Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 175 Dinda Ketahuan Sembunyi?


__ADS_3

“Tolong poin yang saya sebutkan tadi kamu perbaiki. Data gak boleh ada yang salah, terutama kalau klien kita itu orangnya konservatif. Beberapa waktu lalu saya mendapatkan komplain yang sama ketika data yang dikirimkan tidak akurat. Beruntung, interpretasi informasi dari data masih sama.”, Arya terlihat sangat serius saat meeting.


Ya, saat pertama kali Dinda belum mengenal siapa itu Arya Pradana sama sekali, dia sudah jatuh cinta dengan aura pria itu ketika meeting. Samar - samar dari balik kamar, Dinda mendengar penjelasan Arya.


Dia kembali pada saat - saat dia baru saja masuk sebagai intern. Arya adalah orang yang pertama kali dia lihat dari balik pantulan kaca di lift. A-R-Y-A P-R-A-D-A-N-A, begitu Dinda membacanya pelan - pelan sambil sedikit mencuri pandang ke atas karena penasaran.


Aroma pria itu membuatnya nyaman. Padahal, saat itu Dinda sama sekali tidak mengenal siapa itu Arya, apalagi pria itu.


“Mas Arya sekarang pasti kelihatan seksi sekali kalau meeting dengan serius begitu. Sayang, aku hanya bisa mendengar suaranya.”, ujar Dinda pelan dari balik pintu kamar.


Sejak Arya sudah tidak memimpin divisi DD lagi, Dinda sudah tidak pernah melihat Arya meeting, presentasi di depan, atau hanya sekedar melihatnya berdiskusi dengan timnya. Dulu, sebelum mereka saling kenal, Dinda pernah beberapa kali sengaja mengikuti Andra untuk minum kopi di cafe hanya karena Pak Arya dan timnya sedang meeting disana.


Setelah dia menikah dengan Arya, Dinda tidak bisa lagi melakukan itu karena dia takut dia hilang kendali dan malah menarik perhatian yang lain.


“Hah.. andaikan aku bisa menatap wajah serius mas Arya lagi. Dengan kemeja putihnya, celana birunya, sandal rumahnya. Wahhh pasti seksi sekali.”, kata Dinda kegirangan sendiri membayangkannya.


Siapapun yang melihatnya pasti bingung, dia istri Arya atau bukan, padahal dia sudah memilikinya tapi tetap saja masih tergila - gila begitu.


“Kalian ada yang mau ditanyakan lagi?”, ujar Arya sambil mengarahkan pandangannya kembali pada anggota timnya.


Tatapan tajam ala Arya membuat anggotanya terkadang bisa blank. Ditambah tim 1 hingga tim 3 dulunya bukan dipegang oleh Arya.


“Arghhh…Sssshhh.”, Arya merasakan sedikit perih pada punggungnya karena terlalu lama bersandar.


“Pak Arya, gapapa?”, tanya Siska segera setelah menyadari Arya tampak tidak nyaman.


Siska agak khawatir kalau Pak Arya tumbang lagi seperti kejadian beberapa bulan yang lewat. Wajahnya nampak sedikit pucat. Mungkin karena gejala demam.


“Hn.”, Arya hanya menggeleng pelan.


“Kalau kalian ragu, revisi data di halaman 30 dan 54, bisa kalian kirimkan ke saya malam ini. Nanti saya bantu cek lagi untuk memastikan sebelum besok kalian meeting.”, ujar Arya.


Para anggota mengangguk. Dari tadi mereka sibuk mencatat semua yang Arya ucapkan. Bahkan salah seorang dari mereka sampai merekam karena terkadang ada bagian yang mungkin mereka bisa bingung saat semua tergabung menjadi satu paragraf yang panjang.


“Oke, sekarang kalian bisa menikmati makanan dan tim 3, lanjut.”, ujar Arya sambil tersenyum.


Tim 3 yang sedari tadi sibuk mengunyah sambil terus memeriksa laporan mulai berganti tempat dengan anggota tim 1. Mereka sudah seperti mahasiswa yang akan ujian lisan.


“Pak Arya, mungkin bisa istirahat sebentar sekitar 5 menit? Pak Arya terlihat pucat.”, ujar Siska.


“Oh?”, karena terkejut mendengar kata Siska, Dinda tanpa sengaja membuka pintu kamar karena khawatir.


Untungnya, dia hanya memutar gagang pintu. Kamar tidak terbuka sepenuhnya, mungkin hanya sekitar 5 cm. Namun, tentu saja tindakan barusan menarik perhatian anggota tim Arya. Mereka langsung bergidik ngeri karena mengira itu adalah hantu.


“P-p-pak Arya tinggal sendiri, kan? K-k-kok gagang pintunya bisa…”, tanya karyawan hampir serempak.


“Oh?”, Arya bingung harus menjawab apa.


“Ah.. mungkin angin. Biasanya begitu.”, akhirnya Arya hanya menjawab asal saja.


Dalam hati, dia ingin sekali menjawab bahwa dia tinggal dengan istrinya. Tetapi, Arya tahu Dinda mungkin tidak akan setuju. Ada perbedaan saat Dinda yang seorang intern berkata dia sudah menikah dengan seorang Arya yang merupakan kepala Divisi mengatakan dia memiliki istri.


Perhatian besar tentu akan lebih banyak tertuju pada Arya dan cepat atau lambat semua akan tahu kalau itu adalah Dinda. Itu adalah keinginan Arya saat ini, tapi tidak dengan Dinda. Gadis itu ingin semuanya tahu setelah dia berhasil menyelesaikan masa internnya.


Dinda menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara. Arya, dia tidak menjawab dan membiarkan semuanya ambigu. Biarlah para anggotanya memiliki kesimpulan masing - masing.


“Ya sudah, kita istirahat 10 menit. Saya minum obat dulu.”, ujar Arya akan bergerak menuju kamarnya.


“Pak, maaf boleh numpang toiletnya.”, ujar salah seorang karyawannya.


Tentu saja, ada karyawan lain yang juga ingin menggunakan toilet, namun sedari tadi mereka tidak mengatakannya. Saat ada yang suka rela bertanya, ada semacam rasa lega karena akhirnya mereka bisa ke toilet.


“Oh, tentu saja. Kalian bisa lurus kesana, ya. Disana ada kamar mandi. Silahkan dipakai saja.”, kata Arya mempersilahkan.


Akhirnya satu per satu mulai mengikuti ke arah kamar mandi dan mengambil antrian. Sedangkan Arya masuk ke dalam kamar utama.


“Ya ampun.”, ujar Arya kaget karena Dinda sudah ada di belakang pintu.


“Kamu ngapain?”, tanya Arya pelan sambil menutup pintu.


Dinda hanya menggeleng - geleng. Kemudian dia segera mendaratkan telapak tangannya di dahi Arya.


“Mas Arya keningnya panas. Mas Arya demam, gapapa masih dilanjut meetingnya?”, tanya Dinda khawatir.


“Gapapa, sedikit lagi, kok. Kasihan besok mereka meeting, kalau salah, mereka bisa dihajar banyak pertanyaan oleh klien.”, jawab Arya.


Dinda menatap Arya nanar. Dia khawatir tetapi sekaligus terkesima dengan totalitas kerja Arya. Meski diluar terlihat sangat dingin dan galak, tetapi dia memikirkan anggota timnya sampai sebegitunya.


“Ya sudah, mas Arya minum obatnya dulu, ya.”, ujar Dinda.


“Hn.”


“Tapi, obatnya mas Arya taruh dimana tadi?”, tanya Dinda bingung karena dia baru teringat bahwa dia tidak merasa membawa obat Arya sejak mereka tiba di apartemen.


“Ah… **, ada di mobil lagi.”, ujar Arya.


“Mas Arya, jangan ngomong begitu terus.”, ujar Dinda yang memang jarang mendengar Arya berkata ‘Sh*t’.


“Iya, iya.. Oh.. obatnya ketinggalan di mobil sepertinya. Nanti saja aku ambil kalau meetingnya sudah selesai.”, kata Arya.


“Kamu yakin tidak mau keluar? Aku perkenalkan saja kamu, nanti aku suruh mereka untuk tutup mulut.”, kata Arya menawarkan idenya.


Dinda menggeleng.

__ADS_1


“Gapapa, aku disini saja sampai meetingnya selesai. Nanti kalau masa intern aku sudah selesai. Baru mas Arya bisa perkenalkan, meskipun aku harap jangan, hahaha.. Biar kehidupanku di kantor bisa tenang.”, jawab Dinda.


“Loh, kok begitu?”, tanya Arya bingung.


“Mas Arya itu banyak fansnya tahu. Mas gak tahu?”


“Memangnya aku siapa banyak fansnya.”


“Iya, mas Arya tuh banyak fansnya. Kalau aku diserang fans mas Arya bagaimana?”, tanya Dinda.


“Sepertinya kamu deh yang fans nya banyak. Kamu tahu si Wawan sama Egi membicarakan kamu terus sampai merah kuping saya mendengarnya.”,. ujar Arya.


Tipikal Arya yang kalau lagi marah atau butuh penekanan, selalu mengganti ‘Aku’ dengan ‘Saya’.


“Enggak kok, itu perasaan mas Arya aja. Aku gak punya fans, tapi mas Arya yang punya.”, kata Dinda tidak mau kalah.


“Ya sudah, kita lanjutkan perdebatannya nanti. Sekarang, saya lanjut meeting dulu.”, kata Arya menghentikan perdebatan mereka.


“Tunggu.”, Dinda kembali mengusap kening Arya yang panas.


Tadi panasnya tidak segini, tapi sepertinya naik sedikit.


“Meetingnya selesaikan dengan cepat, ya. Biar mas Arya langsung istirahat. Aku khawatir.”, kata Dinda.


“Iya.. tenang aja. Sebentar lagi selesai, kok. Kamu tenang saja.”, ujar Arya tak lupa memberikan kecupan di leher Dinda.


********


“Wah.. apartemen Pak Arya luas juga, ya. Pasti gajinya besar.”, kata salah seorang karyawan. Mereka saat ini sudah berada di lift. Meeting sudah selesai.


“Iya, katanya Pak Arya main saham juga, dan dia kan cerdas banget, jadi aset dia mungkin banyak disana.”


“Iya, main saham kan gak cuma butuh dana tapi juga otak yang cerdas. Pantas apartemennya besar begitu.”


“Eh, tapi pas masuk, aku melihat sendal wanita, loh. Ada sepatu kets wanita juga.”


“Punya mantan istrinya, kali.”


“Masa sudah bercerai dari 3 tahun yang lalu masih disimpan saja.”


“Atau punya kekasihnya. Tadi, pas masuk apartemen, berasa ga sih aroma parfum perempuan. Siska kan masuknya bareng kita, ga mungkin parfum dia. Sweet banget lagi aromanya.”


“Kemungkinan besar pacarnya. Mereka tinggal satu rumah?”


“Make sense, sih. Pak Arya kan baru aja kecelakaan, pasti pacarnya khawatir dong dan langsung datang ke apartemen.”


“Wah, jangan - jangan suara pintu hampir terbuka tadi juga pacarnya, ya?”


“Pada banyak yang patah hati dong, kalau Pak Arya sudah punya pacar.”


“Siska gak canggung ya, masih di atas padahal ada pacar Pak Arya.”


“Atau pacar Pak Arya jangan - jangan, Siska.”


“Aduhhh ini orang, kan Siska masuk bareng kita, ga mungkin Siska, lah.”


“Jadi penasaran pacarnya Pak Arya.”


“Memangnya kenapa?”


“Pak Arya kan ganteng, berwibawa, eksmud, karir bagus. Wah, spek super deh dia.”


“Giliran sekarang aja, lancar ngomongnya. Tadi giliran meeting ditanya he ha he hok.. Gimana sih kamu.”


“Tapi satu kurangnya, aura pak Arya gelap, dingin seperti kulkas 9 pintu. Wah.. kalau sudah ditanya Pak Arya tuh, ya bawaannya jantung mo meletus.”


“Balon kali bro meletus. Harus siapin ambulance dong.”


“Hahahaha.”


Sepanjang jalan menuju parkiran, mereka tidak henti - hentinya bergosip tentang Arya. Namun, kebanyakan gosip yang keluar adalah gosip yang positif.


*********


“Sore Mba Siska.”, sapa Dinda saat semua anggota tim sudah tidak ada lagi di apartemennya.


Siska masih belum pulang karena ada beberapa hal yang harus dia selesaikan terlebih dahulu.


“Oh, hai Din. Ha - ha melihat kamu disini dengan Pak Arya jadi agak canggung, ya.”, ujar Siska.


“Iya, aku juga, mba,”, balas Dinda sambil tersenyum.


“Hem, aku bingung jadinya harus memperlakukan kamu seperti apa.”, kata Siska.


“Gapapa mba, kaya biasa saja, seperti intern.”, jawab Dinda.


“Kalau di kantor, treat dia sebagai intern. Mau kamu marahin juga saya tidak protes. Kalau di rumah, treat dia sebagai istri saya. Tapi, kamu itu sekretaris saya, bukan Dinda. Jadi jangan membocorkan urusan yang tidak ada hubungannya dengan Dinda, ya.”, kata Arya.


“Ah.. baik, Pak Arya.”, jawab Siska.


‘Benar - benar tipikal Pak Arya. Profesionalitasnya tingkat dewa.’, celetuk Siska dalam hati.


“Sis, agenda yang tadi saya sebutkan, tolong kamu block meetingnya segera, ya. Plus, setiap tanggal, wait.. Tanggal berapa, Din?”, tanya Arya.

__ADS_1


“Oh?”, Dinda bingung saat tiba - tiba ditembak pertanyaan oleh Arya saat dia masih santai - santai


“Jadwal periksa kamu dengan dr. Rima.”, balas Arya santai.


“Eh?”, Dinda melirik ke arah Siska sebentar.


‘Apa - apaan mas Arya kenapa santai sekali mengatakannya. Aku kan malu ada mba Siska.’, pikir Dinda.


“Tgl 10 mas. Eh, Pak. Oops.”, Dinda benar - benar belum terbiasa berinteraksi seperti ini dengan Arya saat ada orang lain yang juga mengetahui hubungan mereka.


Bahkan, Dinda pun belum pernah mengobrol seperti ini dengan Pak Erick, meski sepertinya dia menjadi orang yang paling pertama mengetahui hubungan mereka.


“Periksa apa Pak? Memangnya kamu sakit, Din?”, tanya Siska penasaran.


“Dinda hamil.”, jawab Arya sangat santai sampai Dinda speechless dibuatnya.


“What? Wow! Congratulations, Pak Arya. Wah… selamat ya, Dinda. Hm.. Pak Arya on going jadi ‘Hot Daddy’ nih.”, goda Siska.


Mata Dinda membulat. Dia sedikit kaget karena baru pertama kali melihat interaksi Arya dan Siska yang seperti ini.


“Oh.. maaf - maaf Din.”, saat Siska sadar kalau Dinda seolah seperti culture-shock.


“Hati - hati kamu, Sis. Istri saya cemburuan, loh.”


“Apa - apaan sih mas Arya.”, protes Dinda.


“Wah, yang benar, Din? Tapi gapapa. Berkat kamu, saya merasa belakangan Pak Arya tingkat dinginnya berkurang.”, ujar Siska tiba - tiba.


“Kamu beruntung karena saya sedang di rumah.”, ujar Arya datar.


“Ah oke. Maaf Pak Arya.”, ujar Siska.


Arya segera menyelesaikan poin - poin yang harus disampaikan pada Siska sebelum akhirnya menutup meeting sore itu. Sembari Siska turun ke bawah, Dinda dan Arya juga membersamainya karena mereka harus mengambil obat Arya yang tertinggal di mobil.


“Ohiya, Din. Anaknya laki - laki atatau perempuan?”, tanya Siska tiba - tiba.


“Belum ketahuan, mba. Mungkin bulan depan baru bisa kelihatan.”, jawab Siska.


“Wah.. gimana caranya kamu bisa bersikap seolah - olah biasa saja di kantor.”, tanya Siska sambil menatap ke arah Arya.


Dia mengira Arya yang berusaha menyembunyikan status mereka.


“Bukan saya.”, jawab Arya seolah sudah tahu apa pertanyaan Siska.


“Minta bantuannya ya mba, untuk menyembunyikan sementara. Saya hanya tidak mau ada yang mengira saya mendapatkan perlakuan khusus di kantor, padahal tidak sama sekali. Saya juga dimarahi sama seperti yang lain kalau ada kesalahan.”, ujar Dinda.


Siska mengangguk - angguk sebagai tanda dia menyetujuinya. Profesionalitas Arya memang tidak ada tandingannya. Tapi, dia juga tahu bagaimana gencarnya raja dan ratu gossip di kantor mereka. Bahkan mereka sampai punya grup WhatsApp nya. Siska paham benar dari mana kekhawatiran Dinda muncul.


Dulu saat Siska baru - baru masuk dan Arya baru cerai dari istrinya, se- kantor heboh dalam waktu yang lama. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana gemparnya orang kantor kalau tahu Pak Arya sudah menikah dan istrinya orang kantor itu juga. Seorang intern pula.


“Tapi… gimana ceritanya sih, bisa menikah dengan Pak Arya, Din? Pak Arya gak mau kasih tahu, loh.”, dan pintu lift pun terbuka.


“Pintunya sudah terbuka mba.”, jawab Dinda tersenyum lega karena berhasil menghindari pertanyaan paling sulit untuk ia jawab.


“Kamu parkir mobil dimana?”, tanya Arya.


“Di sebelah sana lantai bawah lagi, Pak.”, jawab Siska.


“Oke, kalau begitu saya duluan ya. Kamu hati - hati di jalan.”, ujar Arya.


“Baik, Pak. Bye, Din. See you tomorrow. Titip Pak Arya.”, ujar Siska tersenyum jahil.


Dinda tersenyum renyah dibuatnya.


“Mba Siska kadang - kadang lucu juga ya mas. Aku kira dia dulu jutek dan menakutkan.”, kata Dinda sambil memegang lengan suaminya.


“Argh..”, kata Arya meringis sebentar karena Dinda lupa kalau yang dia pegang adalah bagian lengan yang terkena luka baretan.


“Oh.. maaf - maaf mas Arya. Sakit, ya.”


“Sedikit.”, kata Arya tersenyum.


“Aku aja yang ambil di mobil.”, kata Dinda sesaat setelah Arya menekan tombol di kunci mobilnya.


“Taruh dimana?”, tanya Dinda.


“Di dashboard, coba kamu liat, atau di bagian kanan setir.”


“Oh ini ketemu. Wah.. banyak juga obatnya. Obat apa saja? Nah ini ada obat demamnya.”, kata Dinda.


“Ya udah, yuk ke atas. Kamu gak lapar? Mau pesan makanan atau makan di luar?”, tanya Arya sambil melingkarkan lengannya ke pinggang Dinda.


“Pesan aja biar mas Arya gak capek.”, jawab Dinda.


“Ya sudah, kalau begitu kamu yang pesan.”, kata Arya sambil menekan tombol lift.


“Boleh deh. Mas Arya kan lagi sakit. Tapi, mas Arya harus janji satu hal sama aku. Gak boleh seperti hari ini lagi, ya. Aku ga akan maksa mas Arya untuk menemani aku periksa lagi kalau mas Arya sibuk. Mas Arya jangan maksain sampai gak hati - hati seperti hari ini.”, kata Dinda sambil mewek lagi.


“Udah jangan nangis lagi. Kalau di liftnya ada orang, malu loh. Nanti saya disangka KDRT.”, kata Arya berusaha bercanda.


Dan berhasil. Dinda mengeluarkan tawa manisnya.


Diantara senyum keduanya, mereka tidak sadar kalau ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka.

__ADS_1


__ADS_2