Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 48 Gagal Glamping


__ADS_3

Tok tok tok


*Dinda mengetuk pintu kamar mandi yang sedang digunakan oleh Arya. *


*“Mas Arya.”, panggil Dinda lembut. *


Tok tok tok


*Dinda kembali mengetuk. *


*Arya membuka pintu kamar mandi. Dia keluar dalam keadaan rambut yang basah dan tubuh yang hanya dibalut dengan handuk dari bagian pinggang ke bawah. Dada bidangnya terekspos jelas saat dia membuka pintu hanya setengah. *


*“Aaaaaa”, Dinda refleks berteriak. Dia merutuki dirinya yang masih saja seperti itu. *


*Arya hanya geleng - geleng kepala. *


“Kemarin kan saya udah bilang, kalau keluar kamar mandi pakai handuk kimono. Jangan cuma handuk biasa trus taruhnya dari pinggang doang.”


*“Memang saya pernah setuju saat kamu bilang seperti itu? Lagian ini kamar saya. Terserah saya dong.” *


“Tapi kan saya juga penghuni kamar ini.”


“Gampang, saya kasih kamu penawaran. Kamu bersedia saya unboxing, dan saya akan mengikuti semua aturan kamu.”


“Gak tertarik.”


“Pilihan kamu. Oke, sekarang mau kamu apa?”


*“Mas Arya, kemarin kan saya udah info kalau mau glamping dengan teman - teman saya. Saya ijin berangkat shubuh ini, ya. Saya sudah pesan ojek online, jadi gak perlu bangunin pak Cecep. ”, kata Dinda. *


*“Ya udah mending saya antar saja.” *


*“Mas Arya semalaman meeting, pasti masih ngantuk. Gapapa kok, dekat dengan perumahan ini adalah perumahan teman saya, jadi saya bisa mampir kesana untuk jemput dia. Jadi di ojek onlinenya, saya bareng dia.” *


*“Yakin, gapapa?” *


*“Iya.. mas Arya tolong bilangin mama ya. Saya gak enak bangunin mama soalnya masih pagi banget.” *


*Arya tampak berpikir sebentar. *


*“Oke. Tapi kalo kamu ada apa - apa langsung telpon saya, ya.”, Arya bermaksud menutup pintunya kembali. Tapi Dinda menahannya. *


*“Satu lagi.”, lanjut Dinda. *


“Apa?”


“Saya ijin pake kartu kredit yang mas Arya kasih, ya kalau - kalau diperlukan.”


*“Terserah kamu. Yang penting gak melebihi limit. Saya kasih karena sudah kewajiban saya.”, Arya menutup pintunya. *


*Dinda tersenyum. *


Dia berencana pergi Glamping di tempat yang viral di luar kota bersama teman - temannya. Dinda sudah sangat senang hanya dengan memikirkan liburan ini. Dia langsung bersiap dan memesan ojek online. Pakaiannya sudah dia rapikan di dalam koper dari tadi malam.


Rara, Dian, Sekar, dan Bianca adalah sohib karib Dinda. Mereka sudah bersahabat sejak menjadi mahasiswa baru semester pertama. Saat itu, OSPEK Universitas menggabungkan mereka dalam sebuah kelompok yang terdiri dari 15 orang. Setiap anggota berasal dari jurusan dan fakultas yang berbeda - beda.


Siapa sangka, pertemuan mereka dalam kelompok itu membuat mereka cocok dan berteman hingga sekarang. Rara dan Dian adalah mahasiswa kedokteran. Saat ini mereka sedang mengambil profesi alias koas. Mereka adalah mahasiswa cerdas. Mereka lulus 3.5 tahun sekarang sudah setahun koas.


Beruntungnya, Rara dan Dian koas di rumah sakit yang sama. Hanya saja mereka ditempatkan di bagian yang berbeda. Rara di bagian obgyn atau kandungan dan Dian di UGD (Unit Gawat Darurat).

__ADS_1


Sedangkan Sekar berasal dari jurusan teknik. Ia bercita - cita menjadi arsitektur interior. Tapi, sekarang dia malah sibuk menjadi selebgram dan menjalankan usaha pastry online.


Bianca mengambil jurusan hukum. Dia sedang mengambil kuliah S2. Tapi, sepertinya dia akan menyerah dan memilih menikahi kekasihnya. Mereka sudah seperti amplop dan perangko. Lengket terus.


“Jadi kita pesan 2 kamar, ya. Satu kamar isi 2 orang, dan satu kamar isi 3 orang.”, kata Bianca.


Mereka akan melakukan dua pesanan. Liburan Glamping mereka sirna karena air sungai pasang. Mereka tidak ingin kembali karena sudah terlanjur excited untuk liburan. Akhirnya mereka memilih untuk stay di salah satu hotel viral di kota ini. Kebetulan, hotel ini juga sedang menawarkan promo dengan kartu kredit.


“Oke setuju, oiya yang punya credit card kan cuma Bianca, satu lagi… gimana?”, tanya Rara.


“Kamu sih, ga liat group chat. Sekarang Dinda sudah punya kartu kredit. Jadi, satu lagi pake kartu kredit dia.”


“Wahh intern di perusahaan multinasional itu gajinya besar ya, Din? Sampai kamu punya kartu kredit.”, Dian memang orangnya blak - blakan. Jika ada yang membuatnya penasaran, dia pasti langsung main tembak saja.


“Hahaha… engga kok. Ini kemarin ada yang nawarin di kantor. Jadi aku coba aja satu.”, kata Dinda berbohong. Padahal, kartu kredit yang ia gunakan adalah kartu kredit tambahan dari kartu kredit utama milik Arya.


Proses pembayaran tidak berlangsung lama. Staf hotel langsung mengantarkan mereka ke kamar hotel. Agenda mereka hari ini adalah keliling hotel dan berenang di sore hari. Ternyata benar, hotel bintang 4 ini serasa bintang lima karena pelayanan dan dekorasinya yang bagus.


Mereka langsung bertukar ke baju renang kecuali Dinda dan Sekar yang mengenakan hijab. Mereka menggunakan celana legging dan baju lengan panjang serta hijab khusus renang.


Semua teman Dinda ahli berenang. Sedangkan, Dinda hanya mengetahui dasar - dasarnya saja yang pernah ia pelajari saat SMP dan SMA. Setidaknya, dia bisa mengambang dan berpindah dari satu sisi ke sisi lain tanpa tenggelam. Meski Arya sudah pernah mengajarkannya, tapi pria itu tidak mengajarkan dengan benar. Jadilah Dinda juga sudah lupa bagaimana caranya.


Sedangkan Rara, Dian, Sekar, dan Bianca sudah memulai berbagai gaya, mulai dari katak, dada, punggung, kupu - kupu, bebas, dan bahkan menyelam untuk beberapa detik.


Hari itu, banyak sekali yang berenang. Meskipun viral, pihak hotel membatasi jumlah promosi. Sehingga kepadatan tidak terjadi. Beruntung mereka cepat mendapatkan konfirmasi dari pihak Glamping dan akhirnya bisa memesan hotel ini.


Terima kasih untuk Bianca dan Rara yang begitu gigih hingga akhirnya berhasil mendapatkan 2 kamar.


“Eh Din, kamu udah punya pacar belum?”, mereka mulai ngobrol setelah lelah berenang hingga satu jam lebih.


Uhuk uhuk


“Wah reaksi macam apa ini? Jadi, kamu sudah punya pacar?”, balas Bianca.


‘Bukan pacar lagi, tapi suami.’, Dinda hanya bisa menjawab jujur dalam hati.


“Haha, belum kok. Aku masih belum kepikiran. Kamu sendiri gimana? Jadi, nikah dengan Riko?”, tanya Dinda balik.


“Jadi dong, kemarin dia sudah pesan kue pernikahan di tempatku.”, jawab Sekar.


“Wah.. kok belum bilang - bilang.”


“Ya.. ini aku mau bilang. Jadi, dua bulan lagi kami lamaran dan gak lama setelah itu kami  menikah.”, akhirnya Bianca bisa membagikan kabar bahagia ini.


“Tapi guys, pasangannya bukan Riko.”, tutur Sekar memberikan sambaran petir pada ketiga teman lainnya.


“Whattt????”, semua memberikan reaksi yang sama.


“Riko mutusin aku pertengahan Februari kemarin. Dia ternyata selingkuh. Gak lama, aku dekat sama anak kenalan papa yang langsung kasih kepastian.”, Bianca tersenyum malu.


“Wah.. siapa? Siapa?”, semua mata tertuju padanya.


“Namanya Reza. Dia sering main ke rumah dulu waktu aku kecil. Tapi abis itu pindah ke luar negeri. Baru dua tahun ini menetap lagi di Indonesia dan sewaktu dia berkunjung ke rumah, disana nostalgia dimulai.”, Bianca tersipu malu mengingat pertemuannya kembali dengan Reza.


“Jadi, ide Glamping ini bagian dari rencana kamu untuk kasih tahu kita?”, kata Dian menebak.


“Bingo! Aku pengen ngasih tahu kalian langsung, gak lewat chat.”, Dinda dan teman - teman lainnya tersenyum. Mereka turut bahagia dengan hal baik yang akan menghampiri Bianca kedepannya.


“Aku pengen kalian hadir di acara lamaran. Tapi, sayang sekali, acara lamaran kali ini hanya untuk keluarga.”, tutur Bianca.

__ADS_1


“Yahhhh….”, semua langsung kompak menunjukkan wajah kecewa.


“Maaf ya, tapi untuk acara pernikahan, aku akan jadikan kalian semua bridesmaid paling istimewa. Nanti sebulan sebelum pernikahan, aku kirim ke rumah masing - masing, ya.”


“Hmmm gapapa kok, yang penting kamu bahagia Bi.”, kata Dinda.


“Eh udah yuk, udah mo maghrib juga, kita harus mandi dan siap - siap makan malam.”, Dian langsung berdiri setelah sadar jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.


“Sebagai gantinya, malam ini buffetnya aku yang traktir, ya.”, sorak Bianca senang.


“Yeayyyy!!!”, mereka semua sontak ikut bersorak.


“Din, aku pinjam kartu kredit kamu lagi, ya. Nanti, aku transfer sejumlah yang kepake. Soalnya ada diskon lagi untuk buffet.”, Bianca menoel Dinda di perjalanan menuju kamar mereka.


“Tenang aja. Makasih ya, Bianca. Aku turut senang kamu akan menikah.”


“Kamu memang yang terbaik.”


“Kita gimana?”, canda ketiga temannya.


Sesampainya di dalam kamar hotel.


“Dinda dan Bianca berbagi satu kamar. Sedangkan Dian, Rara, dan Sekar di kamar yang lain. Mereka mandi bergantian karena akan siap - siap untuk pesta buffet nanti malam.


“Din, aku bawa tas perlengkapan mandi kamu, boleh? Kalau - kalau aku ada yang lupa, biar gak capek keluar lagi.”, seru Bianca dari dalam kamar mandi yang pintunya masih sedikit terbuka.


“Iyaa, pake aja.”, Dinda hanya tergelak. Dia sudah hafal kebiasaan sahabatnya ini. Bianca selalu meminjam perlengkapan mandi siapapun yang sekamar dengannya.


Bianca segera masuk ke kamar mandi dan memulai aktivitasnya. Baru sepuluh menit dia di dalam kamar mandi, kepalanya kembali muncul dari bilik kamar mandi.


“Din, kok di tas kamu ada sabun dan shampo laki - laki? Kamu pake produk laki - laki juga?”


“Oh? Ah… I.. Iya Bi. Aku lagi coba - coba. Kali aja ada yang cocok.”, Dinda mengarang Indah.


‘Itu pasti sabun dan shampoo mas Arya. Kenapa ada disitu, sih?’, batin Dinda.


“Din, kamu pake cologne laki - laki juga?”, setengah jam kemudian, Bianca kembali bertanya.


“Oh.. oh itu punya adik aku. Kayanya gak sengaja kebawa.”


“Tapi ini cologne mahal, loh Din. Adik kamu dapat dari mana?”


“Hah? Apa? Mahal? Ehmm mungkin hadiah, Bi. Aku juga ga tahu.”


“Hmm.. merk cologne nya sama dengan yang dipake mas Reza. Tapi ini baunya enak juga. Aku coba rekomendasiin ke dia nanti.”, Bianca berbicara sendiri di depan cermin sambil melihat - lihat isi perlengkapan mandi Dinda.


Dinda sudah terbiasa karena memang Bianca suka seperti itu. Tapi maksudnya tidak buruk. Dia hanya ingin mencari referensi.


Setelah menghabiskan waktu berjam - jam (hiperbola), Bianca akhirnya keluar juga dari kamar mandi. Dinda langsung masuk ke kamar mandi. Bukannya langsung mandi, Dinda malah melihat merk cologne yang digunakan oleh Arya.


*‘Gaji mas Arya sebulan berapa sih? Kenapa beli perlengkapan mandi semahal ini?’ *


Dinda terkaget - kaget karena ternyata harganya memang sangat mahal.


‘Pantas aroma tubuhnya mas Arya nagih banget.’


“Ih… ngomong apa sih aku. Sadar Dinda. Lebih baik aku langsung mandi. Dari pada mikir yang aneh - aneh.”, Dinda langsung menampar pipinya kecil karena pikirannya sudah travelling kemana - mana.


****

__ADS_1


__ADS_2