
Dinda sedang mengemasi barang - barang milik Arya yang berada di dalam koper. Arya sudah melarangnya dan mengatakan untuk langsung memberikannya pada Bi Rumi. Dinda hanya mengatakan iya. Namun, kenyataannya sekarang, dia yang membuka koper Arya dan merapikannya.
Dinda mengambil baju - baju kotor dan memasukkannya ke dalam tempat baju kotor. Tempat itu biasanya ada di dalam kamar mandi. Dinda sengaja mengeluarkannya tadi. Sementara Arya sedang mandi, Dinda mendapatkan mainan baru dengan merapikan isi koper Arya.
“Hum.. tidak ada yang menarik disini. Hanya ada baju kotor saja.”, ucap Dinda sambil membuka satu persatu resleting yang ada di dalamnya.
"Mas Arya benar - benar hanya membawa baju kotor ya? Ga ada yang lain? Aduh... mikir apa sih aku. Kenapa aku malah berharap hadiah. Tidak .. tidak.. mas Arya bisa pulang lebih cepat saja sudah menjadi hadiah untukku.", ujar Dinda dalam hati.
“Em? Ini apa?", ujar Dinda meraba - raba sesuatu.
Perhatian Dinda mengarah pada sebuah bungkus plastik berwarna ungu di koper bagian bawah. Jadi, koper Arya memiliki sisi lagi di bawahnya yang tertutup dengan resleting. Setelah berhasil mengeluarkan semua baju kotor Arya, Dinda menekan - nekan bagian bawah dan mendengar bunyi plastik. Lalu bagian ujung resleting menampakkan ujung plastik yang seperti tersangkut disana.
Dinda membukanya karena penasaran. Bungkus plastik itu bertuliskan ‘Boutique’.
“Mas Arya beli baju? Boutique kan berarti baju, ya? Apa mungkin hadiah? Masa sih? Kalau hadiah, pasti mas Arya sudah memberikannya padaku. Hm.. mungkin ini bukan hadiah untukku.”, Dinda tidak punya ide ini adalah hadiah atau bukan
Lagipula, plastik itu tertutup. Dinda takut membukanya karena itu barang pribadi Arya. Meski Dinda adalah istri Arya, tetapi Dinda selalu menanamkan pada dirinya untuk tidak sembarangan membuka barang - barang Arya. Padahal, Ary tidak melarang Dinda sama sekali. Hanya saja, Dinda masih belum berani sebebas itu.
Dinda baru saja memutuskan akan meletakkannya di lantai saat Arya keluar dari kamar mandi. Pandangannya langsung mengarah pada Dinda yang duduk di lantai tak berapa jauh dari depan pintu kamar mandi sambil memegang bungkus plastik ungu tersebut. Jelas, Arya mengenal bungkus itu.
Sontak Arya langsung berlari mendekati Dinda.
“Sayang, jangan dibuka dulu…”, kata Arya berteriak dan langsung terduduk di belakang Dinda sambil memegang plastik ungu tadi. Posisinya sekarang sangat dekat dengan Dinda. Dalam posisi rambut yang masih basah.
Tetesan - tetesan itu mengenai rambut dan juga bagian bahu Dinda. Dinda terkejut karena dari saat Arya membuka pintu sampai dia berada di belakangnya saat ini, hanya berlangsung dalam hitungan detik saja.
Sontak Dinda bisa merasakan aroma tubuh Arya yang habis mandi. Belum lagi dia juga terkena tetesan - tetesan rambutnya yang masih basah. Deru nafas pria itu yang habis berlari dan berada di posisi sedekat itu tak pelan membuat Dinda langsung merasa deg - deg - an.
‘Oh… jantungku kenapa? Kenapa berdetak kencang. Aku baik - baik saja, kan. Dinda, itu suami kamu loh, Din. Kenapa masih saja berdetak seperti ini. Apa karena mas Arya sudah lama tidak di rumah. Ya ampun, kan baru sekitar 7 hari saja, masa jantung sudah tidak aman begini.’, ujar Dinda dalam hati.
Dinda bahkan meletakkan sebelah tangannya di dadanya untuk sekedar memeriksa detak jantunganya.
‘Fuuh… apa yang aku lakukan? Kenapa jantungku malah berdetak lebih cepat begini? Apa karena aku habis lari? Ya ampun, kan tidak sampai 2 meter. Hanya beberapa langkah saja. Masa sudah bisa membuat jantungku tidak aman? Ngomong - ngomong, kenapa Dinda terlihat berbeda, ya malam ini? Padahal baru dari belakang. Baru juga ditinggal seminggu. Kenapa aku merasa dia bertambah cantik? Ah… Arya.. Arya... apa yang kamu pikirkan? Dia kan istri kamu.”, persis sama, Arya juga tak bisa mengatur nafasnya dengan baik. Jantungnya juga tidak aman sekarang.
Dinda menelan ludahnya, begitu pula dengan Arya. Waktu seolah berhenti atau mereka yang seolah berpindah dimensi? Entahlah. Mereka berdua saja tidak mengerti.
“Mas Arya sedang apa? Mau melakukan apa?”, tanya Dinda pelan. Pelan sekali. Tapi, masih bisa terdengar oleh Arya. Gadis itu juga masih belum menoleh ke arah nya.
“Apa maksud kamu 'mau melakukan apa'?”, tanya Arya membalas pertanyaan Dinda.
'Iya juga, kenapa aku bertanya begitu? Apanya yang 'mau melakukan apa'. Memangnya mas Arya mau ngapain?', ucap Dinda dalam hati.
Entah mengapa Dinda perlahan merasa kepanasan. Padahal ruangan kamar mereka sudah di setel AC. Walaupun Dinda sempat menaikan temperaturnya supaya tidak terlalu dingin, tetap saja ini masih seperti lemari es.
Dinda menggeser rambutnya yang teruntai dengan rapi ke arah kanan karena gugup. Dia bingung harus melakukan apa. Arya juga belum terlihat akan berdiri dari sana atau setidaknya menambah jarak diantara mereka.
Tindakan Dinda barusan malah semakin menggoda Arya. Pria itu menelan ludahny karena gugup.
'Gugup'? Seorang Arya Pradana ternyata bisa gugup juga. Padahal dia yang biasanya membuat orang - orang gugup.
‘Oh.. aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Fuh… Arya.. Okay.. semua bisa kamu kendalikn. Perlahan namun pasti, Cobalah untuk tarik nafas..satu..dua..tiga…calm down.. Wah kenapa tiba - tiba panas, ya.’, pikir Arya dalam hati.
'Apa Dinda menaikkan AC nya lagi?', tanya Arya dalam hati.
Dia sudah hapal dengan kebiasaan istrinya yang senang menaikkan volume AC. Ya, Dinda masih belum terbiasa menggunakan AC. Apalagi harus menyamai dengan tingkat toleransi Arya.
Dia beberapa kali mengarahkan pandangannya ke atas kiri atau kanan. Namun tetap saja mata itu kembali untuk melihatnya. Arya menggigit bibirnya berusaha tetap mengontrol dirinya. Tapi, sepertinya pertahanannya hampir runtuh.
“Mas Arya sudah selesai mandi?”, akhirnya Dinda mengganti pertanyaannya.
Sebenarnya ini adalah cara dia untuk segera keluar dari rasa gugup dan takut salah tingkah. Dia sudah melontarkan pertanyaan namun Dinda tak mendengar jawaban dari Arya untuk beberapa saat.
__ADS_1
Akhirnya Dinda memberanikan diri untuk sedikit menoleh ke belakang meskipun tidak sempurna. Dia ingin memeriksa suaminya.
Tak berapa lama Dinda menoleh, Arya langsung memegang bahu Dinda, memutar gadis itu sempurna menghadap ke arahnya dan mencium bibir istrinya.
Wajah Arya yang belum diseka sempurna dengan handuk menyebabkan bibir itu juga masih terasa basah. Dinda membulatkan matanya, tapi dengan cepat menerima perlakuan Arya. Ciumn itu berlangsung lama sampai ada suara yang menghentikan aktivitas mereka.
“Den Arya… kopernya tadi yang mau dibersihkan ada di…..”, Bi Rumi yang melihat pintu kamar terbuka langsung masuk ke dalam. Siapa sangka keputusannya barusan malah membuatny melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Dia menutup mulutnya karena shock. Ekspresi Bi Rumi terlihat sangat terkejut.
Meskipun dari jauh, Bi Rumi bisa melihat dengan jelas.
Pintu kamar Arya menghadap ke arah ranjang tidur. Orang harus berbelok ke arah kiri sebelum akhirnya bisa melihat keseluruhan ruangan. Karena itulah Bi Rumi tidak melihat mereka saat memasuki kamar. Dia baru shock saat sudah berbelok ke arah kiri dan menyaksikannya.
Arya terusik dan menghentikan apa yang dilakukannya saat menyadari keberadaan Bi Rumi. Dinda? Gadis itu seperti masuk dalam dimensi lain sampai tak menyadari kehadiran Bi Rumi. Dia baru sadar saat Arya sudah melepaskan ciumannya.
“Oh.. itu kopernya Bi. Diambil saja. Dinda sudah bongkar, kok. Jadi, Bi Rumi bisa langsung membawa baju kotor yang ada di tempat ini sekalian.”, kata Arya menunjuk ke arah koper dan tempat baju kotor.
Ekspresi Arya datar. Dia terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apa - apa. Meski wajah Bi Rumi sudah shock namun tetap memaksakan untuk mendekat mengambil koper dan tempat pakaian kotor yang disebutkan Arya.
Dia berjalan perlahan menuju tempat koper berada. Pelan sekali sambil membungkuk sungkan dan sesekali tersenyum.
"Ehehe.. permisi Den, Non. Kopernya saya ambil dulu.", ucap Bi Rumi.
Bi Rumi menarik koper dan pakaian kotor itu dengan canggung keluar dari kamar Arya.
Setelah berhasil keluar dari kamar, Bi Rumi meletakkan koper dan tempat pakaian kotor di depan pintu. Dia tidak langsung turun. Bi Rumi menarik nafas sebentar dan berbalik masuk ke kamar Arya. Dia tidak belok kiri, namun hanya memunculkan sebagian tubuhnya dari balik Dinding.
“Den, Bibi tahu Den Arya baru pulang. Tapi, kalau mau ngapa - ngapain, pintunya jangan lupa ditutup ya Den.. Kalau yang masuk Ibas atau Nyonya, bisa lebih shock.”, ucap Bi Rumi singkat dan langsung segera undur diri.
Arya tersenyum simpul memberikan respons ‘Oke’ pada Bi Rumi.
“Kalau begitu tolong ditutup ya Bi. Kita mau lanjut.”, kata Arya tertawa.
Wajah yang tadi sok cool langsung berubah jadi tawa pecah.
“Mau ngapain? Kamu maunya kita ngapain?”, kata Arya sambil mengeluarkan tawa renyah.
“Sudah sana keringkan rambutnya dengan hair dryer.”, kata Dinda bermaksud untuk berdiri.
Namun, Arya menarik lengannya.
“Sini dulu.”, kata Arya sambil menepuk - nepuk dadanya.
Dinda pura - pura lirik kiri dan lirik kanan sebelum akhirnya mengarahkan telinganya ke dada Arya. Entah apa mau pria itu.
“Kamu dengar apa?”, tanya Arya.
“Jantung mas Arya berdetak kencang. Mas Arya gapapa? Ga perlu ke rumah sakit?”, tanya Dinda kembali memecah kelucuannya. Dia khawatir karena detak jantung Arya lebih cepat dari biasanya bahkan detak suaranya begitu keras.
“Obatnya disini, kenapa harus ke rumah sakit.”, jawab Arya.
“Ih geli.”, sahut Dinda malu, tapi dia belum mau mengangkat kepalanya dari atas dada suaminya. Dinda memandang ke kanan dan bisa melihat dengan jelas dagu pria itu.
Dinda memegang dagunya pelan.
“Mas Arya sudah cukuran? Pantesan lama di kamar mandi.”, kata Dinda.
“Hem.. biar kamu ga risih.”, jawab Arya.
“Apaan sih.”
“Aw..”, Dinda menepuk bahu Arya pelan tapi pria itu mengaduh berlebihan.
__ADS_1
“Jadi kita lanjut ga?”, tanya Arya.
“Lanjut apa?”, tanya Dinda sambil mengeksplorasi wajah dan rambut suaminya dengan tangan.
“Beneran ga tahu?”, tanya Arya menggoda.
“Disini?”, tanya Dinda refleks.
“Tuh kan.. Pura - pura gak tahu. Tapi malah mengajak disini.”
“Bodoh ah.. Mas Arya mesum. Gak mau.”, jawab Dinda mengangkat kepalanya menatap pria nakal disampingnya.
“Kalau pindah kesana, mau?”, kata Arya jahil sambil menunjuk ke arah tempat tidur.
“Mas Aryaaaa…”, teriak Dinda merasa malu dan wajahnya sudah semerah kepiting rebus.
*********
“Ma, papa mana?”, tanya Ibas.
Dia baru saja pulang setelah menginap di rumah temannya. Dia tidak pulang setelah keributan pagi itu. Pak Cecep juga yang mengantar Dinda pulang. Meski di luar dia mengatakan baik - baik saja, tetapi sebenarnya tidak. Ibas tidak sedang baik - baik saja.
“Kamu baru pulang? Kemana saja?”, tanya Inggit yang sudah riweh menelpon kemana - mana. Untung Ibas masih mau menjawab telepon Dinda dan memberi tahu seisi rumah dimana dia berada.
“Papa ada di taman belakang sedang memberi makan burung. Jangan terlalu keras ke papa. Kalau dia masih bersikeras dengan pendiriannya, kamu iya-in saja dulu.”, saran Inggit sebelum Ibas menemui papanya.
Ibas menangguk.
“Kata Pk Cecep Mas Arya sudah pulang, dia dimana?”, tanya Ibas.
Setelah dipikir - pikir, sepertinya sebelum menemui papa, lebih baik Ibas berdiskusi dahulu dengan Arya. Diantara semua anak papa, mas Arya yang paling bermasalah. Mungkin dia punya saran - saran yang lebih kekinian. Begitu kira - kira pikir Ibas.
“Mas Arya baru pulang dari banget sekitar sejam-an yang lalu. Masih kangen - kangen-an sama istrinya. Sudah jangan diganggu. Kasihan, dia sibuk banget belakangan ini.”, balas Inggit.
“Dasar om - om bucin.”, kata Ibas mengomentari.
“Hush.. masa kamu memanggil kakak kamu begitu.”, kata Inggit menepuk bahu Ibas.
Ibas tidak berkomentar lagi dan langsung menyelonong ke taman belakang. Ibas sudah tahu kalau jam - jam segini adalah jam - jam papanya memberi makan burung. Dia bertanya pada mamanya hanya untuk memastikan.
“Pa, makanan burung yang baru. Katanya kalau pakai pakan yang ini, nanti dia bisa bicara.”, kata Ibas memberikan lelucon konyol.
“Hush.. ngarang saja, kamu. Apa namanya? Mahal tidak?”, meski dia terlihat tidak tertarik, namun Kuswan segera membuka kantong berisi pakan burung itu dan membaca merek serta komposisinya.
“Mahal, pa. Belinya di tempat biasa.”, jawab Ibas.
“Belinya pakai uang sendiri?”, tanya Kuswan lagi.
“Engga, nyolong kartu kredit mas Arya. Ya iyalah pa pakai duit aku sendiri.”, Ibas seperti ogah - ogahan padahal dia terus mengeluarkan guyonan.
“Papa minta maaf soal yang kemaren. Tidak seharusnya papa bersikap berlebihan seperti itu. Apalagi di depan Dinda dan keponakan kamu yang masih kecil.”, Kuswan justru meminta maaf terlebih dahulu.
“Kamu tahu, semakin tua terkadang manusia bisa gampang emosi untuk hal - hal kecil yang random. Papa merasakannya. Padahal dulu papa termasuk orang yang rasional. Papa minta maaf.”, lanjut Kuswan lagi.
“Ibas juga Pa. Seharusnya ibas tidak berbicara keras pada papa meskipun Ibas tidak setuju dengan pendapat papa.”, tadinya dia bingung bagaimana memulainya.
Berkat permulaan dari Kuswan, Ibas bisa menyampaikan permintaan maafnya.
“Oya, papa baca tempat kerja kamu itu termasuk perusahaan decacorn, ya? Papa baru belajar bisnisnya kemarin. Gaji kamu pertama, kasih papa 10% ya.”, kata Kuswan langsung merampok anaknya.
“Jangankan 10%, 50% juga Ibas kasih pa. Tapi maksimal 1juta ya, Pa.”, kata Ibas kembali bercanda.
__ADS_1
“Dasar kamu. Sudah seperti diskon jaman sekarang saja ada maksimalnya. Kalau begitu kenapa ditulis 50%.”, protes Kuswan.