Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Yang Miskin Yang Ditindas


__ADS_3

Supersistem adalah sistem yang mempunyai hubungan lebih luas dari sistem. Jika suatu sistem menjadi bagian dari sistem lain yang lebih besar, maka sistem yang lebih besar tersebut dikenal dengan sebutan supersistem.


*****


Kembali ke masa kecil Gavino, di mana pada saat itu dia masih belum sekolah dan tinggal di kawasan pembuangan sampah.


( Ini super sistem, bukan sistem biasa )


'Apa maksudnya?'


( Anda bisa aktifkan super sistem mafia )


'Apa itu?'


( Sebuah sistem akan mengubah segalanya )


( Ting )


Wushhh...


Hoshhh...


Hoshhh...


Hoshhh...


Gavino terbangun dari tidurnya. Hal ini terjadi berulang kali saat Gavino masih kecil dan juga belum sekolah.


"Apa tadi? sistem? Super sistem?"


Berbagai macam pertanyaan, dia tanyakan. Tapi tentu saja dia tidak tahu jawabannya juga.


Pada saat itu, Gavino masih berumur empat tahun. Belum tahu apa-apa tentang sistem.


Keseharian Gavino kecil, sebelum sekolah, adalah membantu mamanya mengumpulkan barang-barang bekas, yang ada disekitar rumahnya untuk dijual. Atau jika ada suatu barang yang bisa digunakan lagi, bisa digunakan untuk keperluan mereka.


Mereka tinggal di sebuah perkampungan kumuh, dekat dengan pembuangan sampah.


Pada saat itu, papanya baru saja pergi untuk merantau. Karena ingin memiliki rumah sendiri. Yang lebih layak dibandingkan dengan yang sekarang.


Pemandangan sehari-hari Gavino kecil, adalah para pemulung yang lemah. Dan anak-anak mereka, juga sama seperti yang dilakukan oleh Gavino.


Tapi di tempat seperti ini, kekerasan juga sering terjadi. Bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa dengan orang dewasa saja. Tapi juga orang dewasa dengan anak-anak. Bahkan, antar anak-anak juga.


Dan yang lebih sering terjadi adalah, karena kesalahpahaman antara anak yang satu dengan yang lain, akan berimbas pada perselisihan antara orang dewasa. Sehingga berakhir dengan kekerasan. Baik kekerasan secara mental ataupun fisik.


"Gavin! Gavin! Mama Kamu di hajar orang!"


Gavino kecil, yang sedang bermain-main di depan rumah, belum begitu mengerti dengan maksud dari orang yang membawa berita.

__ADS_1


"Ayok!"


Orang tadi, menarik tangan Gavino untuk diajak melihat keadaan mamanya. Yang tadi dia bilang sedang dihajar oleh seseorang.


Gavino kecil melihat mamanya yang sedang dalam keadaan menangis, sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Tidak. Aku bukan pencuri! Hiks..."


"Mana ada pencuri mengaku? Dasar orang miskin! Bisanya cuma mencuri. Tidak mau bekerja keras!"


"Tidak. Tidak. Aku tidak mencuri. Hiks..."


"No, non sono un ladro. Hiks..."


Gavino mendengar dan melihat, bagaimana ibunya dipaksa untuk mengakui kesalahan yang sebenarnya tidak dia lakukan. Yaitu mencuri sebuah cincin emas. Dari ketua preman yang menguasai daerah perkampungan ini.


Di setiap tempat, tidak peduli di mana pun itu, penguasa tempat atau preman pasti ada. Dan dia akan selalu melakukan apa-apa, yang menurutnya menguntungkan bagi dirinya sendiri.


Akhirnya, uang hasil penjualan barang-barang bekas milik mamanya, yang tidak seberapa, dirampas oleh orang tersebut.


"Ini masih kurang banyak. Kamu harus setor setiap harinya, untuk melunasi utang pengganti cincin itu!"


Tidak ada yang berani membela mamanya Gavino, yaitu Mirele. Meskipun ada banyak orang yang ikut menyaksikan kejadian itu.


Mereka yang melihat kejadian tersebut, rata-rata juga berstatus sosial yang sama seperti keluarga Gavino. Hanya sebagai pemulung di tempat tersebut.


Sedangkan yang menuduh Mirele, adalah ketua dan penguasa dari tempat itu.


Gavino memeluk mamanya, begitu orang tadi pergi dengan sangat arogan. Yaitu dengan mengobrak-abrik Kerancang yang ada di dekat mamanya Gavino. Dan memang keranjang tersebut milik mamanya Gavino.


"Mama..."


Gavino memanggil mamanya, saat berada di dalam dekapan mamanya yang masih menangis.


Dengan tertatih, karena luka di kakinya, mamanya Mirele mengajak anaknya itu untuk pulang ke rumah.


"Semoga papamu segera pulang. Dan kita akan membeli rumah sendiri. Meskipun kecil, kita akan jauh lebih baik daripada tinggal di sini."


Tangan Gavino yang sedang ada di dalam genggaman tangan mamanya, merasakan getaran yang dirasakan oleh mamanya. Yaitu kesedihan, dendam dan rasa benci dengan keadaan yang ada pada mereka saat ini.


Tekad yang sama, juga terjadi pada diri Gavino. Dia tidak ingin melihat keadaan mamanya yang seperti tadi.


"Ma. Kita akan bisa kaya kan Ma?"


"Kita bisa kuat kan Ma?"


"Gak kalah dengan orang tadi kan Ma?"


Sepanjang perjalanan menuju ke arah rumah, Gavino mengajukan banyak pertanyaan untuk mamanya.

__ADS_1


Dan Mirele hanya mengangguk saja, tanpa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Gavino.


Malam ini, mereka tidak bisa membeli makan ataupun bahan makanan untuk dimasak. Sehingga untuk mengakali perut mereka yang sedang lapar, mereka minum air putih hangat yang banyak.


*****


Beberapa minggu kemudian, papanya Gavino, Giordano pulang dari merantau. Dia pun tersenyum senang, melihat keadaan istri dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja.


"Papa pulang Sayang. Mama, Gavino."


Mereka bertiga, berpelukan dengan rasa haru, juga sedih. Tapi Mirele tidak langsung menceritakan tentang kejadian beberapa minggu kemarin.


Dia tidak mau, jika suaminya marah, kemudian membuat perhitungan dengan ketua preman kemarin.


Itu akan membuat masalah baru bagi keluarga mereka sendiri.


"Lihatlah! Papa bawa uang yang banyak. Kita akan membeli rumah di perkampungan. Bukan di tempat seperti ini."


Mirele tersenyum dengan hampir menitikkan air mata, karena pada akhirnya, mereka akan meninggalkan tempat ini.


Tempat yang sama sekali tidak nyaman untuk ditinggali. Tidak baik juga untuk perkembangan anaknya ke depan nanti.


Mereka bertiga, saling berpelukan erat. Kemudian mulai makan malam terakhir di tempat ini. Karena besok pagi, mereka akan pergi untuk membeli rumah di kampung lainnya.


*****


Esok harinya, keluarga Giordano benar-benar pergi. Mereka bertiga menuju ke arah perkampungan, yang cukup jauh dari tempat pembinaan sampah ini.


Dengan mendorong gerobak, Giordano melihat keadaan istri dan anaknya yang sedari tampak tersenyum senang.


"Maaf ya, jika rumah yang akan kita tempati nanti tidak besar. Uang Papa hanya cukup untuk membeli rumah yang kecil dan tidak terlalu bagus."


"Iya Pa. Tidak apa-apa. Yang penting rumah sendiri. Bukan bangunan darurat seperti yang tadi kita tinggalkan."


Mirele tidak banyak menuntut pada suaminya, untuk sesuatu yang tidak bisa dilakukan dan dipenuhi oleh Giordano.


Dia tahu, jika suaminya hanya pekerja kasar di kota. Itu pun hanya jika musim semi dan musim panas saja.


Selebihnya, dia hanya akan berada di rumah. Menemaninya untuk mencari barang-barang bekas yang bisa dijual atau digunakan untuk keperluan mereka.


Tiba di rumah baru, ternyata orang yang memberitahu Giordano sudah menuggu. Karena rumah tersebut, memang milik saudara dari temannya itu.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Giordano mengajak Mirele dan Gavino untuk masuk ke dalam rumah.


"Benvenuto nella nostra casa!"


"Selamat datang di rumah kita!"


Rumah kecil, dengan satu kamar dan dapur yang menjadi satu dengan kamar mandi juga. Sedangkan ruang tamu, digunakan untuk ruang tengah dan ruang makan.

__ADS_1


Tapi ini sudah lebih dari cukup, untuk keluarga Giordano. Dari pada harus ada di kawasan pembuangan sampah yang kemarin.


__ADS_2