Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Kembali Ke Masa Lalu 2


__ADS_3

Time travel yang terjadi pada Gavino, ternyata ada pada masa sekolah dasarnya. Ada di tahun terakhir pelajaran, sehingga mau tidak mau, dia harus kembali masuk sekolah untuk mengikuti ujian akhir.


Apalagi Gavino juga mengajukan beasiswa untuk studi lanjutannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sehingga dia harus berusaha lebih keras lagi, supaya pengajuannya itu berhasil.


"Ma! Gavin berangkat sekolah dulu ya!"


Gavino pamit pada Mirele, pada saat dia mau berangkat ke sekolah.


Dia tidak pamit pada papanya, karena Giordano sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali. Sebelum dirinya bangun tidur, bahkan pamit pada Gavino hanya mengecup keningnya saja.


"Berhati-hatilah Sayang. Dan ingat, jangan melakukan hal-hal yang membuat teman-temanmu marah!"


Gavino menganggukkan kepalanya, mengiyakan nasehat yang diberikan oleh mamanya. Karena selama ini dia juga memang selalu diam jika dibully teman-temannya yang lain.


Tapi di dalam hatinya Gavino, kali ini dia tidak mau menuruti permintaan dan nasehat mamanya. Sebab dia sudah bertekad untuk melakukan perlawanan, jika teman-temannya yang biasa membullynya melakukannya lagi.


Dia tidak mau selamanya ditindas, meskipun dia tidak memiliki apa-apa dari segi kekayaan dan kedudukan dalam masyarakat.


Dan benar saja. Di saat Gavino baru saja sampai di tengah jalan, belum sampai sekolah, ada temannya yang juga pergi sekolah dengan diantar oleh supirnya, melempar sampah dari dalam mobil ke arahnya.


Brukkk!


Gavino kaget, karena sampah tersebut cukup besar dan mengenai lengannya.


Bahkan dia terhuyung-huyung dan hampir saja jatuh, karena luka yang ada di punggungnya jadi terasa sakit lagi.


"Tuh sama seperti Kamu! è uguale a te!"


Temannya itu, menunjuk sampah yang dia buang barusan, berganti dengan Gavino.


Yang artinya adalah, temannya itu menyamakan Gavino dengan sampah yang baru saja dia buang dan mengenai lengan Gavino juga.


Bahkan temannya itu juga menjulurkan lidahnya, untuk sengaja mengejeknya. Hal itu membuat Gavino marah, dan mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Apa? Kamu berani sama Aku?" tantang temannya tadi, dengan membuka pintu mobil. Kemudian keluar untuk menghadapinya.


"Apa maksudmu?" tanya Gavino dengan berani. Bahkan Gavino langsung menarik kerah baju temannya itu dengan keras, sehingga membuat temannya tadi terkejut.

__ADS_1


"Ehhh... ehhh, udah-udah! Jangan berantem di jalan. Cepat pergi ke sekolah!"


Supir temannya itu, memperingatkan Gavino. Dengan tatapan mata yang tajam. Supir sebut tentu saja membela majikannya, yang sedang di antar ke sekolah pagi ini.


Gavino menatap balik ke arah supir, yang berani mencegahnya. Padahal supir tersebut tahu, siapa yang sebenarnya salah diantara mereka berdua. Sebab majikan kecilnya itulah yang sudah membuat kesalahan terlebih dahulu, dan bukannya Gavino.


Tapi ternyata supir tersebut juga memiliki perilaku yang sama dengan majikan kecilnya ini, dan menarik tangan Gavino. Yang masih memegangi kerah baju majikannya.


"Lepaskan! Atau Kamu mau Aku hajar?" ancam supir tersebut, menakut-nakuti Gavino.


Tapi Gavino tidak bergeming, sehingga supir tersebut merasa geram dan memukul Gavino. Supaya melepaskan kerah baju majikan kecilnya, jelas-jelas memang bersalah.


Bugh!


"Arghhh..."


Brukkk!


"Kyaaa..."


"Tuan Muda!"


Supir tersebut berteriak keras, kemudian segera menolong majikannya. Yang tadi ikut terjatuh, karena kerah bajunya masih dipegang erat oleh Gavino.


Akhirnya di jalan tersebut terjadi kekacauan, yang menjadi tontonan banyak orang. Sebab Gavino di hajar oleh supir temannya, yang tidak terima dengan sikap Gavino. Yang dianggapnya kurang ajar.


Dan orang-orang yang ada di sekitarnya mereka, juga tidak ada yang membantu Gavino. Bahkan banyak diantara mereka yang mencibir dan menjelek-jelekkan Gavino bersama dengan keluarganya.


Hal ini membuat Gavino merasa sangat marah, karena keadaan keluarganya ikut dibawa-bawa dalam keadaan seperti ini. Sehingga di saat supir tersebut mau memukulnya kembali, Gavino langsung berdiri dan menangkap tangan supir yang sudah sudah siap memukul dadanya.


Krekkk!


"Arghhh... awww!"


Supir temannya itu mengaduh kesakitan, karena tangannya yang tadi ditangkap oleh Gavino, dipelintir kemudian ditekuk pada pergelangan tangannya. Sehingga terdengar bunyi patah tadi.


Kini, supir tersebut meringis dan berteriak kesakitan. Karena bisa dipastikan jika, tangannya saat ini sudah tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Semua orang terkejut dan tidak ada yang percaya, jika Gavino berani melawan. Bahkan pada temannya itu, bersama dengan sopirnya. Yang tentu saja bukanlah anak kecil, di tambah lagi dengan keluarga temannya itu adalah keluarga yang terpandang.


"Kamu... awas ya!"


Temannya Gavino, tidak bisa bicara apa-apa lagi. Mengingat keadaan sopirnya yang sudah tidak berdaya, sehingga hanya bisa mengancam Gavino saja. Tanpa bisa melakukan apa-apa, untuk bisa berbuat sesuatu. Demi bisa melampiaskan marahnya para Gavino, sama seperti biasanya.


Sekarang Gavino melenggang pergi dengan tersenyum, meninggalkan temannya itu. Yang masih dalam keadaan panik dan khawatir, dengan keadaan supirnya.


Kejadian ini cepat sekali tersebar, karena memang ada banyak orang yang menyaksikannya secara langsung.


Pihak sekolah juga sudah mendapatkan laporan, dari beberapa murid dan orang tua yang tadi mengantar anaknya. Yang juga ikut menyaksikan kejadian tersebut.


Tapi pihak sekolah tidak bisa melakukan apa-apa, selain hanya bisa menasehati Gavino sebagai anak didiknya. Supaya berhati-hati, dan tidak terpengaruh dengan berita yang beredar.


"Kamu fokus pada pelajaran dan kejar beasiswa yang Kamu inginkan."


Begitulah kira-kira apa yang dikatakan oleh pihak sekolah pada Gavino, tanpa membahas adanya perlakuan di luar sekolah. Yang diterima oleh Gavino.


Selama ini, sebenarnya pihak sekolah mengetahui tentang keadaan dirinya yang selalu diperlukan tidak baik oleh teman-temannya. Bahkan jika anda kesempatan, orang tua dari teman-temannya juga ikut memperlakukan Gavino dengan tidak baik. Dengan cara mengejek dan menggunjing, bagaimana keadaan keluarganya Gavino sehari-hari.


Tapi kota Monte Isola, yang dikuasai oleh orang-orang kaya. Tentu saja bisa membungkam mulut pihak-pihak terkait, sehingga apapun yang mereka lakukan tidak mendapatkan perlawanan.


Itulah sebabnya, mengapa mereka sangat terkejut pada saat mendapati Gavino yang berani melawan tadi pagi.


"Apakah saya masih bisa mendapatkan beasiswa, seandainya ada orang lain yang membuat cerita bohong tentang kejadian tadi pagi. Sehingga ceritanya akan berbalik, dan menyudutkan Saya."


Gavino berusaha untuk bertanya, tentang kesempatan penerimaan beasiswa untuk dirinya. Yang memang sudah dirancang untuk bisa dia terima, supaya bisa tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan jika memungkinkan, Gavino juga memilih sekolah ke kota lain. Jika diperbolehkan untuk memilih, dibandingkan dengan dirinya yang harus berada di kotanya sendiri. Tapi diperlakukan tidak layak, sebagai seorang manusia.


Dari sinilah awal perjuangan Gavino, untuk merubah keadaan dirinya dan keluarganya. Agar bisa lepas dari pengaruh tekanan dan bully-an dari orang-orang yang memperlakukannya secara tidak baik.


"Kamu tidak bisa memilih sekolah di luar kota, karena umurmu belum cukup untuk bisa mandiri secara keseluruhan. Jadi, jika Kamu punya keinginan untuk sekolah keluar kota, atau di ibukota, sebaiknya nanti setelah jenjang yang ini selesai."


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh pihak sekolah, akhirnya Gavino menurut.


Itulah sebabnya, dia baru menerima beasiswa ke kota Roma pada saat ada pada jenjang sekolah menengah atas.


Tapi pada kenyataannya, nasibnya yang selalu diremehkan dan direndahkan oleh orang lain, tetap diam terima. Mungkin semua itu karena keadaan diri dan keluarganya, yang memang tidak memiliki kelebihan uang dan juga tidak memiliki kedudukan dalam tatanan masyarakat ataupun negara.

__ADS_1


__ADS_2