
Setiba di rumah, Dante langsung meminta pada Bianca untuk masuk ke dalam kamar.
"Istirahatlah Bi, Aku mau pergi mencari keberadaan Gavino bersama dengan Lorenzo. Kamu tidak apa-apa Aku tinggal?" pamit Dante, mengatakan tujuannya pergi.
"Apa Aku tidak bisa ikut Dante?" tanya Bianca, yang tidak mau ditinggal sendiri.
Bianca ingin ikut mencari keberadaan kekasihnya, yang sudah tidak bergambar selama tiga hari ini.
Padahal terakhir kali bertemu dengan Gavino, pada saat Gavino pamit untuk bertemu dengan Gress. Sebab kekasihnya itu ingin membujuk Papanya Gress, supaya memberikan izin kepada anaknya untuk ikut bersama dengan mereka ke Amerika.
"Jangan Bi. Kamu baru saja sembuh. Jadi lebih baik di rumah saja, menunggu kabar dariku. Aku pasti akan segera memberikan kabar padamu, jika menemukan keberadaan Gavino nantinya."
Dante mengijinkan Bianca mengikutinya, yang akan pergi bersama dengan Lorenzo.
"Baiklah, Aku akan menunggu kabar dari kalian. Tapi secepatnya beri kabar ya!" pinta Bianca, memberikan syarat kepada sepupunya itu. Supaya secepatnya memberikan kabar tentang Gavino.
"Hai! Aku pasti akan memberimu kabar jika tahu, dan ini Aku belum berangkat Bi! Dasar Kamu mulai posesif!" gerutu Dante, dengan sikap dan permintaan dari sepupunya itu.
"Ihhh... Aku merasa khawatir Dante. Dan aku tidak mau jika terjadi sesuatu padamu Gavin." Bianca menyahuti gerutuan Dante, atas permintaannya tadi.
"Sudah-sudah! Pokoknya Kamu terus tetap tenang berada di rumah!" Bianca akhirnya mengganggukan kepalanya, mendengar permintaan dari Dante. Yang sebenarnya begitu peduli kepada dirinya dan juga pada Gavino, kekasihnya yang juga temannya Dante sendiri.
*****
Kota Roma yang selalu sibuk dengan kesibukan semua penghuni kota, tidak ada kesempatan untuk banyak berinteraksi dengan orang-orang sekitar. Seandainya mereka tidak saling memiliki hubungan atau kerjasama dalam bidang tertentu.
Meskipun kendaraan-kendaraan di jalan kota tidak terlalu padat, tapi di dalam gedung-gedung pencakar langit yang tampak menjulang tinggi menantang langit itu, tidak ada waktu yang terbuang.
Semuanya sibuk dengan urusan dan pekerjaan masing-masing, dengan dalih untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga mereka jarang bersosialisasi hanya untuk sekedar menyapa atau basa-basi.
Mereka memilih prinsip bahwa waktu adalah uang, sehingga tidak seharusnya membuang-buang waktu tanpa menghasilkan uang dengan suatu pekerjaan.
Sama halnya seperti para mafia.
Mereka juga tidak ada yang membuang waktu, karena masing-masing memiliki pekerjaan yang umum untuk semua orang.
__ADS_1
Misalnya seperti security, dokter, para pedagang, bekerja kantor ataupun bergelut di bidang pendidikan. Seperti dosen atau guru di suatu lembaga pendidikan. Jadi identitas mereka tidak ada yang mengetahui, jika mereka adalah anggota para mafia. Yang tentu saja punya sisi gelap lain, selain kehidupan nyata yang terlihat.
Ini juga terjadi pada Thomas Bryan.
Meskipun sebenarnya sudah banyak orang yang tahu, tapi tetap saja pengaruhnya sebagai seorang pengusaha tidak bisa diabaikan begitu saja.
Thomas Bryan memiliki banyak usaha, yang bergerak di setiap lini penting dalam tatanan kehidupan di kota Roma ini. Misalnya saja Mall, yang menyediakan banyak kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat. Ada juga rumah sakit, yang tentunya sangat dibutuhkan untuk kesehatan penduduk kota.
Thomas Bryan juga memiliki perusahaan yang memproduksi pakaian dan transportasi. Ada juga banyak kerjasama yang dilakukan, dengan para petinggi negara.
Jadi pengaruh dari seorang Thomas Bryan tentu saja tidak bisa diremehkan begitu saja. Karena sudah bisa dipastikan, bahwa dia memiliki pengaruh yang sangat besar. Dengan segala kekuatan dan kedudukannya, sebagai pengusaha yang begitu dekat dengan pejabat negara dan yang lainnya.
Itulah sebabnya, dia tidak mudah untuk dipengaruhi. Dan hanya Gavino saja, yang pernah membuatnya takluk.
Tapi sepertinya saat ini pengaruh tersebut sudah tidak berguna, sebab pada saat ini, kenyataannya Thomas Bryan justru melawan dan tidak mau mendengarkan permintaan dari Gavino.
Mungkin saja kekuatan Gavino untuk mempengaruhi orang lain sudah tidak ada, sehingga efeknya terhadap Thomas Bryan juga sudah menghilang.
Itu artinya, saat ini papanya Gress menjadi lawannya Gavino lagi. Sama seperti dulu.
Tapi dia tidak langsung berbuat sesuatu kepada Gavino, sebab ada anaknya, yaitu Gress, yang akan melindungi Gavino. Atau setidaknya akan membela kekasihnya, agar dia tidak bisa berbuat macam-macam.
Meskipun dia tidak mendapatkan apa-apa, baik hadiah maupun efek negatifnya. Tapi tubuhnya harus bisa menerima efek dari kegagalan yang dia miliki, untuk pertama kalinya.
Itulah sebabnya, kesadaran Gavino hilang. Bahkan ingat tanya kembali ke masa lalu.
Tapi teman-temannya tidak ada yang mengetahui keadaannya saat ini, akan keberadaannya saja tidak diketahui.
Dante dan Lorenzo sudah mencarinya ke markas, ke rumah, ke kios dan warabala Giordano dan Mirele. Tapi mereka berdua tidak menemukan Gavino, yang tidak bisa dihubungi juga.
Robert juga tidak tahu menahu tentang keadaan Tuan Muda-nya itu, sehingga dia juga merasa khawatir dan panik.
"Bagaimana bisa Gavin pergi tanpa kabar? apa yang terjadi dengannya?" tanya Robert ingin tahu, apa alasannya Gavino pergi.
Dia memang tidak mencampuri urusan Gavino sebagai seorang mafia, sebab dia tidak mau ikut dalam aktivitas fisik. Yang tentunya identik untuk para mafia sendiri.
__ADS_1
Robert tidak ingin mengulang sejarah, atas apa yang terjadi pada saudara laki-lakinya yang saat ini sudah meninggal dunia. Dan dulu bekerja menjadi salah satu anggota mafia, di bawah kepemimpinan king Black.
"Kamu juga tidak tahu Paman. Kami tidak bisa menghubungi Gavin, dan juga Gress."
Dante mencoba untuk memberikan penjelasan kepada Robert. Supaya pamannya Gavino itu tidak menyalahkan mereka berdua.
"Apa kalian tahu, di mana Gress tinggal saat ini? sebab menurut cerita Gavino yang berakhir Aku dengar, Gress pindah dari rumah papanya."
Sekarang Dante dan Lorenzo saling pandang, mendengar keterangan Robert yang tidak pernah mereka ketahui.
"Gress pindah dari rumah papanya? kapan?" tanya Lorenzo dan Dante persamaan.
"Aku... Aku lupa kapan tepatnya Gavin mengatakannya. Tapi, itu sudah beberapa minggu yang lalu."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Robert, membuat Dante dan Lorenzo saling pandang. Dengan pemikiran masing-masing.
"Sebaiknya kita bertanya pada pihak rumah sakit, siapa tahu mereka bisa memberikan keterangan. Di mana alamat rumah Gress yang sekarang ini ditempati. Sebab Kamu tahu sendiri Lorenzo, Gress adalah gadis yang mandiri."
Lorenzo mengangguk setuju, dengan apa yang dikatakan oleh Dante barusan.
Hal ini juga terjadi pada Dante, yang pada kenyataannya memilih untuk hidup di rumahnya sendiri. Meskipun masih memiliki orang tua dengan rumah yang sangat besar.
Kehidupan mandiri karena ingin sebuah kebebasan, sudah biasa terjadi di kota-kota besar, sama seperti kota Roma ini.
Apalagi untuk ukuran orang eropa, anak-anak di atas usia 17 tahun sudah dianggap memiliki privasi sendiri. Dengan diberikan mereka sebuah kebebasan untuk memilih serta menentukan, kehidupan yang seperti apa yang akan mereka jalani.
Itulah sebabnya, hal tersebut justru membuat kehidupan mereka terlalu bebas. Dan seperti tidak ada control dari orang tua. Di tambah lagi dengan semua kesibukan dan kegiatan orang tua, yang tidak memiliki banyak waktu untuk anak-anak mereka.
Akhirnya dengan dalih sebuah kemandirian, banyak anak-anak yang memilih hidup di luar rumah. Dan tinggal di rumah maupun apartemen sendiri, meninggalkan rumah orang tua mereka.
"Aku tidak yakin, jika pihak rumah sakit akan memberitahu," kata Lorenzo ragu, di saat Dante mengajaknya pergi ke rumah sakit. Yang ditempati oleh Gress bersama dengan Bianca kemarin.
"Tidak ada salahnya untuk mencoba Lorenzo. Ayo kita segera pergi, dan tidak membuang-buang waktu!" ajak Dante, yang langsung melangkah lebar ke luar dari kios warabala Giordano dan Mirele.
"Paman, kami pergi dulu!"
__ADS_1
Lorenzo menyempatkan waktu untuk pamit dengan Robert, yang langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Aku menunggu kabar dari kalian!" teriak Robert, sebelum Lorenzo menutup pintu ruangannya.