
Lubang besar sudah di buat Gavino, George, dan di bantu Robert bersama teman-temannya. Disaat keadaan mereka sudah membaik.
Lubang itu dipergunakan untuk mengubur orang yang datang menyerang mereka, tapi akhirnya justru meninggal dunia.
Tapi sayangnya, teman-temannya pergi tanpa membawa mayat nya pergi.
Jadi, mau tidak mau Gavino dan yang lainnya juga yang repot untuk menguburkannya. Apalagi, membuang lubang tanah yang sudah mulai ditutupi salju. Tentunya sangat sulit.
"Hahhh... akhirnya selesai juga."
"Hum... jadi lapar ini."
Mendengar gumaman kata lapar, Gavino juga merasakan hal yang sama. Karena saat ini sudah masuk waktu makan siang.
Sedangkan mereka, sedari semalam tidak bisa beristirahat dengan tenang, akibat penyerangan orang-orang yang mencari George.
Mereka juga sedari pagi rame-rame membuat lubang untuk mengubur orang yang sudah mati. Sehingga perut mereka semua memang belum sempat mendapatkan isi yang seharusnya.
"Aku akan pergi mencari makanan. Kalian tunggulah di dalam sana, sekalian buat perapian dan membuat teh hangat."
Robert memicingkan matanya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Gavino.
Tapi tak lama kemudian, dia pun mengangguk mengiyakan permintaan Gavino. Karena dia juga tidak mungkin meninggalkan tempat ini dalam waktu cepat.
Luka teman-temannya belum sembuh. Dan dijalan, belum tentu mereka aman. Karena bisa jadi, orang-orang yang semalam menyerangnya, sudah menghafal mobilnya. Sehingga akan di sabotase di jalan.
George hanya diam. Dia tidak tahu, harus berbuat apa untuk keselamatan orang-orang ini. Karena dia juga tidak memiliki persediaan senjata ataupun alat-alat bantu yang bisa digunakan untuk membela diri.
Setelah beberapa saat kemudian, Gavino sudah pulang ke rumah.
Dia membawa dua kantong belanjaan yang terlihat penuh semua dengan isinya.
"Ayo kita makan. Hanya ini yang bisa Aku temukan di mini market ujung jalan. Yang bisa langsung kita makan."
"Jika menunggu untuk memasak mie instan atau spaghetti, itu masih butuh waktu. Jadi, kita lakukan itu nanti. Yang penting sekarang cacing dalam perut tidak berdemo."
George dan Robert pun tersenyum senang, mendengar perkataan Gavino yang enteng. Dengan maksud bercanda juga.
Saat satu kantong belanjaan di buka, ada banyak roti gandum dan juga makanan yang baik untuk dikonsumsi pada musim dingin. Sedangkan satu kantong belanjaan yang lain, berisi bahan-bahan makanan yang harus diproses terlebih dahulu, sebelum bisa di konsumsi.
"Terima kasih banyak Tuan. Kami tidak tahu, bagaimana keadaan kami jika tidak ada kalian berdua."
__ADS_1
Robert justru mengucapkan terima kasih kepada George dan Gavino. Yang masih dia sangka sebagai ayah dan anak.
Tapi baik Gavino maupun George sendiri, tidak mempermasalahkan anggapan tersebut. Mereka berdua, hanya mengangguk dan tersenyum mendengarnya. Kemudian meminta pada mereka semua untuk memulai makan.
"Ayo silahkan di makan. Kalian bisa melanjutkan perjalanan kapan saja, jika cuaca sudah kembali membaik."
*****
Di kota Roma, di salah satu gedung pencakar langit.
Brakkk!
Seseorang yang tadi duduk di kursi kebesaran, menggebrak meja yang ada di depannya. Tanpa peduli dengan tangannya yang sekarang jadi memerah.
"Dasar tidak berguna!"
"Boddoh kalian semua!"
"Ahhh shittt!"
Dia mengumpat seorang diri di ruangannya. Karena orang suruhannya hanya memberikan laporan melalui telpon.
"Awas kau George! Kamu sudah aku jadian pemimpin di Norwegia, tapi justru ini yang Kamu lakukan padaku."
"Gerggg..."
Gemelutuk gigi yang sedang menahan amarah, terdengar sangat menakutkan, seandainya ada orang lain di ruangan tersebut.
Ruangan yang didominasi dengan warna hitam. Sedangkan untuk furniture yang ada berwarna kayu alami.
Orang tersebut adalah king Black.
Orang yang menggantikan king Goldblack. Pada usianya yang dulu masih sekitar empat puluh tahun.
Sedangkan saat ini, king Black berusia tujuh puluh tahun.
Usia yang seharusnya digunakan untuk pensiun. Menikmati kehidupan di hati tua nya. Yang bisa jadi hanya tinggal beberapa waktu ke depannya nanti.
Sekarang, dia melakukan panggilan telpon dengan orang yang tadi membernya laporan. Orang yang sama juga, yang menyerang Gavino di rumahnya yang berada di Monte Isola.
..."Apa George sudah bertemu dengan king Goldblack? William Henry?" ...
__ADS_1
..."Sepertinya belum king Black. Tidak ada orang yang sama seperti king Goldblack diantara orang-orang yang bersama George."...
..."Lalu, siapa orang yang bersamanya malam tadi? bahkan orang-orang itu bisa melakukan perlawanan terhadap kalian. Sehingga kalian semua kabur. Dengan meninggalkan satu orang yang mati dan satunya lagi sedang dalam keadaan terluka parah." ...
..."Saya belum tahu king Black. Tapi kami pasti akan membuat perhitungan dengan mereka semua, dalam waktu dekat." ...
..."Cihhh! Tak perlu membual. Aku butuh laporan yang pasti. Atau Kamu tidak akan pernah kembali dengan selamat." ...
Klik!
King Black menutup panggilan teleponnya, setelah selesai memberikan perintah dan juga ancaman pada anak buahnya.
Dia yakin, jika orang-orang yang bersama dengan George bukan orang-orang sembarangan. Karena pada kenyataannya, justru anak buahnya yang sudah terlatih, yang kalah dalam perkelahian itu.
"Aku mendengar jika William Henry sudah lama meninggal dunia. Tapi kenapa dan di mana rumahnya yang ada Monte Isola Aku tidak pernah tahu."
"Aku tidak peduli dengan kehidupannya, yang katanya ke jalan yang baik. Karena Aku yakin, jika seorang William Henry tidak akan pernah mengkhianati janji. Apalagi itu janji dengan istrinya yang bedeebbah dan sialllan itu."
King Black berkata-kata sendiri. Mengingat kembali atasannya yang dulu.
Dan dia pun merasa jengkel, saat ingat dengan istri dari William Henry. Yang ternyata menarik perhatiannya.
Sayangnya, cinta gadis muda itu hanya untuk William Henry.
Bahkan di saat sudah ketahuan jika menderita penyakit mematikan, gadis yang sudah menjadi istri dari bos nya itu masih juga menolaknya.
Bahkan membuat jarak antara William Henry dengannya semakin jauh. Dengan permintaan dari sang istri yang menginginkan keluarga kecilnya pergi dari keramaian kota Roma.
King Black merasa di sebagai laki-laki dewasa. Apalagi hanya seorang gadis miskin seperti istrinya William Henry.
Dia, yang notabene adalah anak buah kesayangan king Goldblack, tidak terima.
Dan oleh sebab itulah, dia merencanakan semua pengkhianat yang dia lakukan pada king Goldblack. Atasan yang sudah memberikan semua kepercayaan kepadanya.
Dengan membunuh istri kecilnya yang penyakitan, king Black berharap agar Willian Henry kembali ke tempatnya semula. Memimpin kelompoknya, menjadi king Goldblack lagi.
Tapi pada kenyataannya, William Henry justru pergi menjauh ke kota kecil. Bersama dengan anak gadisnya yang masih berusia empat tahun.
Dan setelah itu, king Black tak lagi mempedulikan kehidupan William Henry. Yang tidak lagi peduli dengan kelompok mafia mereka.
Dia juga yang para akhirnya mengantikan posisi sebagai seorang pemimpin di pusat. Karena pemimpin-pemimpin di negara lain, juga tunduk dengan kepemimpinan di kota Roma, negara Italia.
__ADS_1