
Meeting Business and Partners akan dilaksanakan beberapa menit lagi. Diskusi kali ini hanya melibatkan para Team Leader karena ini adalah diskusi untuk mempersiapkan presentasi CEO Town Hall minggu depan.
Di dalam ruangan sudah terdapat Arya yang sibuk berdiskusi dengan Siska. Sementara beberapa Team Leader juga sudah terlihat hadir disana. Mereka belum memulainya karena masih menunggu kehadiran beberapa Team Leader lagi yang belum bisa hadir.
“Sis, kamu panggil Pak Dika dan Erick juga kan?”, tanya Arya.
“Iya Pak, tadi pagi saya sudah info ke Pak Erick dan beliau oke. Tapi, beliau tidak bisa memastikan Pak Dika. Dari kemarin dia tidak hadir di kantor, Pak.”, jawab Siska.
“Cuti?”, tanya Arya sambil mengotak - atik beberapa bagian presentasi di depannya.
“Itu dia. Pak Erick juga tidak tahu.”, ujar Siska.
Kemudian Siska sedikit mendekatkan bibirnya ke telinga Arya karena ingin membisikkan sesuatu.
“Kalau dilihat, hawa - hawa nya mirip dengan Pak Gilbert. Absen tanpa kabar yang jelas.”, bisik Siska kemudian.
Arya dan Siska sebagai sekretarisnya, sudah biasa melakukan interaksi seperti itu sebelumnya. Hal itu biasa jika saat meeting mereka harus membagikan informasi penting yang sifatnya rahasia.
Para Team Leader lain juga sebenarnya sering melihat interaksi seperti itu sebelumnya. Namun, hari ini saat Siska membisikkan sesuatu pada Arya, beberapa Team Leader beradu pandang satu sama lain.
Beberapa diantara mereka mencurigai kalau ternyata wanita yang ada di foto yang tersebar luas di divisi Business and Partners sebenarnya adalah Siska.
Percakapan antara para Team Leader Business and Partners di hari sebelumnya.
“Jadi, ada yang bisa menebak siapa wanita yang ada di foto yang tersebar luas itu?”
“Hem..Arah pengambilan foto berfokus pada Pak Arya yang sedang mencium seseorang. Dari bodynya jelas itu wanita. Tapi, karena dia mengenakan jaket hoodie, sulit untuk mengetahui siapa wanita itu.”
“Siska? Interaksi mereka belakangan ini lumayan intens.”
“Iya, benar. Sejak insiden terakhir dengan Pak Gilbert tempo hari, interaksi mereka lebih dekat dari biasanya.”
“Bukannya mereka biasanya memang sedekat itu ya?”
“Siska masuk saat Pak Arya sudah akan bercerai, kan?”
“Apa jangan - jangan mereka memang punya hubungan, lalu itu yang menyebabkan Pak Arya bercerai?”
“Ah tidak mungkin. Aku sudah lama disini bahkan saat Pak Arya masih dengan istrinya. Tidak ada indikasi kok hubungan Pak Arya dengan Siska. Lagian, kalau kamu melihat interaksi bos yang lain dengan sekretarisnya, sama saja, kok.”, ujar seseorang yang lebih senior.
“Tapi kan tidak semua Kepala Divisi memiliki sekretaris. Kepala Divisi DD saja tidak punya.”
“Sebelumnya ada, kok. Tapi, karena beliau baru. Mungkin sekretarisnya baru mau dicari. Sebelumnya kan Pak Arya yang ambil alih, dan Pak Arya sudah punya sekretaris.”
“Hem.. ada yang mau bertaruh, siapa wanita yang ada di foto itu? Hubungan mereka sepertinya tidak biasa kalau mereka sudah berciuman.”
“Kalian, tidak ada yang bisa dibahas lagi selain urusan pribadi Pak Arya? Kalau di depan dia saja, pada kicep.”
“Huuu.. Bu Ranti gak seru nih.”
“Kita kan tidak menjelek - jelekkan Pak Arya. Hanya penasaran. Ya gak Susan? Gimana perasaan kamu? Bukannya kamu juga suka Pak Arya.”
“Heh, jangan sembarangan bicara. Bikin gosip saja.”, kata Susan yang sedari tadi tidak ikut pembicaraan karena sedang menyelesaikan presentasi, tapi malah ikut terseret.
“Susan kan sudah punya pacar, buktinya kemaren sampai diet, ya kan?”
“Sudah, kalian jangan terus bergosip. Lagian siapa sih yang menyebarkan foto tidak jelas itu. Bikin suasana tidak kondusif saja.”
__ADS_1
--------
Beberapa Team Leader yang ditunggu baru saja memasuki ruangan meeting. Mereka baru hadir karena terlibat meeting lain sebelumnya yang selesai lebih lama dari perkiraan.
“Baik, semuanya sudah hadir. Kita mulai saja langsung presentasinya. Erick masih belum datang. Nanti dia menyusul saja.”, kata Arya langsung berdiri dan memulai diskusi mereka dengan suara bariton yang khas dan tegas.
“Oke, terima kasih untuk semua yang sudah memberikan data - data yang diperlukan. Meskipun saya tahu kalian semua sibuk dengan berbagai project. Jadi, saya ingin memperlihatkan satu persatu slide presentasi yang akan saya bawakan nanti di CEO Town Hall agar semuanya aware dan tidak ada kesalahpahaman dalam memberikan informasi.”, lanjut Arya.
Bla bla bla bla
Arya terus berbicara dan Siska mengganti satu per satu slide sesuai dengan perintah Arya. Beberapa kali dia juga harus mencatat jika ada bagian yang perlu direvisi ulang berdasarkan masukan dari para Team Leader.
Meeting berlangsung lebih kurang satu setengah jam sebelum akhirnya Erick datang. Arya mempersilahkan para Team Leader untuk kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
“Maaf Pak Arya, saya ada meeting yang lain. Saya kira bisa selesai tepat waktu ternyata malah molor.”, ujar Erick memberikan penjelasan atas keterlambatannya.
“It’s okay. Pak Dika?”, tanya Arya.
Dia harus mendiskusikan satu slide terkait divisi DD untuk CEO Town Hall. Meskipun posisi Kepala Divisi sudah terisi, namun presentasi tetap harus dilakukan oleh Arya karena Dika masih sangat baru.
“Ehm.. itu dia Pak, dari kemarin kita tidak bisa menghubungi beliau sama sekali.”, kata Erick.
Dia tidak memiliki informasi lain. Erick juga khawatir jika dia terlalu banyak bicara, maka bisa terjadi kesalahpahaman.
“Tidak coba hampiri rumahnya? Tanyakan ke HRD dimana alamatnya dan kirim seseorang kesana. Siapa tahu ada kabar tertentu yang tidak kita ketahui, sehingga dia tidak bisa memberikan kita informasi.”, kata Arya.
“Baik Pak.”
“Oke, saya mau membahas satu slide yang nanti akan kita presentasikan di CEO Town Hall untuk DD. Terakhir saya dapat informasinya, Pak Dika yang akan mempresentasikan. Tapi tiba - tiba management meminta saya yang cover. Jadi saya mau mendiskusikan hal itu dengan Pak Dika”, jelas Arya.
“Menurut saya tidak apa - apa, Pak. Numbers dan poinnya sudah sesuai dengan data terakhir yang kami punya.”
Mereka melanjutkan diskusi hingga 30 menit kemudian. Erick tidak banyak memberikan revisi. Lagi pula, hanya 1 - 2 slide saja.
Meeting selesai menjelang jam makan Siang. Siska kembali ke kursinya. Sedangkan, Arya dan Erick lanjut untuk makan siang. Mereka sudah tidak pernah makan siang sejak Kepala Divisi DD yang baru masuk.
“Pak Arya, saya boleh bertanya sesuatu.”, kata Erick.
“Santai saja. Sudah jam makan siang dan kita juga mau keluar.”, kata Arya.
“Oke. Aku menunggu kode itu. Hem.. apa kamu tahu tentang gosip yang baru - baru ini beredar di divisi Business and Partners?”, tanya Erick.
Dia heran kenapa Arya masih bisa sangat santai meski gosip yang beredar di sekitarnya semakin liar. Padahal, disisi lain dia menyadari ada yang berbeda dengan Dinda. Dia terlihat tidak bersemangat dan sering melamun.
Erick juga tidak terlalu memperhatikan. Hanya saja di beberapa meeting, ada saja yang mengatakan hal itu padanya. Dia jadi penasaran apa yang sedang terjadi.
“Gosip? Gosip tentang apa?”, tanya Arya bingung sambil menyalakan rokoknya.
“Wait, bukannya kamu sudah berhenti merokok. Kenapa merokok lagi?”, tanya Erick.
“Hanya sesekali. Mumpung Dinda tidak memperhatikan.”, jawab Arya sambil memberikan penegasan. Dia bahkan menghentikan langkahnya untuk memastikan Erick tutup mulut.
“Heh… memang ada sesuatu diantara kalian. Dan aku berani bertaruh kamu tidak sadar apa yang sedang terjadi.”, ujar Erick.
“Apa sih?”, tanya Arya bingung sambil terus menghisap rokoknya.
“Gosip yang tersebar tentang kamu. Foto itu? Are you cheating?”
__ADS_1
“Hah? Selingkuh? Kamu kira aku punya waktu untuk hal seperti itu? Lagipula aku sudah punya Dinda. One is enough.”
“Lalu, bagaimana kamu menjelaskan foto yang tersebar itu? Bahkan sekarang sudah tersebar ke beberapa orang di divisi lain. Sebegitu antusiasnya mereka dengan kehidupan eksekutif muda Arya Pradana.”, kata Erick sambil menggebu - gebu karena dia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi belakangan di kantor.
“Foto? Hm? A-ah.. foto aku mencium Dinda?”, tanya Arya.
“Dinda? Jadi, wanita itu Dinda?”, tanya Erick heran. Sekarang giliran dia yang menghentikan langkahnya.
Mereka sedang berjalan di trotoar. Arya ingin makan di sebuah restoran yang ada di mall depan tetapi dia tak ingin membawa mobilnya karena hanya akan membuatnya sakit kepala dengan kemacetan yang ada.
“Hm. Itu Dinda. Siska memberitahuku kalau foto itu tersebar di divisi Business and Partners. Tapi, hanya bagian depanku yang terlihat. Sedangkan Dinda, hanya terlihat bagian belakangnya saja. Lagi pula dia memakai hoodie. Jadi tidak akan ada yang tahu. Kalau mereka tahu pun, aku juga tidak peduli. Aku ingin memberitahu semua orang secepat mungkin, hanya saja Dinda ingin menunggu sampai masa internnya selesai.”, jelas Arya dengan nada yang santai sambil terus menghisap rokoknya.
Ini adalah rokok pertamanya sejak 2 bulan yang lalu. Ada yang aneh dengan Dinda belakangan ini dan itu membuat Arya sedikit stress. Beberapa kali dia juga sulit berkonsentrasi di kantor. Dinda tidak banyak bicara di rumah, dia juga lebih cepat tidur dan terkesan menghindari Arya.
Bahkan, beberapa kali Dinda menghindari sentuhan dan ciuman Arya dengan sangat jelas. Alasannya, dia lelah, dia sedang tidak mood, dia ingin istirahat, dan sebagainya. Arya juga pusing dibuatnya karena dia tidak tahu sama sekali apa alasannya.
“Hah? Itu Dinda? Lalu, lalu kenapa dia terlihat sangat tidak bersemangat di kantor, melamun, dan moodnya juga tidak baik? Aku kira kamu selingkuh.”, tanya Erick.
“Itu juga pertanyaanku. Kenapa? Ada apa dengannya beberapa hari ini? Apa semua wanita hamil begitu?”, kata Arya sambil mematikan rokoknya di tempat sampah khusus rokok yang sudah tersedia.
Rokoknya masih tinggal setengah, tetapi sebentar lagi dia sudah harus masuk ke mall.
“Wait, what? Dinda hamil? Serius?”, tanya Erick kaget.
Dia kembali menghentikan langkahnya. Pergerakan mereka sedari tadi sudah mengganggu beberapa orang yang berjalan di trotoar.
“3 bulan.”, Arya mengangguk sambil tersenyum.
“Woah.. congrats, bro. You’ll be a daddy soon! Wah.. Arya Pradana akan punya anak. Wah..”, Erick masih sangat terkejut mendengarkan kabar bahagia itu.
Dia masih tidak menyangka, seorang Arya yang sekitar 6 bulan lalu masih bolak balik klub, mabuk, workaholic dan sekarang sudah akan membentuk keluarga kecil.
Erick sudah dibuat tidak bisa berkata - kata saat tahu Arya dan Dinda menikah, tapi menurutnya. .. Well.. itu mungkin terjadi. Tapi, maybe Arya tidak akan bertahan lama dengan Dinda. Tapi, buktinya, Arya bisa lepas dari klub, terlebih lagi lepas dari minuman keras, dan jadi pria yang lebih terarah dari sebelumnya.
“Wah.. Wah.. Dinda hamil?”, Erick terus mengulanginya karena dia benar - benar tidak percaya.
********
Arya pulang kantor lebih telat dari biasanya. Ia memberikan salam pada mama dan papanya yang masih menonton televisi di bawah sambil bertanya dimana Dinda. Mamanya menjawab baru saja Dinda membuat susu dan mungkin dia sedang menikmati susunya di atas.
Namun, saat Arya masuk ke kamar. Lampu sudah dimatikan dan Dinda sudah tertidur di balik selimut. Arya jelas nampak kecewa karena dia sudah kehilangan pelukan hangat wanita itu selama beberapa hari ini.
Pekerjaan kantor Arya sangat berat dan dia luar biasa lelah selama satu minggu ini. Sehingga dia membutuhkan sentuhan hangat Dinda malam ini.
Dia tak ingin membangunkan gadis itu. Arya membiarkan lampu utama kamar tetap mati. Setidaknya cahaya lampu nakas dan beberapa lampu di bagian area sofa sudah cukup memberikan cahaya pada kamar ini.
Namun, mata Arya tertuju pada segelas susu hangat yang masih terletak rapi di atas nakas. Tidak tersentuh sama sekali.
‘Apa dia tertidur dan melupakan susunya.’, kata Arya bertanya - tanya dalam hati.
‘Aku yakin mama bilang barusan sekali Dinda membuat susu. Tidak mungkin dia bisa tertidur secepat ini.’, kata Arya lagi.
Arya lantas berjalan mendekati nakas dimana segelas susu tersebut berada dan memegang pinggiran gelasnya untuk memeriksa suhunya.
‘Ah..masih panas sekali. Berarti harusnya baru beberapa detik yang lalu.’, gumam Arya.
Arya lantas meletakkan tasnya dan menghidupkan lampu kamar. Ia membuka kancing bajunya untuk sekedar menghela nafas.
__ADS_1
“Din, saya tahu kamu belum tidur.’, kata Arya sedikit memberikan penekanan di kalimatnya. Ada rasa marah disana.