Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Bukan Pangeran


__ADS_3

Gavino yang sekarang, bukan lagi Gavino yang lemah dan miskin seperti dulu.


Sekarang dia sudah kuat, punya uang dan sistem yang akan membantunya. Jadi, dia juga tidak akan merasa gentar, hanya dengan ancaman orang-orang yang saat ini sedang menghadangnya.


Beberapa orang dari geng sekolah lain, yang tadi membuntuti Gavino dengan Madalena saat ini menghadang. Di saat Gavino mengantar Madalena pulang, sehabis makan malam bersama di mall tadi.


"Cihhh, ini dia yang katanya mengalahkan Alano. Hahaha..."


"Kurus kering begini? Hahaha..."


"Madalena. Apa Kamu doyan dengan pangeran tak ada postur begini?"


Madalena yang suka bicara, tidak mau tinggal diam. Dia pun mulai menyahuti perkataan mereka, yang membuat telinga terasa gatal.


"Dih, apa mau Kalian semua? kurang kerjaan banget sih! ngurusin urusan orang saja kerjaannya."


"Hahaha... ternyata, di pangeran kodok ini berlindung di mulutnya Madalena. Hahaha..."


Mereka bukannya pergi, malah bertambah menjadi-jadi. Mengatakan hal yang tidak-tidak.


Madalena sudah geram. Dia hampir saja maju, untuk menampar wajah orang yang menertawakan dirinya.


"Lena, sudahlah. Kita pulang lewat jalan lain."


Madalena mengeryit heran, karena mendengar perkataan Gavino yang seakan-akan takut pada gertakan mereka tadi.


"Aku tidak mau ribut," kata Gavino, seakan-akan tahu. Apa yang sedang dipikirkan oleh Madalena saat ini.


"Gavin. Mereka yang mulai," cicit Madalena tidak puas.


Dia ingin, Gavino membalas perkataan mereka. Atau setidaknya, memberikan pelajaran agar mereka kapok.


Tapi ternyata pembawaan Gavino yang pendiam dan tidak mau cari ribut tetap dia pertahankan. Gavino memilih untuk menghindari keributan.


Tapi pada saat Gavino mengajak Madalena untuk pergi dari tempat tersebut, tiba-tiba dari dari mereka maju untuk melayangkan bogem nya.


Untung saja, Gavino sempat mengelak. Dan sedetik saja, otaknya langsung mengaktifkan sistem.


( Ting )


( Sistem aktif )


"Ada bodyguard?"


( Bodyguard ada )


"Aku mau bodyguard satu."


( Bodyguard diaktifkan )


1%


5%


10%

__ADS_1


20%


40%


60%


80%


100%


( Sempurna )


Dan benar saja. Dari arah belakangnya Gavino, muncul seorang laki-laki dewasa. Dengan perawakan tinggi besar khas seorang bodyguard. Entah dari mana tadi dia datang. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan.


Bodyguard tersebut yang akhirnya melawan anak-anak geng. Yang menghadang Gavino bersama Madalena.


Dengan sangat piawai, bodyguard itu melakukan tugasnya. Sebagai seorang pelindung atau pengawal pribadi.


"Gavin. Siapa dia?"


Madalena bertanya, karena terkejut juga dengan kedatangan bodyguard tersebut. Karena sedari tadi, dia tidak melihat adanya bodyguard tersebut.


"Tidak tahu. Mungkin hanya orang lewat, yang ingin membantu kita."


Jawaban yang diberikan oleh Gavino, tidak bisa dipercaya oleh Madalena begitu saja. Dia tidak mudah untuk dikelabui, hanya dengan jawaban sederhana seperti itu.


"Ehhh..."


Madalena merasa terkejut, di saat tangannya di tarik oleh Gavino. Untuk di ajak menjauh dari tempat tersebut.


"Tapi... tapi orang itu?"


"Biarkan dia yang mengurusnya "


Jawaban yang diberikan oleh Gavino, justru membuat Madalena menahan tangan Gavino yang menariknya.


"Tunggu!" ucapnya, dengan menahan diri untuk menghentikan tubuhnya. Agar tidak lagi berjalan.


"Apa?" tanya Gavino pendek.


"Kamu bilang, Kamu gak kenal laki-laki tadi. Tapi sekarang, dia menolong kita, dan Kamu malah pergi begitu saja?" tanya Madalena penasaran.


Dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan Gavino, yang tampak seperti seorang pengecut. Karena meninggalkan orang yang sudah menolongnya.


"Dia bisa mengurusnya sendiri. Apa Kamu tidak percaya?"


"Ayo Aku tunjukan!" Akhirnya, Gavino mengajak Madalena kembali ke tempat yang tadi.


Tapi ternyata, di tempat tersebut sudah sepi. Tidak ada perkelahian ataupun sesuatu yang terjadi. Semua baik-baik saja, dan tidak tampak suatu apapun, yang menunjukkan bahwa terjadi perkelahian di tempat itu.


"Wahhh... bagaimana bisa Gavin?" tanya Madalena penasaran.


Tapi Gavino hanya mengangkat kedua bahunya. Tanda jika dia juga tidak tahu apa-apa.


"Ya sudah. Ayo kita pulang!"

__ADS_1


Akhirnya, tanpa banyak bicara lagi, Madalena pun menurut saja. Mengikuti Gavino yang menuju ke mobil.


*****


Sebelum Madalena tidur, dia masih memikirkan kejadian yang tadi dia alami bersama dengan Gavino.


"Si Gavin jadi mirip dengan pangeran yang misterius."


"Apalagi pembawaannya yang pendiam dan tidak banyak bicara. Sangat berbeda dengan cowok-cowok yang punya segalanya."


Madalena berbicara seorang diri. Menilai kepribadian Gavino yang selama ini dia jauhi. Karena menurutnya, dulu, Gavino jauh dari kata cukup. Untuk kriteria seorang teman bagi Madalena. Apalagi untuk dijadikan sebagai target pangeran impian.


Semua yang ada pada Gavino pada masa itu, tidak masuk dalam kriteria yang digunakan sebagai bahan pertimbangan Madalena.


Tapi tentu saja semua itu sudah berubah 360 derajat. Menurut Madalena semua kriteria seorang pangeran, saat ini ada pada Gavino. Cowok dekil dan miskin. Yang dulunya sering dijadikan bahan pembicaraan dan tertawaan dirinya, bersama dengan Alano dan kawan-kawannya.


Madalena sungguh menyesal. Karena tidak bisa menilai seseorang dari sesuatu yang tidak tampak.


"Bukankah seorang pangeran tidak selalu berpakaian dengan pakaian kebesarannya. Mungkin itu yang dilakukan oleh Gavino. Dan aku sangat ceroboh."


Madalena yang dikenal sebagai seorang putri halu, bisa juga melupakan beberapa cerita yang tidak masuk akal dari seorang pangeran. Yang kadang kala harus menyamar, demi mendapatkan cinta sejati.


"Kalau begitu, Aku mau jadi cinta sejati dari seorang pangeran. Gavin... ahhh, Aku jadi tidak sabar ingin bertemu denganmu besok pagi."


Tak lama kemudian, Madalena terlelap dalam mimpinya. Karena malam memang sudah cukup larut.


*****


Di rumah Gavino.


Setibanya Gavino di rumah, setelah mengantar Madalena, mama dan papanya menyambutnya dengan perasaan was-was.


Mereka berdua merasa takut jika, terjadi sesuatu pada anaknya.


"Apa ada masalah Gavin? Kenapa baru pulang?"


Mirele bertanya pada Gavino, dengan tidak sabar. Sebagai seorang mama, wajar jika dia tidak tenang. Memikirkan apa yang biasanya terjadi pada anaknya itu, di waktu yang dulu.


Berbeda dengan istrinya, Giordano tampak lebih tenang. Dia tidak melihat sesuatu yang kurang dari anaknya. Jadi dia tidak memberikan pertanyaan apa-apa.


"Mama. Gavin baik-baik saja Ma."


"Lihatlah. Tidak ada luka atau apapun kan?"


Mirele tampak melihat dan memeriksa semua badan Gavino. Memutar tubuhnya, untuk melihat bagian belakang juga.


Dan baru menghela nafas lega, setelah merasa yakin jika anaknya itu benar-benar Baik-baik saja.


"Ya sudah. Lekas mandi dan makan."


"Gavin sudah makan Ma. Apa Mama dan Papa belum makan?"


Gavino merasa bersalah, karena harus membiarkan kedua orang tuanya dalam keadaan lapar. Hanya demi untuk menunggu kedatangan dirinya.


"Tidak-tidak. Kami sudah makan. Mama hanya berpikir jika Kamu belum makan tadi."

__ADS_1


Gavino hanya tersenyum tipis. Dia akhirnya membuang nafas lega. Karena perasaan bersalahnya sedikit berkurang. Setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh mamanya tadi.


__ADS_2