Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Melawan


__ADS_3

Jam pulang sekolah, Alano sudah langsung kabur dari dalam kelas. Dia tidak menuggu temannya yang lain. Yang sedang merapikan beberapa peralatan sekolahnya.


"Hai, tunggu!"


Madalena berteriak memanggil Alano, supaya menunggunya sebentar. Tapi permintaan Madalena tidak digubris oleh Alano.


"Ahhh... sialll!"


Terdengar kata umpatan dari mulut Madalena.


"Masa Aku yang jadi umpan ini?"


Tapi perkataan Madalena tentu saja tidak dimengerti oleh orang lain. Karena mereka juga tidak tahu, apa maksud dari perkataan tersebut.


Di kelas, tinggal Gavino dan Bianca, yang ditunggui oleh Lorenzo juga.


Madalena datang mendekat ke tempat mereka bertiga. Dia pura-pura meminta pada Bianca dan Lorenzo, untuk membantunya membawa sebagian barang-barang yang dia miliki.


"Bi, bisa bantu Aku?"


"Bawain ini ya ke mobilku!"


"Eh Lorenzo, bantu bawa juga!"


Bianca yang memang mengenal Madalena, tidak menaruh curiga jika ini adalah salah satu rencana dari Alano dan geng nya.


Begitu juga dengan Lorenzo. Karena Gavino memang tidak memberitahu pada siapapun, tentang apa yang tadi dia dengar dari salah satu temannya. Jika Alano dan geng, akan merencanakan sesuatu pada dirinya.


"Gavin gak usah. Gak kuat dia! Kan badannya ceking gitu. Hahaha..."


Selama ini, kata-kata cemooh dari mulut Madalena, tidak terlalu dihiraukan oleh orang-orang. Karena itu dianggap sebagai gurauan belaka. Sebab, di akhir perkataan yang dia ucapkan, di akhiri dengan tawa yang dianggap sebagai sebuah lelucon saja.


Karena memang seperti itulah, kebiasaan Madalena yang dianggap tidak pernah serius dalam perkataannya.


Dia dikenal sebagai seseorang yang punya daya khayal tinggi. Dengan semua ambisinya untuk bisa menjadi seorang putri, seperti impiannya selama ini.


Itulah sebabnya, setiap perkataan yang diucapkan oleh Madalena, tidak pernah dianggap sebagai sebuah kebenaran.


Gavino juga tidak ambil pusing, dengan apa yang dikatakan oleh Madalena. Kini dia sudah ikut berdiri bersama dengan Bianca dan Lorenzo. Siap untuk keluar dari dalam kelas.


Tapi pada saat dia dan kedua temannya itu sampai di depan pintu, Madalena memanggil Gavino.


"Gavin, tunggu!"


"Kalian langsung aja taruh itu ke mobilku ya! Aku mau minta tolong sama Gavin dulu," ucap Madalena, pada Bianca dan Lorenzo.


Tanpa rasa curiga, keduanya sama-sama mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka berdua menganggap bahwa, Madalena tidak terlalu berbahaya bagi Gavino.


Setelah Bianca dan Lorenzo pergi, Madalena berjalan mendekat ke tempat berdirinya Gavino.


"Kamu ada acara tidak pulang sekolah ini?"


Dengan memicing, Gavino menatap wajah Madalena yang tampak biasa saja. Tidak ada sesuatu yang bisa membuat orang lain curiga.

__ADS_1


Tapi itu tidak berlaku bagi Gavino. Dia sudah tahu, apa yang ingin dilakukan oleh Madalena saat ini.


"Kenapa?" tanya Gavino pada akhirnya.


Dia ingin tahu, apa yang akan dikatakan oleh Madalena saat ini. Dengan rencananya bersama dengan Alano.


Karena Gavino sudah tahu rencana tersebut, dia juga tampak lebih tenang. Jika di bandingkan dengan biasanya.


Sikap Gavino yang tampak biasa saja, diperhatikan juga oleh Madalena. Karena tidak ada rasa takut, yang tampak di wajahnya Gavino. Sama seperti biasanya, jika sedang berada dalam kesendirian seperti ini.


"Apa Kamu tahu sesuatu?"


"Tahu apa?" tanya Gavino pura-pura tidak paham. Dengan maksud pertanyaan yang diajukan oleh Madalena barusan.


"Emhhh... ayok ikuti Aku!"


Tanpa banyak basa-basi, Madalena menarik tangan Gavino. Dia mengajak Gavino berjalan dengan cepat, menuju ke belakang sekolah.


Dia tidak memperhatikan keadaan sekitarnya. Yang melihatnya dengan tatapan mata tidak biasa.


"Itu Madalena, dapat mangsa lagi."


"Kasian tuh cowok."


"Kira-kira, mau diapakan itu Gavin? Itu beneran Gavin, Gavino kan?"


Beberapa pertanyaan dan praduga, datang dari orang lain yang melihat keduanya berjalan dengan cepat menuju ke belakang sekolah.


Tapi mereka semua juga tidak ada yang mau ikut campur.


Jadi, mereka semua lebih baik tidak mempedulikan keadaan yang tadi mereka lihat.


Tapi ternyata Gavino juga tampak tenang. Saat ikut berjalan bersama Madalena. Dengan tangannya yang terus di pegang.


Tidak ada rasa takut, yang dirasakan oleh Gavino. Sama seperti waktu kemarin-kemarin.


"Kamu tidak takut?" tanya Madalena, saat mereka berdua tiba di belakang sekolah.


"Tidak," jawab Gavino pendek.


Gavino memang tidak merasa takut. Apalagi ternyata tidak ada siapapun di belakang sekolah saat ini.


'Ternyata informasi yang Aku dengar tadi salah. Alano tidak ada di sini. Begitu juga dengan teman-temannya.'


Baru saja Gavino membatin, tampak Alano dan beberapa orang temannya muncul secara bersamaan. Mereka datang dari balik tembok bangunan yang ada di sebelah bangunan kelasnya.


"Ini nih jagoan kita! Dia tidak ada takutnya sama sekali. Cihhh!"


Alano meludah dengan rasa benci, melihat ke arah Gavino.


Begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Mereka tersenyum miring, dengan maksud meremehkan Gavino. Yang mereka anggap tidak mungkin bisa mengalahkan mereka.


Apalagi saat ini, jumlah mereka juga lebih dari lima orang.

__ADS_1


Alano meminta bantuan pada temannya yang ada di kelas lain. Karena Dante dan Jeffrie sedang tidak ada bersama dengannya.


"Aku tidak mau ribut."


"Hahaha... bilang aja jika Kamu takut!" ejek Alano, sambil tertawa-tawa senang.


"Hahaha..."


"Wkwkwk..."


Beberapa temannya juga ikut mentertawakan Gavino. Mereka mempunyai anggapan yang sama, seperti yang dikatakan oleh Alano tadi. Yaitu Gavino merasa takut menghadapi mereka semua.


Ctek!


Alano menjentikkan jarinya, untuk memberikan kode pada temannya, agar maju dan mengajar Gavino.


Satu temannya yang berbadan besar tinggi, maju untuk mencekal kedua lengan Gavino. Kemudian satu temannya yang lain, memeganginya tangannya, untuk diikat ke belakang.


Gavino tidak mengelak, sehingga mereka pun merasa sangat senang. Mereka menganggap dirinya menang.


Bugh!


Bugh!


Tiba-tiba, Alano memukul perut Gavino. Sehingga dia meringis dan menunduk, karena merasa sakit pada bagian yang terkena pukulan.


"Cihhh!"


Alano meludah dengan sinis terhadap Gavino.


"Mana ilmu sihir yang Kamu miliki?" tanyanya pada Gavino, yang masih dalam keadaan dipegangi oleh temannya. Sehingga tidak bisa bebas bergerak.


Madalena melihat dengan mata berbinar-binar. Dia seakan-akan sedang menyaksikan adegan di film-film laga kesukaannya.


"Sihir? Apa maksud Kamu?"


"Hahaha... Kamu pikir Aku percaya, jika Kamu memang kuat tanpa punya sihir!"


Klekkk!


"Auwww!"


Gavino mengaduh, saat pergelangan tangannya dipatahkan oleh temannya Alano, yang memegangnya ke belakang.


Semuanya tampak tersenyum senang, mendengar suara rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Gavino.


Tapi pada saat orang yang tadi mematahkan pergelangan tangannya berjalan menuju ke samping, kaki Gavino bergerak untuk menendangnya.


Dughhh!


"Ahhhh..."


Orang itu pun menjerit kesakitan. Karena kakinya yang terasa patah pada tungkai bawah.

__ADS_1


Hal yang tidak pernah disangka-sangka oleh semua orang. Termasuk Madalena dan Alano sendiri.


Mereka semua tidak pernah menyangka, jika Gavino akan melawan mereka. Tidak sama seperti biasanya, yang hanya bisa diam dan pergi menjauh.


__ADS_2