
Area parkir kampus masih ramai. Di saat Gavino dan kedua temannya bermaksud untuk pulang.
"Hai..."
"Gavin, Daniel!"
Dari arah belakang, ada Gress yang memanggil-manggil nama mereka berdua.
"Hai Reo," sapa Gress, begitu dia sudah lebih dekat dengan mereka bertiga.
"Huhfff..."
Gress mengatur pernafasannya yang sedikit memburu, karena mengejar ketiga teman cowoknya itu.
"Dari mana saja kalian! tidak ikut masuk kelas kok ngajak-ngajak Gavin juga," ketus Gress, menuduh Daniel dan Reo yang sengaja mengajak Gavino untuk bolos dan tidak mengikuti kelas setelah istirahat siang.
"Aku..."
"Kami ada keperluan sedikit. Sorry ya gress."
Gavino memotong kalimat Daniel yang belum selesai diucapkan. Karena Gavino tidak mau jika, Daniel menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya mereka alami.
"Huh! cowok selalu bersikap misterius. Apa sih susahnya ngomong apa yang terjadi gitu? bikin penasaran aja," kesah Gress kesal.
Daniel merasa tidak enak hati, karena dia hampir saja keceplosan bicara.
Tapi Gavino hanya tersenyum tipis, menanggapi sikap Gress yang mirip dengan seorang anak kecil, yang sedang merajuk pada orang tuanya.
Reo sendiri hanya nyengir kuda. Tidak tahu harus berbuat apa, sehingga dia memilih untuk tetap diam saja sedari tadi.
"Kamu mau pulang kan? Atau Kamu ada acara lain malam ini?"
Kelas baru saja selesai jam enam sore. Sebentar lagi malam akan datang. Jadi, Gress pasti juga akan pulang ke flat. Di mana dia tinggal di kota Roma ini.
"Gak! mau nginep!" ketus Gress dengan mengerucutkan bibirnya.
Daniel dan Reo, yang melihat tingkah laku Gress ini, jadi menutup mulutnya sendiri. Karena takut ketahuan jika sedang mentertawakan tingkat teman ceweknya itu.
"Gak usah cengengesan!"
Tapi Gress tahu, jika kedua temannya yang tadi menghilang sedang mentertawakan dirinya. Yang bersikap kekanak-kanakan seperti ini.
"Sudah-sudah. Jika Kamu mau pulang sekarang, ayo Aku antar. Atau Kamu mau pilih siapa diantara kami bertiga. Yang akan mengantar ke flat Kamu."
Istilah flat digunakan oleh negara Inggris. Mereka menyebut hunian yang ada di dalam gedung bertingkat dengan istilah flat.
Dan sekarang ini, istilah flat populer di seluruh dunia. Untuk membedakan antara apartemen dengan bangunan yang mirip dengan apartemen, tapi lebih sederhana daripada apartemen.
Pertanyaan Gavino untuk Gress, segera direspon oleh Daniel dan Reo dengan waspada.
__ADS_1
"Aku balik dulu ya! ada acara dengan mama di rumah," pamit Reo cepat. Karena dia tidak mau jika di minta untuk mengantarkan Gress pulang ke flat.
"Aku ada janji dengan adikku, untuk mengantarkannya ke toko mainan. Sorry ya, Aku pulang duluan!"
Bahkan Daniel juga langsung mengatakan alasan, supaya bisa pulang secepatnya. Sehingga tidak dipilih oleh Gress untuk mengantar dirinya pulang.
Gress hanya mencibir ke dua cowok yang langsung ngacir, di saat diberikan pilihan untuk mengantarkan dirinya.
"Jadi?"
Gavino bertanya kepada Gress, di saat mobil kedua temannya tadi sudah meninggalkan tempat parkir.
"Antar Aku pulang!" Gress memberikan perintah kepada Gavino, yang disambut dengan senyuman tipis di sudut bibir.
*****
Di perjalanan menuju ke flat Gress.
"Sebenarnya tadi Kamu ke mana Gavin?" Gress mencoba untuk bertanya lagi. Tentang kebenaran yang belum dia dapatkan jawabannya.
"Tidak kemana-mana," jawab Gavino datar.
"Gavin. Aku bukan anak kecil yang mudah kalian bohongi. Apalagi tadi Daniel hampir saja menjawab pertanyaan yang Aku ajukan. Tapi Kamu justru memotongnya sebelum dia sempat memberikan penjelasan."
Di perempatan jalan, lampu lalu lintas sedang menyala merah. Sehingga mobil berhenti terlebih dahulu.
Gavino mengecup bibir Gress sekilas, agar cewek yang duduk di sampingnya kali ini diam, dan tidak mengajukan banyak pertanyaan lagi.
"Ehhh..."
Gress kaget, mendapati bahwa Gavino baru saja mencium bibirnya.
Tapi sebelum dia mengajukan protes, mobil sudah kembali melaju. Sehingga dia terdiam dan tidak mau menganggu konsentrasi Gavino yang sedang dalam keadaan menyetir.
Dalam hati, Gavino tertawa senang, karena akhirnya Gress terdiam dan tidak lagi bertanya-tanya tentang kejadian yang tadi.
Tiba di depan gedung flat, Gress keluar. Tapi ternyata kalah cepat dengan Gavino. Yang membuatnya lebih gugup lagi, di saat Gavino membukakan pintu mobil untuknya.
"Te_terima kasih."
Gavino hanya mengangguk saja, kemudian menutup pintu mobil lagi. Setelah Gress keluar.
Gress mau mengajak Gavino untuk mampir ke flat miliknya. Tapi dia juga tidak ingin mendapatkan kesan yang tidak baik, karena mengajak seorang pria masuk ke dalam flat.
Meskipun pergaulan di kota Roma ini termasuk bebas, tapi dia yang belum begitu mengenal Gavino tidak bisa dengan mudah, jika menganggap hal semacam itu adalah hal yang biasa saja.
"Kamu tidak mau mengajakku untuk mampir?" tanya Gavino, berusaha untuk membuat suasana tidak terasa canggung.
"Emhhh... Aku, Aku... sebaiknya Kamu pulang saja. Hari sudah malam. Aku ingin beristirahat." Gress memberikan alasan, supaya Gavino tidak memintanya untuk memberikan tawaran mampir.
__ADS_1
"Hum... baiklah. Maaf untuk yang tadi," ucap Gavino, dengan menunjuk ke bibirnya sendiri.
Yang akhirnya membuat Gress tersenyum dan menunduk malu. Membuat Gavino menjadi gemas sendiri. Karena wajah Gress yang memerah karena tersipu.
"Aku pulang."
"Cup!"
Gavino terbelalak kaget, dengan kecupan di pipinya. Yang dilakukan oleh Gress.
Dia melakukannya dengan cepat, di saat Gavino berpamitan.
"Kenapa hanya di pipi?" tanya Gavino menggoda.
"Sudah saja pergi!" usir Gress, mendorong tubuh Gavino. Supaya cepat masuk ke dalam mobil. Karena dia sudah malu sendiri.
"Iya-iya, Aku pulang."
Akhirnya Gavino masuk ke dalam mobil, kemudian meninggalkan gedung flat. Setelah melambaikan tangan kepada Gress, yang masih berdiri di tempatnya yang tadi.
"Huhfff..."
Gress membuang nafas panjang, setelah mobil Gavino menghilang di antara lalu lalang kendaraan di jalan besar.
Tap tap tap!
Gress segera melangkah menuju ke flat miliknya. Dia merasa sangat lelah hari ini. Apalagi dengan sikap Gavino yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
"Ternyata sikap dinginnya itu ada sisi manis, yang tidak semua orang yang tahu." Gress bergumam seorang diri, saat berjalan menuju ke arah kamarnya.
*****
Di perjalanan pulang, Gavino mendapatkan panggilan telpon. Dia pun mengaktifkan headset bluetooth yang ada di telinganya. Tanpa melihat, siapa orang yang saat ini menghubungi dirinya.
..."Halo anak muda....
Gavino terdiam mendengar suara orang di seberang sana. Yang saat ini menelponnya.
..."Siapa Anda?" ...
..."Hahaha... to the point sekali Kamu. Apa tidak ada kata-kata yang lebih manis untuk berbasa-basi sebentar?" ...
..."Katakan, apa mau mu!" ...
..."Ck ck ck! Dasar anak kecil tak tahu attitude. Apa Kamu sama saja seperti anak-anak yatim piatu yang tidak terurus?" ...
Gavino semakin geram, karena orang tersebut menyangkut-pautkan tentang keadaan dirinya saat ini. Yang memang sudah tidak punya orang tua lagi.
..."Tidak usah berbelit-belit. Katakan saja, apa yang bisa membuatmu puas!" ...
__ADS_1