
Tantangan yang diberikan sistem untuk menaklukkan king Black, sudah diselesaikan oleh Gavino dengan sangat baik. Tanpa melukai ataupun menghilangkan nyawa dari king Black sendiri.
Bahkan Sekarang, king Black justru sangat patuh terhadap semua perintah yang diberikan oleh Gavino padanya.
Selain mendapatkan hadiah dari sistem, Gavino juga bisa mengambil alih semua kekayaan yang dimiliki oleh king Black, jika dia mau.
Tapi ternyata itu tidak dilakukan Gavino. Dia hanya memanfaatkan king Black sebatas yang dia butuhkan saja.
George juga senang, meskipun pada awalnya dia takut dan juga ingin segera membuat perhitungan dengan king Black, sebagaimana yang dia inginkan. Karena dendam yang dia miliki sedari dulu.
Namun sayangnya, Gavino mencegahnya. Gavino berasalan bahwa, king Black bisa dimanfaatkan sebelum mereka mengambil ahli kedudukan king Black, sebagai pemimpin mafia yang saat ini dipegang oleh Thomas Bryan. Yang memang sebelumnya juga dipegang oleh king Goldblack. Kakeknya Gavino sendiri.
"Lalu, apa yang Kamu rencanakan Gavin?"
"Maksudku, setelah kita pulang ke Italia. Apakah dia masih tetap bisa kita taklukkan?"
George berpikir bahwa, Gavino hanya bisa mengendalikan king Black di kota Paris saja.
"Tenang George. King Black tidak akan pernah ingat apapun tentang kita, yang sudah memanfaatkan kesempatan untuk membuatnya patuh dan menuruti semua kemauan kita juga."
"Memangnya, ada sesuatu yang Kamu inginkan dari apa yang dimiliki king Black?"
Gavino berpikir jika, George menginginkan salah satu usaha atau kegiatan bisnis yang dimiliki oleh Thomas Bryan.
"Bukan begitu Gavino. Sebenarnya Aku hanya ingin tahu, bagaimana cara Kamu menaklukkan king Black, hingga dia begitu patuh denganmu. Ini sejak kemarin Aku ingin tanyakan. Tapi Aku belum punya kesempatan. Jadi bolehkah Aku bertanya, apa yang Kamu lakukan padanya?" tanya George dengan mengatakan apa yang ingin dia tanyakan.
George justru merasa curiga, jika Gavino sudah memberikan kepuasan kepada king Black, sehingga king Black mau menurut kepadanya.
Istilah sekarang ini, king Black sedang bucin akut dengan Gavino.
"Eh, Kamu pikir Aku gila George! Aku itu masih normal, gak doyan lah sama dia. Apalagi udah aki- aki begitu," cibir Gavino dengan menarik sudut bibirnya ke atas.
"Aku pikir Kamu sudah gak normal. Seandainya Kamu benar-benar sudah tidak normal lagi, Aku juga takut deket-deket dengan Kamu Gavino."
George mengejek Gavino dengan peran yang mereka lakukan kemarin malam.
__ADS_1
"Ah, sial_lan Kamu George!" umpat Gavino, saat ingat dengan apa yang dia lakukan kemarin itu.
"Aku pikir justru Kamu yang sekarang tidak normal George. Sebab, Kamu begitu mendalami peran sebagai germo waria yang sukses! Bagaimana, apakah Kamu mau melanjutkannya? Karena, sepertinya itu cocok buatmu. Hahaha..."
Sekarang gantian Gavino yang mengejek George, yang berperan sebagai seorang waria dan menjadi germo.
Mendengar ejekan Gavino, George menjadi cemberut dengan wajahnya yang tampak masam.
"Oh ya, untungnya Aku gak video atau foto Kamu George kemarin. Seandainya kemarin itu Aku sempat video atau foto Kamu. Pasti bakalan viral nantinya. Hahaha..."
Gavino tampak semakin bersemangat mengejek George, sehingga mereka berdua masih tertawa-tawa. Di saat pintu kamar diketuk seseorang dari luar.
George bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju pintu. Dia sempat ragu untuk membukakan pintu kamar, karena ternyata yang datang adalah king Black.
Dia melihatnya dari kaca kecil di pintu, yang digunakan untuk mengintip ke luar. Sehingga tahu keadaan yang ada di depan pintu.
Apalagi saat ini king Black tidak sendiri. Dia bersama dua orang pengawal nya.
Tanpa sadar, George merasa takut, jika king Black ingin membuat perhitungan dengan dirinya dan juga Gavino. Yang sudah mengerjainya semalam.
"George, cepat buka pintunya!" teriak Gavino dari tempat duduknya, sebab king Black menelponnya untuk meminta ijin agar bisa masuk ke kamar menemui dirinya.
"Ya-ya!"
Clek!
Pintu kamar di buka George.
King Black langsung masuk ke dalam kamar, tapi meminta pada kedua pengawalnya itu untuk menunggu di luar.
kedua pengawal pink Black menatap George dengan tatapan mata yang tajam. Seolah-olah sedang memberikan peringatan kepada George, supaya tidak berbuat macam-macam dengan Tuan besarnya itu.
"Kalian sopanlah!" terang king Black pada kedua pengawalnya.
Akhirnya keduanya menganggukkan kepalanya, patuh pada perintah Tuannya.
__ADS_1
"Aku akan bertemu dengan Tuan muda Gavino. Kalian berjaga di sini!" perintah king Black lagi, di saat pintu hampir di tutup George.
Kedua pengawal tersebut mengangguk patuh, tanpa banyak bicara.
"Tapi kenapa pagi-pagi?" tanya George heran, karena king Black datang ke kamar mereka lagi, padahal baru saja kembali ke kamarnya sendiri beberapa jam yang lalu.
King Black hanya tersenyum tipis, menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh George padanya.
Tapi king Black tidak bersikap arogan, sama seperti biasanya. Hanya saja, dia tidak menjawab pertanyaan tersebut.
'Aku seperti melihat sisi lain dari seorang king Black yang tidak biasa. Dia beneran king Black kan? Bukan orang lain yang sedang menyamar!' George justru membatin dalam hati, tentang perubahan sikap dan perilaku dari king Black.
Tapi meskipun demikian, dia sangat yakin jika, ini memang ada hubungannya dengan Gavino. Apalagi king Black juga tadi menyebut Gavino sebagai Tuan mudanya.
'Gavino sendiri sebenarnya penuh dengan misteri. Tapi entahlah, Aku juga tidak tahu bagaimana auranya itu yang kadang-kadang juga menakutkan. Jika dia sedang berurusan dengan kejahatan. Apa Gavino pantas dan cocok menggantikan king Black suatu saat nanti, menggantikan posisi kakeknya dulu. Hhh... entahlah.'
George justru berbincang sendiri dalam hatinya. Sehingga dia tidak memperhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh Gavino dengan king Black.
Hingga pada akhirnya Gavino memanggilnya, kemudian memintanya untuk keluar menemui kedua pengawal king Black.
"George, tolong keluarlah Kamu sebentar. Bilang pada ke dua pengawal yang ada di depan sana, dan perintahkan untuk memesan makanan untuk kita sarapan pagi ini. Dan jangan lupa, bawa ke kamar ini juga makanannya."
George hanya mengangguk mengiyakan permintaan dari Gavino, tanpa banyak bertanya. Kemudian berjalan menuju ke arah pintu. Untuk menemui kedua pengawal king Black, agar mereka bisa memesankan makanan yang diminta oleh king Black sendiri.
Tadinya, kedua pengawal tersebut ragu. Tapi pada saat mendengar suara Tuan besarnya yang berbicara dalam keadaan baik-baik saja. Mereka berdua akhirnya mau pergi, untuk memesankan makanan.
Dua puluh menit kemudian, dua pengawal tadi sudah kembali mengetuk pintu. Mereka membawa kereta makan, untuk membawakan makanan yang dipesan Tuan besarnya.
"Ini untuk Tuan kami!" cegah kedua pengawal tersebut, saat George meminta agar menyerahkan kereta makan. Untuk dia bawa sendiri ke dalam kamar.
"Makanan ini juga untukku. Apa kalian berdua tidak ingin menghirup udara lebih lama lagi?"
George mulai garang, sama seperti dirinya yang dulu. Di saat dia masih menjadi salah satu ketua mafia di Norwegia.
Dengan terpaksa, kedua pengawal tersebut menyerahkan kereta makan yang mereka bawa pada George. Yang akhirnya tersenyum sinis, penuh dengan kemenangan karena berhasil membuat mereka patuh padanya.
__ADS_1