Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Curiga


__ADS_3

( Ting )


( Tampilan brangkas sistem terakhir kalinya )


# Tampilan on


# Hadiah utama : 739. 000 poin


# Hadiah bonus cek : 5 poin


# Kemampuan : 0


# Keahlian Khusus : 0


# Sisa umur \= 2.500 hari


# Tidak ada aktivitas yang berlangsung.


( Ting )


Ternyata setelah mengupgrade, sistem mafia miliknya memberikan tambahan nilai poin, setiap kali Gavino melakukan cek in.


Jadi nilai poin tidak hanya satu saja, melainkan 5 poin sekaligus setiap kali Gavino mengaktifkan sistem mafia miliknya. Dan cek ini tidak perlu setiap hari, tapi sesuka hatinya, yang penting satu hari dianggap satu kali. Meskipun dalam satu hari itu dia mengaktifkan sistem lebih dari satu kali.


Hal ini membuat Gavino merasa senang, karena bisa membantu dirinya untuk meringankan pekerjaannya dalam upaya melarikan diri dari pantauan Thomas Bryan.


Dia berencana untuk kabur bersama dengan Gress, kemudian pergi mencari Bianca. Setelah itu mereka bertiga akan pergi ke Amerika, sesuai dengan rencana sebelumnya.


Gavino tidak tahu jika kedua temannya, Dante dan Lorenzo, sudah berada di tangan Thomas Bryan. Menjadi tawanannya sejak kemarin, pada saat kedua temannya itu sedang mencari keberadaannya.


Ternyata musuh Gavino saat ini kembali lagi pada Thomas Bryan, sebab Verdi bersama dengan Cardi sudah mati.


Mereka berdua, Verdi dan Cardi, akhirnya tidak bertahan lagi untuk hidup. Setelah mendapatkan penyiksaan yang dilakukan oleh anak buahnya Gavino, selama mereka berada di dalam ruangan markas, yang biasa digunakan untuk penyiksaan pada musuh yang tertangkap.


Sama seperti yang biasa dilakukan oleh para mafia, sama juga seperti yang dilakukan oleh Verdi jika mendapatkan tahanan dari lawan mereka.


"Gress."


"Gress!"


Gavino memanggil nama kekasihnya dua kali, sebab Gress tidak merespon panggilan pertamanya.


Tapi ternyata Gress tidak segera menoleh. Dia tidak mendengar suara kekasihnya yang sudah memanggilnya sebanyak dua kali tadi.

__ADS_1


Hal ini membuat Gavino gemas sendiri, sehingga dengan cepat mendekati Gress yang sedang berdiri di dekat jendela kamarnya. Memperhatikan bagaimana keadaan di luar sana.


"Gress," sapa Gavino, begitu tiba di dekatnya Gress. Tapi pada kenyataannya Gress hanya melihatnya sekilas saja, kemudian kembali memperhatikan keluar kamar.


"Sayang, Kamu merhatiin apa?"


Akhirnya Gavino bertanya, dengan ikut memperhatikan keluar jendela. Dia ingin tahu, apa yang sedang diperhatikan oleh Gress, hingga tidak memperdulikan panggilannya.


Ternyata di luar rumah, tepatnya di halaman depan, ada mobil Thomas Bryan yang baru saja datang, bersama dengan beberapa orang yang mengawalnya.


"Papamu datang? apakah dia tahu, jika Aku sudah sadar?" tanya Gavino, masih dengan menatap keluar.


Gress menoleh, tapi segera mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela. Melihat bagaimana cara papanya yang sedang berbincang dengan dua security yang menjaga rumah ini.


"Papa belum tahu. Tapi... menurutku papa sedang mempersiapkan segala sesuatunya, seandainya Kamu sudah kembali sadar."


Pemikiran Gress kali ini ada benarnya juga, karena Thomas Bryan pasti berpikir bahwa, dia akan pembawa putrinya itu pergi, begitu dia sadar dan melanjutkan rencananya untuk pergi meninggalkan kota Roma ini.


"Sepertinya papa sudah firasat, jika Kamu sudah membaik Sayang. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Gress bertanya pada Gavino, dengan mengalihkan perhatiannya dari luar jendela kamar ke arahnya. Wajahnya tampak jelas jika sedang panik, memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Dengan kedatangan papanya yang terduga kali ini.


"Kamu tenang dulu ya! Aku akan berpikir secepatnya, karena waktu kita juga tidak lama untuk bisa membuat keputusan."


"Sebaiknya kita kembali ke posisi yang seperti kemarin, sebelum papamu masuk ke kamar ini Sayang!"


Gavino memotong perkataan Gress yang belum sempat diucapkan, karena harus segera kembali seperti keadaan yang kemarin. Supaya papanya Gress tidak curiga, jika dirinya sudah kembali sadar.


Gress mengangguk setuju dengan usulan Gavino, sebab dia juga sempat memikirkan hal yang sama.


Akhirnya mereka berdua segera kembali ke tempat tidur, mengatur segala sesuatu sesuai dengan keadaan yang kemarin, di saat Gavino tidak sadarkan diri. Meskipun matanya terbuka dan bergerak seperti orang yang sadar.


Thomas Bryan mengetahui keadaannya Gavino dari semua laporan yang masuk padanya, dari orang-orang yang bekerja di rumah ini.


Dia memang sengaja menempatkan Gavino dan Gress di rumah kecilnya, supaya teman-temannya Gavino, bahkan anak buahnya Gavino sendiri, tidak bisa menemukan mereka.


Ini terbukti dengan Dante bersama Lorenzo, yang tidak bisa menemukan keberadaan Gavino. Bahkan mereka kesasar, dan tertangkap.


Thomas Bryan juga melakukan manipulasi beberapa hal, terkait dengan informasi tentang Gavino, menggunakan ponsel Gavino dan Gress sendiri. Yang dikerjakan oleh anak buahnya yang ahli dalam bidang tersebut.


Sekarang Gavino kembali berbaring ke tempat tidur, sedangkan Gress duduk di samping tempat tidur sambil membaca sebuah buku.


Sekitar 5 menit kemudian, pintu kamar di buka dari luar. Thomas Bryan masuk, setelah tadi anak buahnya membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Siang Sayang. Apakah Kamu tidak merindukan Papa?" sapa Thomas Bryan pada anaknya, yang menoleh sekilas dengan kedatangannya ke kamar ini.


"Papa ke sini, apa apa yang penting?"


Gress tidak merespon pertanyaan dan sapaan papanya, tapi justru mengajukan pertanyaan yang terkesan menyelidik.


"Hahaha... Kamu lalu tegang Sayang. Apakah Kamu tidak merasa bahagia berada di sini? padahal ada kekasihmu yang menemani, sama seperti yang kamu inginkan. Atau Kamu berubah pikiran untuk meninggalkannya?"


Ternyata kedatangan Thomas Bryan ke rumah ini, bermaksud untuk membujuk anaknya, supaya mau meninggalkan Gavino dan ikut bersama dengannya.


"Apa Papa datang ke sini hanya untuk bertanya tentang hal ini?" tanya Gress lagi, tanpa menjawab pertanyaan papanya.


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh anaknya, Thomas Bryan tersenyum lebar. Tapi tidak tertawa seperti tadi, karena merasa sudah kalah sebelum berperang, untuk mempertahankan anaknya.


"Apa Kamu tidak bahagia bersama Papa?" tanya Thomas Bryan sekali lagi, dengan nada sedih. Meskipun dia tidak mau memperlihatkan kesedihannya di depan Gress.


"Apa Papa dulu tidak bahagia, pada saat tidak ada Gress bersama dengan Papa?"


Gress kembali menyentil sisi lain dari seorang Thomas Bryan, tentang ikatan darah di antara mereka berdua.


"Papa tahu, jika waktu dulu Papa tidak memperhatikan perasaan Papa. Semua yang Papa lakukan waktu itu hanya untuk sebuah kekuasaan, kekuatan, sehingga tidak berpikir tentang apapun soal keluarga."


Thomas Bryan menjeda kalimatnya, dengan menarik nafas panjang terlebih dahulu. Baru kemudian melanjutkan kata-katanya.


"Papa tahu jika Papa bukankah orang tua yang baik. Papa sudah meninggalkanmu bahkan mengucilkan Kamu, jauh dari sisi Papa sendiri. Tapi Kamu harus tahu Sayang, Papa melakukan semua itu juga demi keselamatan dirimu. Papa tidak mau, jika sampai terjadi sesuatu padamu. Seandainya ada orang yang mengetahui tentang identitas dirimu yang sebenarnya."


Thomas Bryan kembali menghela nafas panjang, saat dia merangkai kalimat yang tepat, agar anaknya itu mau mendengarkan semua penjelasan dan isi hatinya.


Gress masih diam saja sedari tadi, mendengarkan semua perkataan yang diucapkan oleh Papanya.


Sesekali dia melihat ke arah tempat tidur, di mana ada kekasihnya, Gavino, yang bersikap sama seperti kemarin sebelum dia sadar dari Sleep paralysis.


"Bagaimana keadaan Gavino? Apakah dia masih sama seperti kemarin-kemarin?"


Thomas Bryan menyadari sikap anaknya, yang tidak peduli pada dirinya. Apalagi dia juga memergoki Gress yang melirik-lirik ke arah tempat tidur, di mana ada Gavino yang berbaring dalam keadaan seperti biasanya.


"Jika dia tidak ada perubahan dalam perawatan dokter selama berada di sini, lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit yang lebih besar." Perhatian Thomas Bryan benar-benar teralihkan. Apalagi saat melihat tatapan mata Gavino yang seakan-akan tajam menatapnya, membuat dirinya mengerutkan kening.


Sepertinya Thomas Bryan mulai merasa curiga, dengan keadaan Gavino yang sekarang ini.


"Apa Kamu yakin jika Gavino baik-baik saja Sayang?" tanya Thomas Bryan, begitu dia meyakini, jika ada sesuatu yang berbeda pada keadaan Gavino sekarang.


"Kenapa Tuan bertanya seperti itu? tidak perlu terlihat peduli, jika itu hanya sebuah taktik."

__ADS_1


Gress justru menuduh papanya sedang melancarkan strategi, supaya dia takluk karena merasa diperhatikan oleh papanya. Sesuatu yang selalu dia impikannya selamanya, sejak kecil dulu, saat masih berada di Amerika sana, menjadi anak panti yang serba seadanya.


__ADS_2