Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Aku Rindu


__ADS_3

Dengan berbekal email yang dia dapat dari Dante, Gavino berhasil mengirim pesan kepada Bianca.


Dia berharap agar Bianca segera membaca dan membalas pesan yang dia kirimkan.


Gavino sudah sangat merindukan Bianca, gadis yang pertama, yang sudah merasakan bibirnya di waktu pesta malam perpisahan sekolah dulu.


George sudah pergi satu jam yang lalu. Entah kemana George pergi, karena Gavino juga tidak mau mencampuri urusan George dengan kesenangannya.


Gavino masih menunggu pesan balasan dari Bianca, dengan mengaktifkan sistem yang dia miliki. Dia ingin melakukan cek in harian, yang tadi belum sempat dia lakukan.


( Ting )


( Selamat siang Good Father )


'Aku mau cek in.'


( Ting )


( Cek in selesai )


'Aku tidak mau mengambil tantangan ataupun misi untuk beberapa hari ke depan.'


( Ting )


( Permintaan di proses )


1%


10%


20%


30%


40%


50%...


Sampai dengan selesai menjadi 100%.


( Ting )


( Tidak ada misi dan tantangan selama tiga hari ke depan )


'Bagus.'


( Ting )


Setelah selesai dengan sistem, Gavino kembali membuka email-nya. Dia berharap kali ini ada balasan dari Bianca.


Namun ternyata balasan yang diharapkan belum juga dia dapatkan.


"Bianca, Kamu ke mana sih? ayolah balas pesan dariku!" gumam Gavino dengan penuh harap. Karena dia ingin segera bertemu dengan Bianca.


Untuk mempercepat waktu dan tidak merasa bosan, Gavino mengaktifkan kembali sistem miliknya. Karena dia ingin bermain game, dari sistem. Sambil menunggu balasan email yang dia kirim ke Bianca.


Di saat Gavino asyik bermain game, ada pesan email yang masuk. Tapi ternyata dari Dante.


Temannya itu memberikan kabar bahwa, Bianca telah berganti email, karena email-nya yang dulu telah diteror orang tak dikenal.

__ADS_1


Gavino tersenyum senang, mendapat kabar tersebut. Dia segera membalas pesan Dante dengan cepat, karena menginginkan nomor ponsel Bianca saja daripada email. Karena itu akan lebih cepat dibandingkan pesan lewat email.


Dante dengan senang hati memberikan nomor telpon Bianca.


"Kenapa nggak dari kemarin sih!" gerutu Gavino kesal, karena dia sendiri lupa jika komunikasi akan lebih cepat lewat panggilan telpon daripada email.


Tak lama kemudian, setelah menerima nomor ponselnya Bianca, Gavino langsung menghubungi nomor tersebut


Dan tak butuh lama, Bianca menerima panggilan telepon darinya.


Tut tut tut!


..."Halo ini siapa?"...


..."Halo Bi, apa Kamu masih ingat suara siapa ini yang sedang menelpon?"...


..."Gavino. Benarkah ini Kamu Vin, Gavin, ini beneran Kamu?"...


..."Iya ini Aku. Masih ingat saja suaraku Kamu Bi. Bagaimana kabarmu?"...


..."Masih Vin. Aku masih sangat mengenal suaramu. Aku, Aku baik. Kamu sendiri bagaimana?"...


..."Aku sangat merindukanmu Bi. Dan sekarang ini Aku ada di sini."...


..."Di sini? maksudmu di sini di mana?"...


..."Tebak, di mana Aku?"...


..."Memangnya di mana kamu sekarang Vin?"...


..."Ada di hatimu Bi."...


..."Sekarang Kamu di mana? biar Aku datang menjemputmu."...


..."Aku kan ada di Paris Vin. Kamu lupa ya?"...


..."Tidak, Aku tidak lupa Bi. Tenang saja, pokoknya Kamu bilang sekarang. Kamu ada di mana. Aku pasti akan datang."...


..."Yang bener? emang Kamu udah di Paris?"...


..."Udah, pokoknya Kamu kasih tahu alamatnya aja. Aku akan datang menjemputmu sekarang juga Bi."...


Akhirnya Bianca menyebutkan sebuah alamat, yang ternyata adalah sebuah bangunan apartemen. Yang berada tak seberapa jauh dari hotel ini.


Setelah memberikan alamatnya, Gavino meminta Bianca untuk tetap diam ditempatnya berada.


Dia juga memutuskan hubungan telpon, karena akan segera bersiap-siap. Intuk berangkat menjemput mantan kekasihnya semasa SMA dulu.


Meskipun sebenarnya mereka berdua belum pernah resmi menjadi sepasang kekasih.


Gavino menghubungi resepsionis hotel, untuk menyiapkan sebuah mobil yang akan digunakan untuk pergi jalan-jalan.


Dan ternyata, resepsionis menuruti permintaan Gavino, seakan-akan sudah diberikan tugas oleh Thomas Bryan. Untuk menuruti semua permintaan dari Gavino.


Begitu mobil sudah disiapkan, resepsionis hotel memberikan kabar pada Gavino. Dengan mengunakan telpon kamar.


..."Halo Tuan Muda Gavino. Mobil yang Anda minta sudah ada di depan lobby."...


..."Ok. Terima kasih."...

__ADS_1


Gavino yang sudah siap, segera turun ke lobby. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Bianca.


Tak butuh waktu lama, Gavino tiba di depan sebuah gedung apartemen, yang tidak terlalu mewah, tapi juga tidak terlalu sederhana. Sama seperti flat yang ditempati Gress di kota Roma.


Dengan berbekal alamat yang sudah dia miliki, Gavino langsung masuk ke dalam lift dan menekan angka untuk bisa naik ke atas. Di mana letak kamar Bianca berada.


Di ingin memberikan kejutan pada gadisnya yang belum pernah dia miliki.


Ting tong ting tong!


Pintu terbuka dari dalam. Tampak seorang gadis cantik, yang sudah sangat dikenal oleh Gavino. Tapi ternyata Bianca sudah semakin cantik. Berbeda saat dia masih berada di SMA dulu.


Tanpa banyak bicara Gavino masuk ke langsung, memeluk Bianca dengan menyerang bibir gadis tersebut.


Dia a mencium bibir bianca dengan rakus, seakan-akan menyalurkan rasa rindu yang sudah terpendam sekian lamanya.


"Hhh... ahhh..."


Setelah beberapa lama bermain-main dengan bibir Bianca, Gavino melepaskan tautan bibirnya dengan Bianca.


Dia membiarkan Bianca menghirup udara, untuk mengisi paru-parunya yang hampir kosong. Begitu juga dengan dirinya sendiri.


Setelah bisa bernafas normal Bianca memukul gemas dada Gavino yang bidang.


Dia tentunya kaget dan surprise, melihat kedatangan Gavino. Yang dengan tiba-tiba juga langsung menyerbu bibirnya tadi.


"Lama tidak bertemu, Kamu semakin ganas Vin," ujar Bianca dengan tersenyum senang.


"Maaf Bi, Aku sangat merindukanmu."


Selesai bicara demikian, Gavino kembali mencium bibir Bianca dalam waktu yang lama. Bahkan saat ini, baju atasan bianca juga sudah terlepas, karena kedua tangan Gavino yang tidak mau diam.


"Vin... Aaa..."


"Bi, boleh ya! Aku pengen Bi," pinta Gavino diantara desa_han nafas keduanya yang sama-sama memburu.


"Tapp... tapi, tapi Aku... Aku..."


Gavino tidak menghiraukan apa yang ingin dikatakan oleh Bianca, karena sudah sudah diliputi oleh hasratnya yang tinggi saat ini. Sehingga dia pun melakukan sentuhan-sentuhan yang bisa membuat Bianca lupa diri, dan mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Gavino.


Mereka berdua akhirnya bergumul di tempat tidur, melakukan kegiatan panas pada sore hari di kamar apartemen Bianca.


Setelah telah hampir satu jam melakukan pelepasan dan rasa puas yang mereka rasakan, Gavino akhirnya tahu, jika Bianca sudah tidak lagi virgin lagi.


"Maaf Vin. Aku, Aku sudah punya kekasih."


Bianca yang menyadari jika Gavino sedang memikirkan tentang keadaannya, akhirnya mengakui jika dia sekarang ini sudah punya kekasih. Dan sudah melakukan kegiatan ranjang bersama pacarnya itu.


Gavino hanya tersenyum canggung. Dia tidak tahu jika ternyata Bianca memang sudah punya kekasih.


Akhirnya dia kembali mengenakan pakaiannya, dan minta bianca menggenakan pakaiannya juga.


"Maaf Bi, jika Aku keterlaluan dengan mengajakmu bercinta tadi."


"Vin. Justru Aku yang minta maaf," ucap Bianca dengan mengengam kedua tangan Gavino yang terasa panas.


Ting tong ting tong!


Gavino dan Bianca sama-sama menoleh ke arah pintu luar, di mana ada seseorang yang sedang menekan bel.

__ADS_1


"Apakah itu kekasihmu?" tanya Gavino dengan tatapan menyelidik.


__ADS_2