
“Kenal dimana kamu dengan pria tadi?”, Arya memecah keheningan di dalam mobilnya yang sudah terparkir rapi di depan sebuah restoran favorit Arya.
“Hm? Siapa?”, tanya Dinda yang sedang sibuk membersihkan luka goresan di lengan Arya. Lukanya tidak dalam, tetapi goresannya lumayan besar dan tersebar.
“Arghhh…”, Arya masih mengerang kepedihan.
“Ditahan sedikit ya, mas.”, Dinda berusaha untuk membersihkan luka dengan air bersih terlebih dahulu. Mereka sempat berhenti di sebuah apotik karena Arya tidak menyediakan kotak P3K di dalam mobilnya.
“Argh..”, Arya kembali mengeluh kesakitan.
“Mau diperban atau dibiarkan begini?”, tanya Dinda.
Dia bingung harus melakukan apa. Lukanya terlalu besar untuk diperban atau diberikan plester.
“Gapapa, kamu oleskan betadine nya aja pake kapas yang tadi. Lukanya ga usah ditutup biar cepat kering.”, kata Arya memberikan arahan pada Dinda.
“Gapapa? Tapi ganti bajunya dengan baju lengan pendek aja, biar ga kena lengan baju. Soalnya ini bajunya longgar, jadi walaupun dilipat ke atas bakal tetap turun.”, saran Dinda. Dia dengan jelas melihat Arya tidak nyaman dengan baju itu tapi menolak untuk membukanya.
“Ya udah sini mana bajunya?”, jawab Arya yang akhirnya menyerah.
“Sebentar.”, Dinda membalikkan badannya dan mencari tas milik Arya. Dia pernah melihat ada beberapa kaos oblong di dalam sana.
“Ini mas.”, kata Dinda sambil menyodorkan kaos oblong yang sudah dia ambil. Arya melayangkan tatapan penuh tanya pada Dinda.
“Bantu lepasin kaos ini, terus ganti dengan kaos yang baru.”, perintah Arya.
“Loh, ko aku yang pasangin. Kan mas Arya bisa pasang sendiri?”, protes Dinda.
“Bagaimana cara pasangnya, kan tangannya luka. Lagian tadi saya udah bilang ga usah ganti.”, balas Arya.
“Yaudah ga jadi.”, jawab Dinda langsung berubah pikiran. Dia tidak berpikir bahwa Arya tidak bisa mengganti bajunya sendiri saat menyarankan itu.
“Lah.. bajunya udah diambil. Udah, kamu lepas baju yang ini dulu, saya angkat tangan. Pelan - pelan, tapi.”, ucap Arya mengarahkan.
“Eh? Serius ganti disini?”, Dinda masih bingung dan tidak yakin.
“Ya.. kalo kamu mau di kamar mandi juga boleh. Tapi kamar mandi cowok.”, kata Arya sambil tersenyum.
“Ya udah ya udah, mana sini.”, kata Dinda akhirnya menyerah.
Arya mengangkat tangannya keatas sambil meringis. Ia tak bisa sepenuhnya meluruskan tangan karena mereka sedang berada di dalam mobil. Dinda membuka kaos lengan panjang Arya sambil sesekali menutup matanya.
__ADS_1
“Din.. kapan selesainya kalau kamu memejamkan mata kamu seperti itu? Yang ada kita tiga jam disini cuma ganti baju doang.”, protes Arya sambil menghela nafas.
Dinda menatap tajam Arya yang entah sejak kapan mulai cerewet. Dia menarik nafasnya sekali, dua kali, dan tiga kali sebelum akhirnya membuka kaos Arya.
“Aaaa… aaa.. Arghh eshhh..Aduh…pelan - pelan, Din. Jangan diburu - buru, sakit kaosnya nempel kesini.”, Arya meringis seperti bayi sementara Dinda ingin segera menutup pemandangan yang ada di depannya ini.
‘Duh.. Dinda bukan saat yang tepat untuk deg - deg-an atau terpesona. Ingat, Arya masih berhutang penjelasan pada kamu.’, Dinda berusaha menyadarkan pikirannya.
Tiba - tiba pintu mobil mereka diketuk oleh seseorang yang ternyata adalah satpam restoran. Arya dan Dinda sedang memarkir mobilnya di basement ruko restoran lantai dua ini. Restoran favorit Arya berada di deretan ruko sejenis foodcourt. Jadi, ada banyak merk restoran yang menyewa kompleks ruko ini dan restoran iga bakar madu ini adalah salah satunya.
“Mohon maaf, permisi Pak. Boleh saya menanyakan ini sedang melakukan apa? Boleh ditunjukkan KTPnya?”
“Eh?”, Arya bingung mendengar pertanyaan satpam padanya. Seumur - umur, dia tidak pernah ditanyai satpam dengan pertanyaan seperti itu disini atau di tempat manapun.
“Ah… ini suami saya lagi ganti baju, Pak. Lengannya luka soalnya tadi habis kecelakaan kecil. Dinda yang cepat tanggap memahami arah dari pertanyaan satpam tersebut. Mungkin satpamnya mengira mereka sedang melakukan hal yang tidak senonoh di siang bolong di parkiran basement.
Arya yang akhirnya mengerti menanggapi dengan setengah tertawa.
“Pak, dia ini istri saya. Kita mau makan di restoran Iga Bakar di ruko ini. Lagian, saya kalo mau ngapa - ngapain sama istri saya juga milihnya di rumah atau kamar hotel sekalian. Bukan di mobil begini, sempit.”, kata Arya menjelaskan.
“Baik Pak. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya ya. Saya hanya menjalankan tugas, karena sudah sering ada laporan yang masuk dan terjadinya di basement ini.”
“Memangnya saya mau ngapain, ada - ada aja satpamnya.”, Arya mengeluh kesal.
Dinda hanya bisa tersenyum bingung di samping Arya yang masih mengomel.
“Sekarang bantu masukin kaosnya.”, ucap Arya pada Dinda.
Dinda dengan telaten dan hati - hati membantu Arya mengenakan kaos oblong lengan pendeknya. Begitu selesai, mereka langsung turun menuju restoran yang dimaksud Arya, Iga Bakar Madu.
Ini adalah salah satu makanan favoritnya selain seafood. Dinda hanya menuruti arah jalan Arya. Mereka memesan beberapa menu makanan dan mencari tempat duduk. Ada beberapa ruangan yang disediakan di tempat ini. Smoking area, area bebas, dan area ber-AC yang lebih privat dan tertutup. Tentu saja, Arya memilih ruangan ber-AC yang lebih privat.
“Sepertinya pertanyaan saya tadi belum kamu jawab. Kenal dimana kamu dengan cowo yang tadi?”, tanya Arya.
“Pak Arya juga belum jawab pertanyaan saya yang tadi?”, balas Dinda.
“Kamu ganti panggilan saya jadi ‘Pak’ lagi. Sejam yang lalu dari mulai kena tabrak tadi, perasaan kamu panggil saya ‘Mas’.”, ucap Arya masih mencoba berkelit dari pertanyaan yang Dinda ajukan.
“...”, hening. Dinda tidak menjawab.
“Oke. Bisa kita jawab pertanyaan kamu di rumah? Saya takut kita malah berantem lagi dan gak jadi makan Iga Bakarnya. Jujur, saya laparrrr sekali. Dari bandara, saya titip koper ke pak cecep dan langsung bawa mobilnya ke sini.”, ujar Arya seperti memelas tapi masih dengan gaya yang cool dan mendominasi.
__ADS_1
“Berarti saya juga akan jawab pertanyaan pak Arya, nanti di rumah.”
“Boleh panggilannya diganti jadi ‘Mas’? Saya dikira abis culik anak orang. Apalagi tadi satpam sambil ketuk pintu mobil.”, Dinda sedikit menyunggingkan senyum. Entah memang Arya sedang bercanda atau hanya berbicara biasa saja, tetapi terdengar lucu di pikiran Dinda.
Mereka akhirnya menyantap beberapa porsi Iga Bakar dalam diam. Lebih tepatnya, Arya yang menyantap hampir 5 porsi Iga Bakar. Dia juga menambah pesanannya dengan beberapa makanan pencuci mulut seperti es buah dan es serut.
*****
‘Dimas? Apa yang dia lakukan disini? Bagaimana dia bisa mengenal Dinda? Tatapannya, sepertinya dia tidak tahu kalau aku dan Dinda sudah menikah.’, bathin Arya sambil memejamkan matanya diatas kasur.
*“Dinda?”, seseorang memanggil Dinda dari belakang tak berapa lama saat Arya dan Dinda sudah hampir dekat dengan mobilnya. *
“Dimas?”, jawab Dinda setelah menoleh ke belakang dan memastikan orang yang memanggil.
*Arya yang mendengar nama istrinya dipanggil juga ikut menoleh ke belakang. *
*Untuk pertama kalinya setelah lebih dari lima tahun yang lalu, Arya kembali bertemu dengan Dimas. Sahabat sekaligus bayang - bayang dalam rumah tangganya dengan Sarah. Tidak. Bahkan jauh sebelum mereka menikah. Tanpa Arya sadari, Dimas sudah menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Sarah. *
*Meski Arya akhirnya mengetahuinya di tahun - tahun terakhir studi S1 mereka, meski akhirnya Sarah memilih untuk bersama Arya, tapi Dimas seolah selalu ada diantara mereka. *
*Arya terkejut melihat Dimas di parkiran mall saat itu. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah sepertinya Dimas mengenal Dinda. Tapi, bukan Arya namanya kalau tidak ahli menyembunyikan keterkejutannya. Begitu pula dengan Dimas. Saat itu, hanya Dinda yang tidak mengetahui bahwa Arya dan Dimas sudah saling kenal. *
*Tadinya Dimas hanya penasaran dengan pria yang berada di samping Dinda. Meski belum bisa dikatakan suka, tetapi Dimas tahu bahwa dirinya tertarik dengan gadis itu. Tak disangka, jika pria yang ada di sebelahnya adalah Arya. Seseorang yang dulu pernah menjadi sahabat terbaiknya. *
Sama seperti Arya, Dimas juga tak ingin terlihat mengenal Arya. Saat Arya menunjukkan poker facenya, Dimaspun begitu.
*“Ah.. mobil saya parkir disitu. Kalau begitu, sampai bertemu lagi Din.”, ujar Dimas setelah sebelumnya menyapa Dinda dengan antusias. Dinda sedikit bingung dengan sikap pria yang baru dia kenal itu. Namun perhatiannya kini lebih mengarah pada Arya yang terluka. Jadi, dia tidak terlalu ambil pusing. *
Arya sudah berbaring di atas kasur sedangkan Dinda masih berjibaku dengan rutinitas malamnya di kamar mandi. Dia masih sibuk membersihkan dirinya.
‘Kenapa Dimas bisa seakrab itu memanggil Dinda? Apa dia tahu Dinda sudah menikah? Ah.. sepertinya dari wajahnya belum.’, sebenarnya tubuh Arya sudah lelah. Masalah kantor dan insiden tadi membuatnya sulit membuka matanya. Tetapi meskipun sudah terpejam, pikirannya masih belum bisa tertidur.
Disisi lain, Dinda sudah selesai dengan rutinitasnya dan sudah berganti pakaian. Sedari tadi, dia ingin sekali melanjutkan pembicaraan tempo hari di apartemen. Setelah bertengkar hebat bahkan mengatakan soal perceraian, dia masih belum bisa melanjutkan pembicaraannya dengan Arya.
“Pak Arya… Pak Arya sudah tidur?”, Dinda berusaha membangunkan pria itu tapi enggan untuk sekedar menepuk atau menggoyangkan tubuhnya agar bangun.
‘Lagian, penjelasan apa lagi yang aku tunggu. Bukankah Bianca bilang pilihanku hanya dua. Percaya atau tidak. Aku sudah memilih tidak dan melayangkan perceraian. Siapa yang tahu kalau setelahnya dia malah terbang ke Singapura dan sekarang membuat pikiranku melupakan emosi yang meluap tempo hari. Ahhh bingung.’, pikiran Dinda frustasi sendiri.
Dinda menghempaskan badannya di kasur.
‘Bodo ah! Gak tahu!’, batin Dinda dalam hati.
__ADS_1