
Suasana di rumah Gavino, terasa sangat tangguh malam ini.
Mereka bertiga, makan malam tanpa banyak mengeluarkan suara. Sama seperti biasanya. Karena biasanya, makan malam seperti saat ini, seringkali diselingi pembicaraan tentang banyak hal.
Robert yang sudah cukup punya pengalaman yang banyak, hanya bisa diam mengikuti kemauan anak-anak muda yang ada di terbanyak kali ini.
Dia juga tidak bertanya atau membicarakan sesuatu. Dia justru segera pamit untuk pergi ke kamarnya sendiri, setelah selesai menyantap menu makan malamnya.
"Aku sudah ya, mau ke kamar dulu. Ada banyak pekerjaan yang harus Aku selesaikan, karena tadi tidak sempat menyelesaikannya di kantor."
Gavino dan Gress hanya mengangguk saja, tanpa menyahuti perkataan Robert yang pamit undur diri dari meja makan.
Robert berpikir bahwa, dua anak muda tersebut membutuhkan waktu untuk berbicara satu sama lain, agar permasalahan mereka berdua cepat selesai.
Dan benar saja, setelah Robert pergi dari meja makan, Gavino berdehem sebentar. Kemudian mulai bertanya kepada Gress. "Bagaimana tadi di kelas? tidak ada kesulitan?"
Gress menoleh sebentar ke arah Gavino. Tapi dia tidak bermaksud untuk menjawab pertanyaan tersebut. Karena sebenarnya, Gress merasa kecewa dan ingin marah pada kekasihnya itu. Dia membutuhkan penjelasan dari Gavino sendiri, tanpa dia harus bertanya.
Tapi ternyata, Gavino tidak berikan penjelasan apapun, bahkan membuat pertanyaan yang diajukan untuknya.
"Sayang. Ayo ke kamar! Aku ingin bicara di dalam kamar saja."
Gavino yang menyadari kesalahannya, meminta kepada Gress untuk ikut bersamanya ke dalam kamar. Dia ingin bicara di dalam kamar saja, agar tidak ada yang mendengarnya. Meskipun banyak ada dia dan Gress saja di meja makan ini.
Gress yang masih menutup mulutnya, hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Gavino.
Dia mengikuti langkah Gavino, yang menuju ke kamarnya Gavino sendiri, dan bukan ke kamarnya.
Tapi karena dia masih marah, Gress hanya mengikuti saja, tanpa membantah ataupun protes.
Clek!
Pintu kamar terbuka. Gavino masuk terlebih dahulu, baru kemudian Gress mengikutinya dari belakang.
Grep!
"Mmm..."
__ADS_1
Gavino segera memeluk tubuh gadisnya itu dengan erat, kemudian menghujaninya dengan ciuman-ciuman yang menuntut, sehingga terkesan kasar.
"Maafkan Aku Sayang," ucap Gavino sebentar, kemudian melanjutkan ciumannya lagi.
Dia menggigit bibir Gress sekali lagi, supaya gadisnya itu membuka mulutnya. Mengikuti apa yang dia inginkan.
Mau tidak mau, Gress membuka mulutnya, supaya lidah Gavino bisa masuk dan beraktifitas di dalam sana. Sedangkan dia, juga mengimbangi gerakan yang dilakukan oleh kekasihnya itu.
Akhirnya, tanpa harus banyak bicara, mereka berdua sudah bisa melakukan penyatuan emosi, cinta, yang membuat mereka melakukannya dengan semangat.
Ada rasa marah, dendam dan cinta yang membuat semuanya menjadi berwarna. Sehingga membuat permainan mereka kali ini, jadi berbeda dari permainan yang sebelum-sebelumnya.
Dan itu buat keduanya merasa sangat puas.
"Terima kasih Sayang," ucap Gavino, di akhir kegiatan mereka berdua.
Gress hanya menanggapi dengan senyuman, yang menandakan perasaan puas juga. Karena dia memang ikut menikmati permainan mereka kali ini. Sama seperti permainan mereka sebelum-sebelumnya.
Tapi karena tadi awalnya mereka dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, ternyata rasanya cukup berbeda juga dibandingkan dengan yang kemarin-kemarin.
Kini, keduanya tertidur dengan pulas dalam keadaan posisi saling berpelukan.
*****
Di bandara.
Kedatangan alan uya menggunakan private jet, terdeteksi oleh anak buahnya Gavino yang bertugas di bandara, sebagai petugas bandara.
Jadi, anak buah gavino bukan hanya sekedar bodyguard atau anggota mafia. Tapi mereka juga memiliki profesi sendiri, yang bisa mendukung tugas-tugasnya sebagai seorang anggota mafia besar di kota Roma ini.
Dia membuat laporan kepada atasannya, yang ada di bawah king Black. Baru kemudian atasannya itu melapor kepada king Black.
Karena king Black sebelumnya sudah diberikan instruksi oleh Gavino, untuk mencegah kedatangan Alano ke Roma ini, dia meminta kepada anak buahnya, untuk melakukan penangkapan terhadap Alano.
Ternyata Alano memang sudah pisah dari keanggotaan mafia, yang dulu dia ikutin sewaktu masih ada di kota Roma. Yaitu keanggotaan mafia yang bergabung dengan king Black.
Sekarang, dia memiliki kesatuan sendiri yang memang ada di kota Paris. Dan kesatuannya itu merupakan saingan king Black di dunia mafia yang ada di daratan Eropa.
__ADS_1
Tapi pada kenyataannya, menangkap seorang Alano tidaklah mudah.
Dia cukup lihai dengan membuat beberapa wajah anak buahnya itu, mirip dengan wajahnya. Sehingga bisa mengecoh orang-orang yang sedang menargetkan dirinya. Sama seperti kasusnya Verdi.
Bisa jadi, orang-orang yang berhubungan dengan Verdi, terutama Pamannya Verdi, yang sudah bunuh diri di dalam penjara itu, ada hubungannya dengan kesatuan mafia di kota Paris sana.
Sebab, dialah orang yang sudah membuat wajah seseorang mirip dengan Verdi.
Tapi bukan king Black namanya, jika tidak bisa membedakan antara seorang ketua mafia yang asli dan bukan. Karena Alano, termasuk ketua mafia di sana. Di kota Paris.
Dengan cepat dan tepat, anak buahnya king Black bisa menangkap Alano, yang ternyata sudah berada di luar bandara. Kemudian membawanya ke markas.
Pagi harinya, Gavino sudah mendapatkan laporan bahwa, Alano sudah mereka amankan. Dan saat ini berada di markasnya.
"Sayang. Hari ini Aku masih ada urusan penting. Kamu ke kampus diantar supir seperti kemarin ya!"
Gress yang baru bangun tidur, hanya mengangguk meskipun hatinya merasa penasaran. Dengan semua urusan penting, yang dikatakan oleh kekasihnya itu.
Tapi dia berusaha untuk tidak bertanya. Karena dia cukup dewasa, untuk tidak selalu mencampuri urusan kekasihnya itu, di luar hubungan mereka.
Gress tidak mau dianggap sebagai kekasih yang selalu mengekang aktifitas dan urusan dari kekasihnya sendiri.
Dia cukup tahu diri, agar Gavino juga tetap merasa nyaman berada di sampingnya.
Setelah Gress menganggukan kepalanya, Gavino segera pamit pergi mandi. Sedangkan Gress sendiri keluar dari kamar Gavino, menuju ke kamarnya sendiri.
Tak lama kemudian, Gavino sudah berpakaian rapi, dengan jaket kulitnya juga. Dia mengetuk pintu kamar Gress terlebih dahulu, untuk berpamitan pada gadisnya.
Dia tidak mau, jika Gress papan marah lagi seperti kemarin.
Tok tok tok!
Clek.
"Sayang. Jangan lupa sarapan ya! Aku pergi dulu," pamit Gavino, dengan mengecup kening dan bibir Gress sebelum dia benar-benar pergi.
"Hati-hati Sayang!"
__ADS_1
Gavino mengangkat tangannya tanpa menoleh, saat mendengar pesan dari Gress. Karena dia memang sudah pergi dari kamar gadisnya, yang ada di sebelah kamarnya sendiri.
Tak lama kemudian, motor Gavino melesat cepat, keluar dari rumah menuju ke arah markas.