
..."Kamu tidak perlu datang ke tempat yang Aku inginkan. karena Aku tidak ingin bertemu denganmu. Jadi, Aku hanya akan memberikan pesan saja. Dan bersiap-siaplah untuk menghadapi ku secepatnya."...
..."Apa yang Kamu inginkan?"...
..."Hahaha... Kamu tidak perlu tahu, karena ini surprise untukmu. Jadi bersiaplah!"...
..."Hai! Kamu..."...
Klik!
Orang tersebut tidak mau mendengarkan kalimat terakhir, yang belum sempat diucapkan oleh Gavino. Dia justru memutuskan panggilan telpon secara sepihak.
"Hahhh!"
Gavino membuang nafas kasar, karena sedang menghadapi orang yang plin-plan.
Tadi siang, orang itu menjanjikan akan memberikan pesan dan mengirimkan lokasi tempat mereka akan bertemu. Tapi pada kenyataannya, di saat dia sudah bersiap-siap 7 menit sebelum waktu yang ditentukan, yaitu 5 menit sebelum pukul setengah empat sore, orang itu justru menelpon dan memberikan kabar bahwa tidak ingin bertemu Gavino. Bahkan memberikan ancaman, jika Gavino harus bersiap-siap untuk menghadapinya.
Entah apa yang diinginkan oleh orang tersebut, karena Gavino tidak pernah mengetahui juga. Siapakah sebenarnya orang yang sudah menghubunginya tadi siang, dan sore ini.
Hal ini membuat Gress, yang sedari tadi ada di samping Gavino, memperhatikannya dengan bingung. Sebab kekasihnya itu seperti orang seperti sedang gusar, dan tidak tenang. Bahkan sedari tadi sering melihat ke layar ponselnya.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Gress ingin tahu. Kenapa kekasihnya itu dalam keadaan risau seperti itu.
"Tidak. Tidak ada apa-apa."
Jawaban yang diberikan oleh Gavino pendek, tanpa memberikan penjelasan. Sehingga membuat Gress menjadi yakin jika, ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh kekasihnya itu.
"Jika ada sesuatu yang terjadi, lebih baik Kamu ceritakan. Daripada nanti kayak kemarin, Aku diculik orang. Yang Aku kira itu Kamu. Ini karena Kamu tidak memberitahu, jika musuh-musuh mu itu ada yang menggunakan teknologi topeng seperti itu."
Gress justru mempermasalahkan soal penculikannya yang kemarin. Yang dilakukan oleh Cardi, dan itu karena Gress menganggap sebagai sebuah kesalahan Gavino, yang tidak pernah bercerita, jika mempunyai musuh seperti seperti itu.
Padahal Gavino sendiri memang tidak pernah tahu jika, pengembangan topeng itu masih berlangsung. Karena dia pikir memang sudah benar-benar tidak ada lagi, sejak dihancurkannya laboratorium dan segala jenis formula serta rumus yang tersimpan dalam penelitian tersebut.
"Aku juga tidak tahu, jika ada orang yang menggunakan teknologi topeng itu lagi. Karena Aku berpikir jika, pengembangan tentang teknologi i itu sudah dimusnahkan."
Gavino berusaha untuk membela diri, karena memang dia benar-benar tidak tahu. Dan dia tidak ingin disalahkan oleh gadisnya itu, sama seperti tadi.
"Lalu sekarang ada masalah apa lagi?" tanya Gress, yang masih ingin tahu urusan Gavino.
Dengan terpaksa, akhirnya Gavino mau menceritakan pada gadisnya itu. Jika dia sedang di terror oleh nomor tidak dikenal, yang katanya ingin bertemu dengannya. Tapi barusan ini tadi, orang tersebut justru membatalkan pertemuan mereka. Dan juga memberikan sebuah ancaman, supaya dia bersiap-siap. Seandainya mereka jadi melancarkan aksi rencana mereka padanya.
"Maksudnya siapa lagi?" tanya Gress, yang memang tidak pernah mengetahui, siapa saja orang yang selama ini memusuhi Gavino.
"Hai! mana Aku tahu Sayang. Jika Aku tahu, Aku pasti sudah akan mencarinya sekarang."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh kekasihnya itu, Gress akhirnya paham dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Sebab tadi Gavino sudah memberitahu bahwa, ini adalah teror dari nomor yang tidak dikenal.
"Apakah papa tidak bisa membantumu?"
Gavino segera menggelengkan kepalanya, mendengar pertanyaan dari Gress.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak ingin merepotkan papamu. Ini hanya masalah kecil. Mungkin Aku bisa menyelesaikannya sendiri. Papamu sudah terlalu banyak urusan di luar sana." Gavino tidak mau merepotkan Thomas Bryan, yang merupakan papanya Gress.
"Kamu yakin?" tanya Gress sekali lagi.
"Iya Sayang. Aku pasti bisa kok menyelesaikannya sendiri. Jadi Kamu tidak perlu khawatir."
Gress tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dengan apa yang menjadi keyakinan dari seorang Gavino.
"Ya sudah. Sebaiknya kita pulang, sudah tidak ada kelas kan?" ajak Gavino, karena mereka berdua memang sudah tidak ada kelas lagi.
"Ayo!"
"Tapi, bolehkah Aku menjenguk Paman Robert? Aku belum pernah menjenguknya." Gress menyambung perkataannya sendiri, dengan meminta ijin, agar diajak Gavino pergi ke rumah sakit menjenguk Robert.
"Baiklah. Ayo Aku antar! Tapi jangan terlalu lama ya di sana, karena rumah sakit tidak baik untuk orang yang sehat."
"Ihsss... kita belum sampai di rumah sakit, dan Kamu sudah memberikan pesan seperti itu? Apakah ini isyarat, jika bawa Aku tidak boleh pergi ke sana menjenguk Paman?" Gress salah paham dengan perkataan Gavino, yang memberinya pesan.
"Bukan begitu Sayang. Aku hanya tidak ingin, nanti Kamu justru kelamaan. Karena sudah terlalu asyik berbincang-bincang dengan Paman. Kamu tahu sendiri kan, kalian berdua sudah cukup lama tidak bertemu. Jadi pasti ada banyak hal yang ingin kalian bicarakan."
"Nah itu tahu! jadi tidak usah memberiku pesan seperti itu. Nanti kalau memang sudah waktunya untuk pulang, Aku juga akan pulang!" Gress memberengut tidak terima.
"Hemmm... baiklah."
Akhirnya Gavino mengalah, dan tidak lagi membahas tentang rencana mereka berdua untuk menjenguk Robert di rumah sakit.
Gress segera menghubungi sopirnya terlebih dahulu, supaya supirnya itu pulang saja. Karena dia akan pergi ke rumah sakit bersama dengan kekasihnya.
Akhirnya mereka berdua segera menuju ke rumah sakit, untuk menjenguk Robert. Padahal sebenarnya, Robert sudah diperbolehkan pulang ke rumah malam ini.
Di rumah sakit.
"Paman Robert?" tanya Gress bingung, karena Robert sedang sibuk, menyiapkan diri untuk pulang bersama dengan dua penjaganya.
"Wahhh... untungnya Aku datang ke sini dulu ya Paman! karena jika tidak Aku harus ke rumah untuk menjenguk Paman." Gress tampak senang karena bisa menjenguk robot meskipun keadaannya sekarang ini sudah sehat, tampak lebih baik.
"Memangnya kenapa kalau ke rumah? Kamu sudah tidak mau datang ke rumahku?" sahut Gavino kesal. Karena mendengar perkataan Gress yang barusan tadi.
"Bukan. Bukan begitu Sayang. Tapi, tapi l kalau di rumah, Aku benar-benar harus menyempatkan waktu. Berbeda jika ke rumah sakit, ini kan bisa barengan sama Kamu." Gress mengelak dari tuduhan Gavino.
"Halah... alasan! Padahal Kamu tinggal minta pada supir, atau Kamu minta jemput Aku, bisa kan itu? Atau waktu pulang kampus sama Aku kayak gini."
Mereka berdua justru berdebat dengan sesuatu yang tidak penting, sehingga membuat Robert menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perdebatan mereka.
"Sudahlah, tidak usah berdebat!" lerai Robert pada kedua anak muda di depannya ini.
Setelah beberapa saat kemudian, waktu sudah menunjukan pukul 08.00 malam. Dan akhirnya Gress pamit pulang.
"Aku pulang dulu ya Paman. Semoga cepat sehat dan bisa beraktivitas lagi." Ucap Gress pada Robert.
"Terima kasih Gress. Kamu masih peduli dengan Paman. Hati-hati dan salam buat papa Kamu ya!" Robert memberikan salam untuk Thomas Bryan.
__ADS_1
"siap Paman, selamat malam."
Akhirnya Gavino mengantarkan Gress pulang terlebih dahulu, sebelum dia pulang ke rumahnya sendiri.
Tapi di tengah jalan, ternyata Gavino dihadang oleh segerombolan orang, dengan jumlah lima orang yang tidak dikenal. Dengan cara motornya yang di hadang dengan sebuah mobil dari arah samping.
"Berhenti br3ngs3k!" Gertak salah satu dari mereka berlima.
Mendapat panggilan seperti itu dari orang tidak di kenal, Gavino akhirnya berhenti. Kemudian turun dari sepeda motornya.
"Mau apa kalian?" tanya Gavino yang berpikir bahwa, mereka hanyalah preman-preman yang ingin merampoknya.
"Tidak usah banyak bacot!"
Bagh bugh bagh bugh!
Tiba-tiba, tiga orang dari mereka langsung pengeroyok dan memukul Gavino.
Untungnya Gavino yang sudah siap langsung bisa melawan mereka. Bahkan dua dari mereka, sudah tumbang dengan banyak luka memar di wajahnya.
Hal ini membuat dua orang lainnya, yang masih diam, langsung maju untuk ikut pengeroyok Gavino.
Sayangnya perkelahian yang tidak seimbang itu tetap dimenangkan oleh Gavino, sehingga membuat Gavino bertanya pada mereka.
"Siapa sebenarnya kalian dan apa tujuan kalian menghadang ku?"
Tapi mereka masih tetap bungkam, dan tidak mau bicara, siapa yang sudah menyuruh mereka. Dengan hanya mengatakan bahwa,
"Kami hanya ingin merampok mu. Karena melihat motormu yang terlihat sangat bagus dan mahal."
Tapi sepertinya Gavino tidak percaya, dengan apa yang mereka akui sebagai jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan tadi.
"Cepat katakan! siapa yang sudah menyuruh kalian atau akan Aku remukan kepala kalian?"
Gavino memberikan ancaman pada mereka. Tapi ternyata mereka memang tidak mau mengakui yang sebenarnya. Dan tetap teguh mengatakan bahwa, mereka hanyalah ingin merampok saja dan tidak ada niatan lain.
"Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan anak muda. Aku hanya ingin mengambil sepeda motor mu, karena Aku tertarik."
"Br3ngs3k kalian!"
Plak plak plak plak plak!
Gavino dengan cepat memberikan satu tamparan pada kelima orang tersebut, yang tetap diam dan tidak mau mengakui, apa yang tadi ditanyakan oleh Gavino.
Karena tidak mendapatkan informasi apapun, akhirnya Gavino menghubungi anak buahnya. Untuk membereskan orang-orang, yang saat ini sudah tidak berdaya karena sudah dihajar olehnya.
Kelima orang tersebut juga tidak bisa melawan, atau melarikan diri. Karena memang sudah tidak mampu untuk memberikan perlawanan.
Tak lama menunggu, di tempat perkelahian tadi, akhirnya dua orang anak buah Gavino datang dengan membawa mobil box. Sehingga bisa membawa lima perampok tadi, ke dalam mobil box tersebut.
Setelah mengunci box mobilnya, satu orang anak buahnya Gavino membawa mobil perampok tersebut. Sedangkan satunya lagi menyetir mobil box nya.
__ADS_1
Gavino sendiri mengikuti dua mobil tersebut dengan naik motornya dari arah belakang, karena mereka pasti akan menuju ke markas besar. Untuk memberikan hukuman pada kelima orang tadi. Karena diam dan tetap bungkam untuk menutup mulutnya. Sehingga membuat kue vino dan anak buahnya kesal.