
Dinda dan Arya sudah menaiki pesawat. Perjalanan sudah berlangsung sekitar 1 jam. Dinda sudah mengantuk hebat karena pagi ini dia lumayan sibuk packing. Dia hanya excited sebentar karena bisa naik pesawat overseas tetapi sekarang sudah lelah.
Tak butuh waktu lama untuknya tertidur pulas. Disampingnya, Arya masih sibuk dengan pekerjaannya yang tetap tidak bisa dia tinggal. Arya berencana menyelesaikan semuanya saat ini di pesawat.
Mengatur beberapa meeting, menunda pekerjaan yang butuh waktu lama, dan menjawab semua email yang bisa dia jawab atau sekedar memberikan konfirmasi dia akan menjawabnya segera saat kembali.
‘Cepat sekali perempuan ini tidur. Mana kepalanya nyaman banget di bahu saya. Dia kira saya bantal, apa.’
“Selamat siang Bapak, tadi pesan selimut, ya? Ini silahkan. Dan ini untuk bantal tambahannya.”, kata seorang pramugari wanita.
Arya menerima selimut dan bantal lalu langsung memakaikannya pada Dinda. Gadis itu dengan bodohnya meninggalkan jaket dan sweaternya di dalam koper yang sudah masuk bagasi. Sekarang dia kedinginan karena AC.
Arya tahu benar Dinda selalu nyungsruk selimut kala di kamar. Arya adalah tipe yang kuat AC bahkan menyalakannya hingga 16 derajat celcius. Sebaliknya, Dinda tidak kuat dengan AC. AC di kantor tidak sekuat di kamar Arya dan ini pertama kalinya Dinda berada diruangan ber-AC selain di kantor.
Dinda dengan refleks dan tidak sadar memeluk lengan Arya. Arya tidak terkejut dan segera menggantinya dengan bantal. Arya kembali melanjutkan pekerjaannya dan tiba - tiba ada pesan masuk dari Suci, MA di kantor.
***From: Suci ***
Siang Pak, Pak Arya liburan? Dalam rangka apa, Pak?
Beberapa waktu terakhir, Suci seringkali mengirimkan pesan di luar konteks kantor. Entah karena dia merasa akrab dan masa rotasinya sebentar lagi berakhir atau bagaimana. Tapi seingat Arya dia sudah menolak gadis itu dengan halus sebelumnya.
Tiga jam berlalu sejak mereka menaiki pesawat. Pramugari kembali datang untuk bersiap menghidangkan makan malam. Mereka menghidangkan Salad sebagai makanan pembuka, Grilled Chicken, Thai Pepper Beef sebagai makanan utama dan Coconut Sago Pudding sebagai desert.
“Silahkan ditaruh saja. Dia isteri saya.”, Pramugari hendak mencoba membangunkan Dinda yang masih tertidur pulas namun Arya segera memberitahu dan memintanya untuk meletakkan saja makanannya di meja.
Arya berencana ingin makan. Tapi, rasanya aneh kalau makan sendiri. Dia mencoba membangunkan Dinda. Lagi pula makanannya tidak enak jika terlalu lama dibiarkan.
“Din, bangun, makan dulu. Din… din..”, kata Arya. Dinda langsung terbangun dengan gaya bingung.
“Pak, saya dimana?”, sontak Arya kaget dan malu, karena orang disebelahnya melihatnya dengan tatapan aneh.
__ADS_1
“Oh iya lupa, di pesawat. Maaf mas.”, untung saja Dinda langsung memberikan jawaban.
“Wahhhh… mewah banget padahal ini udah class economy.”, kata Dinda tapi dengan suara kecil. Memastikan hanya Arya yang mendengarnya berbicara.
“Kamu gak usah norak. Habiskan makanannya, trus tidur lagi. Kayanya kamu memang lebih bagus tidur saja sepanjang perjalanan.”, ujar Arya.
Alhasil, Dinda langsung manyun.
Padahal dia merasa lebih nyaman dan akrab. Mungkin karena mereka hanya berdua saja.
“Umm.. ini enak banget saladnya. Gak seperti makanan diet. Ini juga enak banget dagingnya. Berasa di restoran.”, tutur Dinda sambil melihat ke arah Arya.
Arya terlihat sedikit menyunggingkan senyum.
****
Sesuai jadwal, mereka tiba di bandara Maldives sekitar pukul 7 pagi. Setelah berputar - putar sekitaran Bandara untuk mencari beberapa keperluan, Arya dan Dinda langsung bertolak ke penginapan, tempat mereka akan menghabiskan 4 malam bersama.
“Wahhh… bagus banget. Semuanya laut!”, Sedari tadi di bandara Dinda tidak henti - hentinya memuji keindahan Maldives. Dia sudah beberapa kali mengatakan bahwa tak heran banyak yang kesini.
Bahkan dia juga mengatakan ingin membelikan kado spesial untuk tante Meri yang sudah memberikan kado ini. Begitu juga mama dan papa.
Arya sudah lelah memperingatkan Dinda untuk diam. Tapi gadis itu tetap saja refleks. Dia sudah menyerah. Lagian, belum tentu mereka akan kesini lagi. Arya membiarkannya untuk menikmati.
‘Aku baru tahu kalau ternyata dia secerewet ini. Apa auraku begitu menyeramkan sampai di awal pernikahan, dia hanya bisa diam mematung saja.’, batin Arya.
Sampai di kamar hotel yang letaknya agak ke tengah. Dinda langsung mengamati sekitar. Bagian dalamnya sangat elegan. Kasurnya mirip dengan yang ada di rumah karena ada gantungan kain di bagian atasnya. Di belakang terdapat lemari pakaian, sebelah kiri ada sofa, Di depannya ada jendela yang langsung menghadap ke laut.
Dinda bergerak ke arah luar dimana ia menemukan dua kursi untuk berjemur, kursi untuk makan dan kolam renang. Pemandangan yang dilihatnya luar biasa. Sejauh mata memandang, dia hanya melihat lautan.
Cuaca lumayan dingin karena masih pagi. Awan sedikit mendung yang membuat Dinda agak kecewa.
__ADS_1
Berbeda dengan Arya, dia sangat senang dengan cuaca mendung karena memang agenda hari ini hanya tidur - tiduran di kamar.
“Sepertinya banyak yang bulan madu. Tadi lihat sudah ada tiga pasangan juga yang diantar.”, celetuk Dinda.
Tidak ada respon dari Arya. Ternyata dia sudah melepas bajunya dan merebahkan badannya diatas kasur. Alhasil, bunga yang berbentuk love tadi sudah hancur berantakan.
‘Kan aku belum foto. Kenapa dia langsung menghancurkannya. Aku harus foto - foto bagian lain dulu, sebelum diberantakin sama pak Arya.’
Drrrrtttttt Drrtttttt
Ponsel Arya yang ada di sakunya berbunyi. Masih dengan badan yang ditelungkupkan diatas kasur, Arya meminta Dinda untuk mengambilnya.
“Din, ambil telponnya. Itu kayanya dari mama. Kamu aja yang jawab, saya mau tidur.”, kata Arya.
‘Saku punya siapa, yang ambil ponsel siapa.’, celetuk Dinda jengkel. Dia sudah seperti asisten pribadi Arya.
Dinda langsung menurutinya. Dan ternyata benar, itu ada telpon dari Mama Inggit.
“Iya halo, ma. Iya ma, kita sudah sampai di hotelnya. Mama mau video call? Aku mau kasih tunjuk.”, kata Dinda girang.
“Ih ngapain pake video call si.”, celetuk Arya kesal.
Dinda langsung berputar - putar memperlihatkan semua view pemandangan yang ada. Kuswan dan Inggit sangat senang. Terakhir, Inggit tidak lupa dengan pesannya yang tadi juga sudah ditagih oleh Kuswan.
“Din, kamu nikmatin ya waktu disana. Jangan lupa di pake lingerienya. Bilang ke Arya, pelan - pelan aja.”, Inggit dan Kuswan tertawa kecil memikirkan perkataan mereka.
‘Ih mama itu terus yang dibicarakan.’, wajah Dinda langsung berubah kikuk
“Aaa hehe Iya ma. Bye, ma.”, senyum Dinda langsung hilang tatkala dia teringat kembali kekhawatirannya.
‘Engga - engga, Pak Arya pasti kesini murni liburan. Nggak akan terjadi apa - apa. Lebih baik aku taruh pakaian ke dalam lemari aja. Beberes, mandi, dan menikmati pagi ini sebelum Pak Arya bangun.’
__ADS_1