - teriak di rumah melampiaskan kemarahan kamu pada sesuatu yang belum bisa kita dapatkan. Semua ada timingnya.”, kata Reza mencoba menenangkan istrinya.


“Tapi mama kamu gak tahu timing itu dan tanya terus. Itu yang kamu sebut ada timingnya?”, balas Bianca.


“Kapan mama tanya terus? Mama itu cuma khawatir dan ingin menawarkan ke kamu tips dari temannya. Bukan berarti mama pengen cepat - cepat. Engga. Kamu jangan salah paham begitu. Sekarang kita mau ke rumah tante Inggit dalam keadaan emosional begini? Lebih baik gak usah kalau aku bilang.”, kata Reza yang memberikan saran.


Dengan kondisi emosional yang belum stabil diantara mereka, tidak mungkin untuk bisa tampil di hadapan orang banyak dan berakting seolah tidak terjadi apa - apa.


“Terserah kamu.”, ujar Bianca membanting pintunya.


Reza hanya bisa menghela nafas dan masuk ke kamar yang satunya. Dia langsung membuka baju dan bersiap untuk bebersih di kamar mandi.


Sementara Bianca lanjut menangis di dalam kamar. Dia menyesal kenapa akhirnya jadi begini tapi dia juga tidak bisa menurunkan egonya. Reza juga tidak ada inisiatif untuk mengajaknya berdamai. Sekarang setiap bertemu sejak kesalahpahaman dua minggu yang lalu, mereka jadi perang dingin terus.


Ditambah, perusahaan seolah punya timing yang pas. Reza terus saja ditugaskan untuk perjalanan ke luar negeri beberapa pekan ini, membuat hubungan dan komunikasi mereka merenggang. Reza masih sangat ambisius mengejar karirnya, tetapi tak bisa menenangkan Bianca yang punya emosi dan tipikal yang menggebu - gebu.


Begitu Reza tak memberikan perhatian padanya, kesimpulannya selalu mengarah pada kehamilan. Apa karena dia belum hamil juga? Setiap ada pertanyaan yang mengarah kesana dari keluarga, dia langsung sensitif.


Bianca juga menghindari bertemu dengan teman - temannya. Terutama Dinda. Dia seperti orang yang harus berpacu mengikuti timeline orang lain. Melihat Dinda dengan kehamilannya belakangan malah membuatnya jadi tidak nyaman.


Kring kring kring kring


Kebetulan sekali. Pesan dari Dinda baru saja masuk ke ponsel Bianca. Dirinya menanyakan apakah teman yang sekarang sudah menjadi keluarganya itu akan datang ke arisan Mama Inggit.

__ADS_1


Bianca tak menghiraukan pesan itu dan semakin membenamkan wajahnya di dalam bantal.


Sementara itu di sisi lain.


“Kenapa? Kok lesu? Demamnya makin parah?”, tanya Arya yang melihat Dinda terduduk di depan meja rias. Kalau dilihat, sepertinya istrinya sudah selesai berdandan, tetapi raut wajahnya nampak lesu.


“Bukan mas. Demamnya sudah turun, kok. Bianca tidak balas.”, jawab Dinda.


“Sudahlah. Mungkin dia lagi mau berduaan sama suaminya dulu. Lagipula ini kan bukan acara keluarga. Hanya acara arisan mama.”, kata Arya mencium pipi istrinya.


Arya memilih untuk mengenakan celana jeans hitam polos dan kemeja polos berwarna biru muda dengan sedikit akses peach menyerupai garis dari belakang sampai kedepan. Sementara Dinda memilih mengenakan kebaya longgar casual yang lebih mirip dengan abaya.


Penampilannya segar dan anggun dalam balutan berwarna hijau sage. Dinda tinggal mengenakan hijabnya saja. Acara dimulai pukul 8 malam setelah shalat Isya. Inggit menjadikan acara arisan ini sekaligus sebagai acara perkenalan atas menantu perempuannya Dinda yang sudah masuk ke keluarga mereka sejak 8 bulan yang lalu.


Berhubung pernikahan mereka hanya mengundang keluarga, Inggit memanfaatkan momen ini sebagai salah satu acara syukuran. Plus, untuk menutup omongan - omongan teman - teman arisannya yang terkadang masih saja hidup di masa lalu padahal Arya sudah bercerai tiga tahun yang lalu.


Satu persatu teman arisan sudah mulai berdatangan. Mereka yang sudah datang berkumpul dan mengambil hidangan pembuka sambil mengobrol satu sama lain. Inggit sudah siap dan bergabung menyapa tamu di depan. Ratna sudah siap tetapi masih belum keluar dari kamar tamu karena bingung harus memulai percakapan. Jadi, dia menunggu sampai lebih banyak orang lagi yang datang, agar tidak terlalu menonjol.


Arga sudah datang dari tadi dan tengah berkumpul di kamar Ibas bersama dengan Dito dan yang lain. Seperti pertemuan keluarga pada umumnya, mereka membahas seputar game. Ini adalah kali pertama Arga berkumpul dengan sepupu - sepupu Arya sejak pernikahan kakaknya.


Arga masih belum terbiasa dengan pembicaraan mereka dan hanya mengikuti alur saja. Terutama persoalan game. Bundanya tak memperbolehkannya untuk boros sehingga dia jarang terlihat membeli game - game baru seperti Dito dan Ibas.


Memiliki laptop di jenjang SMA pemberian kakaknya saja sudah membuatnya senang. Kalau dia bosan belajar, dia akan memainkan game - game biasa di laptopnya. Beberapa waktu lalu, Arya membelikannya laptop baru sebagai hadiah sudah berhasil masuk perguruan tinggi yang diinginkannya. Tetapi, karena harganya terlalu mahal, Ratna menyuruh Arga mengembalikannya lagi.


Arya menolak dan meminta Dinda untuk menjelaskannya pada Ratna. Akhirnya Ratna luluh dan Arga menggunakan laptop itu sekarang.


“Oh, berarti hari pertama sebagai mahasiswa semester satu dimulai kapan?”, tanya Ibas yang sedang menyanduk pudingnya.


“Dua minggu lagi mas.”, jawab Arga.


Ibas seusia dengan Dinda. Ibas dan Dito hanya berbeda sedikit saja tetapi tetap masih diatas Arga. Fams bisa dibilang hampir seusia Dito tapi masih lebih muda lagi. Disana, Argalah yang paling kecil.


Jadi, dia akan menjawab, hanya ketika orang - orang bertanya padanya. Dia masih belum terbiasa dengan formasi keluarga ini. Tapi, dalam hati dia senang. Mereka tak pernah berada dalam circle keluarga yang besar dan juga kompak seperti keluarga mas Arya.


Meski awalnya dia khawatir kakaknya menikah dengan orang asing, tetapi sekarang dia malah bersyukur. Berada diantara mereka membuat Arga merasa punya keluarga besar. Sebelumnya selalu hanya ada dia, bunda, dan Dinda. Sodara - sodara ibu juga tidak sedekat itu dengannya sebelumnya. Karena mereka tidak punya uang.


Baru sejak usaha kuliner ibunya laris mereka perlahan mendekat lagi dan sering datang. Tapi, Arga tidak suka dan tidak pernah merasa dekat dengan mereka.


***********


Hampir semua anggota arisan yang berkisar 30 - 35 orang hadir di kediaman Inggit. Inggit juga sudah membaur diantara mereka bersama dengan tante Indah dan Tante Mery. Adik - adik Kuswan yang paling aktif kalau diajak menjadi sesi sibuk.


Ratna juga perlahan membaur diantara yang lain di samping tante Indah yang memang sudah berjejer dengan Mery dan Inggit. Sementara itu, Andin sudah turun bersama Rafa dan Samawa namun harus kembali naik ke atas karena kedua bocah itu merengek minta bermain di kamarnya.


Pertama, mungkin mereka tidak terlalu menyukai keramaian. Kedua karena mereka sudah lelah bermain seharian.


Dinda dan Arya juga sudah turun beberapa menit yang lalu dan duduk diantara para ibu - ibu arisan yang mengobrol. Beberapa sempat mengobrol dengan Arya dan Dinda. Ibas, Dito, Arga, dan Fams turun setelah Inggit berulang kali meminta Arya untuk memanggil mereka.


Beberapa pasang mata sudah mengintip - intip ke arah Dinda dan saling berbisik dengan yang lain. Ratna melihatnya, dia hanya berharap bisikan - bisikan itu adalah bisikan positif dari teman - teman arisan Inggit.


“Cantik.”


“Ah.. jauh lebih muda tapi Arya juga terlihat masih muda. Cocok.”


“Lagi hamil katanya.”


“Jauh beda dari yang sebelumnya, ya.”


“Lebih kalem yang ini.”


“Kalo yang dulu kan mana pernah kumpul begini.”


“Makin ganteng aja puteranya Inggit, ya. Si Ibas yang baru lulus kuliah itu. Sudah kerja?”


“Dapet kualitas bagus si Arya.”


“Masih muda banget.”


“Aryanya juga masih muda. 34, ya. Masih muda. Dulu terlalu cepat memutuskan menikah.”


“Mantannya apa kabar?”


“Ih.. ngapain tanya - tanya mantan. Istrinya sudah ada.”


“Hush - hush.. Sudah mau dimulai masih gosip.”


“Cantik.”


“Assalamu’alaikum, Ibu - ibu. Aduh, saya sebenarnya tidak ahli membuka acara. Saya mau mengucapkan terima kasih, kehadirannya hampir 100% ya, dari total peserta arisan kita yang sampai sekarang sudah berjalan 8 tahunan, ya kalau tidak salah.”, sapa Inggit membuka acara arisannya kali ini.


Dia terlihat kikuk saat membuka acara terutama karena ada keluarga disana. Inggit memulai dengan kalimat sapaan dan terima kasih. Kemudian sedikit melontarkan candaan kenapa dia absen mengadakan arisan di rumahnya selama beberapa waktu itu.


Ibu - ibu juga menimpali dengan candaan - candaan khas mereka. Kebanyakan dari mereka tidak sabar untuk diperkenalkan dengan menantu baru Inggit yang sejak awal menikah belum pernah terlalu dipublikasikan karena kepentingan pekerjaan.


Ditagih terus untuk memperkenalkan menantunya, Inggit juga menyampaikan kalau arisan kali ini sengaja dia mundurkan menjadi malam agar mereka bisa mendapatkan lebih banyak waktu. Karena selain arisan, Inggit juga ingin menggunakan waktu ini untuk secara resmi memberitahukan perihal pernikahan putra keduanya yang sudah dilangsungkan 8 bulan yang lalu secara privat. Hanya mengundang keluarga saja.


Dalam kesempatan ini, meski sudah berlangsung selama kurang lebih 8 bulan, Inggit ingin menjadikan waktu ini sekaligus untuk mengharapkan do’a dan restu teman - teman arisannya untuk pernikahan anaknya, semoga langgeng.


“Pada kesempatan ini, saya juga memberitahukan, mungkin ada ibu - ibu yang belum dapat informasi. Istri Arya, Dinda sedang hamil anak pertama mereka. Saat ini kandungannya sudah menginjak usia 4 bulan.”, Inggit tersenyum, gestur tangannya senantiasa berada di depan seperti orang bertepuk tangan setiap kali berbicara.


Para ibu - ibu yang sudah mengetahui informasi ini sebelumnya mengangguk - angguk. Sementara yang baru mengetahui untuk pertama kalinya hanya bisa ber - oh - oh ria, tidak menyangka kalau masa menduda putera kedua Inggit sudah berakhir bahkan sekarang sedang menantikan putera pertama.


Ucapan ‘selamat’ saling sahut - menyahut seiring dengan pemberitahuan yang diberikan oleh Inggit. Ratna ikut tersenyum karena respon yang diberikan sangat positif menurutnya. Arya seperti biasa memasang wajah stay cool nya. Hanya saat berpapasan pandangan dengan orang saja, dia tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2