
Tap tap tap...
Drap drap drap...
Suara langkah kaki dengan alas sepatu fantofel, terdengar jelas di telinga Gavino. Yang sekarang ini jadi lebih sensitif dari pada yang dulu-dulu.
"Apa itu Gress?"
"Tapi kenapa ada satu langkah kaki yang lainnya?" gumam Gavino dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia miliki.
"Terima kasih Paman. Sudah repot-repot mau mengantar Gress pulang. Bahkan memastikan keselamatan Gress hingga di depan pintu."
"Iya sama-sama Gress. Ini juga demi keponakannya Paman, yang sekarang ini entah sedang berada di mana dia."
Jawaban yang diberikan oleh George, dengan sengaja dikeraskan suaranya. Karena George tahu, jika saat ini Gavino ada di dalam kamarnya Gress. Yang saat ini ada di depannya.
Tadi, di bawah sana. George melihat mobil Gavino yang terparkir dengan keadaan yang masih baik-baik saja.
'Ternyata si Gavin cuma mau ngerjain aku saja, biar dia bisa datang lebih dulu ke kamarnya gress.'
'Apa bocah tengil itu mau pamer padaku, jika dia juga bisa menaklukkan gadis cantik?'
George justru berpikir bahwa, Gavino hanya sedang ingin bermain-main dengan mengerjai dirinya. Karena ingin terlihat sibuk saja di mata Gress nanti.
Tapi George tidak ambil pusing.
Dia tahu dan paham dengan apa yang terjadi pada Gavino. Karena seorang pemuda dengan umur yang sama seperti Gavino ini, tentunya sedang masa-masa hormonnya yang tinggi.
Dia justru waktu mudanya lebih parah lagi, jika dibandingkan dengan Gavino saat ini.
Secara, di usia yang sama seperti Gavino saat ini, George muda sudah bergabung dengan kelompok mafia yang di pimpin oleh king Goldblack.
Dari beberapa anggota kelompok mafia itu juga, George belajar banyak tentang kehidupan malam yang gelap. Termasuk dengan para wanita malam nya.
"Paman. Apa Paman mau mampir sebentar?" tanya Gress memberikan tawaran.
Padahal Gress sendiri juga tahu, jika saat ini, ada Gavino di dalam kamarnya. Menunggu kedatangan dirinya.
"Sepertinya tidak Nona. Saya masih ada pekerjaan lain, yang harus Saya kerjakan. Permisi Nona!" pamit George, sambil melirik ke arah pintu kamar.
Dia yakin, jika saat ini Gavino sedang mendengarkan pembicaraannya dengan Gress. Yang sudah ditunggu-tunggu Gavino sejak tadi.
'Dasar bocah nakal!' batin George dalam hati.
Tapi dia tidak menyingung soal Gavino di depan Gress. Dia sendiri bisa menjaga privasi tuan mudanya itu. Sebab Gavino sendiri yang sudah berpesan, agar identitas dirinya yang sebenarnya tidak boleh diketahui oleh orang lain. Termasuk Gress juga.
Setelah tidak lagi terdengar suara George, Gavino membuka pintu kamar, sebelum Gress membukanya.
Clek!
"Gavin! Kamu mengagetkan Aku Sayang!" terang Gress dengan kesal.
"Hahaha... maaf Sayang. Habisnya Kamu lama. Apa Paman sudah pergi?" Gavino mengucapkan permintaan maafnya, dengan bertanya tentang George juga.
__ADS_1
"Iya. Dia baru saja pergi."
Clek!
Grep!
Begitulah pintu kamar ditutup, Gavino langsung memeluk Gress, kemudian membopongnya dengan cara bride style.
Ala-ala pangeran yang sedang membopong tubuh seorang putri.
Cup!
"Emhhh... kiyaa!"
Gress yang tidak siap tentu saja terkejut dengan kelakuan Gavino. Meskipun pada akhirnya dia juga ikut melingkarkan kedua tangannya ke leher Gavino.
"Aku belum mandi," cicit Gress malu, saat Gavino mau menciumnya lagi.
"Aku juga belum mandi Sayang. Jadi... mari kita mandi bersama!"
Pernyataan Gress, justru membuat Gavino tambah bersemangat, dengan membawanya pergi ke kamar mandi. Setelah melemparkan tas yang dibawa Gress seharian ini.
Gress juga merasa sangat senang, dengan perlakuan Gavino yang dia idamkan dari dulu.
Cup!
"Terima kasih Sayang," ucap Gress, setelah mencuri ciuman di bibir Gavino.
"Aku tidak mau ciuman kilat. Aku mau yang lebih Sayang. Dan ini... harus Kamu puaskan, agar Aku juga bisa memuaskan inti mu."
"Tentu saja Sayang."
"Sebentar. Aku pesan makanan dulu Sayang. Kita pasti akan kelaparan setelah selesai mandi nantinya."
Gress hanya mengangguk saja, tanpa menyahuti perkataan yang diucapkan oleh Gavino. Yang sekarang ini jadi sibuk menulis pesan untuk order makanan mereka.
Keduanya sama-sama sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dan acara mandi bersama, harus mengeluarkan tenaga ekstra yang lebih besar, dengan waktu yang cukup lama juga.
*****
Ting tong...
Ting tong..
Suara bel membuat Gavino melepaskan pelukannya pada Gress.
Saat ini, mereka berdua sudah selesai mandi. Dan sedang duduk berdampingan di sofa panjang, dengan posisi saling berpelukan.
Mereka berdua menunggu pesanan makanan yang sudah mereka pesan sebelum mandi tadi.
Clek!
"Terima kasih."
__ADS_1
"Iya sama-sama. Selamat menikmati. Semoga suka ya Bos!"
Gavino hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, mendengar ucapan selamat dari kurir yang mengantar pesanan makanan mereka.
"Kita makan dulu Sayang!" ajak Gavino pada Gress.
Dengan tersenyum manis, Gress menganggukkan kepalanya, mengiyakan ajakan Gavino.
Sekarang, keduanya sama-sama menikmati makanan yang sudah ada di atas meja.
Tring... tring...
Handphone milik Gavino berdering.
Dia membersihkan tangannya terlebih dahulu, sebelum mengambil handphone miliknya yang ada di sudut sofa.
"Robert?" gumam Gavino dengan kedua alisnya yang saling bertaut.
..."Halo Robert. Ada apa?"...
..."Gavin. George... George diculik!"...
..."Apa? Bagaimana bisa? Tadi dia baru saja mengantarkan Gress ke flat!"...
..."Ada yang membuntuti dirinya dan setelah dari sana, mobil George di hadang, kemudian George di bius. Pokoknya begitulah. Aku juga belum paham benar dengan jalan ceritanya. Apa Kamu bisa menemui ku cepat?"...
..."Kamu di mana?"...
..."Aku ada di jalan... dekat dengan tugu kota. Kamu tahu kan di mana itu?"...
..."Baiklah. Aku ke sana sekarang."...
Klik!
Gress yang ikut mendengarkan semua pembicaraan Gavino dengan seseorang, jadi ikut tegang. Apalagi Gavino juga sempat menyebutkan namanya.
"Ada apa dengan Paman mu Sayang?"
"Emhhh... Aku juga tidak tahu pasti. Tapi, Aku harus segera pergi. Apa Kamu tidak keberatan, jika Aku pergi terlebih dahulu?"
Meskipun sebenarnya mereka berdua masih enggan untuk berpisah, tapi karena ada sesuatu yang lebih penting, mereka berdua juga harus bisa menekan ego. Agar tidak membuat permasalahan baru kedepannya.
"Pergilah Sayang. Tapi jangan lupa untuk memberi kabar secepatnya."
Gavino menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh Gress barusan.
Cup!
"Terima kasih Sayang."
Gress melepas Gavino untuk pergi, sesuai dengan permintaan seseorang. Yang dia sendiri juga tidak tahu. Karena dia hanya tahu George saja. Sedangkan tadi, di saat Gavino berbicara dengan seseorang melalui panggilan telpon, mengatakan bahwa baru saja pulang setelah mengantar dirinya pulang ke flat.
Itu artinya, semua ini ada kaitannya dengan George. Paman dari Gavino, yang sudah membantunya di kios, dan juga mengantar dirinya pulang tadi.
__ADS_1
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada paman George dan juga Gavino."
"Aku tidak mau jika mereka berdua kenapa-kenapa nantinya."