
Selesai makan, Gavino pamit untuk pulang. Karena dia memang tidak berniat untuk bermalam di tempat gadisnya. Dia juga tidak ingin membuat gadisnya itu lelah, sehingga dia tidak akan mengajaknya bercinta.
Tapi ternyata Gress justru enggan untuk ditinggalkan begitu saja.
"Apa tadi hanya mampir makan saja? karena Kamu tidak ada yang menemani makan?" tanya Gress dengan wajah di tekuk.
Jika sudah seperti ini, Gavino tidak mungkin membiarkan gadisnya itu ngambek dan marah. Sehingga dia memeluk tubuh Gress dengan erat.
"Bukan begitu Sayang. Aku hanya tidak ingin membuatmu kecapekan. Istirahatlah," terang Gavino dengan mengecup pucuk kepala Gress berkali-kali.
"Ma io voglio, tapi Aku ingin," rengek Gress dengan mimik wajah yang mengemaskan.
Akhirnya Gavino tidak tahan juga, dengan sesuatu yang memang sudah dia tahan sejak tadi. Hanya karena dia tidak mau membuat gadisnya itu kelelahan.
Dan begitulah akhirnya. Mereka berdua tidak bisa menahan diri untuk tidak saling berbagi dalam keadaan seperti sekarang ini.
Setelah beberapa saat kemudian, Gavino masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian kembali keluar tampak dengan air yang masih menetes diwajahnya.
Gress mengulurkan handuk kecil yang dia ambil dari dalam laci.
"Terima kasih Sayang," ucap Gavino menerima handuk tersebut.
Gress sendiri hanya tersenyum saja, kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi. Dia juga ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu, sebelum kekasihnya itu pulang ke rumahnya sendiri.
Tapi di saat Gress berada di dalam kamar mandi, ada seseorang yang datang mengetuk pintu kamar.
Tok tok tok!
Ting tong...
Gavino menoleh ke arah kamar mandi, tapi Gress tidak menyahuti. Tidak memberitahu padanya, jika akan ada tamu atau siapapun yang akan datang.
"Siapa itu di luar ya?" gumam Gavino, dengan melangkah ke arah pintu.
Tapi ternyata tidak ada siapapun di depan pintu, karena Gavino mengintip keluar dari cermin yang ada di pintu. Tapi ternyata memang tidak ada orang di luar sana.
Tok tok tok!
Saat Gavino hampir melangkah, pintu kembali di ketuk dari luar. Sehingga dengan cepat, Gavino langsung membuka pintu kamar tanpa melihat bagaimana keadaan di luar.
Clek!
"Angkat tangan!"
__ADS_1
Dua senjata api ditodongkan ke arah Gavino, yang baru saja membuka pintu.
Ternyata ada dua orang dengan topi kupluk yang menutupi seluruh kepala, termasuk wajah. Yang hanya menyisakan dua lubang mata dan mulut.
Entah siapa mereka berdua, yang tiba-tiba datang dan menodongkan senjata api mereka pada Gavino.
"Apa mau Kalian berdua?" tanya Gavino dengan tenang.
Dia waspada, jangan sampai Gress keluar dari dalam kamar mandi tanpa berpakaian lengkap.
Sayangnya, Gavino melihat sekilas bagaimana pakaian Gress yang masih berserakan di lantai. Itu artinya, Gress pasti hanya mengunakan jubah mandinya saja jika keluar nantinya.
"Sepertinya kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih menarik," ujar salah satu dari mereka, saat melihat ke arah lantai yang ada pakaiannya Gress.
Apalagi, terdengar suara gemericik air yang datang dari arah kamar mandi.
"Tahan dia!"
Salah satu dari mereka, meminta pada temannya untuk tetap menodongkan senjata apinya ke arah Gavino. Sedangkan dia sendiri berjalan ke arah kamar mandi, karena ingin melihat, siapa yang sedang mandi di sana.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Gavino, dengan menendang satu kaki orang yang ada di sampingnya.
Dugh!
Orang tersebut kesakitan, karena Gavino menendang tepat pada tulang kering kaki. Sehingga membuat orang tersebut terjatuh. Kemudian Gavino segera memiting kedua tangannya. Dan mengambil senjata api yang terpental tak jauh dari tempat orang tersebut.
"Beraninya Kamu masuk ke sini!" gertak Gavino dengan mengikat kedua tangan orang tersebut dengan ikat pinggangnya sendiri.
Tapi dari arah kamar mandi, orang tadi sudah membawa Gress yang masih terlihat basah dengan jubah mandi yang belum dikenakan dengan baik.
"Gavin..."
Mendengar suara Gress yang tampak ketakutan, membuat Gavino cepat menolehkan kepalanya ke arah Gress.
Ternyata orang tadi menodongkan senjata apinya ke arah Gress dari belakang.
Gress tampak ketakutan, dengan air mata yang menetes di pipi.
"Lepaskan dia!"
Gavino menggertak orang tadi, sambil berdiri dengan senjata api yang tadi dia ambil. Dia juga menodongkan senjata api tersebut ke arah orang yang ada dibelakangnya Gress.
"Serahkan semua yang ada di kamar ini, dan kunci motor yang ada di bawah sana!"
__ADS_1
Sekarang Gavino paham, siapa dua orang yang sekarang dia hadapi. Mereka berdua, hanya perampok kecil yang menginginkan uang dan motornya saja.
"Pergilah. Ambil motor itu!"
Dengan menunjuk ke arah meja, di mana ada kunci sepeda motornya, Gavino juga memberikan orang tersebut beberapa lembar uang yang ada di dompetnya.
"Hahhh! Aku mau semua!"
Orang tadi menghardik Gavino, dengan merebut semua uang yang ada di dalam dompetnya.
Gavino hanya diam dan biarkan orang tersebut mengambil semua uang yang dia miliki. Termasuk kunci sepeda motornya.
Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, orang tadi menarik tangan temannya yang ada di lantai. Dia mengajaknya untuk pergi dari kamar ini.
Setelah dua orang perampok tadi pergi, Gavino segera memeluk tubuh Gress yang ketakutan.
"Sudah Sayang. Mereka sudah pergi."
Tapi Gress masih bergetar ketakutan, dengan menangis.
Gavino segera menghubungi anak buahnya yang lain, untuk melacak keberadaan motornya. Dengan sinyal khusus yang menang terpasang di semua kendaraan miliknya.
Jadi, sinyal khusus tersebut tidak hanya ada pada mobil-mobil miliknya saja. Tapi juga ada pada motor-motor yang ada di rumahnya.
..."Ikuti sinyal khusus tersebut. Dan berikan pelajaran pada dua orang pengendaranya. Mereka merampoknya dariku." ...
..."Baik Tuan Muda!" ...
Klik!
Gress melihat Gavino dengan tatapan mata yang meminta penjelasan.
"Tidak apa-apa. Kedua orang tadi, akan segera ditangkap. Aku hanya membiarkan mereka pergi, agar tidak membuat kekacauan di kamar ini."
Tanpa mengeluarkan suara untuk bertanya, Gavino sudah memberikan penjelasan kepada Gress, sehingga membuat gadisnya itu sedikit merasa lebih lega.
"Sepertinya di sini sudah tidak aman untukmu. Bagaimana jika Kamu tinggal di rumah? Atau Kamu mau Aku ajak ke apartemen?"
Sebenarnya Gress merasa nyaman jika ada di kamarnya ini. Tapi apa yang dikatakan oleh Gavino ada benarnya juga.
Namun, Gress hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan dari kekasihnya. Karena dia juga sungkan untuk memberikan jawaban atas pilihan yang disebutkan tadi.
"Bereskan barang-barang milikmu seadanya saja. Yang lain di ambil besok-besok lagi. Aku akan menghubungi supir untuk menjemput kita, dan juga kepala maid agar menyiapkan kamar untukmu."
__ADS_1
Akhirnya Gavino memutuskan untuk membawa Gress pulang ke rumah. Itu dirasa lebih aman, dari pada Gress dibiarkan sendiri tanpa pengawasannya.